
Dua hari kemudian, Nando dan Nadia sedang berada di hotel yang disewakan oleh pihak panitia olimpiade sebagai tempat menginap para siswa hebat. Nadia baru saja selesai shalat ashar saat ada ketukan pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
“Nadia! Apa kau ada di dalam?” Suara Nando terdengar selaras ketukan di pintu.
“Ya, sebentar!” sahut gadis itu singkat.
Nadia yang masih menggunakan mukena langsung saja beranjak dari atas sajadah untuk mengetahui ada apa Nando mencarinya.
Ceklek!
Wajah tampan teman satu sekolahnya itu langsung saja terpampang di ambang pintu, memberikan senyum pesona mengembang yang bakal sulit untuk ditolak setiap mata yang melihatnya.
__ADS_1
“Hai, Nadia,” sapa Nando dengan terseyum kikuk.
Nadia membalas senyum Nando dengan sedikit anggapan, “Eh, hai. Ada apa mencariku?” tanya Nadia dengan dahi berlipat merasa heran melihat teman satu sekolahnya itu seperti Seorang pemuda salting di depannya Padahal mereka jelas-jelas datang ke Bandung dari sekolah yang sama, sebagai perwakilan pihak sekolah dalam mengikuti olimpiade sains kali ini.
“Mmm itu. Anu … apa nanti malam kamu punya waktu?” Nando terlihat berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain ketika mempertanyakan ketersediaan hadiah untuk diajaknya nanti malam tetapi tingkah yang ia perlihatkan benar-benar terkesan begitu lucu hingga Nadia sendiri tak mampu lagi menahan tawa renyahnya yang pecah saat itu juga.
“Hahaha, kamu ini kenapa sih, kok gaya bicaranya kayak orang salah tingkah begitu? Mirip seperti orang yang sedang jatuh cinta,” tebak Nadia melati gelagat aneh dari Nando. Padahal jelas-jelas tadi siang mereka baru saja sama-sama kembali dari tempat Olimpiade setelah bersaing dengan beberapa sekolah.
“Masa?” Nando menaikkan salah satu alisnya, seolah cowok itu sama sekali tak percaya dengan tebakan Nadia.
“Apa lagi ya?” tanya cowok itu malah cengo bagai ABG yang baru saja pubertas.
Tingkah Nando kembali memperlihatkan mirip seperti seseorang yang memang salah tingkah tak karuan dan Nadia tentu saja sebenarnya mengerti akan apa yang sedang dirasakan Nando saat ini, sebab segelintingan isu sempat didengarnya sebelum berangkat ke kota Bandung.
__ADS_1
Bahkan, Ferdi sendiri sampai ikut mengingatkannya agar tidak terlalu dekat dengan Nando ketika mereka sedang berada di kota Bandung ditambah lagi dalam penginapan yang sama. Ferdi dengan jelas bisa menangkap dan mengatakan pada Nadia, kalau gelatan dari cara tatap seorang Nando sangat jelas terlihat jika pemuda itu menyukai Nadia.
“Ya, apa? Kan kamu yang datang ke kamarku, kok malah nanya aku?” tukas Nadia kembali tertawa, memperlihatkan giginya yang berbaris rapi begitu putih.
Nando terlihat menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal karena semua itu dilakukannya sebagai pengalih rasa gugup yang sedang dialaminya.
“Aku mau mengajakmu jalan-jalan nanti malam. Bukankah esok kita akan kembali ke Jakarta?” Nando kembali bertanya akan hal yang tak perlu pada Nadia tapi gadis itu tetap menjawab dengan anggukan kepala.
“Makanya aku mau mengajakmu mengelilingi kota Bandung malam hari. Banyak orang yang bilang kalau pemandangan Kota Bandung di malam hari begitu sangat indah dan memukau, lalu apa salahnya kita menghabiskan malam terakhir di sini sebelum pulang ke Jakarta, bagaimana menurutmu?” Nando merasa mulai sedikit risih dan kesal karena Nadia sama sekali tidak mempersilakannya utuk masuk ke dalam kamar.
Nadia terlihat berpikir karena banyak hal yang harus dipertimbangkannya sebelum menerima tawaran dari Nando, jelas-jelas dirinya tidak akan pulang ke Jakarta esok hari karena Ferdi mengatakan kalau pria itu juga akan datang ketika hari terakhir dirinya menyelesaikan olimpiade sains di kota Bandung.
“Maaf Nando, sepertinya aku tak bisa ikut dengan Karena Mas Ferdi mau datang ke sini!” tolak Nadia secara langsung karena Gadis itu tidak mau memberikan harapan palsu untuk teman sekolahnya itu.
__ADS_1
‘Aku tahu ada maksud terselubung dibalik sikapmu sekarang dan aku tak ingin menjadi pemberi harapan palsu untuk cowok baik sepertimu! Maafkan aku Nando, tapi sikap seperti ini jauh lebih baik kamu dapatkan daripada aku pura-pura menyukaimu sementara ada pria lain yang sudah bertahta di hatiku dan aku juga tak pernah ingin menjadi perempuan yang tidak setia!’ lanjutnya di dalam hati.
“Oh … ya sudah kalau begitu, aku nggak apa-apa kok. Maaf karena aku telah mengganggu.” Nando langsung membalikkan tubuh menahan getir di dalam hati yang terasa begitu sesak karena ditolak sebelum menyatakan perasaannya sendiri.