
“Maaf Om … Tante, Ferdi tak bisa menikahi Firda!” sahut pria itu dengan wajah datar dan suara yang terdengar begitu dingin, seolah-olah apa yang dikatakannya barusan tak akan bisa diganggu gugat lagi.
Seluruh mereka yang ada di ruang tamu benar-benar sangat terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan Ferdi, terutama Tuan Regan sendiri. Pria paruh baya itu tak pernah menyangka, jika anak sukungnya akan membuat dirinya malu di depan sahabat baiknya – Winata.
“Kamu jangan bercanda Nak, kita sedang bicara serius bahkan telah mempersiapkan segala sesuatunya. Kamu hanya tinggal duduk manis serta memasangkan cincin pada jari Firda dan melihat keramaian para tamu yang datang, udah selesai! Jangan bercanda di depan keluarga Om Winata di saat kita sedang berbicara serius tentang hubungan kalian!” Tuan Regan menatap tajam anak kandungnya yang benar-benar sedang berusaha meletakkan kotoran di atas kepalanya dengan cara membuatnya malu muka di depan Winata.
“Iya Ferdi. Kenapa kamu bercanda sampai mengatakan tak mau menikahi putriku? Apa kau dan Firda sedang memiliki masalah? Coba katakan dulu sama om, biar kita cari solusi yang terbaik untuk hubungan kalian berdua karena Firda mengatakan kalian malah semakin hari semakin dekat, tapi kenapa tiba-tiba saja kamu mengatakan tak mau menikahi Firda?” Winata benar-benar merasa heran sebab selama ini yang dikatakan putrinya bertolak belakang dengan perkataan Ferdi barusan.
Tentu saja hal itu membuatnya merasa curiga hingga Winata menatap secara bergantian wajah putrinya dan juga wajah Ferdi yang terkesan santai. Jadi sebenarnya siapa di antara keduanya sedang membohonginya, putrinya ataukah Ferdi? Bagaimana pun juga yang namanya seorang ayah, tentu saja lebih percaya dan membela apa pun yang diucapkan darah dagingnya bukan malah percaya pada pihak lain yang jelas-jelas tidak begitu dikenalnya.
__ADS_1
“Firda bilang, kamu malah sangat mencintainya dan juga ingin mempercepat acara pertunangan ini?” Winata kembali menoleh pada putrinya, meminta penjelasan lewat sorot mata tentang apa sebenarnya yang terjadi saat ini.
Firda menundukkan kepala tak berani menatap bola mata sang papa yang terlihat begitu menakutkan, sebab dirinya memang selama ini berkata dusta pada kedua orang tuanya hanya agar acara perjodohannya dengan Ferdi bisa dipercepat. Wanita itu sebenarnya juga tak cinta sama Ferdi tapi dirinya tak punya pilihan lain, kecuali memaksa kedua orang tuaya agar mempercepat pernikahan mereka akibat kondisinya yang sedang membutuhkan sosok seorang suami.
‘Sia-lan, kenapa gue jadi ketahuan begini sih? Lagian tumbenan banget papa sampai cerita apa yang gue katakan sama orang lain, apes deh ini namanya. Bukannya bisa ngedapatin Ferdi yang ada papa sendiri yang bakal ngasih gue pelajaran,’ gumamnya di dalam hati.
“Firda, papa sering bertanya padamu tentang Ferdi tapi kamu sendiri yang menjawab jika kalian sama-sama sudah setuju untuk bertunangan, bahkan kamu sendiri yang bilang sama papa jika Ferdi ingin langsung menikah saja denganmu! Ini kenapa tidak sesuai antara ucapan Ferdi dengan kalimat yang kamu katakan pada mama dan papa?” Winata mengalihkan atensinya terhadap pria tampan yang seharusnya bahkan menjadi menantunya.
“Ferdi! Om tak akan marah jika kamu memang belum bersedia menikahi Firda tetapi Om minta padamu untuk memberikan alasan yang logis, karena jika semua yang dikatakan Firda itu benar tapi kamu menyangkalnya maka akan saya pastikan perusahaan papamu jatuh sejatuh-jatuhnya!” ancam Winata dengan penuh Wibawa.
__ADS_1
Ferdi rasanya ingin tertawa terbahak-bahak mendengar Tuan Winata berbicara seolah-olah anak perempuannya itu merupakan wanita yang sangat baik hati di luar rumah tanpa mengetahui jika Firda tidak sebaik pikirannya.
“Bagaimana, Firda? Bukankah saya sudah sering bilang sama kamu, kalau saya sama sekali tak cinta sama kamu tapi kamu selalu memaksakan kehendak agar kita tetap mengikuti keinginan kedua orang tua. Sayangnya cinta yang saya miliki tidak bisa diperjual belikan jadi … saya lebih baik menolak dari pada berumah tangga dengan topeng penuh kebohongan!” Ferdi menatap Tuan Winata, bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kursi pria itu.
“Kalau Om ingin tau kenapa putrimu bersedia kunikahi, suruh pasang dulu alat kejujuran di kepalanya agar Firda mengatakan hal yang sebenarnya!” suruhnya mnegalihkan atensi pada wanita dengan kepala yang menunduk.
“Bukankah semua yang saya katakan itu benar, Firda?” Ferdi menaikkan sebelah alisnya dengan senyum menyeringai horor membuat Firda ingin sekali menghabisis Ferdi sekarang juga.
‘Apa jangan-jangan asisten kurang ajar itu sempat mengadu sebelum mautnya?’ batin Firda dengan tubuh membeku ketakutan.
__ADS_1