TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Mengagumkan


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"No!" teriak Antony yang tak rela jika cucunya mati.


Saat peluru-peluru runcing itu siap menembus punggung Antony, tiba-tiba ....


WHUSSS!


CRING! CRING! CRING!


"Apa itu tadi?" tanya Erik dengan mata melotot saat tiba-tiba ada angin besar menyapu daratan sehingga peluru-peluru itu terhempas dan jatuh di tanah.


GREKKK!


"Lihat! Tubuhnya bergeser dengan sendirinya!" teriak Tobias melotot menunjuk Junior.


Antony tertegun karena cucunya yang masih memejamkan mata dalam posisi berjongkok kini berada jauh darinya. Matanya melotot melihat permukaan tanah yang dipijak oleh Junior bergerak dan membawa pria berkulit pucat tersebut ke balik helikopter.


"Heahhh!" raung King D yang dengan sigap mengaktifkan persenjataan helikopternya meski dalam posisi mendarat.


KLIK!


DODODODODOR!


"Arghh!"


Para lelaki berseragam hitam meraung saat peluru-peluru tajam menembus tubuh mereka tanpa ampun. King D segera mendatangi Junior dan memeluknya. Junior membuka mata dan menatap King D dengan kening berkerut.


"Maafkan aku, Junior. Kau hampir tewas karena kecerobohanku," ucap King D menyesal.


Junior tersenyum lalu menoleh ke arah pergerakan dari hutan. Vesper dan lainnya melotot saat melihat tiga orang mengenakan pakaian yang sama berwarna putih, serta masker besi menutup hidung dan mulut. Kening Jonathan berkerut melihat tiga orang itu menggerakkan tangan mereka seperti melakukan sesuatu.


"I-itu RGB!" teriaknya yang ternyata mengenali anak-anak King D.


"Benarkah? Apakah mereka memiliki semacam ... kemampuan unik?" tanya Erik tertegun.


"Aku tak begitu yakin apa kekuatan mereka, Papa. Namun, Sandara mengatakan sebelum kematian menjemputnya, jika R yang artinya si mata merah, bisa mengendalikan api dan bicara dengan binatang. Hebat, bukan?"


"Oh, shitt! Ada manusia seperti itu?" pekik Tobias kagum.


"Itu semua karena serum Mitologi yang tercampur dalam hubungan cinta King D dan Irina saat memproduksi mereka. Serta ... kehebatan teknologi. Tau yang lebih seru? Saat mereka akan lahir, ketiganya berebut. Hahaha, aneh sekali!" jawab Jonathan riang.


"Lalu G adalah Green. Apakah ... ia memiliki kemampuan seperti berkamuflase? Kulihat tadi dia tak ada, lalu muncul lagi, lalu hilang lagi," tanya Vesper saat melihat pergerakan cucunya yang tadi menjadi pohon.


"Hem, kau memang pengamat yang bagus, Mama. Selain itu, dia bisa mengendalikan elemen yang terhubung dengan tanah," jawab Jonathan sambil bertolak pinggang.


"Lalu si Blue? Apa kemampuannya? Dia hanya memegang akuarium berbentuk bola dengan kura-kura kecil di dalamnya," tanya Antony yang akhirnya terbang mendekat karena mendengar pembicaraan kawan-kawannya.


"Air. Ia bisa mengendalikan air dan udara. Jika tiba-tiba ada angin topan, atau ombak datang meskipun kita tak di laut, itu perbuatannya," jawab Jonathan seraya melihat B yang berjalan dengan santai dan hanya menggunakan lambaian tangan untuk menghempaskan para manusia itu karena ingin menyerangnya.


"Hebat sekali," puji Vesper dengan senyum terkembang.


"Vesper! Para roh itu keluar dari raga manusia-manusia! Mereka mencoba kabur!" pekik Antony saat menyadari para roh jahat terbang meninggalkan wadahnya.

__ADS_1


"King D! Kami bertugas dulu!" seru Vesper.


Mantan presiden dunia tersebut mengangguk pelan. Ia mengajak Junior masuk ke dalam helikopter usai CamGun yang terpasang pada badan luar benda berbaling-baling besar tersebut menyelesaikan tugasnya. Senjata otomatis dengan sensor itu berhenti seketika saat mengenali sosok RGB yang tertangkap mata kameranya.


"Kau libur bertugas hari ini, Tuti," ucap Blue seraya mengetuk dinding aquarium.


"Oh! Apa itu?" pekik R dengan mata menyala terang saat melihat beberapa roh terbang menembus raga dua saudaranya.


Blue dan Green ikut tercengang karena mereka bisa melihat roh. King D yang telah memastikan jika Junior baik-baik saja, segera mendatangi tiga anaknya yang berdiri tegap melihat para roh seperti sedang menangkap sesuatu. Kaki mereka melangkah dengan sendirinya dengan mata mengikuti pergerakan para roh.


"Wajah itu. Tampak familiar. Aku melihatnya di mana ya?" tanya Green dengan mata hijau menyala terang.


Kening Red dan Blue berkerut. King D berdiri di samping Blue dengan dua tangan masuk ke saku celana.


"Beri salam kepada Vesper, Antony Boleslav, Erik Benedict, Jonathan Benedict dan Tobias Flame."


Sontak, mata RGB terbelalak lebar. Mereka tak percaya jika bisa melihat para leluhur meski dalam bentuk roh.


Di tempat Vesper dan timnya berada.


KRANG! KRANG! KRANG!


"GARRR!"


"Hahahaha! Ini sangat mudah!" seru Tobias senang karena roh-roh jahat tersebut tak seganas yang mereka pikir.


Vesper dengan cepat menangkap gumpalan-gumpalan asap hitam tersebut ketika mereka mencoba melarikan diri. Namun, dengan strategi yang pernah disusun sebelumnya, dan kini Jonathan ikut serta di dalamnya, membuat tugas dari sang Kematian bisa dilakukan dengan apik.


Mereka menggunakan formasi gembala kambing. Para roh itu menjaga empat sisi agar buruannya tak kabur. Vesper terbang di atas mengawasi dan membidik buruannya ketika para roh jahat kocar-kacir. Antony dengan sigap meluncurkan tendangannya, dan hal tersebut membuat roh-roh jahat yang bertemu dengannya di sisi kiri harus merasakan sakit.


Saat para roh jahat mencoba kabur ke sisi kanan, Tobias sudah menanti dengan kepalan tangan kanan. Begitupula ketika mereka hendak lari ke belakang, Erik telah menunggu dengan dua tangan siap menangkap yang kemudian diserahkan pada Vesper di mana sang ratu mendapatkan pekerjaan tersibuk karena harus merantai roh-roh terkutuk itu.


"Lima! Jika ditambah dengan Fox, kita sudah mendapatkan tujuh!" seru Erik yang melakukan penghitungan.


"GARRR!"


"Aku mendapatkan satu! Vesper!" panggil Antony seraya memegangi satu kaki roh jahat lalu menariknya kuat.


Ia menggunakan sikunya untuk menghajar punggung roh jahat yang tengkurap itu. Vesper dengan gesit terbang ke arah Antony lalu membelenggu targetnya. Para mafia tak memperdulikan jeritan roh-roh jahat itu saat pemandangan neraka kembali muncul. Mereka fokus menangkap para roh jahat yang tadi merasuki para pria berseragam hitam. Panen yang ditunggu akhirnya datang dan hal itu membuat mereka bersemangat.


"Mama!" panggil Jonathan yang kali ini tak mau diremehkan.


Ia berhasil menangkap dua roh jahat. Pria itu berusaha keras menahan roh jahat yang memberontak mencoba membebaskan diri dari cengkeramannya.


"Hajar dia, Nathan!" seru Erik yang sedang menjaga wilayahnya agar tiga roh jahat yang tersisa tak kabur.


"Harghh!"


BUAKK!


"GARRR!"


Tangan dua roh jahat ditarik kuat oleh Jonathan lalu dibenturkan. Mereka meraung. Namun, hal tersebut membuat dua gumpalan asap hitam itu menyatu dan menjadi besar. Mata Jonathan terbelalak lebar karena kini lawannya berukuran dua kali lipat darinya.

__ADS_1


"Oke. Kalian ... terlihat ... makin menyeramkan. Sepertinya ... kalian tambah tinggi," ucap Jonathan dengan wajah pucat saat mata merah menyala itu berkobar.


Jari-jari roh jahat meruncing, begitu pula kepalanya yang perlahan memunculkan tanduk besar. Jonathan menelan ludah. Ia terpaku dan malah menyaksikan perubahan roh jahat menjadi seperti iblis.


"GARRR!"


"AAAAA!"


KRANG! KRANG! KRANG!


"Menyingkir!" teriak Erik saat melihat sang istri berhasil mendekati lawan tanpa ketahuan.


Punggung roh jahat tersebut berhasil ditangkap. Rantai besi membelenggu tubuh besar itu. Beruntung, Erik dengan sigap menarik tangan Jonathan sehingga roh jahat kalah cepat untuk mengajak keturunan Benedict tersebut ikut bersama mereka ke neraka.


"Oh, hampir saja," ujar Erik yang membuat Jonathan terpaku melihat ayahnya. "Hati-hati. Saat mereka membesar, roh jahat bisa menangkap dan menyeret kita ke neraka," imbuh sang ayah mengingatkan.


Jonathan tersenyum lalu mengangguk. Namun, Tobias memasang wajah cemberut termasuk Antony. Erik tersenyum kaku.


"Maaf. Itu salahku. Tiga lepas, bukan?" ucapnya sungkan.


"Hei, anak manja! Berhenti merepotkan orang lain! Lihat perbuatanmu!" teriak Tobias marah.


Jonathan terdiam, kepalanya tertunduk. Ia melihat ibunya datang dengan wajah datar.


"Hem, tak akan terjadi lagi," jawabnya gugup.


Erik mengelus kepala anaknya lembut lalu mengajaknya pergi dari tempat itu karena sudah tak ada lagi roh jahat yang bisa ditangkap. Mereka mengabaikan pemandangan neraka yang masih menenggelamkan para roh jahat hasil tangkapan.


"Hei, bagaimana? Berapa yang kalian dapatkan?" tanya King D saat melihat para senior terbang ke arahnya.


"10," jawab Vesper tenang.


"Ouch, masih kurang banyak," ucap King D yang membuat alis Vesper terangkat.


"Hei. Mana tiga anakmu tadi?" tanya Antony karena hanya ada Junior dan King D.


"Mereka ... sudah pergi. Begitulah. Kebetulan mereka sedang melintas karena ingin menuju ke India. Mereka bisa merasakan Junior terancam. Kurasa, itu karena serum Mitologi. Serum itu membuat semacam hubungan," ucap King D tenang.


"Hoh! Hoh!" panggil Junior yang berjongkok di atas helikopter.


"Oh, benar. Kita harus segera pergi. Sepertinya, Junior ingin menjadi warga yang baik. Ia melaporkan jika menemukan mayat di tempat ini."


"Bukankah itu berbahaya? Kalian akan ketahuan," ucap Vesper cemas.


"Jangan khawatir, Oma. Begitu pesan selesai dikirimkan, kami langsung menutup diri. Beruntung, helikopter memiliki pemancar fatamorgana portabel. Mereka tak bisa melacak saat kami berpergian," ucap King D yang mendapat jempol dari Antony meski tanpa senyuman.


"Baiklah, Kamboja selesai. Jadi, ke mana selanjutnya?" tanya Erik tak sabar.


"Indonesia," jawab King D yang diangguki semua roh.


***


__ADS_1


__ADS_2