
Tanpa terasa dua bulan sudah Bagas berada di ruang ICU dan Nadia akhirnya mau menerima bantuan Ferdi untuk tidur di salah satu kamar VIP dekat ruang ICU tempat rawat pamannya. Tentu saja semua itu bisa terlaksana dengan bujukan Ferdi yang memberikan banyak alasan, serta mengatakan kalau kecelakaan yang dialami sama Bagas merupakan sebagian dari kesalahannya sebagai seorang bos.
Pagi ini gadis itu sebelum berangkat sekolah kembali melihat kondisi pamannya. Seperti itulah rutinitas Nadia sejak tinggal di rumah sakit menemani Bagas, mengajak pria itu yang bicarakan banyak hal untuk mengingatkan bahwa masih ada orang yang peduli pada lelaki tersebut. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh dokter bahwa alam bawah sadar Bagas masih bisa mendengar apa pun yang dikatakan orang terdekatnya.
Sebenarnya Nadia bingung biaya rumah sakit yang sudah dua bulan pasti sangat banyak tapi pihak rumah sakit selalu mengatakan kalau semua biaya sudah lunas dari pihak perusahaan. Namun, sebagai anak sekolah yang pintar, Nadia merasa curiga tidak mungkin seorang bos mau mengeluarkan biaya selamanya hanya untuk mengurus seorang karyawan seperti pamannya.
“Tolong katakan dengan jujur, Sus … sudah berapa jumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan itu untuk paman saya?” tanya Nadia memohon tapi tetap saja pegawai bagian administrasi rumah sakit itu tidak mau mengatakannya.
__ADS_1
“Maaf ya Dek, tugasmu di sini sebagai pelajar hanya untuk menunggu pamanmu dan tetap belajar dengan rajin, bukan untuk yang kainnya.” Jawaban dari pegawai itu sungguh tidak sesuai dengan apa yang diharapkan Nadia.
Gadis itu akhirnya kembali ke ruang ICU dengan langkah gontai. Merasa harapan dan do’anya masih saja belum dikabulkan sama Yang Maha Kuasa, entah sampai kapan pamannya berbaring seperti mayat dengan kehidupan hanya bergantung pada seluruh peralatan medis itu.
“Om … apa lagi yang harus Nadia lakukan? Nadia bingung, Om … apa Om lupa kalau mengajakku ke sini demi masa depanku? Apa Om lupa kalau Nadia itu jadi tanggung jawab Om Bagas karena kita hanya tinggal berdua di dunia ini? Ayo bangunlah, Om … Nadia kangen dan merasa sudah gak sanggup lagi melihat Om seperti ini tiap hari,” monolog Nadia memandangi wajah pamannya dengan deraian air mata.
“Ya sudah, Nadia berangkat ke sekolah dulu Om … cepatlah bangun karena Nadia merindukan om Bagas, assalamu’alaikum.” Gadis itu menciumi punggung tangan sang paman dan kembali masuk ke dalam kamar yang memang sudah menjadi tempat tinggalnya.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba saja tangannya ditarik kasar oleh seorang pria paruh baya dengan tampilan pakaian tiga potong yang teramat mahal, wajahnya yang sangat tampan tetapi menampilkan ketampanan yang sangat matang sebab usianya diperkirakanlah sudah di atas kepala empat.
"Jadi kamu dalang yang sudah merusak semua rencana saya? Dasar ABG tak tahu diri, apa yang sudah kamu berikan sama anak saya hingga Dia menghabiskan uangnya untuk pamanmu yang sudah seharusnya mati itu, hem? Apa kamu memberikan tubuhmu yang tak berharga itu sampai-sampai Ferdi melawan orang tuanya sendiri? Berapa yang kamu minta untuk meninggalkan anak saya?" Regan mendorong keras tubuh mungil Nadia hingga Gadis itu terhempas ke lantai dengan perasaan yang sangat sakit luar biasa karena dituduh sebagai wanita yang menjual diri.
'Apa ini Tuan Regan ayahnya Om Ferdi? Apa yang dikatakannya tadi itu benar kalau Om Ferdi mengeluarkan begitu banyak biaya untuk pamanku dan Om Bagas?' gumam Nadia di dalam hati.
Gadis itu mengerti jika biaya yang digelontorkan Ferdi selama ini mungkin saja sudah melewati batas maksimal karena selama ini pamannya membutuhkan peralatan medis yang pasti biayanya sangat mahal tetapi mendengar keterangan yang disampaikan Ferdi, membuat Nadia merasa pamannya berhak mendapatkan semua itu karena sudah berbakti pada perusahaan.
__ADS_1
"Mulai sekarang tidak ada lagi sepeser pun dana yang akan dikeluarkan perusahaan untuk paman sialanmu itu! Kamu itu hanya gadis kampung yang tidak tahu diri memanfaatkan kekayaan anak saya, jadi mulai sekarang jauhi Ferdi atau saya akan menghabisi nyawamu!" ancam Regan sebelum berlalu meninggalkan Nadia yang diam membeku.