
Tanpa terasa seminggu sudah Nadia bolak balik ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan kondisi pamannya. Seperti hari ini, gadis itu baru saja mendengar bell tanda pulang sekolah. Semua siswa sudah tak ada yang berani membully nya setelah mengetahui kalau Nadia sekarang sedang dilanda musibah karena sang paman yang terbaring di rumah sakit.
“Nad, lo mau ke rumah sakit lagi ya?” tanya Renaldo berjalan ke arah tempat duduk gadis berkepang itu.
“Hem, iya. Aku akan lebih merasa lega kalau udah ketemu sama om Bagas. Aku suka cerita apa aja yang terjadi di sekolah dan aku juga selalu suka baca Qur’an dekat brankar Om Bagas walaupun aku nggak tahu apakah dia bisa merasakan dan juga bisa mendengarkanku. Entahlah, aku juga kurang tahu tentang masalah medis tetapi dokter pernah ngomong kalau orang koma itu sebenarnya alam bawah sadarnya masih bisa merespon ucapan orang yang bicara dengannya dan aku sangat berharap Om Bagas segera sadar dari komanya.” Gadis itu tersenyum getir melirik wajah Renaldo yang ikut sedih menatap ke arahnya tanpa pernah mengetahui jika sang kakak si CEO setiap hari selalu bersama Nadia.
Entah dorongan dari mana tiba-tiba saja Renaldo mengusap pucuk kepala Nadia yang hendak memakai tas ransel di punggungnya. Gadis itu terlihat begitu kaget ketika tangan sang ketua kelas sudah singgah di atas kepalanya.
“Gue antar lo ke rumah sakit ya, ntar gue bakal nemenin lo juga di sana sampai malam dan nganterin lo balik ke rumah, gimana?” Renaldo menarik pergelangan tangan Nadia yang masih duduk di bangkunya, sementara semua siswa sudah berhamburan keluar dari kelas karena bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Nggak usah Rei, aku bisa pulang sendiri kok, apalagi di rumah sakit nggak tahu sampai kapan aku di sana nantinya, aku merasa lebih betah nungguin Om Bagas daripada bengong sendirian di rumah dan pikiranku sama dia terus,” sahutnya menolak ajakan yang ditawarkan Renaldo karena merasa tidak enak merepotkan temannya itu.
Nadia sangat tahu akan dirinya dan tidak pernah ingin merepotkan orang lain kalau memang tidak terpaksa, apalagi dirinya tahu akan posisi siswa yang hanya rakyat jelata terdampar di tengah-tengah kaum sultan.
“Emangnya kenapa sih lo nggak mau boncengan sama gue, apa motor gue terlalu buruk untuk lo naikin?” lanjut Renaldo bertanya dengan wajah yang membuat Nadia langsung tergelak karena temannya itu memohon bagai anak kecil yang sedang meminta permen kapas warna merah.
“Kenapa lo malah tertawa sih? Gue lagi serius Nadia Humairaa dan gue nggak mau ngedenger penolakan sedikit pun dari mulut lo, sekarang ayo kita pergi!” paksa Renaldo yang tetap menarik pergelangan tangan Nadia menuju keluar kelas.
Gadis itu menggeleng pasrah dan berakhir menerima tawaran Renaldo, membiarkan cowok itu menggenggam jemarinya seperti sepasang kekasih saja. Mereka berdua berjalan bagi sepasang manusia yang sedang kasmaran, saling bergandengan tangan padahal Nadia terpaksa melakukannya karena ditarik sama lelaki yang tidak ingin menerima penolakan darinya.
“Kita ke kantin dulu sebentar buat beli bekal di rumah sakit daripada nanti beli di sana harganya mahal!” cetus Renaldo secara tiba-tiba membuat dahi Nadia berkerut seketika.
__ADS_1
“Idih, sejak kapan Pak ketua kelas irit dan pelit jadi orang? Biasanya juga suka traktir teman-teman tuh di kantin. Aku kan sering lihat,” sela Nadia merasa bingung karena selama ini dia seringkali memergoki sang ketua kelas mentraktir teman-temannya.
“Memang sih semua yang dijual di dekat rumah sakit itu pada mahal, tapi kan untuk seorang Renaldo nggak mungkin lah merasa mahal secara duitmu kan banyak,” lanjut Nadia masih saja tidak percaya.
“Gue kan belum bisa nyari duit tanda ke mana dia Humaira tapi gue memang punya jatah sedikit tiap bulan dari bokap dan nyokap! Bukankah lebih baik kalau kita sedikit berhemat daripada memberi pedagang sekitar rumah sakit itu uang cuma-cuma. Bagusan kasih sama Mbak Atik si penjaga kantin.”
‘Aku memang sengaja melakukannya biar semua orang yang masih ada di sekolah ini jadi tau tentang kedekatan kita berdua, agar tak ada lagi yang berani mendekati gadis pintar nan polos sepertimu ke depannya. Aku akan mengejarmu!’ lanjut Renaldo bicara di dalam hati.
Bibir cowok itu tersenyum tipis saat Nadia tidak melepas tangan mereka yang saling bertautan. Baru saja kaki pasangan itu melangkah menuju kantin, beberapa siswa yang masih menunggu pelajaran olah raga terakhir langsung pada berbisik.
“Itu bukannya Si Renaldo putra bungsunya tuan Regan yang kaya raya itu, ya? Anjayy dia lagi gandeng cewek, ini pemandangan langka, kamera lo mana, eh kamera-kamera buruan di foto biar follower gue nambah!” Luna dengan cepat merebut benda pipih warna putih milik Dinda untuk mengambil momen langka menurutnya.
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
“Sumpah lo jahat banget jadiin tuh pasangan buat nyari follower, gilla lo!” cetus Rina yang ada di antara mereka.
“Ya elah, dia ketua kelas lo kok, bukan si Nando kacamata, jadi jangan baper apalagi cembukur yee!” ucap Dinda usil sembari mencolek pipi Rina.
__ADS_1
“Siallan kalian semua, siapa juga yang baper tapi itu orang kok kayak lagi pacaran aja ya? Coba kalian liat noh, masa Renaldo segitu perhatiannya sama si cupu!” tunjuk Rina ke arah pasangan yang baru saja duduk di kantin.
“Samperin yuk!” ajak Luna kepo.
“Siapa takut,” jawab mereka serempak.
Saat mereka sampai di kantin, Renaldo malah terlihat mengulas senyum karena rencananya berhasil, masih ada siswa yang dari kelasnya tersisa di sekolah dan beberapa siswa yang masih menggunakan baju olah raga.
“Kamu mau minum apa, Nad?” tanya Renaldo seketika mengubah panggilannya yang terbiasa lo - gue menjadi aku - kamu.
“Eh, aku gak usah minum segala, Rei. Buruan beli bekal nya biar kita cepat pergi, aku udah nggak sabar mau ketemu,” sahut Nadia merasa biasa saja tapi lain halnya dengan beberapa siswa yang mengenal karakter Renaldo selama ini.
“Busett dah, mereka beneran jadian berarti!” bisik Rina dekat telinga Dinda.
“Asli, tuh bisa jadi berita heboh besok pagi di mading sekolah, lo udah share foto tadi belum sih ke IG?” tanya Donda kepo pada Luna yang sibuk mengotak atik ponselnya.
“Yes, udah dong! Secara Luna gitu lhooo hahaha, ops! Gue malah udah ngambil foto yang tadi waktu Renaldo menatap penuh cinta ketika Nadia tadi duduk menunggu minumannya, gue udah nggak sabar mau ngeliat aksi si sombong Sintia ama Yuli mantan temannya Rina esok,” sahutnya terkekeh kecil.
Mereka kembali memperhatikan keakraban antara Renaldo dan juga Nadia.
“Yaudah kamu tunggu bentar ya, aku pesan dulu sama mbak Atik!” Cowok itu berdiri dan mulai menunjuk apa saja yang akan dibawanya sebagai bekal di rumah sakit untuk ganjal perut selama menunggu Nadia menemani pamannya.
__ADS_1
Baru saja Nadia mau mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, ternyata benda pipih itu malah berdering terlebih dahulu. Nadia dengan cepat mengangkatnya setelah memperlihatkan nama seseorang.
“Halo, assalamualaikum ….”