Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 65. Kenapa Kau Datang Saat Aku Bahagia


__ADS_3

Ferdi rasanya ingin marah terhadap pelayan yang bekerja di tempat Bagas tapi itu tak mungkin dilakukannya karena bagaimana pun juga pelayan itu sudah dianggap sebagai seorang ibu oleh almarhum asistennya dulu. Padahal, sekarang ini pelayan itu yang memberinya gaji adalah Ferdi itu sendiri, walau sebenarnya Bibi Upi sudah tak mau lagi diberi gaji sama sekali, apalagi wanita paruh baya itu tentu saja mengerti jika Nadia saat ini hanyalah sebagai seorang pelajar yang tidak memiliki penghasilan.


Saat ini Bibi Upi sudah kembali ke dalam kamarnya karena tidak ingin mengganggu apa yang tadi dilihatnya tanpa sengaja, tentu saja wanita itu merasa sungkan sebab memergoki Ferdi yang ingin memeluk Nadia dari belakang walau hatinya sedikit deg-degan membiarkan Nadia sendirian di ruang makan tetapi dirinya sangat yakin kalau Ferdi adalah pria yang baik seperti apa yang pernah diceritakan Bagas sebelumnya.

__ADS_1


Ferdi baru saja keluar dari rumah yang ditempati Nadia, lelaki itu diantarkan sampai ke depan teras, "Baiklah, aku pulang dulu ya, tolong jaga dirimu baik-baik dan pastikan semua pintu tertutup rapat, jangan sampai membukakan pintu walau siapapun yang datang ke rumahmu!" titah Ferdi seolah seorang suami yang ingin pergi meninggalkan istrinya saja.


Nadia menyunggingkan senyum merasa senang melihat perlakuan Ferdi yang semakin begitu menyayanginya bahkan sangat ketakutan jika sampai terjadi sesuatu hal buruk terhadapnya, padahal semenjak Gadis itu tinggal bersama sang paman di rumah ini, belum sekalipun terdengar ada pencuri yang masuk ke dalam rumah warga.

__ADS_1


"Iya Mas, aku ngerti kok. Lagian nggak mungkin lah pintunya nggak dikunci yang ada nanti malingnya bisa masuk, takutnya lagi malingnya itu adalah Mas Ferdi sendiri hehehe," goda Nadia dengan terkekeh kecil membuat Ferdi benar-benar melihatnya begitu gemas.


Nadia hanya menganggukkan kepala dan memberikan senyum termanisnya untuk kepergian laki-laki yang sudah meminangnya itu. Namun, baru saja Ferdi berjalan beberapa langkah, pria itu kembali menoleh ke belakang, “ Oh iya aku lupa, karena sekarang aku udah jadi seorang pengangguran maka sebaiknya mulai besok pagi biar aku saja yang mengantar jemputmu ke sekolah tak perlu lagi naik taksi ataupun ojol, aku pulang dulu assalamualaikum,” pungkasnya memberikan kiss jauh menggunakan dua jari ke arah bibirnya.

__ADS_1


Nadia melambaikan tangan untuk mengantar kepergian sang kekasih hati tetapi sejenak kemudian, setelah mobil itu tak terlihat lagi pikirannya terpaut pada saat beberapa jam yang lalu, ketika tanpa sengaja dirinya bertemu dengan Prasetyo di taman kota. Ditambah lagi pertemuan itu sungguh sangat membuatnya merasa tidak enak hati sebab pemuda yang sekampung dengannya tersebut, memergokinya sedang bermesraan dengan Ferdi.


“Kenapa kak Pras datanya terlambat menemuiku, padahal aku baru saja benar-benar sangat terpuruk tapi aku juga yakin kamu juga nggak bakalan bisa membantu biaya pengobatan Om Bagas yang begitu besar. Kenapa kak Pras tidak segera mendatangiku saat aku membutuhkanmu? Kenapa kamu malah datang di saat aku baru saja menemui kebahagiaanku? Maafkan aku karena telah mengingkari janji kita untuk menjadi sepasang kekasih setelah dirimu datang ke kota Jakarta. Maaf bukan maksud hatiku untuk mengingkari janji kita tapi aku memang sangat tidak berdaya hanya Mas Ferdi lah yang peduli padaku!” Gadis itu bermonolog sendiri sembari mengusap titik bening yang jatuh melewati pipinya, dan tanpa ia ketahui, Pras sedang berdiri di balik pagar menekan dadanya karena mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Nadia.

__ADS_1


__ADS_2