Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 51. Menolak Dijodohkan


__ADS_3

Pria itu meraih kedua tangan Nadia, menempelkan kedua telapak tangan si gadis mungil ke pipinya hingga beberapa detik. Lelaki itu dengan sengaja memejamkan kedua matanya seolah sedang meresapi apa yang tersalurkan ke dalam tubuhnya lewat telapak tangan Nadia yang sekarang menempel di pipinya.


“Sekarang, apa ya kau rasakan terhadapku?” tanya Ferdi.


“Aku … aku merasa pipi Mas Ferdi hangat,” jawabnya jujur.


“Astagfirullah … yang Mas maksud itu bukan tentang suhu pipiku tapi apa yang sedang kau rasakan di hatimu?” Ferdi merasa gemas dengan jawaban yang diberikan Nadia barusan.


“Rasanya … hatiku rasanya deg-degan,” jawab Nadia jujur dengan wajah merona malu sembari menunduk.


Ferdi meraih dagu Nadia hingga gadis itu akhirnya mendongak. Mata mereka berdua saling beradu pada satu titik. “Terima kasih karena sekarang Mas yakin dan keputusan apa yang akan diambil jika nanti kedua orang tuaku tetap memaksa menjodohkanku dengan Firda!”


“Memangnya apa yang mekar masalah aku kan nanti kalau Tuan Regan benar-benar memaksamu untuk ditunangkan dengan Tante Firda?” Nadia tiba-tiba saja merasa kepo dengan jawaban laki-laki yang entah Sudah berapa kali melamar dan mengajaknya untuk menikah.


“Aku yakin untuk menolaknya karena kamu! Oh iya, kalau misalnya kita menikah tapi setelah itu aku menjadi orang miskin, apakah kamu masih bersedia hidup bersamaku? Tentu saja aku tak mungkin berpangku tangan saja untuk memenuhi kebutuhanmu hanya saja Ferdi yang akan menjadi suamimu nanti sudah pasti tidak sekaya saat ini. Papa mengancamku, kalau aku tidak bersedia dijodohkan dengan Firda maka semua fasilitas yang aku miliki akan diambilnya lagi,” ungkap Ferdi berusaha tersenyum walau pancaran matanya memperlihatkan kesedihan.


Nadia tersenyum, Gadis itu sama sekali tidak terlihat kaget sama sekali.


“Maaf ya Mas Ferdi kalau menurutku, jika kita benar-benar berjodoh hingga ke jenjang pernikahan maka apa pun kondisi ekonomi Mas nantinya … insya Allah akan aku terima apa adanya! Bukankah jika kita sama-sama memulai dari nol itu jauh lebih berharga daripada sudah memiliki segala-galanya tapi hati tidak bahagia.”


Hati Ferdi benar-benar terasa plong setelah mendengar jawaban dari gadis yang hampir tiap malam membuatnya tak bisa tidur hanya karena menunggu jawaban dari Nadia tentang perasaannya.

__ADS_1


***


Ferdi melajukan mobilnya pulang ke rumah dengan hati yang penuh kebahagiaan karena jika sampai nanti orang tuanya memaksa harus tetap bertunangan dengan Firda, maka dia sudah tahu jalan apa yang harus ditempuhnya. Lelaki itu tidak ingin menggadaikan kebahagiaannya seumur hidup hanya demi bisnis Papanya. Prinsipnya lebih baik tidak mendapatkan apa-apa dari orang tuanya, daripada menjadi boneka Regan seumur hidupnya.


“Gue berhak bahagia dan kebahagiaan gue ada pada Nadia. Gue gak butuh kekayaan papa asalkan ada Nadia di samping gue karena uang bisa dicari tapi gadis baik hati susah didapat saat ini! Gue juga tidak akan pernah ingkar janji pada Bagas hingga mati!” monolognya sembari tetap melajukan mobil menuju ke rumah orang tuanyan.


Ferdi sampai di rumahnya ketika waktu shalat ashar tiba, dan betapa kagetnya pria itu kala melihat keluarga lengkap Firda sedang berada di ruang tamu. Ternyata feelingnya benar-benar sangat tepat sebab tadi dirinya entah kenapa tiba-tiba saja ingin mendengar jawaban dari Nadia tentang erasaannya. Bersyukurnya Ferdi karena gadis itu menerima dirinya apa adanya.


‘Ada apa ini? Kenapa perasaan gue jadi gak enak gini, ya? Apa jangan-jangan yang dibilang Renaldo pada waktu itu bakal jadi kenyataan sekarang? Gue lebih baik dicoret dari daftar kartu keluarga papa ketimbang nikah sama nenek lampir kayak Firda!’ Pria itu membatin di dalam hati tanpa ingin masuk ke rumahnya tetapi dengan sengaja berdiri berniat menguping apa yang sedang mereka bicarakan, sayangnya sang adik nakal malah melihat kedatangannya.


“Nah, ini abang gue yang paling ganteng udah datang. Ditungguin juga dari tadi, abang kemana aja sih? Pasti ngapelin pacar, ya?” tanya Renaldo tanpa dosa.


Ferdi mendelik mendengar perkataan sang adik, padahal dirinya sudah memberikan kode dengan meletakkan jari telunjuk di bagian tengah bibirnya tapi Renaldo malah dengan santai mengatakan kedatangannya.


Ferdi merasa semua orang sudah tau cara menjawab ucapan orang yang masuk ke rumah atau mungkin ketika bertemu di luar sana, sebab tidak ada satu pun yang menyahuti salamnya hingga lelaki itu selesai menciumi punggung tangan sang mama, kecuali hanya sang adik.


“Wa’alaikumussalam, Bang. Nih, perang Abang kayaknya bakal dimulai deh dari sekarang, gue mau negerjain tugas.” Rei beranjak dari duduknya digantikan sama Ferdi yang dengan sengaja menjewer kuping adiknya.


“Aww, Abang apa sih, sakit tau!” kesal Rei berusaha melepaskan jeweran dari jari sang kakak. Ferdi mendekatkan bibir ke telinga adiknya, “Gue pastiin lo gak bakal gue kasih uang jajan lagi!” ancam Ferdi.


“Gue bukannya gak mau ngasih tau, ponsel gue tuh liat noh!” tunjuk Rei ke arah kursi sofa di samping papanya. Terlihat ponsel sang adik sedang duduk cantik di samping sang papa, layaknya juga seperti tamu yang sedang menunggu kedatangannya.

__ADS_1


‘Astaga … pantesan Rei gak ngasi tau gue! Ya Allah, nih papa segitu amat takutnya Renaldo ngasih tau gue biar gak pulang. Lagian Rei kok bodo sih, kan bisa pinjem hp pelayan dulu, dasar adik jahara!’ kesalnya di dalam hati.


“Hai Ferdi … baru pulang ya?” sapa Firda sembari memberikan senyum terindahnya, berdiri mendekati Ferdi ingin memeluk lelaki itu.


Sayangnya Ferdi malah dengan santai mengangkat kedua tangannya dengan posisi seperti ingin mendorong tubuh Firda, “Ingat, kamu bukan mahrom saya, jadi tolong jaga sopan santunnya!”


“Waa, uhuyyyy, kena mental gak tuh!” sambar Renaldo yang ternyatu memberikan semburan mengejeknya.


Ferdi kira sang adik benaran akan pergi masuk ke kamarnya tapi ternyata Rei malah hanya sekedar pindah duduk lesehan tak jauh dari sana.


“Jaga bicaramu, Rei!” kata Tuan Regan memperingati anak bungsunya sementara Ferdi sendiri tetap santai dengan wajah datarnya.


“Kamu kok kayak gitu sih, Ferdi. Aku ini kan calon tunanganmu, masa pelukan aja gak boleh!” protes Firda denagan nada kesal.


“Sudah-sudah, lagian kamu ini perempuan Firda, harusnya jaga image sedikit!” tegur tante Yuri – mamanya Firda.


“Baiklah, karena Ferdi sudah datang, bagaimana kalau diskusi ini langsung kita lakukan sekarang saja,” ucap tuan Regan mulai bicara.


Ferdi menatap horor wajah papanya, sungguh dirinya benar-benar merasa tak punya harga diri lagi kali ini, tapi dirinya ingin melihat terlebih dahulu apa sebenarnya yang akan direncanakan sang papa.


“Saya terserah padamu saja, Regan,” sahut Winata menimpali omongan sahabatnya itu.

__ADS_1


“Begini Ferdi, tadi papa dan om Winata membicarakan acara pertunanganmu yang akan kita lakukan sabtu ini. Bagaimana menurutmu? Apa kamu mau mengajukan contoh konsep yang kamu suka di acara itu?” tanya Regan dengan jumawa, mengira kalau sang putra tidak akan mungkin berani menolak perintahnya karena telah diancam akan ditarik semua fasilitas yang telah diberikan jika sampi menolaknya.


“Maaf Om, Tante … Ferdi tak bisa menikahi Firda!”


__ADS_2