TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Tentang Kematian


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Selama penerbangan menuju Indonesia, Tobias terbang di luar bersama Erik. Sedangkan Antony, Jonathan dan Vesper berada di dalam. Mereka duduk melayang mengikuti pergerakan helikopter yang mengantarkan ke tujuan. Junior fokus mengawasi di bangku pilot meski auto-pilot diaktifkan.


"Ceritakan padaku. Bagaimana Sandara meninggal, D? Termasuk Juna dan Lysa," pinta Vesper sendu.


King D menatap Jonathan lekat dan lelaki itu tersenyum sekilas. Pandangan Vesper teralih pada putranya.


"Nathan cuma tahu saat Sandara mau meninggal, Mama. Nathan gak tau ketika kak Lysa dan kak Juna tiada. Itulah yang Nathan katakan saat bangun, semua orang yang disayangi telah pergi selamanya," ucap Jonathan terlihat sedih.


Vesper memeluk putranya erat. Jonathan seperti akan menangis, tetapi ia tahan. Vesper tersenyum saat melepaskan pelukan dan berusaha tegar agar tak terlihat bersedih di hadapan semua.


"Mereka meninggal dengan damai. Usia. Namun, ada faktor lain yakni penyakit," jawab King D pelan.


"Sakit apa mereka, D?" tanya Vesper sayu.


"Arjuna ternyata mengidap kanker darah, Oma. Namun, kematiannya cepat. Ia juga baru mengetahuinya saat sudah stadium akhir. Kalian tahu jika fisik Arjuna sangat bagus. Mungkin hal itulah yang membuatnya mengabaikan rasa sakit. Saat ia tahu, Arjuna juga bersikap biasa saja seolah itu hanya flu. Ia menghabiskan akhir hidupnya di rumah sakit ditemani keluarga yang mencintainya."


"Tanpaku," sahut Jonathan dengan pandangan tertunduk.


Semua pendengar terdiam. Mereka tahu jika Jonathan menyesal karena tak ada di sana untuk menemani sang kakak sampai ajal menjemput.


"Bagaimana dengan ibumu?" tanya Antony memecah keheningan.


"Setelah pulang menjalankan ibadah haji bersama Fara, Baba dan aku, Mimi ... mengalami gagal ginjal. Mimi bertahan selama dua tahun lalu ... meninggal. Ada yang mengatakan karena itu faktor tabung yang mengakibatkan rusaknya fungsi organ dalam. Namun, Mimi menyangkal hal itu dan tak menyalahkan siapapun," jawab King D dengan mata berlinang.


Vesper tak lagi bisa menahan kesedihannya. Ia memeluk King D dan Jonathan bersamaan. Dua lelaki itu memejamkan matanya rapat. Junior yang mendengar ucapan King D terdiam di bangkunya karena bisa merasakan kesedihan tersebut. Meskipun pelukan Vesper menembus, tetapi King D seolah bisa merasakan sentuhan hangat itu.


"Lalu ... bibi Sandara," ucap King D yang membuat Jonathan dan Vesper kembali duduk tegak. "Serum yang membuat bibi Sandara berumur panjang dinetralkan setelah Jordan meninggal. Ia mengatakan jika berjanji untuk sehidup semati dengan putramu, Tuan Boleslav. Begitu serum Mitologi di tubuhnya lenyap, seminggu setelahnya bibi Sandara menutup mata. Ia terlihat sangat tua, tak seperti ketika serum Mitologi menguasai tubuhnya," sambung King D yang membuat pandangan Vesper dan Antony tertunduk.


"Kematian mereka terdengar damai, tetapi kenapa disiksa sangat mengerikan di neraka?" tanya Vesper sedih.


"Hanya Tuhan yang tahu, Oma. Saat kematian menjemputmu, kau juga terlihat begitu damai, seperti orang suci yang tak memiliki dosa. Namun, Yang Maha Kuasa menilai lain. Kita tak pernah tahu rahasia terbesar-Nya," ucap King D yang diangguki semua pendengar.


Saat semua orang dan roh dirundung kesedihan, tiba-tiba ....

__ADS_1


TET! TET! TET!


"Apa itu!" tanya Antony yang merasa jika suara tersebut adalah alarm peringatan bahaya.


"Hei! Ada robot datang kemari!" seru Tobias masuk ke dalam helikopter, meski hanya kepalanya saja.


"Sial! Itu robot milik Alva! Ia menemukan kita!" pekik Erik melihat Embun terbang melesat ke arahnya.


"Wanita itu, mau apa lagi dia!" pekik Vesper kesal dan segera keluar disusul oleh Antony dan Jonathan.


"Junior! Sembunyi!" titah King D dan Junior dengan sigap meninggalkan bangku pilot.


Kelima roh terbang mengelilingi helikopter King D saat Embun terbang di depan jendela pilot. Mata King D menajam seolah bertatapan langsung dengan Alva. Benar saja, tiba-tiba persenjataan dari Embun muncul. Tangannya yang seperti sayap ternyata memiliki lubang layaknya moncong senapan dan kini ditujukan ke arahnya. Terlihat cahaya biru muncul dan King D menyadari jika sinar tersebut adalah tembakan laser yang bisa merusak kendaraannya.


"Awas saja jika helikopterku meledak! Aku tak akan memaafkanmu!" teriak Jonathan dengan napas menderu.


Seketika, PIP!


"Halo. Aku tak ingin membuat masalah, Tuan King D. Mari bicara baik-baik," pinta Embun yang terbang mundur karena helikopter King D tetap melaju.


"Aku tak ingin memperburuknya," ucap Alva yang hologramnya muncul di depan wajah Embun.


King D menyipitkan mata lalu menekan layar pada jam tangan di pergelangan. Seketika, pintu samping helikopter terbuka. King D memberikan isyarat dengan gerakan kepala. Alva memahami kode itu dan membuat robotnya terbang ke arah yang dituju. Para roh menatap pergerakan Embun lekat yang kini masuk ke dalam helikopter dengan persenjataan di non-aktifkan.


GREK!


Pintu tertutup sempurna. Para roh yang khawatir jika King D dan Junior dalam bahaya kini mengelilingi Embun. Robot itu melayang di atas lantai kabin saat King D berjalan ke ruangan tersebut dan berdiri tegak di hadapan.


"Apa maumu?"


"Aku tak menyangka jika kau masih hidup. Bagaimana bisa?" tanya Alva berbicara langsung seperti komunikasi melalui video call.


King D duduk perlahan di bangku terlihat tenang menatap hologram Alva pada robotnya.


"Aku mendengar kabar jika kau mencariku. Biar kutebak, kau ingin tahu tentang kebenaran dunia dariku?" tanya King D dan Alva tersenyum lebar.

__ADS_1


"Anda hebat seperti rumor yang kudengar," jawab Alva.


"Hati-hati dengan setiap informasi yang kau terima Alva. Apa kau tak mendapatkan apa yang dibutuhkan dari Morlan? Aku sudah bercerita banyak dengannya," tanya King D. Seketika, wajah Alva serius. Ia tampak tegang. King D tersenyum miring. "Kau sepertinya mulai serakah, Alva. Kau tak puas dengan informasi yang Morlan katakan lantas mencariku. Kenapa? Kau ingin panjang umur sepertiku? Yakinlah, jika kau berusaha untuk mengambil sedikit saja bagian dari tubuhku, kehancuran akan terjadi. Leluhurmu, mati-matian memperjuangkan kedamaian, termasuk aku. Jangan karena rasa ingin tahumu yang berlebihan, membuatmu menjadi tamak dan melupakan penderitaan pendahulu agar bisa hidup dengan damai tanpa perang."


"Hem, bagus, D. Tampar dia dengan ucapanmu yang menyakitkan hati itu," ucap Tobias yang membuat King D tersenyum kaku.


"Lalu ... apa yang harus kulakukan dengan banyak pertanyaan di kepalaku?" tanya Alva terlihat kesal.


"Gunakan untuk mengungkap laporan yang kuberikan. Para pria berseragam hitam muncul hampir di setiap pelosok dunia. Aku tak tahu berapa jumlah mereka. Namun, aku pastikan jika tujuan mereka adalah merusak perdamaian dan mengembalikan perang. Sebaiknya, kau fokuslah pada hal itu. Lindungi kedamaian Bumi ini seperti janjimu saat menjabat. Aku pernah menjadi Presiden Dunia dan aku tahu kewajibanku. Semoga kau juga," ucap King D tegas menatap hologram wanita di depannya.


Alva mengangguk lalu tersenyum kemudian. "Senang berbicara padamu, Tuan King D. Aku yakin jika kau mengawasiku."


"Benarkah? Kupikir sebaliknya."


"Hahahaha! Kena kau!" seru Jonathan gembira.


Alva tersenyum kaku. "Oke. Jadi ... kau akan menjadi saksi kinerjaku selama menjabat. Semoga tak mengecewakan. Baiklah, aku rasa ... pembicaraan kita sudah cukup. Maaf mengganggu perjalanan Anda, Tuan King D. Salam damai," ucap Alva sungkan dan diangguki King D.


Pintu helikopter yang tadinya tertutup otomatis begitu Embun masuk kini terbuka. Para roh lelaki yang ingin memastikan jika robot itu bukanlah ancaman, melihat perginya Embun. Benda terbang itu melesat dengan rute bertolak belakang dengan tujuan helikopter. Junior akhirnya keluar saat King D menyatakan aman.


"Hoh! Hoh!"


"Dia mengawasi kita, Junior. Sebaiknya, kau mulai berhati-hati," tegas King D. Junior mengangguk paham lalu kembali ke bangku pilot.


King D tampak tegang karena akhirnya yang ia khawatirkan terjadi. Alva tahu jika ia masih hidup dan yakin jika wanita tersebut mengincarnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berlalu lalang di kepala. King D tahu jika suatu hari nanti, mau tidak mau ia harus menjawab hal tersebut. Hari ini, hanyalah penundaan.


"King D," panggil Vesper cemas.


"Tak apa, Oma. Aku pernah mengalami yang lebih buruk. Jangan khawatir. Aku dan Junior tahu apa yang harus dilakukan. Umur panjang memberikan kami banyak pengalaman," jawab King D tenang.


"Aku bangga padamu, D. Jaga diri kalian baik-baik," ucap Vesper penuh harap dan King D mengangguk pelan.


***


__ADS_1


__ADS_2