
Keesokan harinya, Ferdi benar-benar datang untuk mengantar Nadia ke sekolah. Pria itu sudah duduk manis di ruang tamu rumah Nadia, padahal waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.
“Non, Den Ferdi datang pagi-pagi ke sini mau ngapain ya? Kok tumben dia bisa punya waktu kayak seorang pengangguran saja,” celetuk Bibi Upi.
Pelayan itu masuk ke dalam kamar Nadia untuk memberitahukan kedatangan Ferdi yang tak biasa.
“Memang dia udah jadi seorang pengangguran, Bi, makanya dia punya banyak waktu sekarang. Dia juga janji bakal menjemputku waktu pulang sekolah nanti. Kasian dia, Bi … Mas Ferdi diusir dari rumahnya karena menolak perjodohan dengan gadis pilihan tuan Regan. Aku bingung harus bersikap kayak gimana, Bi?” Nadia mengambil sisir dan menyisir rambutnya, serta mengambil ikat rambut untuk menjalin dan mengepangnya seperti biasa.
Namun, Bibi Upi malah meraih ikat rambut itu, “Bibi yakin kalau Den Ferdi itu orang yang sangat pintar, jadi Non Nadia gak usah khawatir sama mantan CEO itu hehehe. Oh iya Non, ini sekali-kali non Nadia itu rambutnya digerai kayak begini loh, cantik banget pastinya.”
__ADS_1
Bibi Upi tersenyum sembari memandang sang gadis yang semakin hari seperti dipaksa untuk menjadi dewasa, ‘kasian kamu, Nak … harusnya saat ini merupakan hari masa muda penuh keindahan tapi kamu malah terjebak dengan balas budi pada teman pamanmu. Andai saja bibi punya uang banyak maka pasti akan bibi ganti semua uang yang pernah diberikan oleh Den Ferdi, biar non Nadia tetap lanjut sekolah saja tanpa beban.’
Pelayan itu sungguh tak habis pikir nasib malang yang menimpa Nadia. Baru juga ditinggal ibunya bertemu sang Ilahi, tak lama kemudian malah ditinggal juga sama sang paman yang hendak merawatnya hingga sukses di masa depan.
Bibi Upi kembali tersenyum melihat wajah Nadia yang jauh lebih terkesan fresh dari biasanya karena memang selama ini rambut gadis itu selalu saja dikepang dua.
“Tampil beda itu sekali-kali perlu dilakukan agar pasangan kita merasa senang dan merasa dispesialkan,” tutur Bibi Upi dengan sok tahunya membuat Nadia jadi ikut terkekeh mendengar perkataan Bibi barusan sebab yang diucapkannya itu sungguh terdengar membuatnya malu, apalagi Gadis itu selama ini memang belum pernah yang namanya punya hubungan spesial dengan seorang pria.
“Tapi aku merasa aneh, Bi … setiap hari rambutku selalu dikepang dua sejak dulu oleh Bunda, jadi udah kayak kebiasaan aja gitu!” Nadia tetap ingin mengepang rambutnya tetapi Bibi Upi dengan cepat meraih sisir itu dan mengambil alih untuk merapikan rambut Nadia yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
__ADS_1
“Bibi ingin melihat non Nadia itu tampil cantik hari ini, biar teman-teman perempuannya yang disuka mengejek di sekolah merasa malu sendiri, sebab non Nadia itu sebenarnya sangat cantik sekali!” Pelayan itu terus saja menyisir rambut Nadia, memberikan satu jepitan berbentuk kupu-kupu di bagian sebelah kanan rambutnya, hingga membuat wajah Nadia benar-benar sangat memesona.
Beberapa menit kemudian setelah pakaian putih abu-abu dikenakannya, Gadis itu keluar dari kamarnya dengan tas ransel yang sudah siap di punggungnya.
“Assalamu’alaikum, selamat pagi Mas Ferdi,” sapa Nadia.
Ferdi berdiri dan menoleh ke belakang karena kebetulan kursi yang didudukinya membelakangi kedatangan gadis itu, mulutnya terbuka dengan mata tak berkedip saat melihat sosok gadis cantik nan sangat menarik berdiri sekitar enam meter darinya.
“Cantiknya bidadariku!” gumamnya tanpa sadar.
__ADS_1
“Eh, astaga … wa'alaikumussalam warahmatullah, ini beneran kamu Nadia?” lelaki itu melangkah semakin dekat bahkan tanpa sadar gelas berisi teh hangat yang ada di tangannya sama sekali tidak ditaruh lagi ke atas meja, demi bisa mendekati sang gadis.