TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Indra Keenam


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Vesper dan para roh lainnya mengikuti pria yang dikenal bernama Matteo Corza atau Colosseum Blue. Dua buah robot seperti bodyguard itu selalu mengikuti pria tersebut. Vesper tampak tertarik dengan dua robot berwarna ungu dan jingga karena bentuknya yang menggemaskan seperti kapsul berukuran besar.


"Purple, Roboto. Pastikan kalian kosongkan jadwalku hari ini. Family time," ucap Matteo tegas melirik dua robotnya bergantian.


"Yes, Sir," jawab dua robot itu sigap.


"Lucu sekali," ujar Vesper seraya mengelus kepala dua robot itu, meskipun raga rohnya menembus, tetapi ia tak peduli. "Zaman ini penuh dengan teknologi canggih, Tony. Oh, aku sangat iri," ucap Vesper tampak senang ketika mereka memasuki sebuah ruangan di mana terdapat banyak layar-layar hologram di hadapan.


"Halo, Tuan Corza. Bagaimana perjalanan Anda?" sapa seorang pria muda mengajaknya berjabat.


Lelaki itu mengenakan pakaian layaknya perwira berwarna hitam. Terpasang sebuah medali berbentuk bintang emas di dada sebelah kanan. Bertubuh tinggi dan memiliki aksen tegas serta wajah rupawan. Memakai topi meski penampilannya terlihat modern karena sepatu boots-nya berlapis besi termasuk pengaman pelindung bahu. Di sekitarnya, banyak pria berseragam sepertinya tanpa medali bintang sedang mengoperasikan tombol-tombol di hadapan.


"Lumayan," jawabnya yang masih duduk di kursi melayang sambil menyambut jabat tangan tersebut.


"Matteo!" panggil seorang pria dengan tangan direntangkan dan senyum terkembang berjalan menghampiri dari luar ruangan.


"Hei, Tony! Wow! Kau tetap terlihat tampan. Hem, aku menebak kau pasti melakukan hypersleep sampai 10 tahun," ucap Matteo dengan mata menyipit.


"Bukan salahku. Kau sendiri yang menyetel semua tabung dengan fungsi ditidurkan sampai 10 tahun. Maaf, jika kau kini menjadi pria tua," sindir mantan kapten pasukan itu dengan dua tangan di dalam saku celana.


"Wait! Namanya sama denganku!" pekik Boleslav yang membuat semua roh menertawainya.


Vesper tersenyum melihat dua lelaki itu seperti berkawan akrab. Hal tersebut mengingatkannya akan kenangan bersama Kai dan Han—mantan suami Vesper. Hingga ia tersadar akan sesuatu ketika melihat wajah Matteo lebih dekat.


"Lihat-lihat, dia mulai menunjukkan watak aslinya!" pekik Joel karena Vesper mengamati Corza lekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan. Praktis, hal itu ikut menyulut emosi Erik.


"Vesper!" teriak Erik dan Joel lantang yang mengejutkan semua roh.


"What!" balas Vesper memekik.


Matteo menoleh dengan wajah tegang dan mata memindai sekitar.


"Ada apa?" tanya rekan kerjanya—Tony.


"Entahlah, aku tak yakin. Aku merasakan hal aneh. Seperti ada sesuatu di dekatku. Lihat, buluku meremang," ujar Matteo yang membuat Tony mendekat seraya melihat rambut halus di lengan sahabatnya.


"Aku pernah dengar jika kita merasakan aura aneh di tubuh, tandanya ada hantu di dekatmu," bisik Tony yang membuat Matteo sampai melompat dari kursi lalu berdiri di samping rivalnya dulu.

__ADS_1


Tony tertawa terbahak, tetapi bagi Matteo tidak lucu. Kening Vesper dan lainnya berkerut. Mereka seperti memiliki satu pemikiran karena kejadian barusan.


"Hempf, di mana Alva? Aku ingin bicara padanya," tanya Matteo seraya mengelus tengkuk dengan salah satu tangan.


"Sudah kuduga!" pekik Vesper yang mengejutkan semua roh.


"Kau menduga apa?" tanya Antony mendekat.


"Pria ini memiliki mata biru seperti Alva. Ada beberapa kemiripan dari bentuk wajahnya. Kurasa rambut pirang didapat dari sang ibu. Matteo adalah ayah Alva!" ujar Vesper yang membuat Joel dan Erik memalingkan wajah karena salah duga.


"Pengamatan bagus! Jangan sampai kehilangan pria itu! Dia bisa membawa kita kepada Alva!" pekik Axton semangat dan diangguki semua roh.


Para roh bergegas mengikuti Matteo Corza. Tony—mantan kapten pasukan robot pada zamannya—ternyata mengajak mantan Presiden Great Ruler memasuki lift dan naik sampai ke menara tertinggi. Vesper dan lainnya dibuat kagum karena pergerakan lift tersebut sangat cepat tak terasa lonjakannya.


TING!


"Selamat datang, Kapten Tony dan Tuan Matteo Corza," ucap sistem saat mereka memasuki ruangan.


"Ayah!" panggil seorang gadis cantik yang mengejutkan para roh.


Mereka tak menyangka jika akan menemukan Alva secepat ini. Matteo yang tak lagi menggunakan kursi langsung memeluk putrinya lekat. Vesper menatap keduanya saksama. Namun, tiba-tiba, ia merasa jika Alva balas menatapnya meski hanya sekilas lalu berpaling.


"Ada apa, Vesper?" tanya Antony karena Vesper seperti orang kebingungan.


"Mm, aku tak yakin. Nanti saja," jawabnya gugup.


Vesper mengamati gerak-gerik dan percakapan antara Matteo Corza dengan Alva. Ternyata, para roh ikut merasakan kecurigaan Vesper karena ia berdiri menatap Alva lekat dengan sorot mata tajam. Siapa sangka, pergerakannya yang mengintimidasi membuat Alva tampak tak nyaman. Wanita cantik itu tegang dan berulang kali memalingkan wajah saat Vesper mendekatkan wajahnya.


"Kalian lihat itu?" tanya Erik berbisik.


"Yes, aku tak tahu apa sebutannya. Namun, sepertinya Alva bisa melihat roh. Mirip dengan bayi waktu itu," sahut Boleslav yang membuat para roh tegang.


"Ayo datangi!" ajak Axton semangat, tetapi Joel dengan sigap menjambak rambutnya dari belakang. "Arg! Lepaskan aku keparatt!" teriak sang Casanova marah.


Siapa sangka, teriakan Axton membuat Alva menoleh. Mata para roh menajam melihat Alva gugup saat dipandang. Ketika wanita cantik itu memalingkan wajah, seketika ....


"Aaa!"


"Hem, aku tahu kau bisa melihat kami, Alva," ucap Vesper dengan seringainya.

__ADS_1


Kedua tangan Alva mencengkeram kuat pegangan kursi dengan wajah tegang. Matteo dan Kapten Tony berkerut kening karena wanita cantik di hadapan mereka terlihat seperti orang ketakutan.


"Kau tak apa, Sayang?" tanya Matteo mencemaskan putrinya.


"A-aku ... mm, maaf, Ayah. Bisakah kita tunda pembicaraan saat makan malam di rumah saja? Aku ... sedang banyak pikiran," jawab Alva tertunduk.


"Hem, kau tak pintar berbohong gadis muda. Harusnya kau tak langsung menjawabnya," ucap Vesper yang kini berdiri melayang di hadapan dengan tangan menyilang. Alva melirik wanita Asia tak dikenalnya. "Ikuti aku."


Alva menarik napas dalam lalu diembuskan mencoba menenangkan diri mengikuti saran Vesper. Matteo dan Tony terlihat bingung dengan sikap presiden mereka. Alva memijat keningnya dengan mata terpejam lalu tersenyum saat membuka mata.


"Maaf, hanya saja. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan segera. Meskipun kondisi sekarang dirasa aman, tetapi aku ingin memastikannya lagi. Jadi ... bagaimana dengan harimu, Ayah? Apa kau menikmati perjalananmu. Sepertinya, kau dipuja banyak orang," ucap Alva dengan wajah tegang karena mengikuti ucapan Vesper yang mendiktenya.


"Ya, begitulah. Tumben kau bertanya. Oh, kau memata-mataiku, ya?" tanya Matteo memicingkan mata. Alva terkekeh.


"Rumor cepat tersebar," jawab Alva mulai santai.


"Maaf, jika mengganggu waktumu, Nak. Aku hanya khawatir dengan keadaanmu karena kasus mayat hidup tempo hari. Aku tahu, kami tahu jika kau memiliki kemampuan lain yang bisa melihat hantu dan semacamnya. Meskipun fakta sebenarnya belum terungkap, tetapi jika kau merasa hal tersebut ada campur tangan roh, iblis, atau apa pun sebutannya, jujur saja pada kami. Walaupun terdengar konyol, tetapi kami percaya padamu," ujar Matteo yang diangguki Tony.


"Terima kasih atas dukungannya, Ayah. Ya, aku ingin memastikan hal itu," jawab Alva tegang karena kini lima roh berdiri mengawasinya.


"Baiklah kalau begitu," ucap Matteo seraya berdiri dari kursinya tanpa kaki tersebut. Saat Alva mengantarkan sang ayah sampai ke pintu, Matteo membalik badannya. Alva kembali tegang. "Tunggu, kau bilang makan malam di rumah? Kau sudah bisa memasak? Sejak kapan?"


Alva melebarkan mata. Ia berkedip beberapa kali dengan bibir bergerak terlihat gugup. Vesper tersenyum karena ia bisa melihat keluguan wanita cantik itu padahal seorang presiden.


"Tenang saja. Aku akan mengajarimu memasak," bisik Vesper yang kini melayang di sampingnya.


"Datang saja dan cicipi. Kupastikan itu buatanku, bukan robot koki," tegas Alva dan diangguki Matteo.


"Jangan ajak aku. Lebih baik aku makan masakan Sora," ujar Tony tampak tertekan.


Alva terkekeh begitu pula Matteo. Dua orang itu pergi meninggalkan sang Presiden yang kini mengunci dirinya di ruang kerja dengan wajah tegang. Para roh tersenyum licik menatapnya lekat.


"Apa mau kalian?" tanya Alva serius.


"Kau," jawab para roh bersamaan.


***


__ADS_1


makasih tipsnya jeng Ramlah😍 lele padamu 💋💋💋


__ADS_2