
Nadia benar-benar tidak pernah menyangka kalau dirinya akan berakhir menjadi seorang istri dari lelaki yang pernah dianggapnya sebagai kanebo kering, pintu dua kulkas bahkan lelaki berwajah datar. Namun, akhirnya Nadia sampai pada titik yang tak pernah terbayangkan olehnya. Menjadi istri seorang Ferdi Fernando, sang CEO Singgalang Group yang dulu merupakan atasan dari pamannya sendiri.
Nadia masih ingat dengan apa yang sempat diungkapkan Ferdi sebelum acara pernikahan ini.
“Mulai dari sekarang aku adalah dirimu, sedihmu juga akan menjadi duka buatku. Lukamu akan menancapkan rasa perih yang sama padaku, dan lelah hidup yang engkau rasakan juga akan menjadi bagian dari rasa capekku karena senyummu itu adalah bahagia untukku. Aku dan kamu akan menjadi kita dan aku berharap pernikahan kita ini akan tetap membawa kebahagiaan dalam kebersamaan sampai ke surga nanti,” ucap lelaki itu menatap lamat wajah gadis yang sesaat lagi akan dinikahinya.
Nadia kembali melihat proses ijab qobul yang bakal diucapkan Ferdi sebagai calon suaminya beberapa detik lagi. Gadis itu masih sempat-sempatnya teringat akan jadi yang pernah dia ucapkan bersama Prasetyo, gegas dirinya berucap yakin di dalam hati bahwa Allah telah menjadikan Ferdi sebagai jodohnya.
__ADS_1
“Bagaimana, Saksi, sah?” tanya Pak Penghulu mengedarkan pandangan, sebagai wali hakim atas pernikahan Nadia yang hanya seorang yatim piatu.
Satu-satunya orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga hanyalah Bibi Upi yang menatap dengan haru serta linangan air mata. Wanita paruh baya itu menyaksikan pernikahan gadis yang sudah dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri tapi sekarang sudah berpindah tanggung jawab pada seorang bos yang dulunya sebagai teman dari sang majikan.
‘Semoga Den Bagas bahagia di surga sana dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Lihatlah keponakanmu saat ini, Non Nadia sudah mendapatkan pria yang sangat baik dan juga bertanggung jawab padanya, tanpa pernah melihat latar belakang keponakan Den Bagas yang hanya seorang yatim piatu. Bahkan Den Ferdi menerima Nona Nadia apa adanya dan itu sungguh membuat Bibi merasa bahagia.’ Wanita paruh baya itu bicara internal di dalam hatinya sendiri, mengusap kedua sudut matanya yang berair akibat matahari yang meniru di dalam jiwa raganya.
Ferdi pun langsung melingkarkan cincin pernikahan di Jari Manis Nadia di jari sebelah kanan karena jari kiri Gadis itu sebelumnya telah terpasang dengan cantik cincin berlian waktu Ferdi melamarnya setelah dapat pengusiran dari Tuan Regan.
__ADS_1
“Alhamdulillah.” Semua tamu yang hadir mengucap puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala yang telah melancarkan acara sakral milik keluarga Tuan Regan.
Nadia dituntun mendekati Ferdi yang telah sah menjadi suaminya, mengulurkan tangan untuk pertama kalinya menyejuk punggung tangan lelaki itu yang sudah halal untuknya. Tubuh Nadia bergetar seketika saat teringat seharusnya kedua orang tuanya melihat hari bahagia yang hanya diinginkan sekali seumur hidupnya.
Ferdi pun mendekatkan bibir ke dahi sang istri lalu mengecup singkat dahi Nadia, seraya menitikkan air mata karena apa yang selama ini menjadi beban yang terasa takut tak mampu dijalankannya berakhir sudah.
‘Aku sudah menjalankan amanah dan juga wasiat darimu, Bagas maka tenanglah di sana karena aku dan istriku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu,’ lirih di dalam hati membayangkan wajah Bagas sedang berdiri tersenyum di hadapannya sembari mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Hardi tersenyum lalu meletakkan tangan dan mengusap di atas kepala istrinya untuk membaca doa setelah ijab qobul dengan menutup mata menghayati dan juga mendalami tanggung jawab yang saat ini benar-benar sudah berada di tangannya.