
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Tentu saja, kemunculan Eko yang tiba-tiba malah membuat para roh mengamuk. Namun, berapa kali pun mereka berusaha untuk menghajarnya, Eko tak bisa disakiti.
"Hoamp. Udah? Capek belum? Mending kalian bantu Eko, yuk," pintanya dengan gaya menguap.
"Menyebalkan. Datang-datang malah minta tolong. Tak ada yang mau menolongmu!" pekik Axton kesal dengan napas memburu.
"Weh, siapa tau, ya, to. Dengan bantu Eko, nanti sang Kematian kasih hadiah buat kalian," ucapnya yang membuat para roh tersentak.
"Hadiah seperti apa?" tanya Antony memicingkan mata.
"Namanya hadiah ya kejutan. Masa hadiah tanya isinya apa," jawab Eko yang membuat kening para pendengar berkerut.
"Memangnya kau ingin minta tolong apa, Eko?" tanya Vesper kembali tenang.
"Tanyain King D untuk cari tahu alasan kenapa Otong kok bisa melenceng. Sang Kematian gak kasih tau Eko alasannya. Eko cuma dikasih liat kalau Otong disiksa dengan sangat keji karena melakukan banyak kemaksiatan saat hidup dulu. Eko mau tau alasannya. Pasti King D tahu, dia 'kan sohibnya Otong. Kalian 'kan roh-roh baik pembela kebenaran," pinta Eko memelas.
Namun, para roh lelaki itu memalingkan wajah enggan membantu. Vesper mengembuskan napas panjang lalu tersenyum. "Oke. Akan kutanyakan. Namun, kau harus ikut agar bisa mendengar sendiri jawaban dari King D."
"Siap! Mbak Vesper emang malaikat, meski gak bersayap indah kaya Eko. Ayo, cus temuin King D!" jawabnya semangat.
"Heh, datang cuma ingin minta tolong. Kenapa tidak dari tadi saat kami dikeroyok?" jawab Erik kesal.
"Lah, kalau Eko dateng itu roh jahat kabur semua malah gagal dapat tangkapan. Gimana to?" jawabnya yang membuat amarah para roh pria reda seketika karena baru menyadari hal tersebut. Vesper menahan senyum.
"Ayo. Perjalanan untuk sampai ke istana Javier hampir 2 jam," ajak Vesper dan diangguki semua roh.
Mereka kembali menuju istana dan berharap pria itu menunggu mereka. Selama perjalanan, para roh saling berbincang. Vesper menanyakan ke mana perginya Eko dan pria itu mengatakan jika banyak arwah gentayangan bermunculan. Katanya, Eko bisa merasakan kehadiran seorang arwah. Oleh karena itu, ia langsung pergi saat mendapat panggilan itu.
"Wah, kau memiliki semacam sensor munculnya arwah gentayangan, ya? Kau memiliki banyak bonus dari sang Kematian," ujar Axton terdengar iri.
"Dibilang, ya. Ini semua sudah kehendak-Nya. Eko tau-tau begini. Dilarang protes!" ucap Eko menegaskan. Axton cemberut dan enggan bicara dengan pria bersayap itu lagi.
Malam semakin larut dan hari telah berganti. Hanya saja, langit masih ditemani sang bulan dalam kegelapan. Namun, hal itu tak membuat para roh bosan karena keindahan malam itu.
"Kita sampai!" seru Vesper saat melihat istana Javier yang tertutup benteng menjulang tinggi dan pelindung pada bagian atapnya.
Vesper dan lainnya segera masuk ke dalam di ruangan terakhir mereka meninggalkan King D.
"Oh, kalian sudah pulang. Syukurlah. Aku sangat cemas. Jadi, bagaimana? Kalian berhasil?" tanya King D penasaran.
"Heh! Tentu saja. Jangan meragukan kemampuan kami," ucap Axton bangga seolah lupa jika mereka hampir gagal.
"D. Eko ingin tahu kisah kawanmu, Otong. Bagaimana dia selama hidup dan akhirnya meninggal," tanya Vesper to the point.
__ADS_1
"Paman Eko? Apakah kalian bertemu dengannya?" tanya King D langsung sigap berdiri dari kursi melayang.
"Dia di sini memenuhi ruangan dengan sayap besarnya," ucap Tobias seraya menunjuk Eko yang berdiri di samping tanpa melihatnya.
"Mm, maaf, Dad. Aku ... tak melihatnya. Dia di sini? Sungguh? Wow!" jawab King D yang membuat kening para roh terkejut.
"Begini. King D gak bisa liat Eko karena diriku ini bukan roh. Mata King D punya keterbatasan. Jadi, biar aja dia anggep Eko gak ada. Cukup kalian aja yang bisa liat," ucap pria gundul itu yang mengejutkan para roh.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Erik heran.
"Kuasa Tuhan. Jangan tanya Eko. Diriku gak punya jawabannya," jawab pria bersayap itu tenang.
King D terlihat bingung karena para arwah yang bicara dengan Eko seperti berbicara sendiri meski pandangannya ke arah lain. King D yang penasaran berjalan mendekat. Eko menatap King D lekat yang berdiri di depannya.
"Aku tak melihatnya. Namun, aku cukup yakin dari jarak pandang kalian, Om Eko ada di hadapanku, bukan?" tanya pria itu menatap para roh di depannya. Vesper dan lainnya mengangguk. "Mm, seperti apa wujudnya? Apakah seperti kalian?"
"Tidak. Kami menganggap dia seperti malaikat," jawab Antony.
Sontak, jawaban itu mengejutkan King D. "Oke. Itu hebat. Namun, setahuku ... malaikat itu tak berjenis kelamin. Mereka memang bersayap, tetapi ... rupa mereka tak terlihat," ucap King D menjelaskan.
"Lalu dia apa sebutannya?" tanya Tobias kembali menunjuk.
"Entah. Mungkin, sejenis makhluk suci yang terpilih oleh sang Kuasa? Kita tak pernah tahu rencana-Nya. Aku akan menceritakan tentang Otong, hanya saja, mungkin akan membuat hati Om Eko sedih. Namun, aku yakin jika Om Eko adalah orang yang selalu bisa menerima kenyataan dengan bijaksana," ujar King D dengan senyuman.
"Aku padamu, D," ucap Eko terharu. Sedang para roh yang mendengar langsung memasang wajah malas.
"Oke. Jadi ... hidup Obama sebenarnya cukup menarik. Hanya saja, dia ternyata tipe lelaki yang mudah terbawa perasaan. Dia sadar jika ... maaf, Om Eko, dia jelek. Banyak yang tidak setuju jika Obama Otong menikahi Dayana. Wanita cantik itu adalah anak dari Sun dan Sandara," ucap King D yang membuat para pendengar terkejut.
"Oh, pasti Sun merasakan kiamat karena putrinya yang cantik menikahi pria jelek seperti ayahnya," ujar Tobias yang membuat Axton tertawa terbahak. Eko cemberut.
"Lanjutkan, jangan menyela," ucap Vesper yang sebenarnya juga ingin tertawa.
"Lalu ... mereka dikaruniai seorang anak. Sayangnya, menurut orang-orang, putra mereka tak tampan. Maksudnya, gen Otong lebih dominan. Hal tersebut membuat Otong terpuruk dan sakit hati karena anaknya selalu dicela. Padahal, Dayana sungguh mencintainya dan tak mempermasalahkan hal tersebut. Dari sanalah, Otong sampai nekat mengoperasi wajah anaknya agar terlihat tampan, tetapi hal itu membuat Dayana marah. Mereka bersiteru dan akhirnya bercerai. Lebih tepatnya, Otong yang meminta cerai karena dianggap tak pantas bersanding dengan Dayana," ujar King D yang membuat para roh terdiam.
"Aku tak pernah menduga Otong yang jenaka adalah orang yang sensitif dan berpikiran sempit," sindir Tobias. Eko melirik keturunan Flame tersebut dalam diam.
"Tobias," panggil Vesper mengingatkan.
"Aku hanya mengatakan sebuah kenyataan. Aku tahu itu menyakitkan, tetapi benar," ucapnya.
Para roh mengembuskan napas panjang mencoba bersabar, termasuk King D yang menjadi serius. Ia tampak berhati-hati dalam memilih kalimat.
"Oke. Kemudian ... putra mereka akhirnya tinggal bersama Dayana. Semenjak itu, hidup Otong menjadi berantakan. Aku sudah memintanya untuk tinggal denganku, tetapi tidak mau. Tak ada satu pun yang bisa membujuk termasuk adiknya sendiri. Malah, Otong membuat hubungan persaudaraan itu putus dengan meninggalkan orang-orang terdekatnya. Jubaedah yang tahu jika kakaknya terpuruk, meminta tolong padaku untuk mengawasinya. Tentu saja aku melakukannya tanpa diminta. Aku mengutus R untuk mematai-matainya."
"Siapa R?" tanya Erik merasa tak asing.
__ADS_1
"R adalah salah satu anakku yang keberadaannya tak diketahui oleh beberapa orang, hingga saat ini. Termasuk G dan B," jawabnya yang membuat Vesper tertegun.
"Kenapa kau melakukannya, D? Kenapa kau menyembunyikan mereka?" tanya Vesper terkejut.
"Mereka ... berbeda. Mereka manusia setengah dewa sepertiku. Bahkan, memiliki kemampuan lebih. Beruntung, wujud mereka masih manusia. Agar bisa berbaur, mereka menutupi warna mata dengan lensa kontak. Mata mereka sesuai dengan nama. Red, Green, Blue. Saat Irina hamil, kami berdua masih memiliki kemampuan dari serum Mitologi. Jadi ... begitulah," ucap King D yang mengejutkan semua orang.
"Luar biasa! Bisakah aku bertemu dengan mereka? Apakah anak-anakmu bisa melihat roh juga?" tanya Axton menggebu.
"Ya. Mereka juga bisa melihat roh," jawabnya yang membuat senyum Antony terkembang.
"Oke. Soal itu, nanti saja. Lanjutkan tentang Otong," pinta Vesper menahan rasa ingin tahunya tentang tiga cucu kembarnya itu.
"R memberiku informasi secara berkala melalui GIGA. Ia mengatakan jika Otong merubah Black Stone menjadi tempat hiburan malam. Otong selalu terlihat bersama gadis-gadis cantik yang berganti setiap waktu."
"Heh, siapa yang tak suka gadis-gadis cantik dan seksii," ujar Axton dengan wajah tengilnya. Erik geleng-geleng kepala.
"Maaf, aku lanjutkan," ucap King D yang diangguki Axton dengan senyuman. "Otong melakukan bisnis hiburan yang lebih ke arah prostitusi. Ia juga menjual ganja ilegal di tempat-tempat usahanya. Intinya, dia melupakan Tuhan karena baginya, Tuhan tak adil dan melupakan dirinya. Aku sudah berusaha untuk menasihati, tetapi dia marah padaku. Kami sampai berkelahi dan kubuat Otong babak belur. Namun, hal itu tak membuatnya jera. Lalu ... kalian ingat dengan data GIGA yang mengatakan jika ada sekitar 171 orang dalam jajaran yang masih hidup?" Para roh mengangguk cepat. "10 di antaranya adalah keturunan Otong dari para wanita yang tak pernah dinikahinya. Namun, hebatnya, mereka cantik-cantik dan tampan."
"Woah!" seru Axton, Tobias, dan Erik bersamaan.
Antony dan Vesper sampai tertegun karena teriakan itu.
"Lalu ... apa yang terjadi?" tanya Antony penasaran.
"Dari sanalah Otong semakin yakin jika dia tak perlu menyembah Tuhan. Saat dia bersujud pada-Nya, hidupnya tak seperti yang diharapkan. Lalu, ketika ia meninggalkan-Nya, hidupnya sempurna. Entah bagaimana dia bisa berpikiran seperti itu. Aku sangat miris dengannya dan tetap berusaha membawanya kembali. Namun, Tuhan berkehendak lain. Otong tewas karena kecelakaan akibat mabuk. Mobilnya jatuh dari jurang dan meledak bersama dirinya. Beruntung, jasadnya masih utuh meskipun sudah hangus. Aku menguburkannya dan terus mendoakan agar Tuhan mengampuni. Hanya saja, aku tak tahu apakah doaku diterima atau tidak. Sungguh, aku sangat menyayangkan hal tersebut," ujar King D yang membuat para roh terpaku.
Eko meneteskan air mata. Vesper bisa melihat bodyguard-nya itu bersedih. Bukan karena kematian, tetapi Otong yang salah dalam memilih jalan hidup. Vesper ingin sekali memeluk pria itu, tetapi raganya selalu tertembus. Vesper yakin, hal itu terjadi karena mereka berbeda jenis kelamin dan Tuhan tak mengizinkan meski hawa nafsu telah dihilangkan.
"Eko, aku turut menyesal mendengar hal ini. Aku tahu kau pasti bersedih. Namun, itulah hidup. Itu pilihan Otong. Kita sudah mati dan tak bisa menolongnya. King D saja yang sahabatnya sejak kecil tak bisa meluruskan jalan pikirannya lagi. Kuharap kau bisa mengerti," ujar Vesper yang membuat King D terdiam dan membayangkan Eko ada di hadapannya sedang berduka.
"Eko ... Eko paham, Mbak Vesper. Eko pergi dulu nanti balik lagi," ucapnya dengan pandangan tertunduk lalu menghilang begitu saja.
Para roh bisa memahami kesedihan hati seorang ayah karena anaknya yang salah jalan. Vesper menatap King D yang tampak murung usai bercerita. Lama mereka saling diam hingga tiba-tiba, King D menguap.
"Oh, maaf, D. Kau pasti lelah. Tidurlah," ucap Vesper.
"Ya, Oma. Aku salat malam dulu baru setelahnya tidur. Manusia setengah dewa juga butuh istirahat," ucapnya yang membuat para pendengar tersenyum tipis. "Salam," ucapnya pamit dengan anggukan, dan dibalas dengan anggukan yang sama.
King D pergi meninggalkan ruang penyimpanan jasad untuk kembali ke kamarnya. Satu-satunya ruangan paling bersih dan terawat adalah kamar pemilik istana megah itu. Sedangkan Vesper dan lainnya, masih berkumpul di ruangan tempat jasadnya diawetkan.
"Kisah Otong mengingatkan kita dulu. Apalagi aku yang tak ber-Tuhan. Terlambat untuk menyesal. Kuterima siksa neraka atas kebodohanku saat masih hidup dulu, Tuhan," ujar Vesper penuh penyesalan yang ternyata, para roh lainnya juga berpikir demikian.
***
__ADS_1
wiii makasih tips koinnya Rana. Lele padamu💋 nanti ngetips lagi ya😆nglunjak