Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 46. Terungkap


__ADS_3

“Den Bagas pernah bilang kalau Den Ferdi sebenarnya suk–”


“Bibi Upi!” panggil Nadia yang baru saja selesai mandi. Gadis itu sudah terlihat jauh lebih segar setelah membersihkan tubuhnya.


Ada utasan senyum yang diperlihatkan sama gadis itu ketika menghampiri wanita pelayan di rumah pamannya. Kedua matanya tentu saja sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata tapi sejatinya sang gadis merupakan perempuan yang tegar sebab sudah terbiasa diterpa masalah sejak kecil.


“Iya, Non. Ada apa?” tanya Bi Upi mendatangi Nadia setelah menoleh pada Ferdi yang seolah mengerti hingga lelaki matang itu mengikuti langkah kaki sang pelayan yang kembali masuk ke dalam kamar Nadia.


Di atas tempat tidur Nadia terlihat kotak sedikit besar berbentuk kubus. Ferdi sempat mengerutkan dahinya kala melihat benda itu, soalnya kotak yang dilihatnya sekarang pernah juga terlihat di atas meja kerja Bagas ketika Nadia sudah tinggal bersama sang asisten tapi waktu itu Ferdi sama sekali tidak mengetahui kalau kotak itu ternyata untuk Nadia.


“Loh, Mas Ferdi kok ikut masuk ke sini? Memangnya ada apa?” tanya Nadia merasa heran dengan keberadaan atasan pamannya itu.


Nadia jadi bimbang ingin mengatakan tentang surat yang sebenarnya telah dibacanya pada sang pelayan akibat adanya Ferdi berada di dalam kamarnya.


“Aku hanya ingin memastikan ada apa denganmu sampai harus mengajak bibi Upi masuk ke sini segala. Apa ada yang sedang kau sembunyikan?” tanya Ferdi melirik pada kotak yang ada di atas tempat tidur.


Itu saja Nadia semakin menurunkan dahi melihat tingkah Ferdi yang seolah sedang berusaha ikut campur dengan masalah dirinya.


“Sebaiknya kotak itu dibuka dan dibaca di luar saja karena sebenarnya aku juga memiliki surat wasiat yang ditulis sama Bagas persis di hari kecelakaan itu terjadi,” jelasnya menatap wajah Nadia yang terlihat sedikit menaikkan kedua alisnya dengan sorot mata seolah tak percaya dengan perkataan Ferdi.

__ADS_1


Melihat Nadia yang memberikan tatapan tajam pada Ferdi, tentu saja membuat Bibi Upi akhirnya ikut angkat bicara.


“Ayo, Non. Biar ada saksi yang mengetahui apa yang sudah ditulis sama den Bagas untukmu. Lagian bibi yakin kalau sepertinya den Bagas kayak udah ada perasaan kalau dirinya bakal kecelakaan di hari itu makanya bikin surat wasiat untuk den Ferdi juga. Maaf, sebenarnya bibi juga dititipkan pesan sama den Bagas sebelum dia pergi ke luar kota untuk kerja.” Bibi Upi menunduk merasa bingung harus berkata jujur atau akan membiarkan saja apa yang telah dipesankan sama tuannya sebelum meninggal dunia.


“Bibi bicara di luar saja ya, biar teman Bagas yang lain gak ada yang salah paham soalnya saya yakin surat untuk saya dan Nadia bisa saja saling berkaitan dan pesan Bagas sama Bi Upi sepertinya sebagai pelengkap untuk menyempurnakan,” ucapnya meyakinkan.


Ferdi mengambil kotak yang ada di atas tempat tidur dan menarik tangan Nadia hingga mereka akhirnya kembali berada di lingkaran teman-teman Bagas. Semua teman yang sekaligus karyawan Ferdi itu langsung saja jadi saling pandang melihat Ferdi yang tidak sedikit pun melepas genggaman tangannya.


‘Sebenarnya Isi wasiat Bagas apa sih Kok kayaknya Ferdi posesif banget sama Nadia?’ pikir Farel di dalam hati dengan mata tak lepas mengarahkan pandangannya pada jari kekar milik sang atasan terhadap jemari gadis polos yang terlihat selalu menundukkan kepalanya.


‘Kenapa feeling gue mengatakan kalau Ferdi sebenarnya suka sama ponakannya Bagas, dan gue yakin Bagas pun sebenarnya udah tahu perasaan Bos ini pada Nadia makanya almarhum sengaja membuat dua surat wasiat yang saling berkaitan, agar mereka berdua benar-benar mau dipersatukan. Kenapa Bagas nggak nyuruh gue aja yang nikahin Nadia ya, kan enak itu dapat gadis yang virginitas nya bisa diacungi jempol!’ batin Endro memandang wajah teduh yang terlihat sedikit pucat milik keponakan Bagas.


“Sebaiknya kamu baca dulu surat wasia tBagas untuk Nadia apakah sama maksudnya dengan surat untuk saya atau berbeda, setelah itu barulah Bibi Upi menyampaikan pesan terakhir almarhum Bagas untuk kita!” titahnya pada sang asisten yang langsung diangguki Kevin.


Nadia menunduk bingung dengan perasaan yang campur aduk karena merasa punya beban pikiran atas surat yang tinggalkan sang paman. Bagas memintanya untuk menerima Ferdi jika memang CEO itu melamarnya. Namun dia yakin kalau Ferdi sudah pasti benar-benar akan melamarnya sebab sewaktu di depan kuburan sang Paman saja Ferdi melepaskan salah satu beban di kepalanya dengan mengungkapkan perasaannya sendiri pada Nadia.


“Sepertinya isi surat Bagas masih sama menyampaikan hal yang tak jauh beda dengan surat yang ditinggalkan Bagas untuk bos kita,” ucap Kevin setelah membaca surat wasiat yang dituliskan Bagas untuk keponakannya.


“Intinya almarhum ingin Bos menjaga Nadia walau secara tidak langsung sama saja beliau ingin Ferdi menikahi keponakannya setelah dirinya wafat,” timpal Endro memberikan surat yang baru saa dibacanya pada Farel.

__ADS_1


Surat yang ditulis Bagas pun berputar hingga semua teman-teman Bagas membacanya secara bergantian.


“Tapi di surat ini Bagas juga mengatakan kalau dia hanya minta Ferdi menjaga sampai Nadia menikah saja,” jelas Rafael yang baru saja membaca surat untuk Ferdi.


“Sementara surat untuk Nadia gue baca, dia juga gak ada mengharuskan Nadia menerima lamaran Ferdi. Nadia tak perlu merasa terpaksa dengan harus menerima lamaran dari Ferdi kalo Bos kita tidak mengucapkan kata untuk melamar Nadia. Intinya surat kalian memang saling berkaitan tapi tak ada satu pun dalam wasiat itu memaksa kalian berdua harus menikah. Bagas hanya menitipkan Nadia sama Ferdi sampai keponakannya menikah,” pungkas Rafael menatap wajah Nadia secara bergantian dengan atasannya itu.


“Menurut lo, gimana, Kevin? Sama kan pendapat kita tentang pesan yang disampein sama Bagas?” Rafael juga menatap teman yang lain meminta mereka untuk menanggapi isi pesan dari surat wasiat almarhum.


“Menurut gue nih ya, sebaiknya kita kembalikan sama Ferdi dan Nadia karena mereka yang akan menjalani jika mau melaksanakan permintaan terakhir almarhum tapi kalau kalian berdua keberatan, pernikahan itu pun tak harus dijalankan. Jangan hanya karena pesan almarhum kalian berdua menikah tanpa cinta yang akhirnya salah satu di antara kalian berdua ada yang menderita!” ungkap Endro memberikan pendapatnya.


“Apa bibi boleh ikut bicara?” tanya Bi Upi memberanikan diri menyela percakapan semua teman-teman almarhum.


“Silakan, Bi!” suruh Farel.


“Den Bagas pernah bilang sama bibi kalau sebenarnya –” Bibi Upi menggantung kalimatnya dengan mata seolah sedang minta izin sama Ferdi untuk bicara.


“Lanjutkan saja, Bi … mereka juga sudah waktunya tau tentang perasaan saya!” titah Ferdi memberikan wewenang pada pelayan itu untuk mengatakan hal yang teramat berat di lidah Ferdi untuk disampaikan sama teman-temannya. Bibi Upi mengangguk lalu kembali melanjutkan ucapannya.


“Den Bagas pernah bilang … kalau sebenarnya Den Ferdi jatuh cinta sama Non Nadia.”

__ADS_1


__ADS_2