
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Sudah setengah hari para roh penangkap roh jahat tersebut menjalani hukuman dan belum menyelesaikan tugas dari sang Kematian. Wajah-wajah panik mulai terlihat saat King D dan Junior mengantarkan mereka ke titik selanjutnya yang disinyalir terdapat banyak roh jahat meski dua orang itu belum pernah melihatnya.
"Masih di Pulau Sumatera, D?" tanya Vesper yang berdiri di kokpit antara Junior dan King D.
"Ya, Oma. Indonesia dikenal dengan banyak sumber daya alam. Para penjajah mengincar tambang, perkebunan dan juga kawasan pertanian. Aku tak menduga jika selama ini banyak negara tetangga yang berambisi untuk menguasai Indonesia. Saat itu, aku, RGB dan Junior mati-matian melindungi aset keluarga Herlambang agar tak jatuh. Hampir semua persenjataan milik kita kumaksimalkan di tempat itu. Hingga akhirnya, aku terpaksa menjadi orang jahat demi menjaga warisan," ucap King D dengan sorot mata tajam melihat ke depan.
"Apa yang kaulakukan, D?" tanya Vesper menatap cucunya lekat. Junior yang menyadari jika Vesper di antara mereka, diam menyimak sebagai pilot helikopter.
"Aku menggunakan sisa serum monster terakhir untuk menjadi pasukanku."
Sontak, pengakuan King D membuat Vesper terkejut berikut roh lain yang ternyata diam-diam masuk ke dalam helikopter.
"Kau membunuh para monster saat wabah datang, tetapi kemudian kau malah menciptakan monster untuk menjadi pasukanmu?" pekik Jonathan tiba-tiba yang kepalanya muncul dari samping jendela helikopter.
"Kami hanya berlima, Paman! Apa yang bisa kulakukan melawan persenjataan dari militer dan juga pasukannya dengan jumlah ratusan! Meskipun aku memiliki kemampuan, tetapi kami tetap manusia yang memiliki keterbatasan!" teriak King D marah dengan napas menderu.
"Oke, sorry," jawab Jonathan dengan bibir mengerucut lalu kepalanya menghilang dari jendela.
"Apa maksudnya pasukan monster?" tanya Lucifer ikut penasaran.
Jordan memberikan informasi kilat kepada para roh yang belum tahu tentang wabah monster. Sontak, Lucifer tertegun. Mantan orang CIA itu pucat. Namun, ia mengangguk usai tahu cerita masa lalu meski hanya garis besarnya saja. Jonathan kembali masuk ke dalam helikopter dan membenarkan karena ia menjadi saksi serta pejuang dalam kisah tersebut.
"Tunggu. Apa itu ada hubungannya dengan para manusia yang kita lihat sebelumnya dengan wujud seperti ... manusia setengah binatang?" tanya Vesper teringat saat mereka melintasi sebuah pulau di Indonesia.
"Benar, Oma. Morlan, kakek dari Alva. Kalian pikir, dia bisa mendapatkan gen mutan dari mana? Ia menemukan bangkai pasukan monsterku dari sisa peperangan masa lalu. Ia mempelajari dan malah menciptakannya. Oleh karena itu, saat aku merasa Great Ruler berubah menjadi petaka, itu salahku. Akhirnya, aku ikut serta untuk menyelesaikannya dengan dibantu oleh para mafia. Mereka menyusup ke beberapa kota dan negara yang bertahan untuk menyelesaikan konflik. Setelahnya, aku menemui Morlan dan menjelaskan semuanya. Untung saja, Morlan dengan bijak menyikapi. Namun, sepertinya tidak dengan Alva yang ambisius dan terlalu ingin banyak tahu," terang King D terlihat marah.
"Hem, aku bisa memahami posisimu yang sulit, D. Memang harus membuat sebuah keputusan untuk menuntaskan konflik, dan kurasa, kau sudah bertanggungjawab karena ikut menyelesaikannya. Mungkin memang seharusnya, beberapa orang yang serakah diberikan hukuman dengan cara mengerikan agar mereka jera," ucap Lucifer yang membuat kening semua roh berkerut termasuk King D.
"Wah, kau mencoba menjadi malaikat, ya?" ledek Tobias.
"Apa masalahmu?" tanya Lucifer menatap Tobias keheranan.
"Kau!" jawab Tobias melotot.
"Oh, aku tahu. Kau pasti kecewa karena aku tak sehebat yang kau pikir, anak muda. Hem, aku minta maaf. Jadi, kau mengharapkan aku adalah seorang lelaki kejam dan biadab, seorang penjahat seperti para mafia yang kurekrut dan menjadi kelompok 13 Demon Heads? Begitu?" jawab Lucifer melotot.
__ADS_1
"Ya, memang seharusnya demikian!" jawab Tobias melotot.
"Aku bukan kau, Tobias. Aku bukan Sierra Becca seperti yang kau banggakan itu! Apa kau tak sadar jika kau lebih bodoh dariku? Kau dihasut, ditipu dan diperdaya oleh wanita iblis itu seumur hidup. Sedangkan aku, kebodohanku hanyalah ketika harus melepaskannya tanpa mengetahui kebenarannya. Aku menebusnya dengan mencoba untuk melenyapkan Becca meski harus menggunakan 13 Demon Heads!"
Semua roh terdiam. Napas Lucifer memburu dan Tobias masih menatapnya lekat tanpa berkedip.
"Apa aku salah jika memiliki rasa iba? Apa aku salah jika ingin menebus kesalahan dengan menjadi seorang ayah dan berharap agar putriku tak terjerumus lebih dalam ke dunia kejahatan? Apakah salah jika aku mulai merasakan ada seseorang yang bisa kusayangi dan itu adalah seorang anak!" teriak Lucifer melotot melampiaskan kemarahannya.
"Oleh karena itu, Anda bisa menasihatiku, Tuan Flame. Itu karena pengalaman di masa lalu," sahut King D. Lucifer mengangguk lalu mengusap wajahnya. Pria itu kembali tenang.
"Aku tak seperti kalian. Para mafia tersohor pada zamannya. Aku hanyalah seorang pria yang mengabdi kepada negara. Melakukan yang terbaik agar perdamaian tetap tercipta. Aku melatih para muda-mudi agar menjadi orang-orang berguna yang bisa membela tanah airnya. Namun, siapa yang tahu, jika semua pengorbananku, ilmuku, pengetahuanku disalahgunakan untuk menghancurkan," ucap Lucifer terlihat sedih.
"Mungkin karena itulah sang Kematian membawamu kepada kami, Lu. Kau bukan orang jahat. Kau menjadi jahat karena keadaan yang memaksa. Sepertiku," ucap Vesper yang membuat pria itu menatap Vesper lekat.
"Kau?" tanya Lucifer menatap Vesper saksama.
Vesper tersenyum. "Aku putri Kai Hashirama. Aku dulunya juga bukan penjahat. Bahkan bukan seorang ratu mafia. Namun, karena masa lalu dari ayahku, mereka menyamakanku dengan dirinya. Kuberusaha menghapusnya, tetapi ... jiwa seorang penjahat memang sudah ada dalam diriku. Aku hanya bisa mengendalikannya agar tak berubah menjadi petaka. Aku juga berusaha menjadi ibu yang baik. Aku susah payah menjaga emosiku agar tak melukai orang-orang. Hanya saja, banyak hal yang membuatku lepas kendali karena orang-orang yang kucintai diusik," ucap Vesper mengutarakan perasaan.
"Kita sama, Vesper," ucap Lucifer tiba-tiba mendekat lalu menggenggam tangan Vesper erat dengan senyuman.
"Eh, eh, itu tangan. Tolong, ya," ucap Jonathan menunjuk dengan mata melotot.
"Maaf, aku lupa."
"What!" pekik semua roh kecuali Lucifer.
Seketika, "Oh, maaf," ucap mantan pejabat itu seraya melepaskan genggaman tangan dengan canggung.
"Ya, Tuhan. Apa dia bilang tadi? Lupa? Oh, aku sampai menyebut nama-Mu," ucap Vesper shock.
"Berikan kami bonus karena kau lalai, Sang Kematian. Kau harus adil!" tegas Tobias menunjuk ke atap helikopter.
"Kau mengajak negosiasi, Bang Dad? Kau gila!" pekik Jonathan. Wajah Tobias pucat seketika.
"Akan kuberikan bonus, tetapi nanti," jawab sang Kematian yang membuat para roh melongo.
"Sudahlah. Anggap saja ia akan memberikan," ucap Vesper seraya memijat dahinya yang mendadak terasa berdenyut.
__ADS_1
Saat semua roh tak habis pikir dengan sang Kematian yang ternyata juga bisa ceroboh, tiba-tiba, helikopter terbang turun. King D menginformasikan jika mereka sudah tiba di lokasi tujuan. Vesper dan roh lainnya segera keluar untuk mencari tahu.
"Di mana ini, D?" tanya Vesper dengan kening berkerut saat melihat sebuah kota kecil berkesan modern karena beberapa bangunan tampak futuristik.
"Kita berada di Riau, Oma," jawab King D tenang.
"Apa tidak masalah, kau keluar dengan terang-terangan seperti itu?" tanya Jonathan terheran-heran karena King D tak melakukan penyamaran.
"Orang-orang di tempat ini adalah sekutu kita. Aku mengajarkan mereka membangun kota kembali dan mengajak untuk menjadi petani. Yah, mungkin karena orang Indonesia memiliki jiwa yang cinta dengan alam. Mereka dengan cepat mengembangkan pertanian dan peternakan. Tempat ini juga terjaga keasriannya seperti tak terkena dampak perang. Hanya saja, di bangunan itu," ucap King D seraya menunjuk. Mata para roh tertuju pada sebuah bangunan di atas bukit terlihat tak terawat.
"Ada apa di sana, D?" tanya Vesper heran.
"Warga mengatakan, jika sering melihat penampakan di bangunan tersebut. Ternak mereka menghilang, termasuk beberapa orang tua. Aku sudah mencoba mencari keberadaan mereka. Hanya saja, mereka seperti raib begitu saja. Wilayah itu dijauhi. Hanya saja, karena helikopterku tak bisa mendarat di sana karena wilayah yang curam, jadi—"
"Kita ke sana!" ajak Tobias yang dengan cepat terbang melesat diikuti Jordan.
"Tak sopan. King D belum selesai bicara!" ucap Lucifer marah.
"Tak masalah. Pipi memang begitu," ucap King D maklum.
"Pipi?" tanya Lucifer dengan mata berkedip.
"Ya. Itu ... panggilanku saat masih kecil dulu. Entahlah, terlintas begitu saja. Jadi ... aku tunggu di sini," ucap King D tenang dengan dua tangan masuk dalam saku.
"Ayo!" ajak Vesper dan diangguki dua roh lainnya.
Jonathan, Vesper dan Lucifer terbang mengikuti Tobias serta Jordan menuju bukit. Terlihat, sebuah bangunan mirip menara tua berada di atas sana. Bangunan itu sudah rusak dengan atap sudah menghilang. Hanya tersisa dinding-dinding menjulang tinggi dan lonceng besar yang jatuh pada bagian dasar lantai. Meski demikian, tempat itu gelap karena cahaya yang masuk dari atas tertutupi oleh sarang laba-laba dan dedaunan kering. Para roh bisa merasakan hawa jahat di sana, tetapi ... tak menemukan roh jahat di tempat tersebut.
"Lihat! Ada bangkai binatang di sini," ucap Lucifer yang ternyata jeli melihat jejak di bawah tangga batu.
Para roh mendekat. Tampak bangkai hewan tergeletak di lantai batu. Hewan itu seperti kambing karena tanduk dan bentuk tubuhnya. Hewan tersebut dikerubungi lalat meski para roh tak bisa menciumnya. Mata mereka memindai sekitar tampak waspada.
"Kau benar. Aku bisa merasakan ada aura jahat di sini, tetapi ... di mana mereka?" tanya Tobias seraya melihat sekitar.
"Mereka bersembunyi. Mereka tahu kedatangan kita," ucap Jordan. Para roh terkejut, tetapi tidak dengan Vesper.
"Berpencar," titah sang pemimpin. Para roh penangkap roh jahat itu mengangguk dengan wajah serius. Mereka segera melakukan yang Vesper perintahkan.
__ADS_1
***