TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Terbongkar*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


King D terlihat gugup saat dirangkul mesra oleh Iris. Para roh melayang di belakang mantan presiden dunia tersebut dengan mata memindai sekitar tampak waspada. Ruangan besar layaknya ballroom dengan kesan futuristik karena dinding dalam bangunan seperti memiliki lapisan yang mengkilat dan gampang dibersihkan hanya dengan usapan tangan. Lampu-lampu berbentuk seperti tali yang panjang dan berbelok-belok mengikuti gaya dari pemilik rumah pada dinding atau atap ruangan. Tentu saja, perbedaan yang mencolok itu membuat para roh terpukau.


"Halo, King D," sapa orang-orang sambil membungkuk menunjukkan rasa hormat kepada senior dan penyelamat mereka itu. King D mengangguk sebagai jawaban.


Gaya berpakaian orang-orang di zaman itu juga cukup nyentrik. Rambut mereka berwarna-warni dengan campuran semir. Gaya rambut unik berikut riasan yang memberikan kesan tersendiri seperti menunjukkan ciri khas dari orang tersebut. Contohnya, Iris. Pakaiannya sangat berbeda dengan gaya berbusana manusia pada zaman Vesper dan anak-anaknya. Meski demikian, para roh senang karena bisa melihat keturunan mereka menjadi orang-orang hebat di masa depan.


"Orang-orang di zaman ini aneh. Mereka mengadakan pertemuan pada dini hari," ujar Tobias yang merasa jika fajar sebentar lagi menyingsing.


"Kau benar. Aku baru menyadari hal itu," sahut Erik.


Mereka lalu duduk di kursi melayang membentuk oval yang besar. Antony dan roh lainnya mencoba menebak siapa saja orang-orang itu. Sedangkan Vesper, mengincar tiga anak King D yang katanya bisa melihat roh. Mereka terbang ke sana kemari dan menatap kumpulan orang-orang itu satu per satu.


"Kurang empat orang dari jumlah yang pernah GIGA katakan. Siapa yang tidak datang?" tanya Vesper dengan kening berkerut yang ternyata melakukan perhitungan diam-diam.


"Sayang sekali, RGB tidak bisa hadir karena mereka merasa sedang diawasi. Sebaiknya kita juga berhati-hati," ucap Iris tiba-tiba yang mengejutkan para roh.


"Apakah ... dia bisa melihat kita?" tanya Antony gugup.


Namun, King D yang mendengar ucapan para roh itu menggeleng pelan. Vesper bernapas lega karena para roh memang hanya berharap agar King D saja yang bisa berkomunikasi dengan mereka.


"Kudengar, presiden Alva sedang mengusut sesuatu yang berhubungan dengan sejarah masa lalu. Aku menduga jika ia mengincar King D," ucap Iris yang mengejutkan semua orang termasuk para roh.


"Kenapa kau bisa berkata demikian?" tanya Fagan yang sudah datang dan ikut bergabung.


"GIGA menangkap pergerakan sebuah robot menuju ke rumah Morlan. Robot tersebut dikirim dari kantor tempat Alva bertugas hari itu. Anehnya, robot tersebut sempat singgah di Filipina dan Alva mengirimkan informasi. GIGA berhasil meretas dan merekam pesan dari Alva," ucap Iris serius yang membuat kening semua orang berkerut.


Tiba-tiba, lampu di ruangan itu padam. Vesper dan lainnya tertegun. Namun kemudian, muncul sebuah tayangan pada dinding. Sontak, isi video itu mengejutkan Vesper dan kawan-kawannya. Mereka terpaku dan saling melirik dalam diam. King D berkerut kening, tetapi kemudian ikut tegang saat Iris memutar kursi lalu menatapnya saksama.


"Jadi, Tuan King D. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dari kami. Aku bisa melihat pergerakanmu. Sudah kubilang, jangan pernah mencoba berbohong padaku," ucap Iris tajam.


"Aku tak berbohong apapun padamu, Iris," jawab King D tenang.


"Ah, mungkin aku salah dalam menggunakan kalimat. Lebih tepatnya, menyimpan rahasia yang seharusnya kau sampaikan pada kami," ujar Iris yang membuat King D menelan ludah. Vesper menatap Iris tajam.

__ADS_1


"Cora!" panggil Iris dengan mata masih terkunci pada King D.


Tiba-tiba, sebuah pintu yang berada di sisi kiri dinding ruangan terbuka. Muncul seorang gadis kecil bermata biru, berambut hitam pendek, dan memiliki kesan tegas dalam dirinya. Mata semua orang terfokus pada gadis kecil bernama Cora saat ia melangkah keluar dan diikuti beberapa tabung yang bergerak melayang di belakangnya. Mata King D melotot dan langsung menatap Fagan. Keturunan Giamoco itu tertunduk seperti menyadari jika Iris tahu sesuatu dari informasi yang diberikan Fagan. King D memejamkan matanya sejenak lalu membukanya lagi.



"Dia keturunan siapa?" tanya Erik dengan kening berkerut saat lampu ruangan kembali menyala terang dan Cora berdiri tegap di hadapan para seniornya.


Kali ini, King D tak menjawab pertanyaan Erik. Pria itu terlihat tegang. Tabung-tabung yang mengikuti Cora berhenti bergerak. Gadis cantik itu menggerakkan telapak tangan kanan yang berlapis sarung senada dengan warna pakaiannya, hitam. Namun, tampak beberapa lampu di kulit sarung tangan itu. Para roh menatap gerak-gerik Cora yang menggerakkan tangannya dengan lembut. Perlahan, tabung-tabung yang mengikutinya berdiri seolah gadis kecil itu memiliki sihir, padahal tidak demikian.


"Oke. Aku merasa akan terjadi hal gawat karena isi dalam tabung itu adalah jasad," ucap Jonathan pucat.


"Sepertinya aku tahu apa yang akan terjadi. Aku ambil alih. Kalian, tetap di sini karena setelahnya, hukuman berlipat menanti kita," ucap Vesper serius yang membuat para roh berdecak kesal.


"Shitt!" pekik Tobias dengan bertolak pinggang.


"Baru gabung udah dikasih kerjaan. Ya, ampun," keluh Jonathan dengan wajah memelas.


"Ada apa sebenarnya, Iris?" tanya seorang wanita berambut putih yang diyakini para roh keturunan Flame.


"Heh, kau gila? Mereka sudah mati. Orang mati tidak— aaaa!" teriak wanita itu saat melihat mata salah satu leluhur mereka terbuka dan pintu tabung bergerak ke atas.


Sontak, orang-orang yang berada di ruangan itu terkejut. Iris tersenyum miring lalu berdiri dari kursinya. Ia berjalan perlahan mendekati tabung yang telah terbuka berisi jasad dari leluhurnya, Reina Akiara.


"Di-dia bergerak! Dia hidup!" pekik seorang wanita berambut hitam panjang panik.


Orang-orang itu terperanjat. Mereka tercengang akan hal yang dirasa mustahil bahkan dengan sains sekalipun. Para manusia itu berkumpul meninggalkan kursi melayang dengan jantung berdebar kencang. Raga Reina yang tak lain adalah putri dari Alex dan Sakura, berdiri tegap di samping Cora.


Gadis kecil itu tampak gugup dan menatap jasad Reina saksama. Reina tersenyum yang membuat Cora menelan ludah. Reina mengenakan celana ketat sepaha dan bra menutupi bagian terindahnya. Reina sudah tua saat diawetkan, tetapi masih terlihat cantik.


"Kau putri dari pasangan siapa, Cora?" tanya Vesper lembut.


"Mungkin kau lebih mengenal kakekku," jawabnya gugup tak berkedip menatap sosok Reina lekat.


"Oke, gadis pintar. Siapa kakekmu?"

__ADS_1


"O-Obama Otong," jawabnya dengan wajah tegang.


Tiba-tiba ....


"Edian! Cucuku uayu tenan! Hahai! Kalau gak inget dia anak dari salah satu cewek yang gak dinikahin si Otong gemblung, udah Eko sayang-sayang," ucap Eko yang membuat Vesper menatap bodyguard-nya keheranan.


"Dia muncul lagi," ucap Tobias dengan wajah malas.


"Oh, ya. Ini rumah siapa?" tanya Erik seraya melihat sekitar.


"Iris noh," sahut Eko yang tak ingin jauh-jauh dari cucunya.


"Halo. Maaf, jika membuat Anda harus muncul dengan cara seperti ini, Nyonya Reina Akiara," ucap Iris sopan.


"Aku bukan Reina. Aku Vesper."


Sontak, jawaban itu membuat mata Iris terbelalak lebar termasuk lainnya. Junior menatap King D dan pria itu hanya tersenyum tipis dengan anggukan.


"Vesper? Vesper ... ketua 13 Demon Heads?" tanya seorang pria memekik.


"Ya, benar sayang. Aku adalah Vesper. Mungkin kalian juga mengenalku dengan nama Lily atau Liana," jawab Vesper sopan lalu menengadahkan tangan kanan ke arah Iris. Wanita cantik itu bingung. "Pakaianku kurang layak, Sayang. Berikan aku sesuatu untuk menutup tubuh wanita malang ini."


"Oh, sure! Sure!" jawab Iris panik dan kebingungan mencari pakaian karena ia malah berputar-putar di tempatnya berada.


"Heh, dia menjadi orang bodoh seketika," sindir Tobias dan diangguki semua roh dengan senyum mengejek.


"Hoh! Hoh!" sahut Junior cepat seraya memberikan sebuah jubah kepada Vesper.


Senyum Reina terkembang. Ia menerima jubah berwarna putih itu lalu menyentuh kepala Junior lembut. Semua orang tertegun termasuk Junior karena mematung.


"Halo, Junior. Maaf jika harus menemuimu dengan cara seperti ini. Seperti kata King D, senang bertemu denganmu. Aku Vesper, nenekmu," ucap Vesper membungkuk karena Junior berjongkok.


Junior spontan memeluk kaki Reina. Vesper seperti ingin menangis. Dari sekian banyak anak yang ia kenal sebelum ajal menjemputnya, dirinya tak mengenal Junior sama sekali karena anak malang itu belum lahir. Vesper balas mendekap cucunya dengan mata terpejam sambil berjongkok. Semua orang terharu, meskipun mereka masih terguncang karena melihat mayat hidup yang mengaku jika dia adalah Vesper.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2