
“Kau!! Ah, dasar Gadis murahan tak tahu malu, berani-beraninya kau menuduh saya berbuat hal yang sangat tercela dan juga rendahan seperti itu!” sentak Ferdi dengan tatapan membunuh.
Bahkan kedua tangan pria itu terlihat mengepal dan ingin sekali menghabisi wanita dengan mulut berbisa jauh lebih bahaya dari bisanya seekor ular. Kalau saja Firda bukan seorang perempuan maka tubuhnya sudah pasti melayang ditendang Ferdi.
“Dasar anak kurang ajar, kau sudah mempermalukan papa! Pokoknya Papa tak mau tahu, hari Sabtu ini kau harus menikahi Firda!!” putus Regan dengan tatapan tajamnya.
Tuan Regan merasa harga dirinya saat ini sedang diinjak-injak oleh Putra sulungnya. Bagaimana tidak, Ferdi dengan berani menghamili anak sahabatnya tetapi malah dengan pengecut ingin kabur dari tanggung jawab telah melemparkan kotoran ke arah wajahnya sebagai orang tua, mau ditaruh di mana wajahnya nanti jika sampai Winata mengumbar aib keluarganya kepada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi sekarang.
Firda langsung merasa sudah berada di atas angin karena dibela sama sang calon mertua tapi wanita itu tak pernah tahu jika Ferdi telah mengetahui latar belakang seorang Firda, makanya selalu berusaha menolak perjodohan itu. Sayangnya orang tuanya sama sekali menutup mata dengan kenyataan yang ada. Regan terlalu berharap mendapatkan keuntungan dari jalinan perjodohan putranya dengan keluarga Winata.
“Sekali tidak maka selamanya akan tetap jawabannya tidak karena saya sama sekali tidak pernah suka dengan wanita bernama Firda, belum menikah saja kamu sudah berani memfitnah saya. Apalagi kalau kita benar-benar menyatukan jiwa dalam keutuhan yang bernama rumah tangga? Apa jadinya sebuah rumah tangga jika awalnya saja sudah dilandasi dengan sebuah kata dusta? Kau ini hanya seorang perempuan murahan dan juga seorang pembohong besar!” teriak Ferdi dengan suara lantang, tak kalah kerasnya dengan suara Tuan Regan barusan.
Ferdi tidak akan pernah mengakui sesuatu yang tidak dilakukannya apalagi hanya demi keuntungan papanya semata. Dirinya lebih baik pergi meninggalkan rumah sang papa daripada selalu menjadi boneka kesayangan yang ditugaskan hanya untuk menjaga nama baik keluarganya dan juga sebagai mesin pencetak uang.
“Firda nggak asal tuduh kamu Ferdi, tapi ini emang kenyataan kalau aku sedang hamil karena buah dari benihmu kok, jadi jangan pernah ingkar janji. Harusnya kalau kamu nggak berani tanggung jawab, jangan pernah menyentuh tubuhku!” raung Firda tak mau kalah seolah-olah dirinya sekarang merupakan korban ketidakadilan, padahal wanita itu sedang melancarkan sandiwara hebatnya.
‘Aku mau lihat sampai di mana kamu bisa melawan Om Regan karena selama ini papamu itu terlalu mata duitan hingga tak akan pernah menyelidiki latar belakang hidupku selama ini!’ Firda menaikkan sebelah alis matanya merasa jika Tuan Regan tak akan pernah curiga dengan apapun yang pernah dilakukannya di luaran sana karena memang setiap ada pria paruh baya itu, dirinya selalu memperlihatkan sisi positif sebagai seorang gadis anggun yang punya akhlak baik.
“Dasar wanita murahan, jangankan menyentuhmu Firda … bahkan jika saya melakukan tes keperjakaan ke rumah sakit maka kamu pasti akan langsung kaget sebab saya belum pernah berhubungan badan dengan satu perempuan mana pun! Apa sekarang kau puas? Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita langsung ke rumah sakit untuk membuktikan apakah saya masih perjaka atau pernah meniduri seorang perempuan!” Ferdi menyipitkan kedua matanya, menatap wajah perempuan tak tahu diri dan juga tak tahu malu yang sekarang telah membuat buta kedua mata orang tuanya.
“Tapi video yang barusan dikirim Firda itu sangat mirip sekali seperti aslinya,” ucap Winata membuat Ferdi mengerutkan dahi.
“Di video ini jelas-jelas laki-laki yang sedang bergumul di atas ranjang bersama Firda adalah wajahmu! Apa kamu masih mau mengelak dan tidak mau tanggung jawab untuk menikahi putriku? Dasar Kamu laki-laki pengecut yang hanya mau enaknya tetapi tidak sudi menerima anaknya!” tuduh Tuan Winata begitu hina dan menyakitkan telinga Ferdi, hingga ingin sekali rasanya sang CEO itu membabat habis leher pria sahabat papanya itu.
__ADS_1
Tentu saja Ferdi merasa tidak terima dengan tuduhan dan fitnahan yang semakin menyudutkannya, karena seumur hidup lelaki itu tidak pernah menyentuh satu pun seorang wanita, lalu bagaimana cara Firda menjadikannya sebagai aktor dalam sebuah video panas?
“Video? Video apa maksudnya?” Ferdi berjalan mendekati sang papa, meraih ponsel seharga satu sepeda motor itu untuk melihat video yang dimaksud.
“I-ini …?” Kedua bola matanya sontak terbelalak kaget saat melihat dua manusia sedang bergulat di atas ranjang menikmati sensasi berbagi peluh dan orang itu adalah dirinya sendiri.
“Bagaimana mungkin saya ada di video seperti ini sementara saya sendiri tidak pernah meniduri seorang perempuan sampai sekarang! Jelas-jelas ini adalah rekayasa Firda untuk memfitnah saya jadi tolong Tuan Winata tidak asal menuduh karena laki-laki yang ada dalam video ini bukanlah seorang Ferdi Fernando, saya bisa meyakinkan diri 100% bukan saya!” jawab Ferdi menolak.
“Kamu benar-benar teramat berniat memfitnah saya? Apa kau yakin sedang ingin berurusan dengan saya? Lebih baik kau pikir terlebih dahulu sebelum kau sendiri yang dapat malu!” Ferdi kembali menggelengkan kepala merasa tidak percaya dengan keberanian yang dimiliki Firda untuk mencemarkan nama baiknya.
Ternyata Firda sudah merancang dan juga memprediksikan segala sesuatunya begitu matang hingga perempuan itu mempersiapkan video editan dengan menggunakan tubuh seorang laki-laki yang bukan Ferdi tetapi mengganti wajahnya dengan sang CEO Singgalang group.
Winata yang melihat adegan tak pantas untuk dikonsumsi khalayak ramai itu langsung saja membanting hp-nya sendiri hingga benda pipih berwarna krem itu hancur seketika. Pria paruh baya itu berdiri lalu tanpa aba-aba langsung saja memberikan pukulan bertubi ke wajah Ferdi, hingga lelaki itu tak mampu lagi untuk mengelak, membuat sudut bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah
“Papa gak pernah mengajarimu menjadi lelaki pengecut, Ferdii!!” teriak Regan juga ikut melayangkan pukulannya hingga sekarang kedua sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah.
“Pokoknya Ferdi gak bakalan pernah menikahi wanita ular seperti Firda! Never!” tegasnya menatap balik sang papa tanpa ada keraguan.
Ferdi memiliki harga diri yang sangat tinggi dan tidak bisa digadaikan begitu saja hanya untuk menyelamatkan hubungan persahabatan orang tuanya.
“Kalau begitu, mulai sekarang kau bukan lagi putraku!” lantang Regan.
Akhirnya kata keramat yang ditakuti Ferdi kembali meluncur dari bibir papanya yang egois.
__ADS_1
Tatapan kebencian itu benar-benar terlihat dan tercetak jelas di wajah Barbie ketika mendengar pengusiran yang diucapkan papanya sendiri.
“Segera kembalikan semua fasilitas yang pernah saya berikan padamu, Ferdi!” perintahnya dengan urat leher yang mencuat jelas.
Tuan Regan merasa tidak sanggup untuk menahan malu karena Ferdi tidak mau bertanggung jawab untuk menikahi Firda tetapi dirinya berjanji akan melakukan apa saja agar Tuan Winata memaafkan kesalahan putranya
“Pa!” pekik istrinya tak menyangka kalau Regan akan bicara sepahit itu pada putra sulungnya.
“Jangan usir Ferdi karena kalau kali ini Papa mengusirnya lagi mungkin Ferdi tak akan pernah mau lagi kembali ke rumah ini! Percayalah sama mama, Pa … Ferdi bukan anak breng-sek seperti itu dan pergaulannya selama ini tidak pernah sebebas yang papa tuduhkan!” bela istrinya yang Hanya dianggap angin lalu oleh Regan.
“Ok, semua akan saya kembalikan pada Anda, Tuan Regan yang terhormat dan jangan pernah menyesal setelah saya pergi nanti karena saya akan membuktikan kalau menolak perjodohan ini adalah hal yang terbaik untuk keluarga kita!” tegasnya menatap nyalang sang papa.
“Jangan, Nak … apa kamu udah gak sayang lagi sama mama?” Kedua pelupuk mata wanita paruh baya itu sudah mengembun. Sementara Ferdi merasa sudah kehilangan keluarganya dari beberapa waktu lalu.
Ferdi menatap sendu wajah mamanya, merasa berat untuk berpisah untuk kedua kalinya tapi semua ini harus dilakukan agar Regan bisa melihat kebenaran itu tak akan pernah kalah.
“Maaf, Ma … putramu ini punya harga diri!” tegasnya mengusap sudut mata wanita yang telah melahirkannya itu.
Ferdi tidak mau lagi berbasa-basi. Lelaki itu segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Kevin.
“Kirimkan semua tangkapan kamera CCTV setiap Firda beraksi pada Tuan Winata!” perintah Ferdi pada seseorang yang baru saja dihubungi nya.
[Siap 86 bos!] sahut seorang pria di ujung telepon sana.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan sang asisten yang selalu setia melakukan apa saja demi atasannya. Sementara itu, wajah Firda langsung terlihat pucat saat mendengar perintah Ferdi barusan.