
Renaldo berdiri di depan pintu apartemen, memasukkan kode di pintu hingga pintu itu terbuka secara otomatis. Rei masih membiarkan pintu itu terbuka begitu saja, menoleh ke samping di mana Tuan Regan memberikan kode dengan anggukan kepala. Renaldo menghela napas dalam sebelum berteriak memanggil nama sang kakak.
“Bang! Abang ada di dalam, kan?” tanya Rei dengan suara sedikit keras.
Ferdi yang baru saja selesai mandi terkejut mendengar suara adiknya, bergegas ke luar kamar dengan handuk yang masih menempel di antara pinggangnya.
“Ngapain lo teriak-teriak nyari abang kayak di hutan? Jangan bilang uang jajan yang abang kasih udah ludes semua?” Kening Ferdi berlipat dengan alis terangkat sebelah, menatap wajah adiknya penuh selidik.
Namun bola matanya tak percaya melihat sosok laki-laki yang begitu dibencinya ternyata juga ikut bersama adiknya.
__ADS_1
“Rei … ada apa ini?” Ferdi menatap sosok papanya dengan raut wajah penuh sesal dan juga kesedihan mendalam tapi dirinya tak akan mudah bisa diperdaya lagi oleh Tuan Regan karena sudah memantapkan diri untuk keluar dari rumah kedua orang tuanya.
“Apa yang anda lakukan di apartemen saya, tuan Regan yang terhormat?” tanya Ferdi datar.
Pertanyaan itu bahkan tidak memerlukan jawaban dari Papanya karena Ferdi cuma dimasuk ke dalam kamarnya untuk mengenakan pakaian yang sempat tertunda ia lakukan akibat kehadiran adik dan sosok laki-laki yang begitu dibencinya saat ini.
Ferdi sama sekali tidak mengetahui apa rencana sang papa hingga sampai mendatanginya ke apartemen miliknya, padahal jelas-jelas lelaki itu telah memberi peringatan pada Renaldo agar jangan pernah memberitahukan siapa pun tentang keberadaan apartemennya ini.
“Papa datang ke sini karena ingin minta maaf padamu. Papa sudah salah menilai Firda selama ini karena ternyata perempuan itu bukanlah wanita baik-baik seperti perkiraanku. Ayo kembali pulang ke rumah karena mamamu saat ini sangat membutuhkanmu, Nak.”
__ADS_1
Ferdi terdiam tidak langsung menjawab ajakan Papanya, pria itu melirik pada Renaldo yang ikut memberikan anggukan kepala.
“Apa Mama baik-baik saja Rei?” Ferdi bukannya menyahuti perkataan Tuan Regan tapi malah lebih memilih bertanya pada sang adik.
“Mama hanya demam biasa aja Bang, tapi dia suka menggigil manggil-manggil nama abang pergi dari rumah sudah lumayan lama.” Renaldo sama sekali tak ingin berdusta pada kakaknya, “tapi kalau abang punya urusan yang jauh lebih penting dari kesehatan mama maka Rei dan papa juga tak punya hak melarang lo,” sambungnya.
Melihat pancaran kejujuran dari kedua bola mata adiknya, Ferdi sangat yakin kalau ini semua bukanlah sandiwara sebab pria itu sendiri sebenarnya sejak semalam selalu saja memikirkan mamanya, tapi gengsi yang terlalu tinggi dan juga rasa sakit hati terhadap Tuan Regan, membuat Ferdi mengurungkan niatnya sekedar untuk menelpon sang mama.
Tanpa bertanya lagi, Ferdi meraih kunci mobil yang ada di atas meja dan berlalu keluar dari apartemen mendahului papa dan adiknya. Di perjalanan pria itu sama sekali tidak bisa tenang, apalagi pikirannya sedang bercabang antara Nadia dan juga mamanya.
__ADS_1
“Mama harus baik-baik saja, apalagi seharusnya malam ini aku pergi ke Bandung untuk menyusul Nadia,” monolognya dengan gelengan kepala.