TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Tak Bisa Diselamatkan*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Axton mematung. Ia mencoba memberontak, tetapi kekuatan roh iblis tersebut sangat besar. Pria itu menelan ludah, panik, tetapi juga penasaran dengan nasibnya jika tertelan mengingat ia sudah mati dan telah merasakan siksa neraka. Baginya, dimakan makhluk buruk rupa tak semengerikan hukuman dari sang Kematian. Senyum Axton terkembang, menunggu detik-detik yang baginya sangat menegangkan ini.


"Cepat makan aku, makan!" pintanya semangat. Akan tetapi, "Hem?"


"GARRR!"


Sukoco terbang dengan cepat dan menangkap rahang gigi bawah roh iblis tersebut. Ia menariknya kuat ke bawah hingga makhluk besar itu jatuh dengan dagu terlebih dahulu. Vesper dan lainnya tertegun karena tak menyangka dengan kekuatan besar Sukoco. Erik yang tak mau kalah, bergegas membantu Sukoco untuk membebaskan Axton.


"Lepaskan dia, Jelek!" teriak Erik marah dan dengan cepat memukuli tangan besar hitam roh iblis.


Axton kecewa karena tak jadi dimakan. Ia diam saja melihat Antony, Erik dan Vesper berusaha melepaskan cengkraman roh jahat.


"Hah, membosankan. Bisa lebih cepat?" pinta Axton malas yang tubuhnya terombang-ambing ke sana kemari karena roh iblis berusaha menyingkirkan mereka.


"Ini tak akan selesai jika kau hanya diam saja!" teriak Antony kesal karena Axton malah pasrah dan menonton.


Axton yang sebal karena disalahkan, kembali memberontak. Kali ini, ia nekat menggigit tangan hitam itu hingga roh tersebut meraung kencang dan melepaskan cengkeraman.


"Yeah! Menyingkir!" pinta pria Amerika itu lantang saat tubuhnya terbebas.


Dengan cepat, sang Casanova memegang salah satu lengan roh iblis tersebut. Vesper, Erik dan Antony yang sedang sibuk berkelit seraya bergantian melakukan serangan kepada lawan, bergegas menghindar. Akan tetapi, Sukoco yang masih bersemangat menghajar para roh iblis di sekitarnya, tak menyadari serangan dari titik buta.


"Tuan Sukoco!" panggil Erik saat tiba-tiba saja, salah satu tangan besar roh raksasa terjulur dan menangkap Sukoco.


Pria gendut itu tertegun karena tak menyadari serangan tersebut. Rantai emas berhasil mengurung roh iblis bagaikan ular raksasa. Roh-roh iblis lainnya yang tak ikut menyatu tampak ketakutan melihat jenisnya kini diseret kembali ke neraka. Mereka melarikan diri dengan masuk ke dalam tanah dan menghilang. Vesper dan lainnya yang fokus untuk menyelamatkan Sukoco karena roh iblis enggan melepaskannya dibuat panik.


"Tarik yang kuat!" teriak Antony seraya memegang lengan Sukoco kuat, tetapi waktu 5 detik membuat usaha mereka terasa sia-sia.


Mata Vesper dan lainnya terbelalak lebar ketika melihat pemandangan mengerikan neraka kembali muncul. Kali ini, lautan lava panas menjadi pemandangan horor bagi mereka. Seluruh wilayah kota mati itu kini menjadi ladang lava dan magma dengan letupan membara.


"Cepet! Cepet!" teriak Sukoco panik saat dirinya ikut terseret ke dalam neraka karena roh iblis raksasa tak sudi melepaskan tangkapannya.


"Erghhh! Lakukan sesuatu agar cengkeraman iblis itu terlepas!" teriak Erik yang nekat memegangi kepala Sukoco karena hanya bagian kepala dan satu lengannya saja yang bisa digapai sebab berhasil menyelinap di antara tangan raksasa hitam itu.


"GARRR! GARRR!"

__ADS_1


"Ora sudi! Aku ora sudi balik neroko meneh! Ora sudiiii!" teriak Sukoco ketakutan yang ikut merasakan kepanikan akibat panas dari lava pijar dan pecahan dari gelembung magma di bawah kakinya.



Jilatan dari semburan lava yang naik ke permukaan bagaikan letusan gunung berapi membuat roh Vesper dan kawan-kawannya spontan menjauh. Tangan mereka terpaksa melepaskan diri dari tubuh mantan anggota dewan itu. Roh mereka bisa merasakan kedahsyatan dari panasnya amukan neraka. Sukoco terus berteriak meminta tolong, tetapi tampaknya sang Kematian tak memberikan bantuan. Ia seperti membiarkan pria gemuk itu diseret kembali ke neraka bersama roh iblis yang berhasil dibelenggu oleh Axton.


CESS!


"Arghhh! Panas! Panas!" teriak Sukoco meraung hingga terlihat dengan jelas matanya yang terbelalak lebar dan tubuh yang menegang karena dua kaki tenggelam dalam lautan lava.


Wajah Erik dan lainnya pucat pasi. Tubuh mereka mematung dan terlihat seperti orang yang kesulitan bernapas. Mata mereka terbelalak lebar menyaksikan Sukoco ditelan oleh neraka bersama dengan roh iblis yang masih bertahan dengan menggenggam kuat tubuh pria gemuk itu. Vesper memejamkan mata, tak tega melihat pria itu meronta kesakitan dan meminta tolong untuk diselamatkan.


Sayangnya, neraka seperti belum mengizinkan Axton dan lainnya kembali. Antony memalingkan wajah saat ia sadar jika ditatap tajam oleh Sukoco yang berharap untuk ditolong, tetapi tak mampu. Sejenak, keheningan terasa. Pemandangan mengerikan neraka kembali lenyap usai ia menelan Sukoco dan roh iblis yang dirantai.


"Hah, hah, apa yang terjadi? Kenapa Sukoco bisa ikut ditarik? Apa ... apa karena roh iblis itu tak melepaskannya?" tanya Erik dengan napas tersengal, serasa jantungnya kembali berdetak dan ingin meledak.


"Entahlah. Mungkin. Sang Kematian tak muncul dan tak menolongnya. Kita juga seperti dilarang untuk membantunya. Kalian lihat lidah api yang bagaikan cambuk itu? Ia seperti mengusir kita," ujar Antony yang diangguki oleh para roh lain karena mereka merasakan sendiri saat hal tersebut terjadi.


Para roh itu termenung dalam kebingungan. Perlahan, pemandangan dari lokasi tempat mereka bertarung dengan roh iblis kembali. Vesper dan lainnya dibuat tegang karena teringat jika para roh iblis menghuni wilayah itu. Erik dengan sigap mengajak kawan-kawannya untuk segera pergi karena tugas mereka di hari itu telah usai. Kini, mereka harus kembali dibuat pusing karena Embun yang telah pergi dulu entah sekarang berada di mana.


"Entahlah. Meskipun aku lahir di Indonesia, tetapi tak semua wilayah terekam di kepalaku. Namun, jika melihat kita sebelumnya berada di Filipina, pulau terdekat bisa Kalimantan atau Sulawesi. Sayangnya, dunia telah berubah. Filipina saja bisa tenggelam, apalagi Indonesia," jawabnya yang masih shock karena kepergian Sukoco di luar dugaan.


Erik dan lainnya mengangguk paham. Mereka terbang dalam formasi belah ketupat dengan mata memindai sekitar untuk mencari keberadaan Embun. Banyak dugaan di kepala Vesper mengenai di mana kira-kira kediaman Morlan. Terlebih, Alva tak memberikan gambaran seperti apa sosok kakeknya itu. Dipikiran Vesper, Morlan pastilah sudah sangat tua.


Lama mereka terbang menyusuri tanpa tahu berada di daerah mana. Namun, pemandangan kota hancur dan beberapa wilayah ditumbuhi tanaman lebat yang menutup beberapa bangunan terlihat jelas dari atas. Saat para roh sedang serius melihat sekitar, tiba-tiba saja terdengar suara seperti sorak-sorai di kejauhan. Vesper yang berada di barisan paling depan meminta kepada kawan-kawannya untuk berhenti.


"Ya, aku juga mendengarnya. Dari mana asal suara itu?" tanya Antony sampai tubuhnya berputar dengan mata menyorot tajam semua kawasan yang tertangkap matanya.


"Di sana! Asal suaranya dari tempat itu!" seru Axton seraya menunjuk.


Vesper dan lainnya bergegas terbang ke arah suara. Mereka yang harus mengetahui di mana keberadaan dari wilayah baru tersebut dibuat penasaran. Seketika, mata para roh melebar ketika melihat keindahan dari hamparan sawah yang sudah lama sekali dirindukan. Vesper merasa seperti kembali ke kampung halaman. Ingatan tentang kehidupan lama saat bersama keluarga Herlambang membuat matanya berlinang.


"Kau tak apa, Sayang?" tanya Erik melihat sang istri bersedih.


"Aku ... teringat akan keluargaku di Jogja, Erik," jawabnya dengan senyuman dan kembali tegar.


"Ya, mereka orang baik. Semoga, keluarga yang sudah merawatmu hingga menjadi gadis berhati baik selamat dari siksa neraka," ucap Erik yang diangguki Vesper dengan senyum terkembang.

__ADS_1


"Hei, lihat! Rumah-rumah itu! Seperti ... rumah pedesaan zaman dulu! Wilayah ini subur!" seru Axton yang diangguki para roh dengan senyuman.



Vesper dan para roh melihat hamparan dari lahan pertanian di wilayah tersebut. Banyak terdapat rumah-rumah kayu dengan fondasi batu. Atap-atap tersebut terbuat dari genteng tanah liat yang dulu digunakan oleh para manusia. Erik tak bisa menutupi rasa bahagia karena teringat akan ladang ganja miliknya dulu saat di Colombia. Saat para roh terus terbang, tiba-tiba saja panggilan mengejutkan membuat mereka tersentak dan menoleh seketika.


"Sepertinya kalian sangat bahagia menikmati hari tanpaku, ya? Hem, bagus," ujar Joel yang kembali muncul di belakang para roh tersebut.


"Sejak kapan kau di sini?" tanya Vesper berkerut kening dan menghentikan laju terbangnya.


"Sejak kalian pergi meninggalkan kota jelek yang dipenuhi aura setan!" teriak Joel marah dengan napas menderu.


"Oh," jawab Vesper malas.


"Kau bahkan tak khawatir dengan keadaanku. Aku diseret kembali ke neraka dan disiksa. Sang Kematian mengatakan aku kembali karena keinginan kalian! Sungguh keterlaluan! Kalian pikir yang dilakukan adalah benar, ha!" teriak Joel marah.


Vesper yang baru saja menikmati kedamaian tanpa Joel kembali bersabar. Vesper menatap Joel lekat yang marah padanya.


"Jangan salahkan kami jika sikapmu sangat menjengkelkan, Joel. Kami realistis dan tak bisa menentang perintah atau keputusan sang Kematian. Jika dia mengabulkan permintaan kami, berarti kau memang pantas untuk dihukum. Namun, jika tidak, kau pasti tetap berada di sini. Seharusnya, kau sadar dengan yang kau perbuat sebelumnya. Ucapanmu sangat menjengkelkan dan wajar jika kami kesal padamu," ucap Vesper tegas dan diangguki semua roh karena sependapat dengannya.


Joel berdecak kesal seraya bertolak pinggang. Ia memalingkan wajah enggan memandang kawan-kawannya.


"Introspeksi, jangan seperti anak kecil atau kau akan kami kirim lagi ke neraka. Mungkin yang kedua kali, kau tak akan kembali lagi bersama kami," ujar Boleslav mengancam.


"Kau ...," geram Joel dengan wajah bengis siap menghajar, tetapi empat roh di hadapannya seperti sudah bosan dan cuek akan apa yang akan ia lakukan. "Agh, lupakan saja. Jadi, kalian akan mendatangi pesta panen?"


"Pesta panen?" tanya Vesper mengulang.


"Ya. Kalian tiba di Indonesia. Aku tadi kesal karena kalian mengabaikan keberadaanku lalu kupilih untuk terbang menjauh. Di sana, sekumpulan petani berkumpul untuk merayakan pesta panen. Entah adat seperti apa yang dilakukan, tetapi banyak manusia di tempat itu," ucap Joel seraya menunjuk ke arah lokasi dengan wajah datar.


"Hehe, jika kau tak menyebalkan, kau sangat menggemaskan, Joel. Sini, kupeluk sebagai ucapan selamat datang kembali dari neraka," ujar Axton seraya merentangkan tangan, tetapi Joel dengan sigap terbang menjauh ke arah pesta yang dia ucapkan. "Hehehe," kekeh Axton karena berhasil membuat Joel risih dengannya.


"Ayo!" ajak Vesper dan diangguki kawan-kawan rohnya.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2