Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 16. Tak Ada Harganya


__ADS_3

Terima kasih buat semua yang selalu menunggu up date nya buku ini.


Ferdi keluar dari rumah orang tuanya dalam keadaan marah, memasuki mobil dan menyetir dengan laju yang sangat cepat tanpa arah dan tujuan. Di dalam mobil lelaki itu tak berhenti menggerutu dan mengumpat sang papa yang selalu ingin menjadikannya sebagai boneka keluarga. Seorang anak dengan kepintaran di atas rata-rata tapi tidak pernah bisa merasakan kebebasan sebagai layaknya anak orang-0rang pada umumnya, sungguh kasihan nasibnya sebagai anak konglomerat tapi tak pernah dianggap sebagai layaknya seorang anak.


“Papa egois nggak pernah sedikit pun mikirin perasaan gue, yang ada di otaknya hanya uang! Uang dan uang lagi, padahal uang nggak bakalan pernah bisa dibawa mati! Kenapa Tuhan gak bikin papa sakit aja sih biar tau rasa dan cepat bertobat!” rutuknya dengan nada penuh kekesalan.


“Kenapa di mata papa hanya ada Firda dan selalu Firda lagi setiap saat untuk dijodohkan dengan gue? Apa karena keluarga wanita itu merupakan orang terkaya di Jakarta ini? Sebenarnya apa lagi sih yang dicari sama Papa sampai-sampai ingin menjual anaknya sendiri demi harta kekayaan?” Ferdi kembali menggelengkan kepalanya, merasa tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Papanya hingga tanpa ada rasa kasihan dengan enteng dan tanpa rasa bersalah mengorbankan anak-anaknya demi ambisi menjadi orang yang jauh lebih kaya lagi.


“Dasar papa siallan tak punya rasa kasihan bahkan rela membuang anaknya demi mendapat pandangan terkaya di mata orang lain!” raungnya kembali memukul benda hitam berbentuk lingkaran yang sedang dikendalikannya.


Pria itu terus saja bermonolog sendiri sembari sekali-kali memukul setir kendali mobil dengan kecepatan tinggi dan setelah beberapa menit dirinya berkendara, tanpa ia sadari mobil itu sudah berbelok ke arah rumah sang asisten pribadi. Ferdi meraup mukanya dengan kasar lalu menjerit sejadi-jadinya di dalam mobil mengingat kebebasan yang selalu direnggut kedua orang tuanya sejak pria itu masih kecil, bahkan masih duduk di bangku sekolah dasar.


Namun, sejak lelaki itu diangkat menjadi seorang CEO dirinya dengan sengaja membeli sebuah apartemen tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya kecuali hanya sang adik yang tau tempat itu. Apartemen itu sering dijadikan tempat bercerita antara Renaldo dan juga Ferdi, keduanya sering menghabiskan waktu di sana tanpa diketahui oleh Mama dan Papa mereka dengan alasan tidur di tempat teman atau Ferdi akan berdalih sedang dinas luar kota.

__ADS_1


Bibi Upi baru saja hendak menutup seluruh gorden di bagian ruang tamu karena mengingat hari sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB malam lebih beberapa menit, telinganya mendengar deru mobil yang masih menyala, matanya tanpa sengaja melihat mobil bos dari majikannya terparkir di dekat teras rumah.


“Loh loh loh! Itu bukannya mobil Den Ferdi, ya? Kenapa Den Ferdi ke sini? Den bagas aja tidak ada di rumah kok, tadi Nona Nadia bilang kalau Omnya itu lembur di kantor dan kemungkinan malah gak pulang ke rumah karena mempersiapkan pekerjaannya sebelum pergi ke Papua. Lalu kenapa malah den Ferdi yang datang kemari? Apa beliau dimintai tolong sama Den Bagas kali ya untuk datang ke rumah ini?” tanya Bibi Upi bermonolog sendiri di ruang tamu, berbarengan dengan kakinya yang keluar rumah untuk menghampiri atasan sang empunya rumah.


Wanita paruh baya itu bergegas membuka pintu dan berjalan tergesa-gesa menghampiri mobil Ferdi, Bibi Upi mulai mengetuk pintu mobil yang dikendarai CEO Singgalang Group.


Tok! Tok! Tok!


‘Astaga, ngapain gue malah datang ke rumah Bagas?’ batinnya di dalam hati sembari membuka pintu mobil agar perempuan paruh baya itu bisa melihat dirinya dengan benar.


“Maaf Bi, saya –” Ferdi tidak selesai mengucapkan apa yang sebenarnya ingin dikatakannya karena Bibi Upi langsung memotong perkataan atasan majikannya yang memang sudah diketahui merupakan sahabat terbaik Bagas.


“Den Ferdi pasti bermasalah lagi ya dengan orang tua nya?” tebak asisten rumah tangga itu memperlihatkan wajah penuh kasihan.

__ADS_1


“Ayo kita masuk dulu di dalam juga ada Non Nadia sendirian di rumah Soalnya dan Bagas Lagi lembur di kantor katanya,” lanjut Bibi Upi mengajak Ferdi untuk masuk ke rumah majikannya.


Ferdi tidak menyahuti karena dia yakin pelayan itu juga pasti sudah mengerti apa yang terjadi dengan dirinya saat ini karena memang rumah Bagas merupakan tempat yang paling sering ia datangi ketika selalu bermasalah dengan keluarganya. Bahkan Ferdi sering kali menginap di rumah Bagas karena malas tinggal sendirian di apartemen yang selalu membuatnya ingin kembali mendekati minuman beralkohol sekedar menghilangkan rasa pusing menghadapi sikap Papanya.


Namun, sejak Ferdi menjadikan Bagas sebagai asisten pribadinya, lelaki itu jauh merasa lebih baik menjadi seorang manusia karena ternyata dirinya bisa mengadukan segala keluh kesah terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa yang sebelum mengenal Bagas, dirinya tidak terlalu mengenal agama.


“Apa Den Ferdi dipaksa lagi untuk tunangan dengan nenek sihir itu?” tanya Bibi Upi lagi, pelayan itu bertanya tapi kali ini dibarengi dengan anggukan kepala Ferdi.


Bibi Upi memang sudah dianggap oleh Ferdi persis seperti apa yang dilakukan Bagas selama ini, menjadikan perempuan itu sebagai tempat curhat mereka berdua bahkan sudah sangat akrab layaknya anak dan ibu sendiri.


“Ya udah, sekarang ayo kita masuk dulu, nanti bibi bikinin coklat hangat biar kepalanya lebih terasa dingin ya heheh. Masalah itu jangan terlalu dimasukin ati, Den … tapi ada kalanya suatu masalah bisa kita anggap seperti angin lalu karena angin akan selalu pergi setelah singgah sebentar,” ucap sang Bibi dengan menarik lembut pergelangan tangan Ferdi karena begitulah keakraban yang tercipta selama ini di antara mereka.


“Apa menurut Bibi saya ini tak berharga hingga papa ingin menjual saya pada rekan bisnisnya?” tanya Ferdi dengan raut muka yang begitu menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2