
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Kapal wisata itu terus berlayar menyusuri sungai besar. Vesper dikelilingi oleh para mafia yang memberikan selamat padanya karena berani melakukan tindakan, meski terbilang bar-bar. Sedangkan nahkoda yang mengendalikan kapal, dibuat merinding dan ketakutan karena satu-satunya penumpang yang ia angkut adalah mayat hidup. Selain itu, gerak-gerik wanita yang mengaku bernama Gina tampak aneh karena ia sesekali tersenyum, seperti orang tertawa, mengangguk dan melakukan gerakan lainnya layaknya orang sedang mengobrol.
"Fokus pada tujuanmu, Sir," ucap Vesper dengan gerakan isyarat di mana ingatannya kini sudah mulai kembali.
Pria itu langsung tegang karena tak menyangka jika Gina menyadari hal tersebut.
"No-nona Gina. Ma-maaf sebelumnya. Hanya saja, tindakanmu tadi akan memicu keributan di Distrik. Polisi pasti sedang mengejar kita. Mungkin, sebentar lagi mereka akan tiba. Aku tak yakin jika bisa mengantarkanmu tepat sampai tujuan," ucap pria itu tergagap memunggungi Gina.
Vesper langsung berdiri dan mendatangi pria itu. Si nahkoda langsung beranjak dari tempatnya mengemudi karena takut dengan sosok wanita di dekatnya. Namun, sosok Gina malah duduk di bangku dekat kemudi. Nahkoda tersebut dengan sigap menekan tombol auto-pilot karena ia yakin jika wanita di depannya seperti ingin melakukan sesuatu. Pria itu tampak waspada saat Gina mengarahkan liontin penerjemah ke depan bibirnya.
"Tes."
"Oh, alat itu bisa membaca gerakan bibir juga!" pekik Axton tertegun. Vesper tersenyum karena sudah menduga hal ini.
"Aku ingin tahu banyak hal tentang dunia baru di zaman ini. Jadi, jelaskan padaku serinci mungkin jangan ada yang ditutupi. Aku bisa melihat kebohongan dari cara bicara dan ekspresi wajahmu. Berbohong, kau akan berbaur dengan ikan-ikan di sungai. Mengerti, Pedro?" tanya Vesper seraya melirik ke arah papan nama yang tertera di dekat kemudi di mana terdapat nama Captain Pedro di sana.
"Ka-kau tahu namaku?" tanya pria itu gugup.
"Anggap saja aku cenayang. Jadi, jawab dengan jujur." Pria itu mengangguk cepat dengan punggung masih menyender di dinding.
"Kenapa tempat ini berbeda dengan Mega-US? Tempat ini seperti peradaban zaman dulu. Lalu ... apa yang terjadi hingga banyak perubahan wilayah di dunia?"
Kening pria itu berkerut. Ia terlihat berusaha tegar saat menegakkan tubuhnya. "Apa kau tak tahu? Bukankah ... kau seharusnya hidup di zaman ini? Atau kau lupa?" tanya pria itu curiga.
"Pernah mendengar kata-kata zombie?"
"Ya, itu hanya ... seperti dongeng mistis kuno. Aku pernah mendapatkan pelajaran itu saat mengenali sejarah dunia. Kenapa?" tanya pria itu gugup.
"Aku tak tahu apa yang kau pelajari. Ragaku memang Gina, tetapi rohku bukan. Aku adalah orang masa lalu. Oleh karena itu, saat aku datang ke zaman ini, banyak sekali hal berubah. Sebab itu, aku butuh banyak penjelasan. Katakan padaku yang ingin kudengar sebelum polisi datang kemari," tegas Vesper.
Pedro mengangguk cepat dan terlihat tegang. Vesper dengan sigap menanyakan hal-hal yang mengganjal hatinya. Beruntung, Pedro pria yang sepertinya tahu banyak hal tentang masa lalu. Ia menceritakan tentang adanya perang besar yang terjadi hingga 2 kali di Bumi. Vesper dan empat roh lainnya tercengang. Mereka tak menyangka jika hal itulah yang menyebabkan banyak negara hancur berikut alam di sekitar. Pedro menceritakan dengan antusias di mana ia juga mengisahkan ulang tentang kakeknya sebelum meninggal ketika zaman-zaman kelam sebelum akhirnya Era Perdamaian.
__ADS_1
"Tunggu. Jadi, perang pertama itu terjadi saat adanya wabah monster. Lalu berhasil dituntaskan dan muncul Presiden Dunia untuk pertama kali di Era Evolusi?" tanya Vesper mengulang.
"Ya, itu benar. Aku ... sedikit lupa detailnya. Namun, presiden itu cukup lama berkuasa hingga akhirnya ia mundur dari jabatan. Nah, setelah itu, kekacauan kembali terjadi. Kakekku sempat hidup di zaman setelah Presiden Dunia pertama mundur, tetapi tak lama ia meninggal karena sakit. Selanjutnya, ayahku menceritakan kehidupan sulitnya ketika zaman perang dunia. Saat itu, semua negara saling menyerang dan menghancurkan peradaban. Alam rusak dan hanya tersisa 5 negara yang bertahan. Beruntung, aku bisa merasakan hidup damai setelah perang dunia usai, zaman Era Perdamaian. Sayangnya, ayahku tidak," ucap Pedro terlihat sedih.
Vesper mengangguk dengan wajah serius, termasuk empat roh yang mendengarkan hal tersebut. Pedro lalu menarik napas dalam kemudian menatap sosok Gina lekat yang baginya tak berbahaya.
"Apa yang kau lakukan di zaman ini, Nona? Maaf, jika rohmu bukan Gina, lalu ... kau siapa?"
Vesper menaikkan pandangan lalu tersenyum. "Vesper."
Tiba-tiba, terdengar suara sirine polisi dari arah langit. Tiga buah helikopter dengan bentuk sedikit unik muncul di mana terdapat seorang polisi bersenjata tergantung pada tubuh robot tersebut. Kapal Pedro diberikan peringatan agar mematikan mesin. Vesper terperangah, tetapi Pedro panik.
"Nona! Anda akan ditangkap. Anda tak akan bisa tiba sampai ke Sentra Hijau. Masih cukup jauh untuk sampai di sana!" ucap pria itu panik saat kapalnya diminta untuk berhenti karena membawa penumpang gelap yang dianggap ancaman.
Vesper mendatangi Pedro dengan cepat. Nahkoda itu tertegun dengan mata melotot saat ditatap Gina tajam.
"Apakah kau memiliki semacam alat seperti GPS untuk menunjukkan arah padaku?"
Vesper tertegun karena gelang pada jam itu dengan cepat menangkap pergelangannya. Layar pada jam aktif lalu meminta sidik jari sebagai pengenalan identitas baru. Vesper menatap Pedro saksama ketika pria itu tampak terburu-buru mengaktifkan benda tersebut setelah meminta izin meminjam tangan Gina. Vesper tersenyum tipis padahal kekacauan sedang terjadi di luar. Empat roh tampak tegang saat melihat kendaraan polisi seperti otoped yang mampu bergerak cepat layaknya jet ski di atas permukaan air mulai mendekati kapal Pedro.
"Vesper!" teriak Joel panik ketika sebuah helikopter yang mengangkut manusia bernama Heli-Bot mendarat di bagian atas kapal, disusul oleh dua Heli-Bot lain di bagian buritan dan anjungan.
"Jam tangan ini sudah aktif, Nona Ves-per. Aku sudah menyetel rute menuju Sentra Hijau. Semoga beruntung," ucap pria itu seraya melepaskan tangannya di tangan Gina.
"Terima kasih, Pedro. Kau orang baik. Semoga ... kau tak mendapatkan siksa neraka sepertiku. Sampai jumpa," ucap Vesper yang membuat kening Pedro berkerut.
Tiba-tiba saja, DUK! DUK! DUK!
Kepala Pedro langsung mendongak. Pria itu panik sampai menelan ludah saat bisa merasakan kedatangan petugas. Pedro mengabaikan keberadaan Vesper karena takut dengan kehadiran para polisi di kapalnya. Ia lalu mematikan mesin kapal karena khawatir dianggap tak menuruti peringatan polisi. Pedro terlihat tegang saat suara langkah berat itu semakin dekat ke arahnya.
"Georgina Rovales!" teriak seorang petugas polisi berpakaian layaknya RoboCop masuk seraya mengarahkan moncong senapan besar entah berfungsi sebagai apa ke ruangan tempat Pedro mengendalikan kapal.
Akan tetapi ....
__ADS_1
"Captain Pedro. Di mana buronan Georgina Rovales?" tanya petugas saat Pedro merentangkan tangan dan melebarkan dua kakinya.
"Dia ada di— eh?" jawab Pedro terkejut saat tak mendapati sosok Gina di dekatnya.
Para polisi berpakaian dengan pelapis besi warna hitam itu menyusuri sekitar. Pedro ikut bingung dan ikut mencari meski masih berada di ruangan. Hingga keningnya berkerut saat melihat sebuah topi bergaya koboi terapung di atas permukaan air sungai. Pedro menahan senyum saat ia tahu jika Gina menceburkan diri melalui jendela samping. Anehnya, tak terdengar suara benda jatuh di sungai layaknya orang menceburkan diri.
Di dalam air sungai.
"Wow, lihat! Aku bahkan bisa berenang bahkan tak tersedak. Ini hebat!" seru Axton yang berenang sambil bicara di samping Vesper.
Sedang Vesper, hanya tersenyum seraya terus berenang di bawah kapal Pedro. Ia menyelinap tepat ketika tiga polisi itu akan memasuki ruangan nahkoda. Vesper yang sudah terbiasa disergap saat hidup dulu, membuatnya bergerak dengan cepat keluar melalui jendela samping. Beruntung, jarak jatuh ke permukaan air tak begitu tinggi.
Malah, sepatu boots miliknya telah menyentuh permukaan air. Vesper yang tahu jika tubuh Gina telah mati, tak perlu bersusah payah menahan oksigen di paru-parunya. Ia menempelkan tubuhnya ke dinding kapal yang berbentuk cembung bagaikan cicak dan membiarkan tubuhnya jatuh dengan sendirinya ke dalam air secara perlahan. Empat roh tersenyum karena Vesper melakukannya dengan lembut bahkan suara percikan air hampir tak terdengar.
"Vesper! Jam tanganmu itu menunjukkan rute ke Sentra Hijau. Kau cukup berenang mengikuti aliran sungai," ucap Antony yang berenang di samping Vesper.
Mantan ratu mafia itu dengan cepat menggerakkan kedua kaki dan tangannya. Vesper tetap berada di dalam air di mana ia merasa jika merasuki raga seorang mayat cukup memberikannya banyak kemudahan. Ia tak perlu panik tersedak air selama mulut tak terbuka dan menelannya. Vesper juga tak kehabisan oksigen karena fungsi organ dalam Gina memang telah mati. Namun, dengan keajaiban sang Kematian, ada beberapa fungsi dari tubuhnya yang masih bisa bekerja termasuk pergerakan tangan, kaki, kepala dan wajah sehingga ia terlihat seperti manusia normal, meski berkulit pucat.
Lama mereka berenang hingga tiba-tiba, Erik memekik.
"Hei, lihat! Itu pasti Sentra Hijau!" seru Erik yang sedari tadi terbang di atas permukaan air sungai.
Vesper yang mendapat kode dari Axton dan Antony segera naik ke permukaan. Vesper menunjukkan kepalanya. Praktis, senyum para mantan mafia itu terkembang ketika melihat betapa cantiknya Distrik Lumia Sektor Hijau tujuan timnya kali ini.
"Indah sekali," ucap Vesper.
"Ayo, kita ke sana!" ajak Erik dan diangguki Vesper.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1