TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Mengantarkan Pulang*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Saat Vesper, Joel dan Erik dibuat gelisah karena Antony serta Axton belum juga datang, tiba-tiba ....


DING DONG DING!


Kepala Joel menoleh ke asal suara, begitu pula Erik yang langsung melirik ke arah lain. Kening Vesper berkerut saat matanya mendapati sebuah pergerakan dari arah gurun menuju ke bangunan besar layaknya keong tak jauh dari tempatnya berada.


"GOARRR!"


"Woah! Apa itu? Monster?" pekik Joel karena terdengar raungan layaknya binatang buas.


Namun, anehnya. Tak ada satu pun manusia di sana yang menganggap suara besar tersebut ancaman. Malah, beberapa dari mereka tersenyum.


"Selamat datang para penumpang Mega-Express. Tujuan akhir perjalanan ke Distrik Lumia telah sampai. Jika Anda mengalami gangguan kesehatan setelah terbangun dari hypersleep, silakan segera ke pusat medis untuk mendapatkan perawatan. Terima kasih atas kepercayaan Anda menggunakan robot cacing. Sampai bertemu kembali dan salam perdamaian," ucap sistem yang suaranya terdengar di seluruh kawasan.


"Apa tadi dia bilang? Hypersleep? Robot cacing?" tanya Joel mengulang.


"Ya, kau tak salah dengar, Joel. Ayo!" ajak Erik dan diangguki keturunan Borka tersebut.


Mereka berdua terbang menuju ke bangunan seperti sebuah cangkang keong raksasa berwarna emas. Dua roh itu ingin memastikan, jika Axton dan Antony ikut dalam rombongan para penumpang. Sedangkan Vesper, tetap menunggu di landasan tempat semua jenis Heli-Go terparkir. Vesper begitu waspada takut dikenali mengingat ia sedang dicari oleh pihak kepolisian.


Saat Vesper dilanda rasa cemas luar biasa, breaking news kembali hadir. Sebuah layar besar layaknya billboard yang terpampang dekat landasan menampilkan sebuah berita. Sontak, sekitar layar besar itu dikerumuni banyak orang untuk mengetahui kabar terbaru hari ini.


"Breaking news. Dilaporkan dari kawasan pemukiman Koloni Merah. Pria yang dicari dan ada keterlibatan dengan hilangnya Georgina Rovales yakni Brego Mozage, telah ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa karena bunuh diri. Tubuh Brego ditemukan gantung diri dengan sebuah kertas terselip di saku celana. Surat tersebut menyatakan jika dirinyalah pelaku pembunuhan sang istri yakni Georgina Rovales. Brego juga menuliskan di mana letak mayat sang istri, tetapi petugas belum menemukan jasad tersebut. Sejauh ini, polisi masih menyelidiki hilangnya jasad Georgina Rovales. Diharapkan kepada semua warga di seluruh negara dan distrik, jika menemukan keberadaan jasad Gina untuk segera melaporkan ke pusat. Demikian kabar terbaru yang dapat kami sampaikan. Diharapkan menjadi perhatian khusus dan terima kasih. Salam perdamaian," ucap sang reporter dengan tangan kanan diletakkan di bawah bahu samping kiri sebagai gerakan salam perdamaian.


Mata Vesper terbelalak lebar. Terlebih ketika ia melihat beberapa robot polisi bergerak menuju ke lokasi Heli-Go di parkirkan. Robot-robot berbentuk layaknya ponsel layar sentuh berukuran besar itu mencurigai sebuah helikopter yang tak lain adalah kendaraan Gina. Vesper dengan sigap pergi tak menunggu kemunculan Axton dan Antony. Saat ia berjalan dengan langkah cepat menunju stasiun robot cacing, tiba-tiba ....


"Berhenti!" panggil seorang pria yang berada tepat di belakang Vesper. Jantung mantan ketua 13 Demon Heads itu seolah kembali berdegup kencang. Vesper tak menghentikan langkahnya dan terus berjalan. "Georgina Rovales! Berhenti sekarang atau kami akan menyetrummu!"


Praktis, ucapan pria itu membuat Vesper panik setengah mati, tetapi ia memang sudah mati. Vesper tetap menjaga ritme langkahnya seolah ia tak mendengar gertakan itu.


"Georgina Rovales! Kau sudah diperingatkan!" teriak seorang pria.


Dasar bodoh. Aku bisu. Kau ingin aku menjawab dengan apa? Gerakan isyarat? Hah, lupakan, batin Vesper kesal.


Akan tetapi, CRETTT!!


"Oh!" kejut para polisi melihat sosok yang mengabaikan panggilan mereka tak terkena dampak sengatan dari alat penyetrum robot polisi.


Vesper terus berjalan dan hampir tiba di gedung berbentuk keong emas. Hingga tiba-tiba ....


"Vesper! Ada benda yang menempel di tubuhmu! Seperti pin-pin logam!" teriak Axton yang tiba-tiba muncul dari pintu kaca gedung.


Vesper tertegun dan langsung menoleh. Ia yang tak merasakan sakit baru menyadari jika para polisi robot melakukan sesuatu pada dirinya. Vesper dengan sigap melepaskan rompi baju ala koboinya lalu dibuang begitu saja. Mantan mafia itu berlari kencang menjauh dari para polisi.

__ADS_1


"Dia kabur! Tangkap!" teriak salah seorang polisi dengan pakaian layaknya RoboCop, tetapi tak serumit itu.


Axton dan tiga roh lainnya dibuat panik. Vesper dikejar oleh robot-robot polisi, membuat kehebohan di kawasan tersebut.


"Vesper! Tinggalkan roh Gina!" pekik Antony.


"Tidak mau!" jawab Vesper terus berlari di mana ia tak merasa lelah.


Selain itu, ia merasa tubuh Gina cukup lentur karena berhasil menyelinap di antara kerumunan manusia tanpa harus menabraknya. Vesper menduga jika dulunya Gina adalah seorang akrobatik, pesenam, atau balerina.


"Keras kepala! Kita harus lakukan sesuatu!" pekik Joel ikut pusing melihat mantan istrinya kejar-kejaran dengan para polisi.


"Kita carikan rute dan kendaraan untuk Lily. Ayo!" ajak Erik dan diangguki roh lainnya.


Joel, Erik dan Axton sibuk melihat sekitar. Sedang Boleslav, terbang mendampingi Vesper untuk memastikan dia mampu bertahan dari kejaran.


"Ada sungai besar dan ada kapal di dermaga!" teriak Joel seraya menunjuk.


"Bagus! Vesper, cepat kemari!" teriak Axton ikut panik padahal bukan dia yang dikejar.



Vesper berlari sangat kencang dengan wajah gembira. Entah kenapa, Antony merasa kegilaan Vesper tak hilang sejak ia mengenalnya dulu untuk pertama kali di jamuan 13 Demon Heads di Colombia. Antony tersenyum tipis karena Vesper tak menyerah dan berhasil masuk ke wilayah dermaga meski nekat menerobos palang pembatas.


Namun, Vesper tak peduli dan terus berlari. Orang-orang yang duduk di bangku kapal dengan sisi terbuka tertegun saat melihat seorang wanita berlari kencang lalu masuk ke kapal dengan cara melompat karena benda terapung tersebut mulai bergerak menjauh dari dermaga. Mata orang-orang itu melebar dengan wajah tegang karena sosok wanita berparas ayu dan bergaya layaknya koboi zaman dulu tersenyum sembari mencari kursi kosong.


"Maaf, apakah ... Anda sudah membeli tiket?" tanya seorang petugas pria berseragam mendekat. Vesper melakukan gerakan isyarat. Petugas itu berkerut kening. "Maaf. Anda bisu?" Vesper mengangguk. Pria itu meminta wanita di depannya menunggu sebentar. Vesper menjawabnya dengan senyuman. "Silakan gunakan ini. Benda ini adalah kalung penerjemah gerakan isyarat," ucap pria itu yang membuat kening Vesper berkerut.


"Entah perasaanku saja atau ... fungsi alat ini seperti buatan Kai untuk Ivan. Hanya saja, model ini telah dimodifikasi," ujar Vesper seraya mengamati kalung dengan rantai dan liontin seperti penutup mic.


"Entah, aku tak ingat," ucap Axton santai.


"Memang Ivan kenapa?" tanya Erik bingung.


"Ceritanya panjang," sahut Boleslav dengan wajah datar.


"Maaf. Tiket?" tanya petugas itu saat melihat penumpang kapalnya telah menggunakan kalung


"Yes, yes, sure!" jawab Vesper mantap dengan berlagak mencari tiketnya. "Ups, sepertinya terjatuh saat aku berlari tadi. Sorry," imbuhnya santai.


Petugas itu menyipitkan mata. Saat ia menekan sebuah tombol hitam yang terpasang di lubang telinganya, dengan cepat ....


BUAKK!


"Oh!"

__ADS_1


BYUR!!


"Hah, hah, hei!!" teriak petugas itu yang tercebur di air sungai karena seorang penumpang gelap tiba-tiba memukul wajahnya hingga ia jatuh dari atas kapal.


Vesper menyeringai dari atas buritan seraya melambaikan tangan. Antony dan lainnya bertepuk tangan. Akan tetapi, saat Vesper berbalik untuk mencari tempat duduk, ia tertegun melihat para penumpang menekan layar jam tangan di pergelangan seraya melihatnya tajam.


"Kau pasti penjahat! Kau tega melukai dan menerobos sistem. Kami telah melaporkanmu!" teriak seorang wanita dengan jam tangan menyorot ke arahnya, begitu pula yang lain.


"Oh, begitu? Lalu ... apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanya Vesper santai lalu bertolak pinggang.


Para penumpang yang berdiri dengan bergerombol saling memandang memicingkan mata.


"Polisi akan datang kemari dan menangkapmu," ucap seorang pria dengan sorot mata tajam.


"Well, sepertinya ... ini akan rumit. Maaf, ya," ucap Vesper cuek dan berjalan mendekati kumpulan orang-orang.


"Ka-kau mau apa!" tanya seorang wanita panik dan berjalan mundur.


Vesper tersenyum menyeringai sebagai jawaban. Tiba-tiba ....


"AAAA!!"


BYUR!!


"Hahahaha! Lempar mereka semua Vesper! Itu baru istriku!" ucap Joel gembira.


Entah apa yang para roh itu rasakan, mereka terhibur saat Vesper melemparkan para penumpang itu ke air. Para pria bertepuk tangan dan gembira melihat orang-orang tersebut histeris. Namun, tak semudah kelihatannya. Karena Vesper harus mengejar mereka satu per satu untuk ditangkap. Hingga langkahnya berakhir di tempat nahkoda berada di mana jenis kapal tersebut adalah wisata.


"A-apa maumu?" tanya nahkoda itu tergagap.


"Bawa aku ke Sentra Hijau. Tak perlu melaporkan apa pun ke pusat, maka kau akan baik-baik saja. Aku hanya ingin pulang," ucap Vesper serius.


"Ka-kau siapa?" tanya nahkoda itu tergagap.


"Aku? Georgina Rovales."


"Ka-kau si orang mati!" pekik nahkoda itu dengan mata melotot seraya memeluk setirnya. Vesper tersenyum dengan anggukan.


"Fokus pada tujuanku dan aku berjanji tak akan menyakiti."


"Oke oke," jawab pria yang berumur kurang lebih empat puluh tahunan itu dengan gugup.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2