Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 39. Gadis Keberuntungan


__ADS_3

Nadia merasa sangat malu luar biasa karena perlakuan Ferdi yang tiba-tiba menggendongnya. Tentu saja pria penuh tampan penuh pesona itu tidak menghiraukan adanya sorakan dari para siswi yang melihat aksinya.


“Anjirr lo, Bang! Gue dijadiin kacung tukang bawa tas pacar lo, sumpah gue kesel sama lo!” umpat Rei ketika dengan terpaksa mengantarkan tas Nadia ke mobil kakaknya.


Renaldo semakin jengkel karena setelah kepergian sang kakak yang memperlihatkan kemesraan di depan teman-temannya, dirinya langsung mendapatkan berbagai pertanyaan.


“Jadi Nadia itu cewek kakak lo? Terus kenapa lo manggil Nadia ‘sayang’ kek dia kekasih lo aja, heran gue,” tanya Nando talk mengerti.


“Mulai sekarang kalian semua kan udah tau kalau tuh cewek pacarnya abang gue, jadi jangan coba-coba ganggu dia! Kecuali kalian mau berurusan dengan CEOnya Singgalang Group! Tadinya gue emang sengaja berpura-pura jadian sama Nadia biar kalian gak ada yang godain dia,” kilah Renaldo tak ingin modusnya ketahuan.


Sumpah, Renaldo tak ingin semua itu sekedar berpura-pura semata tapi kalau dirinya mampu dan tak butuh sang kakak, maka dia ingin sekali bersaing dengan Ferdi untuk mendapatkan hati Nadia. Sayangnya dia hanyalah seorang pelajar yang belum memiliki penghasilan dan masih membutuhkan sang kakak untuk menopang biaya kehidupannya dan juga biaya pendidikannya.


Sementara itu Ferdi mulai menyalakan mesin roda empatnya setelah sang adik mengantarkan tas milik Nadia, pria tampan 6 matang itu menoleh ke samping melihat sang gadis polos dengan wajah merona dan mulut tak henti bergemam sejak tadi.

__ADS_1


“Pasang sabuk pengamanmu karena aku akan membawamu ke tempat meeting, soalnya aku bisa terlambat jika harus mengantarmu pulang terlebih dahulu!” titah lelaki itu seirama dengan mobil yang mulai bergerak.


“Kalau begitu Om lebih baik langsung pergi meeting saja karena aku bisa pulang sendiri. Lagian nanti aku juga bakal balik ke rumah sakit, soalnya mulai sekarang aku tak tidur lagi di rumah sakit, jadi Om Ferdi tak perlu membayar kamar itu lagi,” jawab Nadia menoleh ke samping.


Gadis itu tidak akan lupa dengan apa yang terjadi pagi tadi. Ancaman tuan Regan tak bisa dianggap enteng dan main-main karena orang kaya dan punya kuasa akan selalu semena-mena dengan kaum bawah seperti dirinya. Paling tidak itulah yang ia ketahui selama ini saat berada di kampungnya.


“Gak, kamu itu tanggung jawabku dan kamu jangan coba-coba ingkar janji! Bukankah gaji pertamamu sebagai pacarku sudah kau terima? Apa masih kurang? Kalau begitu terimalah tawaranku saat itu, kau bisa bekerja setiap pulang sekolah di kantorku dan aku tak akan terlalu panik setiap hari harus memikirkanmu karena tanggung jawabku sebagai teman pamanmu!” Lelaki itu masih saja berkilah melakukan semua itu hanya semata-mata karena sang asisten yang masih terbaring di rumah sakit.


“Mulai dari saat ini, kamu nggak usah memikirkan keadaan Bagas terlalu berlebihan lagi karena sudah ada gadis bernama Rosa yang akan senantiasa menjaga pamanmu. Hanya saja mungkin dia belum bisa masuk ke ruangan ICU karena belum mendapatkan izin dariku ataupun darimu!” jelas Ferdi tanpa melihat ke samping dan fokus melajukan kendaraannya.


“Rossa? Memangnya siapa dia? Apakah dia kekasih om Bagas tapi kenapa selama ini Om nggak pernah cerita sama Nadia?” tanya nya lagi karena memang sepengetahuan Nadia tidak ada perempuan yang dekat dengan sang paman.


“Gadis itu baru pulang dari luar negeri untuk menyelamatkan usaha Papanya tapi sekarang dia sudah kembali. Mungkin hubungan mereka juga akan kembali membaik dan semoga saja pamanmu segera siuman dari komanya. Kamu ingat Kevin kan, dia yang cerita kalau Rosa sudah pergi ke rumah sakit untuk melihat Bagas dan dia juga sudah mendatangi bagian administrasi rumah sakit untuk menambah deposit perawatan Bagas! Anggap saja itu memang sudah menjadi kewajiban Rosa karena dia pernah membuat Bagas seperti mayat hidup yang tak punya semangat setelah ditinggalkannya!” Ferdi akhirnya menguak sedikit kehidupan pribadi sang asisten.

__ADS_1


Nadia hanya bisa terdiam tidak tahu apa yang harus dilakukannya karena merasa sang paman sekarang hidup hanya dari belas kasihan orang lain. Dia juga tau kalau Ferdi Kemungkinan besar sudah tak bisa lagi membantunya seperti dulu setelah mendapatkan ancaman dari tuan Regan karena bagaimanapun juga Ferdi merupakan anak kandung dari lelaki yang telah mengancamnya.


“Loh kok kamu malah diam?” Ferdi menoleh ke samping lalu dengan sengaja mengusap kepala Nadia agar gadis itu kembali tersenyum.


“Jangan terlalu banyak pikiran nanti kamu malah cepat tua dan wajahmu bakal semakin jelek! Sekarang aja kamu udah sangat jelek apalagi kalau bertambah tua ya? Bisa-bisa orang akan menganggapmu sebagai Kakakku,” goda Ferdi dengan sengaja mengajak Nadia bercanda agar Gadis itu menghilangkan kemurungan dari raut wajahnya.


Entah kenapa Ferdi merasa tidak rela jika sampai ada air mata kembali jatuh melewati pipi gadis polos yang sudah sangat diidam-idamkannya untuk diterima, bukan hanya sekedar pacar palsu tetapi menjadi kekasih yang sesungguhnya. Bahkan pria muda yang banyak digiling para wanita karena ketampanannya itu, seringkali berharap agar suatu saat Nadia bisa menjadi Ibu dari anak-anaknya.


“Itu om Ferdi sadar, kalau aku ini gadis yang sangat jelek, terus ngapain diajak pergi meeting segala? Memang nya nggak takut kalau nanti kerjasamanya gagal gara-gara kehadiran Nadia?” jawab Nadia membalikkan tanya.


Gadis itu sama sekali tidak tersinggung karena memang dirinya merasa jelek dan sangat tidak pantas apabila berjalan dengan lelaki setampan Ferdi. Nadia tidak menampik sama sekali kalau sang CEO memang banyak disukai para gadis, lagian siapa sih yang tidak bakalan suka dengan seorang pria yang sudah punya segalanya? apakah Nadia termasuk salah satunya?


“Kenapa aku harus takut? Kamu justru malah akan menjadi gadis keberuntungan buatku! Aku harap kamu nggak bakal memanggilku om lagi, atau apa aku ini memang terlalu tua untuk berjalan disisimu, Honey?”

__ADS_1


__ADS_2