
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Tempat ini indah dan perkembangannya sangat pesat," ucap Vesper saat truk pengangkut keluar dari terowongan dan menembus ke jalanan menuju pusat kota.
"Ya. Ini salah satu hasil kerjaku saat menjabat dulu," ujar King D dengan senyuman.
Vesper terlihat bangga sampai bertepuk tangan. King D tersipu malu karena ia dipuji semua roh yang duduk melayang di dekatnya. Namun, tidak dengan Tobias.
"Tunggu. Bukankah saat kau bilang turun dari jabatan, perang terjadi lagi, tetapi lebih seperti zaman penjajahan karena ingin menguasai negara lain? Negara-negara kuat berlomba-lomba memamerkan kemampuan tempur mereka dalam persenjataan. Melakukan aksi bom besar-besaran untuk merusak wilayah yang tak mau bersekutu. Bagaimana mungkin tempat ini masih utuh?" tanya Tobias seraya menatap gedung pencakar langit yang tampak megah keheranan.
"Tempat ini memang sempat hancur, Dad. Namun, tidak dengan orang-orangnya dan beberapa bangunan yang dilindungi dengan senjata Vesper serta Boleslav Industries. Mungkin, takdir Tuhan aku berumur panjang. Kubawa orang-orang yang selamat ke markas The Circle dan 13 Demon Heads yang tersebar di seluruh dunia. Kupasang senjata-senjata kita di beberapa bangunan krusial peninggalan ayahku dan bangunan-bangunan penting peninggalan Era Evolusi, saat aku memimpin dulu. Aku meminta kepada semua keturunan kita untuk membantu mengevakuasi beberapa orang secara diam-diam. Seolah, apa yang kami lakukan tak diketahui dunia. Terlebih, kita memiliki pemancar fatamorgana. Sehebat apa pun teknologi negara-negara kuat yang masih berkuasa untuk mencari tempat untuk dijajah, mereka tak akan menemukan kami," ucap King D yang membuat Vesper meneteskan air mata haru.
"Kau benar-benar penyelamat, D," ucap Vesper. Pria itu tampak rendah hati karena menjawabnya hanya dengan senyuman.
"Lalu ... kapan kau menunjukkan diri saat ada manusia dari jenis kita yang tersisa?" tanya Antony yang diam-diam menaruh rasa bangga kepada suami dari salah satu cucunya itu.
"Saat aku melihat jika perdamaian akan tercipta sedikit lagi. Kalian mengatakan telah bertemu Alva, bukan? Saat itu, ibunya, Sandra Salvarian, melakukan perjalanan di sekitar wilayah China untuk menyelesaikan misi dari Morlan. Aku meminta kepada orang-orang kita yang terpilih sebagai agent untuk masuk ke tiap negara dan kota-kota yang masih bertahan. Mereka mengirimkan pesan padaku dengan berbagai cara di mana saat itu aku menetap di Grey House. Bisa dibilang, diam-diam aku membantu Sandra Salvarian menemukan jalan menuju perdamaian untuk menyelesaikan perang. Atas kuasa Tuhan, perang berakhir," ucapnya yang membuat Tobias langsung bertepuk tangan dengan kencang.
"D, lanjutkan. Kisah hidupmu sangat seru," pinta Axton dengan dua tangan menopang dagu dan tubuh dalam posisi tengkurap menatap pria tampan di hadapan.
"Lalu orang-orang kita dipercaya untuk membangun kembali wilayah-wilayah yang rusak. Hanya saja, nama 13 Demon Heads dan The Circle lenyap seiring berjalannya waktu. Kami sengaja tak menunjukkan diri karena ingin dianggap mafia memang telah musnah di Bumi. Aku juga tak menunjukkan diri karena takut dikenali. Selain itu, sangat aneh jika muncul seorang pria yang pernah diberitakan telah mati, tetapi masih berkeliaran di beberapa penjuru. Oleh karenanya, aku membatasi diri berpergian, tetapi siapa sangka jika teknologi baru Alva bisa menemukanku. Jadi, selama ini, aku membantu di balik bayangan seperti kakek Han," ucap King D melirik Vesper.
"Jangan sebut nama itu," ucap Erik dengan wajah serius seraya menunjuk.
"Ups. Oke," sahut King D menahan senyum. Vesper memilih diam dengan bibir mengerucut.
"Bagaimana dengan kisah setelah kematianku, D?" tanya Vesper masih belum puas dengan cerita sang cucu.
"Baiklah. Jadi ... setelah kematian Oma, kehidupan kami mulai berangsur membaik. Maksudnya, pemerintah dan militer tak seketat dulu. Kami memang diawasi, tetapi bibi Sandara meyakinkan jika 13 Demon Heads bukan ancaman, termasuk paman Jonathan, Arjuna dan mimi Lysa," jawabnya. Para mafia mengangguk pelan. "Hingga saat itu, terjadi sebuah fenomena unik di Bumi. Menurut cerita dari anak-anak 13 Demon Kids, mereka—"
"Tunggu. Apa itu 13 Demon Kids?" tanya Axton memicingkan mata.
"Istilah yang dibentuk oleh anak-anak itu sendiri. Anakmu Ryan tergabung dalam kelompok tersebut. Dia tumbuh menjadi pria hebat. Ryan menguasai Amerika dan India, Tuan Axton," ucap King D yang membuat senyum sang Casanova merekah seketika.
"Keturunanku memang tak perlu diragukan. Lanjutkan, lanjutkan," pintanya semangat. Para roh yang mendengar geleng-geleng kepala.
"Hanya saja, banyak yang tidak percaya pada 13 Demon Kids karena mereka mengatakan jika dibawa ke sebuah planet bernama Mitologi. Mereka ikut dalam permainan gila bernama Maniac. Sistem permainannya pun rumit, tetapi menarik, dan hebatnya, 13 dari anak-anak mafia dalam jajaran kita adalah pemenangnya. Mereka mendapatkan hadiah super hebat termasuk serum perubah wujud. Itulah, yang menyelamatkan kita dari serangan monster. Aku disuntikkan serum itu oleh bibi Sandara termasuk mafia-mafia muda lainnya," ucap King D menjelaskan. Vesper dan lainnya melongo.
"Aku tak mau mengomentari hal itu. Lanjutkan saja," pinta Erik mengedipkan mata karena logikanya masih sulit untuk menerima kisah tersebut. King D tersenyum.
"Oh, ada satu inovasi terhebat dari kakek Kai yang berhasil diterapkan hingga saat ini. Tabung pengawet mayat dan penyimpan manusia agar bisa hidup lama."
"Ha?" sahut Axton dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Begini. Saat Oma meninggal, ternyata paman Tora meninggalkan sebuah ramuan mujarab untuk mengawetkan mayat. Sejak dulu, semua orang penasaran dengan warisan awet mudanya."
"Ya, itu benar. Tora dikatakan berumur 40 tahun saat ditemukan, tapi dia masih seperti bocah berumur 20 tahun!" pekik Axton yang mengejutkan Erik karena baru mengetahui hal itu.
"Lanjutkan, D," pinta Antony karena sedari tadi cerita King D terpotong oleh para komentator.
"Oke. Lalu, orang-orang sepakat untuk mengawetkan mayat Oma. Kakek Kai dan Jeremy membuat sebuah tabung khusus untuk mengawetkan mayat berikut serum agar tak terjadi pembusukan. Ternyata, hal itu berhasil. Bahkan ...."
"Apa, D?" tanya Vesper menatap King D lekat karena sang cucu tiba-tiba menghentikan ceritanya.
"Akan kubawa kalian ke suatu tempat setelah aku mengantarkan pisang-pisang ini. Tunggu sebentar," pinta King D ketika sistem pengendali truknya memberitahukan jika telah tiba di lokasi tujuan.
Vesper tampak tak sabar menunggu lanjutan cerita yang dirasakan ada sangkut paut dengan dirinya. King D menurunkan muatan dibantu oleh mesin di sebuah bangunan besar mirip supermarket.
"Dari seorang presiden dunia beralih menjadi petani pisang. Sungguh memalukan," sindir Tobias.
"Hentikan. Dia melakukan yang dirasa tepat, Toby. Peperangan sudah berakhir. King D memutuskan pensiun. Jangan membebani hidupnya, terlebih dia kehilangan Irina," ucap Vesper menegaskan. Tobias memalingkan wajah karena dinasihati.
"Hoho, kau mendapatkan uang banyak dari menjual pisang-pisang ini? Kau menjadi petani?" tanya Axton saat King D kembali naik ke truk lalu mengatur kembali rutenya.
"Begitulah. Di zaman ini kami sudah tak menggunakan uang tunai lagi. Jumlah pohon penghasil kertas tak sebanyak dulu, jadi diubah menjadi bentuk digital," ujarnya saat truk mulai bergerak meninggalkan bangunan besar tersebut.
"Kita ke mana?" tanya Antony dengan kepala keluar dari penutup bak truk.
Para roh mengangguk setuju. Mereka betah berlama-lama bersama King D yang santun dan murah senyum itu. Hingga akhirnya, truk kembali ke istana melalui jalan rahasia yang berada di balik reruntuhan kota mati. Vesper menyipitkan mata saat ia menyadari jika di sekitar jalan masuk truk itu dipasang pemancar fatamorgana. Antony ternyata juga menyadari hal tersebut dan melirik Vesper.
"Jalan masuknya keren karena berada di garasi rumah seseorang," ujar Axton seraya mengangguk-angguk ketika ia yang penasaran, memutuskan terbang keluar truk bersama roh lainnya.
"Menyembunyikan diri, hem? Cerdas," sahut Erik yang mendapat senyuman mantan presiden dunia itu.
Lorong panjang di bawah rumah seseorang membawa truk King D sampai ke halaman parkir sisi lain dari istana. King D mematikan mesin kendaraan dan mengajak para roh itu untuk ikut masuk lift barang bersamanya. Vesper menatap King D lekat yang entah mengapa, hal itu membuat dirinya bangga akan kepiawaian putra Lysa dalam menghadapi rumitnya dunia era baru.
PIP!
"Ayo," ajak King D seraya melangkah keluar dari lift.
Kali ini, mereka menyusuri lorong yang tampak bersih tak seperti lorong-lorong sebelumnya. Namun, terlihat kuno karena lantai terbuat dari batu bukan marmer seperti koridor lainnya. Bahkan, terdapat cahaya lilin tanpa nyala api yang menyala otomatis begitu pintu lift terbuka. Axton sampai terbengong melihat batang lilin tersebut bercahaya dan bagian ujungnya adalah api buatan.
King D tersenyum dan terus melangkah hingga mereka tiba di sebuah pintu di ujung lorong yang tak memiliki cahaya lampu. Vesper menatap King D lekat. Ia terlihat bangga melihat cucunya tumbuh menjadi pria yang hebat di luar dugaan. Para roh tampak sabar menunggu di belakang pria berjambang itu.
"Kalian duluan saja," pinta King D saat ia berhenti di sebuah pintu besi yang dibuka menggunakan pemindai.
__ADS_1
"Oke!" ucap Tobias santai lalu menembus pintu, diikuti roh lainnya.
Namun, Vesper yang tak ingin jauh-jauh dari cucunya, memilih menunggu King D hingga pintu besi itu terbuka. Akan tetapi, saat Vesper masuk ke ruangan, matanya terbelalak lebar seketika.
"I-itu ...," ucap Vesper sampai tergagap seraya menunjuk.
"Jasadmu masih tersimpan utuh, Oma. Begitupula dengan Opa Kai dan Opa Han. Sayang, mimi dan baba tak ingin diawetkan. Mereka memilih dikuburkan seperti cara Islam. Begitupula dengan sahabatku Otong dan adiknya Jubaedah," ucap King D terlihat sedih.
Erik yang melihat wujud istrinya tampak tertegun. Ia membungkam mulutnya rapat. Erik berdiri di hadapan jasad Vesper yang terbaring tampak damai dengan dua tangan telengkup di dada. Antony menatap jasad Kai saksama. Sedangkan Axton dan Tobias menatap sosok Han yang sudah sangat tua terbaring di sisi kanan Vesper.
"Jadi ... siapa keturunan terakhir kami yang masih hidup, D?" tanya Antony mengalihkan pandangan ke putra Javier tersebut.
King D tersenyum. Ia berjalan menuju ke sebuah dinding berwarna putih. Semua roh menatap pergerakan pria tampan itu yang kini meletakkan tangannya di sebuah papan kaca seperti melakukan pemindaian.
PIP!
"GIGA. Informasikan padaku, siapa saja jajaran dari 13 Demon Heads dan The Circle yang masih hidup," pinta King D yang membuat mata Tobias, Vesper, Antony dan Axton melebar. Mereka tak percaya jika GIGA ciptaan Theresia masih ada dan kini dioperasikan oleh King D.
"Halo, D. Berikut data terbaru. RGB mengoperasikanku pagi tadi pukul 7 di Great Ruler. Junior mengoperasikanku kemarin pukul 8 malam di Russ-King. Sisanya, keturunan dari 13 Demon Heads dan Kids yang tersebar di seluruh penjuru Distrik dan negara sejumlah 171 orang."
Praktis, mata para roh yang mendengar hal tersebut terbelalak. Senyum mereka terkembang seketika. King D ikut senang melihat para roh bersorak histeris dan berpelukan.
"Tampaknya, kalian senang sekali," ucap King D ikut bahagia.
"Oh, kita akan mendapatkan banyak doa! Kita akan terbebas dari siksa neraka!" teriak Axton gembira dengan dua tangan terangkat ke atas penuh syukur.
"Shitt! Kita belum menangkap roh jahat hari ini!" pekik Tobias yang membuat tawa itu sirna seketika.
"Sial, dia benar. Kita harus berburu!" sahut Erik panik.
King D terlihat bingung usai mendengar keluhan para mafia-mafia senior itu.
"D. Di mana lokasi yang menurutmu banyak terjadi kejahatan? Beritahu kami cepat!" pinta Antony tampak tergesa.
"Mm, ada. Dekat sini ada sebuah penjara kelas dunia. Berisi para penjahat yang tak dihukum mati, tetapi mendapatkan hukuman seumur hidup dan dibiarkan mati di tempat itu. Tahanan di sana dibebaskan, tanpa sel kamar dengan pintu. Hanya saja, perkelahian tetap terjadi bahkan aksi saling bunuh hampir setiap hari. Entah apa yang merasuki orang-orang itu, tetapi menurut psikiater, mereka lebih mirip seperti psikopat sakit jiwa," ucap King D yang membuat seringai para roh terpancar seketika.
"Hehe, panen besar. Tunggu apa lagi. Ayo!" ajak Axton dan disambut suka cita para roh lainnya.
Mantan presiden dunia itu mengedipkan mata. Tak tahu harus melakukan apa karena ia diminta untuk menunggu di dalam istana. King D yang dibuat penasaran terpaksa sabar menunggu jawaban itu sampai para seniornya pulang bertugas.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1