Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 33. Panggil Aku, Mas Ferdi!


__ADS_3

Baru saja seluruh perawat yang tadi bergosip membubarkan diri, terlihat seorang wanita dengan pakaian seksi mengenakan kacamata hitam, mengintip keadaan Bagas lewat dinding kaca ruang ICU.


“Kenapa kamu jadi seperti ini, Gas? Aku baru pergi sebentar ke luar negeri untuk mengurus perusahaan papa tapi ketika balik kamu sudah meninggalkanku terlalu jauh. Aku ingin kita kembali karena aku sama sekali belum pernah membuka hati setelah pergi darimu dan aku tahu, kamu masih sangat membenciku … begitupun dengan Ferdi – Bosmu itu” lirih gadis itu dengan linangan air mata.


Dia Rosa, gadis yang sudah menjadi kekasih Bagas tapi berpisah karena keterpaksaan Rosa yang harus mengurus pekerjaan papanya akibat sang papa mengalami stroke ringan hingga dirinya pergi meninggalkan Bagas demi menyelamatkan kekayaan keluarganya. Rosa yang nomornya telah diblokir sama Bagas hanya bisa mendapatkan kabar lelaki itu dari para sahabat Bagas selain Ferdi. CEO Singgalang itu ikut membenci Rossa karena melihat bagaimana pahitnya hidup seorang Bagas setelah ditinggal pergi oleh Rossa, dan itu sedikit banyaknya mengganggu pekerjaan sang asisten.


Gadis itu baru bisa datang ke Indonesia setelah akhirnya menjual seluruh aset milik keluarga nya yang ada di Amerika. Itu semua atas permintaan sang papa yang tak ingin terpisah jauh dengan putri semata wayangnya. Rossa kembali setelah mendapatkan kabar dari Kevin kalau Ferdi sudah mulai mendapatkan rintangan dari orang tuanya untuk membiayai kondisi Bagas di rumah sakit, padahal harusnya Rossa masih harus mengurus perusahaan papanya yang baru dipindah tangankan pada keluarganya yang ada di Jakarta.


Mendengar kondisi Bagas terakhir membuat Rossa benar-benar susah untuk berkonsentrasi melakukan pekerjaannya, ditambah lagi kabar dari Kevin kalau kemungkinan besar Ferdi akan memutus biaya perawatan Bagas yang lumayan mahal karena hidup sahabatnya itu bergantung pada alat-alat medis.

__ADS_1


Sebenarnya Rossa sudah minta izin pada perawat jaga agar bisa masuk ke ruang ICU agar bisa bicara langsung dengan sang mantan kekasih yang nyatanya masih dicintainya, tapi sayang dia harus mengantongi izin terlebih dahulu dari Ferdi atau Nadia. Sedangkan Ferdi masih sangat membencinya persis seperti Bagas yang tidak akan pernah dengan mudah memberinya izin masuk ruang ICU, sementara Nadia belum pernah dikenalnya sama sekali selain sekedar nama karena dulu /Bagas sering membanggakan keponakannya itu.


“Kamu harus sembuh karena aku yang akan melanjutkan biaya rawat mu. Aku juga akan menemui gadis kesayanganmu yang bernama Nadia itu agar dia tak merasa sendiri lagi, Gas. Maaf … aku tak ada di saat masa tersulit keponakanmu.” Rossa kembali memakai kacamatanya dan membalikkan tubuh untuk pergi ke bagian administrasi rumah sakit guna menambah deposito uang baiya rawat Bagas.


Dia bertekad akan membuat lelaki kekasih hatinya itu untuk kembali bangun walau berapa pun biaya yang dibutuhkan karena gadis itu tau, kalau Bagas adalah orang yang sangat baik dan pantas untuk diperjuangkan hidupnya.


***


“Ingat apa yang kukatakan tadi, kamu nggak boleh terlalu sedih memikirkan Bagas. Aku yakin suatu saat nanti om mu itu akan bangun dan kembali menemanimu, berdo’a saja agar rezeki kita selalu ada dalam mencari biaya rumah sakitnya! Kamu juga pikirkan penawaran yang aku tawarkan tadi, ya?” Ferdi mengusap kepala Nadia diiringi senyum tulus beberapa saat sebelum gadis itu turun dari mobil untuk masuk ke gerbang Sekolah Tunas Bangsa.

__ADS_1


Entah kenapa setiap dirinya memandang wajah teduh milik sang gadis, segala masalah dan gundah gulana di dalam hidupnya selalu saja menguar hilang seketika hanya karena mendapatkan senyum dari Nadia.


“Makasih ya, Om udah jadi orang terdekat di dalam hidup Nadia sejak Om Bagas sakit. Nadia gak tau apa jadinya kalau nggak ada Om Ferdi, Mungkin saja aku sudah menjadi seorang gelandangan di kota Jakarta, atau bisa juga rumah peninggalan om Bagas sudah kujual semua demi menutupi biaya rumah sakitnya. Aku sekolah dulu, Om.” Nadia tiba-tiba saja meraih tangan Ferdi lalu menciumi punggung tangannya, seirama bulir bening yang menetes lewat pipi karena merasa sangat haru ada sahabat sang paman yang begitu baik hati menggantikan tanggung jawab menemani dan juga memberinya biaya hidup.


Deg!


‘Astaga … rasa apa ini? Gak mungkin gue beneran jatuh cinta sama gadis ini kan? Atau apa ada kelainan sama jantung gue? Gak, Nadia kayaknya terlalu kecil untuk membuat gue benar-benar jatuh cinta. Lagian gue selama ini mana pernah punya rasa sama cewek. Mungkin sebaiknya gue periksa jantung sama Salsa, soalnya akhir-akhirnya terlalu sering berdetak sangat cepat setiap berada di dekat Nadia.’ Ferdi membatin di dalam hati.


Saat Nadia merasa biasa saja ketika melakukan adegan tersebut, lain halnya dengan jantung Ferdi yang terasa berdetak jauh lebih kencang sehingga lelaki itu mengira dirinya mengalami sakit jantung. Ferdi benar-benar merasa ada sesuatu yang lain menjalar ke dalam tubuhnya ketika punggung tangannya itu menyentuh hidung dan bibir Nadia, padahal dia yakin gadis polos itu melakukan semua itu hanya karena menganggap Ferdi sebagai teman pamannya.

__ADS_1


“Tunggu, Nad … bisakah mulai dari sekarang kamu biasakan memanggilku dengan sebutan selain ‘om’ walau aku ini sahabat pamanmu, tapi aku masih pantas kan untuk menjadi kekasihmu seperti yang sering kita dengar saat jalan bersama dari orang-orang? Panggil aku mulai sekarang dengan sebutan mas Ferdi?” Ferdi dengan sengaja menahan jemari Nadia untuk menunggu jawaban dari bibir gadis itu.


__ADS_2