
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Permintaan King D untuk mendoakan lima roh yang sedang dalam keadaan sekarat karena berubah menjadi abu-abu, segera dilakukan oleh para keturunan. Hal itu akibat jiwa para roh telah diracuni oleh hasutan setan. Hanya saja, karena Vesper dan kawan-kawannya tak sudi untuk berubah menjadi roh jahat dan melakukan perlawanan, tubuh mereka berwarna abu-abu. Hal inilah yang mengakibatkan arwah mereka seperti terperangkap dalam dunia lain. Mereka seperti tersesat dan bingung mencari jalan pulang.
"Vesper," panggil seseorang yang membuat wanita cantik itu menoleh ke asal suara.
Tempat ia berada sekarang hanyalah kegelapan. Raganya saja yang memancarkan cahaya redup, tetapi berwarna abu-abu. Vesper bisa merasakan jiwanya berkecamuk seperti orang kebingungan menentukan arah. Wanita itu tak tahu harus ke mana di ruangan kosong tak bertepi sendirian tanpa ada yang ia kenal.
"Liana," panggil sebuah suara lagi, tetapi lebih mirip dengan kata hatinya.
"Siapa itu?" tanya Vesper dengan kening berkerut karena tak mendapati siapapun.
"Aku adalah kau," jawab suara seperti orang berbisik tersebut.
"Apa yang terjadi? Aku di mana? Di mana Jonathan dan lainnya? Apakah ... aku gagal menjalankan tugas dari sang Kematian?" tanya Vesper menduga.
"Entahlah, aku juga tak tahu. Namun, aku tak suka tempat ini. Terlalu sepi. Ini bukan kedamaian," ucap suara hati yang dibenarkan Vesper.
"Bagaimana cara keluar dari tempat ini?" tanya Vesper gugup seraya melihat sekitar.
"Aku tak tahu. Hanya saja, tempat ini lebih baik daripada neraka."
"Jangan sebut tempat itu lagi. Aku tak mau kembali ke sana," ucap Vesper bergidik ngeri.
Ia teringat saat tangannya dipotong dan darahnya dibiarkan terus menetes membanjiri tubuh dibarengi teriakan kesakitan. Air matanya mengering karena panasnya udara yang dipenuhi api bak dipanggang hidup-hidup. Rohnya yang abadi di neraka, tak diizinkan mati. Saat Vesper sudah sekarat, ia dipulihkan lagi untuk menjalani siksaan yang sama secara terus-menerus seolah tak ada habisnya. Seakan, dosanya tak terhitung.
"Ya, ya! Tempat ini lebih baik dari neraka. Seribu kali lebih baik. Kesunyian dalam kesendirian adalah yang terbaik tanpa jeritan dan suara cambukan siksaan," jawab Vesper dengan tubuh bergetar hebat sampai tak mampu menopang kakinya yang mendadak lunglai.
Vesper roboh di lantai yang terasa dingin berwarna hitam. Vesper memeluk kedua lututnya dengan tubuh bergoyang maju mundur dan wajah ia benamkan di atas lutut.
"Di sini lebih baik, di sini lebih baik," ucapnya terus-menerus seolah tak ada kalimat lain untuk diutarakan.
Perlahan, terdengar suara sayu yang membuat kepala wanita itu terangkat. Matanya menyipit saat melihat bayangan di depannya yang tampak samar. Vesper menajamkan penglihatannya ketika muncul sosok tak asing seperti orang berdoa karena dua tangannya menengadah.
"Tuhan. Ampuni dosa Vesper dan lainnya. Sudah cukup Kau siksa mereka di neraka sejak kematian menjemput. Biarkan mereka menyelesaikan tugas dan merasakan kedamaian sampai hari akhir tiba. Dengarkan doaku, Tuhan. Aku tahu jika dosaku juga tak terhitung jumlahnya, tetapi ... terimalah doaku dan ampuni mereka seperti Kau yang menyayangimu hamba-hambamu. Amin," ucap seorang gadis kecil yang tak lain adalah Cora.
Vesper terharu dan tersenyum lebar. Ia tak menyangka jika cucu Eko mendoakannya. Tak lama, muncul bayangan lain dan wanita itu adalah Iris. Perempuan cantik tersebut ikut mendoakan. Vesper tak menduga jika ia akan didoakan oleh para keturunannya seperti janji. Doa mereka sampai padanya dan Vesper tak bisa menutupi rasa bahagia.
"Terima kasih ... Terima kasih," ucap Vesper menangis.
Saat Vesper sedang menghapus air matanya yang terus menetes, tiba-tiba saja ruangan gelap tersebut bercahaya sedikit demi sedikit. Pergerakan cahaya hangat mendamaikan jiwa bergerak ke arahnya dari lorong berisi doa-doa para keturunan. Mata Vesper melebar dan dengan sigap berdiri. Ia tegang ketika melihat sebuah lorong panjang dengan cahaya terang menyinari tak menyilaukan. Langkah wanita berambut panjang tersebut tampak ragu. Lantai yang tadinya terasa dingin seperti es mulai menghangat. Tubuhnya terasa damai dan angin sepoi mengibarkan rambutnya yang tergerai. Vesper tertawa pelan dan berlari kencang menuju ke arah cahaya entah membawanya ke mana. Hingga akhirnya ....
"Oh! Hah! Hah! Hah!"
__ADS_1
"Oma! Oma! Kau kembali!" teriak seorang pria yang membuat Vesper langsung menoleh.
Ia tertegun melihat King D bersujud di atas sajadah dengan tangisan pilu. Vesper yang bingung melihat dua tangannya yang masih transparan, tetapi berwarna putih.
"Woah! Hah!"
Vesper menoleh dan mendapati Tobias, Jonathan, Lucifer dan Jordan melayang di sampingnya. Para roh itu saling memandang lalu tersenyum bersama. Jonathan dengan sigap memeluk sang ibu, diikuti roh lain yang saling memeluk.
"Apakah kalian merasakan yang aku rasakan?" tanya Jordan memastikan.
"Sepertinya demikian. Sungguh, perjalanan spiritual yang sulit diungkapkan," ucap Lucifer dan diangguki semua roh karena benar adanya.
Vesper menoleh ke arah King D yang kini duduk bersimpuh seperti orang berdoa karena matanya terpejam, kepalanya mendongak dengan dua tangan menengadah. Vesper mendekati cucunya, diikuti roh lain.
"Terima kasih, D. Ucapakan terima kasihku untuk semua," ucap Vesper yang membuat mata King D terbuka perlahan.
Pria itu tersenyum dengan anggukan. King D mengembuskan napas panjang lalu merapikan perlengkapannya. Jonathan terlihat bangga kepada putra dari kakaknya itu yang bisa menolong mereka dari kesesatan dengan bantuan doa.
"Tuan King D!" panggil seseorang tiba-tiba dari kejauhan. Pria itu berlari lalu mendatangi King D dengan napas tersengal. "Kami menemukan para orang tua yang hilang. Mereka dikurung. Namun, ada yang aneh. Mereka ... tak mengenali kami. Selain itu, kondisi mereka sangat menyedihkan seperti mayat hidup," ucap lelaki yang telah melepaskan masker gas.
"Antarkan aku," pintanya.
Vesper dan para roh yang penasaran mengikuti King D untuk mencari tahu. Benar saja, ada penjara di ruang bawah tanah itu. Para orang tua yang sudah renta dengan tubuh kurus kering terlihat seperti mayat hidup. Namun, anehnya. Pintu jeruji besi tersebut tak digembok, hanya ditutup saja. Vesper dan lainnya mendekat untuk memeriksa kondisi orang-orang malang itu.
"Vesper, perhatikan. Wajah mereka dicoret dengan semacam cet, tetapi bisa pudar jika terkena air atau keringat. Melihat polanya, ini dibentuk menggunakan tiga jari," ucap Lucifer mengamati.
"Dia benar. Lihat jari orang-orang ini. Ada bekas cet pada tiga jari mereka. Telunjuk, jari tengah dan jari manis," sahut Jordan menunjuk punggung tangan seorang pria tua yang menengadahkan tangannya di atas lantai tanah.
"Mulut mereka selalu terbuka, seperti ... orang kepanasan. Napas mereka tersengal. Selain itu, pandangan tak menentu. Lalu ... yang lebih menarik lagi. Amati baju mereka," ucap Lucifer menambahkan yang berjongkok di depan seorang pria tua beruban yang dicukur tipis.
"Benar! Itu seragam para pria yang selalu membuat onar dengan membunuh orang-orang tak berdosa!" pekik Jonathan yang membuat King D langsung berjongkok di depan seorang pria.
Kondisi pria tua itu paling prima di antara yang lain karena bola matanya seperti bisa mengikuti pergerakan kepala King D.
"Tuan, Anda bisa mendengarku?" Pria itu mengangguk pelan. "Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa di sini?" tanya King D mulai menginterogasi.
"Aku ... tak ingat," jawabnya lesu.
"D. Melihat gejalanya, mungkinkah ...," ucap Vesper dengan kening berkerut.
"Dampak gas halusinasi," jawab King D, Jonathan, Jordan dan Tobias bersamaan. Lucifer diam menyimak.
King D yang mengenakan celana panjang dengan banyak saku mengeluarkan sebuah kotak besi seukuran dompet lipat dari kantong celana sebelah kanan. Ia mengambil sebuah suntikan kecil dengan cairan berwarna putih dalam tabung. Ia lalu menusukkan jarum suntik itu ke leher samping pria tersebut. Para pria muda yang ikut dengannya terkejut karena King D melakukan tanpa aba-aba.
__ADS_1
"Ergh ...," rintih pria tua tersebut lalu memejamkan mata seperti akan pingsan.
"Pindahkan mereka semua. Keluarkan dari tempat terkutuk ini. Awasi dan jangan biarkan orang tak dikenal mendekati mereka. Aku khawatir, para saksi ini diincar dan mungkin dibunuh karena membocorkan rahasia," tegas King D.
Sontak, ucapan putra Javier tersebut membuat orang tua yang baru disuntiknya tiba-tiba memegangi lengan King D dengan mata melotot. Para roh tertegun termasuk para manusia sehat lainnya.
"Jangan biarkan mereka menemukan kami. Selamatkan kami, Nak D," ucap pria tua itu yang ternyata mengenali sosok King D.
Mata King D menajam lalu mengangguk pelan. Para orang tua segera dievakuasi dan dibawa ke pemukiman untuk dirawat. King D meneruskan penyelidikan sampai ujung lorong di mana ia tak pernah mengetahui seluk-beluk bangunan tersebut.
"D! Ujung lorong sini menembus ke sungai!" teriak Tobias.
"Benarkah?" jawab King D lalu berlari cepat karena Tobias dan Lucifer terbang lebih dulu untuk mencari tahu.
Sedangkan Jordan dan Vesper, mencari petunjuk dalam lorong tersebut. Eko langsung menghilang begitu Vesper dan lainnya berhasil diselamatkan dan sadarkan diri. Benar saja, terlihat sebuah sungai yang cukup besar membentang begitu King D keluar dari ujung lorong yang tertutupi tanaman merambat sehingga tak terlihat. King D mengawasi sekitar dengan wajah serius.
"Ini Sungai Siak," ucapnya yakin.
"D. Sebaiknya, kau fokus di sini. Biarkan kami pergi memburu roh jahat. Orang-orang itu butuh bantuanmu. Ajak orang-orangmu untuk menyelidiki hal ini. Kumpulan para pria berseragam hitam harus ditangkap, diinterogasi dan diadili. Meski aku tak tahu bagaimana sistem pengadilan di zaman ini," ucap Vesper seraya keluar dari pintu terowongan.
"Pengadilan di zaman ini memang berbeda, Oma, tak seperti zaman kau hidup dulu. Dan ... tak ada tukang jagal seperti paman Jordan, maaf," ucap King D kikuk, tetapi Jordan diam saja memasang wajah datar. Wujud rohnya terlihat semakin mengerikan.
"Lalu, seperti apa?" tanya Lucifer seraya mendekat.
"Aku sengaja membiarkan orang-orang di Great Ruler menemukan salah satu mahakarya kami. Detektor kebohongan yang dikombinasikan dengan kalung pemenggal," ucap King D yang membuat mata semua roh melotot.
"Wow! Jadi ... maksudmu ... ada sebuah kalung khusus yang memiliki sensor untuk mendeteksi kebohongan seseorang dan ... jika berbohong akan langsung memenggal kepalanya? Keluar semacam pisau dari lingkaran kalung itu?" tanya Lucifer membayangkan.
"Ya, begitulah. Namun, mereka melakukan modifikasi dengan membuat jenis baru tanpa pisau. Itu ... terlalu kejam," jawab King D.
"Tentu saja itu keji. Jangan samakan eksekusi cara mafia dengan para sipil. Kalian salah besar," tegas Lucifer.
"Hoamp, membosankan," keluh Tobias menguap seraya memalingkan wajah. Jonathan terkekeh. Lucifer memilih diam enggan berdebat.
"Benar, D. Kau tetap di sini bersama Junior. Doakan kami agar bisa merampungkan tugas dari sang Kematian sebelum batas waktu sehingga bisa membantumu menguak tragedi ini," ujar Jordan.
"Terima kasih," jawab King D dengan anggukan.
"No, kami yang berterima kasih. Jika tidak ada kau dan para keturunan, mungkin kami sekarang sudah menetap di neraka," ucap Vesper yang membuat King D tersenyum.
"Baiklah, tim penangkap roh jahat! Kita kembali berburu! Yeah!" seru Jonathan semangat, tetapi para roh lain malah menganggapnya aneh dan diam saja. "Yeah, semangat untuk diriku! Bye, D!" teriak Jonathan seraya terbang melambaikan tangan.
"Hati-hati! Jika kalian sampai ke Pulau Jawa, mampirlah ke rumah Herlambang!" teriak King D dan diangguki semua roh yang kini terbang ke langit.
__ADS_1
***