
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Vesper dan lainnya terpaku ketika sosok berbaju putih bersayap besar itu terbang di hadapan mereka. Namun, bisa dirasakan dari aura yang dipancarkan oleh wujud yang diyakini Vesper adalah malaikat.
"Kalian lihat itu?" tanya Erik seraya mendekat yang kini berada di samping helikopter.
Para roh mengangguk pelan dalam diam. Mereka tegang, tetapi juga penasaran. Baru kali ini mereka melihat sosok malaikat yang auranya membuat jiwa damai dan pikiran tenang. Sayap besar itu terus mengepak pelan yang membuat wujud malaikat tak tampak parasnya tersebut begitu mempesona.
"Ma-maaf. Apa yang Anda inginkan? Kami sedang dalam misi dari sang Kematian," tanya Erik gugup mencoba membuka obrolan.
"Misi dari sang Kematian?" tanya sosok itu yang tiba-tiba saja mendekat dan membuat Erik langsung memejamkan mata karena cahaya silau yang dipancarkan.
"Ough, ya, ada. Kami diminta menangkap roh-roh jahat yang berkeliaran di Bumi. Kau bisa tanyakan padanya jika tak percaya," ujar Axton seraya memejamkan mata karena tak sanggup menahan silau itu.
Sosok dengan suara seperti laki-laki itu terbang mundur. Ia diam cukup lama entah apa yang dilakukan, tetapi Vesper yakin jika sosok itu sedang berkonsultasi dengan sang Kematian. Vesper terus berusaha membuka matanya meski hanya sedikit agar tak kehilangan momen langka itu. Tiba-tiba saja, cahaya menyilaukan tersebut meredup dan membuat sosok bersayap besar tersebut kini terlihat jelas.
"Eko!" pekik Vesper, Axton, Erik dan Antony bersamaan. Kening Joel berkerut karena ia tak ingat dengan sosok di depannya yang dipanggil Eko itu.
"He?" jawab sosok bersayap indah yang diyakini bernama Eko.
Hingga tiba-tiba, pria berbaju putih itu seperti orang tersengat. Vesper dan lainnya tertegun. Cahaya putih muncul mengelilingi sosok bersayap di hadapan para roh yang membuat Vesper dan lainnya memejamkan mata rapat.
"Woah!" teriak Eko tiba-tiba yang membuat Vesper dan lainnya kembali membuka mata karena cahaya menyilaukan kembali pudar.
"Eko?" panggil Vesper lagi.
"Mbak Vesper!" panggilnya senang.
Vesper tertawa terbahak karena tak menyangka jika akan bertemu dengan salah satu bodyguard-nya dulu. Eko dengan sigap terbang mendekati Antony lalu memeluknya. Namun, sayapnya yang besar malah membuat Axton, Joel dan Erik terhempas.
"Gimana? Sehat jantungnya?" tanya Eko seraya menepuk-nepuk dada Antony.
"Ya, begitulah," jawab Antony bingung.
Eko lalu terbang mendekati Erik dan memeluknya. Erik canggung, tetapi tersenyum kemudian dan balas memeluk. Eko juga memeluk Axton yang menyambutnya, tetapi pria gundul itu menghentikan laju terbang saat menatap si pria Filipina.
"Joel Termos," ucapnya yang membuat alis Joel terangkat satu.
"Kau ... hahaha, kenapa kau bisa berada di sini? Dan ... kau menjadi malaikat?" tanya Vesper bingung.
"He? Malaikat? Mm, gak tau deh, Mbak Vesper. Intinya, Eko dikasih tugas sama Yang Maha Kuasa untuk menunaikan sebuah tugas sampai kiamat datang. Eko suruh kumpulin para arwah yang tersesat agar bisa segera ke alam kematian. Mereka di sini terombang-ambing dan gawatnya, bisa berubah jadi roh jahat. Hih, ngeri pokoknya," ucap Eko merinding.
"Oke. Jadi ... tugas kita sepertinya, sedikit berlawanan, hem?" ungkap Erik dan Eko terlihat memikirkan hal tersebut.
"Mungkin," jawabnya ragu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau bisa muncul di sini?" tanya Vesper yang tak bisa menutupi rasa bahagia karena bertemu pria Jawa itu.
Tiba-tiba, Eko menepuk jidat. Ia bergegas mendatangi helikopter yang dikendarai Vesper di mana benda itu masih melayang di atas permukaan laut. Vesper tampak tegang saat tubuh Eko menembus kendaraannya.
"Mbak Vesper bikin masalah, lho. Itu kenapa pakai mayat si Asep Kordova? Terakhir yang Eko inget, Asep udah diboyong ke alam kematian saat di kota mati. Kenapa raganya bisa hidup dan Mbak Vesper malah masuk ke dalamnya? Jangan bikin agar-agar, ya," ucapnya menyipitkan mata.
"Oh, soal itu ... mm," jawab Vesper gugup karena ditatap tajam.
"Hei, kau hanya bodyguard! Kau tak bisa menyuruh kami— eh?" kejut Joel saat tangannya tak bisa menangkap raga Eko.
Pria gundul itu terbang mundur lalu menatap Joel dengan wajah malas.
"Memangnya kenapa kalau bodyguard? Itu masa lalu, ya, Termos. Semua roh yang punya niat jahat sama Eko, gak bakal bisa mencelakai diriku yang murni ini," ucapnya menjelaskan.
"Wow! Sungguh?" tanya Axton terheran-heran, dan Eko mengangguk pelan dengan wajah datar.
"Kenapa kau bisa menjadi yang terpilih, Eko?" tanya Vesper.
Eko diam tampak termenung. Ia lalu menatap lima roh di depannya dengan wajah sendu. "Eko termasuk beruntung. Saat Mbak Vesper mati, Eko seperti mendapatkan pencerahan untuk bertobat. Eko bener-bener ninggalin kehidupan mafia, sedikit demi sedikit. Sulit memang, tapi Eko gak menyerah. Eko mulai salat, sedekah, dan ... ya, melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Eko bahkan sudah khatam iqro dalam waktu satu tahun! Hebat bukan?" ucapnya memuji diri sendiri, tetapi tidak bagi para pendengar. "Sampai akhir hidup, Eko terus bertobat. Mungkin karena itulah, Eko dipilih sama Yang Maha Kuasa dengan diberi tugas ini dan terbebas dari siksa api neraka."
Sontak, ucapan Eko membuat mata para roh melebar seketika. Eko langsung dikerubungi Erik dan lainnya. Eko bingung dengan mata melirik empat pria di sekelilingnya saksama.
"Kau lepas dari siksa api neraka? Sungguh?" tanya Axton sampai melotot.
"Begitulah. Memang kenapa, ya?" tanya Eko bingung.
__ADS_1
"Tapi dosamu sungguh banyak! Kau menculik orang-orang dan diambil organnya. Kau bahkan membunuh orang! Bagaimana bisa kau tak disiksa?" tanya Antony keheranan.
"Ya, bener, sih. Namun, soal itu, hanya Tuhan yang tahu. Mungkin bisa tanya langsung sama Yang Maha Kuasa," ucap Eko yang membuat para roh terbengong seketika.
"Selain itu, kenapa kami bisa mengerti ucapanmu yang aneh itu?" tanya Joel keheranan karena logat Jawa Eko yang cukup kental.
"Soal itu, tanya juga sama Yang Maha Kuasa. Kenapa Eko diberondong pertanyaan, woi!" teriaknya gemas.
"Karena ini tak adil!" teriak Joel marah.
Eko lalu terbang menjauh dengan wajah serius. Para roh menatap Eko tajam. Pria gundul itu seperti ingin mengucapkan sesuatu.
"Meragukan kuasa Tuhan sama saja menentang kehendak-Nya. Eko menjadi seperti ini karena kuasa-Nya. Kalau kalian gak terima, silakan mengadu kepada sang Kematian. Tugas kita berbeda jadi jangan menyimpang dari misi yang telah diberikan," ucap Eko yang membuat Joel murka.
"Omong kosong!" teriak pria itu marah yang dengan sigap terbang ke arah Eko, ingin mencekiknya.
Namun, tangan Joel menembus leher pria yang masih memancarkan cahaya meski tak seterang tadi. Eko diam saja melihat Joel masih berambisi untuk melukainya.
PLAK!!
"Argh!" rintih Joel ketika tubuh rohnya terhempas saat salah satu sayap Eko menampar kuat.
Axton dan lainnya terkejut. Mereka diam saja melihat Eko yang kini menatap para roh di depannya tajam.
"Kembali ke masalah utama," ucapnya tenang lalu terbang ke arah Vesper yang masih berada dalam helikopter. Vesper tampak gugup karena kini, Eko lebih berkuasa darinya. "Mbak Vesper nakal. Gak boleh pakai jasad buat jalanin misi. Bukannya tugas dari sang Kematian cuma nyuruh nangkep roh jahat? Kenapa sekarang jadi merasuki mayat segala? Mau bikin onar pasti. Hidup mati kok sama aja, masih hobi bikin rusuh," imbuhnya yang membuat Vesper cemberut.
"Itu karena kau tak merasakan pedihnya siksa neraka, Eko! Kami semua disiksa! Dan siksaan itu benar-benar menyakitkan tak ada habisnya! Hanya dengan doa, kami selamat dari siksa api neraka!" teriak Vesper dengan mata berlinang. Kening Eko berkerut.
"Doa?" tanya Eko mengulang. Vesper mengangguk.
Tubuh Eko kembali keluar dari helikopter. Ia tampak serius memikirkan ucapan ini. Hingga tiba-tiba, suara peringatan muncul dari sistem helikopter yang mengejutkan Vesper dan lainnya.
"Peringatan. Baterai lemah. Segera lakukan isi ulang. Helikopter akan kehilangan daya dalam 5 menit," ucap sistem yang sontak membuat kepanikan.
"Sial! Ini semua gara-gara kau!" teriak Joel marah.
"Gak kapok, lho. Eko slepet lagi pakai sayap nih," ancamnya dengan wajah datar.
"Mbak Vesper gak boleh curang. Lepasin jasad itu," ucapnya tegas.
"Aku harus menemui Morlan, Eko! Aku harus tahu keberadaan King D! Hanya dia satu-satunya yang bisa menyelamatkanku dan lainnya dari siksa api neraka!" teriak Vesper marah karena tiba-tiba saja, kendali helikopternya tak mau bekerja. Namun, Eko menggeleng. "Please, Eko. Aku butuh banyak doa untuk menolongku. Please," ucap Vesper memohon.
Eko memasang wajah datar menatap Vesper yang memohon padanya. "Maaf, Mbak Vesper. Gak boleh."
Seketika, "AAAAA!"
"Vesper!" panggil Joel melihat helikopter yang dikendarai Asep jatuh dengan cepat ke lautan.
Mata Erik dan lainnya melotot saat benda tersebut tercebur ke laut. Eko ditatap tajam, tetapi pria Jawa itu menatap helikopter yang tenggelam dengan sendu.
"Hah, kau gila! Kenapa kau tak membantuku!" teriak Vesper marah yang berhasil keluar dari raga Asep dengan terpaksa meninggalkannya.
"Eko sudah mendoakan Mbak Vesper selama hidup. Itu gak cukupkah?" tanyanya yang membuat Vesper tertegun.
"Kau ... mendoakanku?" tanya Vesper. Eko mengangguk pelan.
"Eko tahu kalau dosa Mbak Vesper gak terbendung. Oleh karenanya, Eko bertobat. Eko takut kalau Mbak Vesper dan Pak Sutejo disiksa dalam api neraka. Eko juga meminta kepada Dek Dewi, Jubaedah dan Otong buat melakukan hal serupa. Namun, sepertinya Otong hilang arah. Eko gak bisa nolong Otong," ucapnya sedih.
"Oleh karena itu, tebuslah dengan menolong kami, Eko," pinta Erik yang diangguki roh lainnya.
Eko menatap lima roh di hadapan yang meminta bantuan padanya.
"Bentar, Eko konsul dulu. Kalau diizinkan, Eko bantu. Kalau gak, Eko balik menunaikan tugas. Banyak ini kerjaannya. Arwah gentayangan muncul terus belakangan ini, heran," ucap Eko dengan satu telunjuk kanan ditunjukkan.
Vesper dan lainnya terdiam melihat Eko memejamkan mata seraya mengarahkan telunjuknya ke langit. Lama pria gundul itu memejamkan mata yang membuat Vesper dan lainnya tak sabar.
"Eko?"
"Sttt ... jangan nyela," jawabnya masih dengan mata terpejam.
"Sorry," ucap Vesper malu.
__ADS_1
Tak lama, Eko membuka mata. Ia menatap lima roh di depannya yang memandangi penuh harap.
"Bagaimana?" tanya Axton tak sabar.
"Boleh."
"Yeah!" seru lima roh gembira.
"Eits, ada tapinya," imbuh Eko kemudian.
"Apa itu?" tanya Antony harus menahan kembali kegembiraan
"Eko akan mengawasi kalian. Jika dianggap melenceng, Eko diperbolehkan untuk melarang. Jadi, jangan nakal dan jangan buat onar. Ingat, kehidupan kita sekarang sudah berbeda, Tuan dan Nyonya. Fokus pada tujuan dari tugas yang diberikan. Soal misi sampingan, Eko masih khawatir jika itu akan menyalahi aturan dan sebenernya akan membuat dunia malah semakin kacau," ucapnya kemudian.
Vesper diam sejenak lalu mendekati Eko yang kini menatapnya lekat.
"Kau bilang tadi jika semakin banyak arwah gentayangan. Benar begitu?" Eko mengangguk. "Aku tahu penyebabnya, Eko!"
"Yang bener? Gak pakai sok tahu lho, ya," sindirnya.
"Ck! Ini sungguhan. Apa kau tahu akibat kematian Asep?" tanya Vesper menatapnya saksama.
"Memangnya kenapa?" tanya Eko mengerutkan kening.
"Dia dibunuh oleh sekumpulan pria yang mengaku jika ingin mengacaukan dunia. Mereka ingin menghancurkan Era Perdamaian yang sudah susah payah diperjuangkan oleh anak cucu kita. Oleh karena itu, banyak orang mati dan arwah mereka gentayangan," ujar Vesper yang diangguki kawan-kawannya.
"Ciyus?" tanya Eko ragu.
"Oleh karena itu, kau pastikan saja dengan terus mengawasi kami. Buktinya adalah Asep. Mungkin dalam waktu dekat, akan ada roh gentayangan lainnya," ujar Erik.
"Sebentar. Kalau Asep matinya di Kalimantan, seharusnya target berikutnya gak jauh," ujar Eko seraya melihat ke pulau yang tadi ditinggalkan.
"Sebelum Asep, apakah ada korban lagi dengan kondisi serupa?" tanya Boleslav.
Eko mengangguk. "Dalam seminggu, tiap hari selalu ada arwah gentayangan di beberapa pelosok Indonesia," jawabnya jujur.
Vesper dan para mantan mafia dalam kelompok saling melirik.
"Apakah ... lokasi-lokasi tersebut berdekatan?" tanya Erik. Eko mengangguk.
"Kira-kira, apa kau tahu di mana lokasi berikutnya?" tanya Axton memancing.
"Ya, mana Eko tahu. Emang Eko Tuhan yang bisa liat masa depan?" tanyanya memekik.
"Kau tak perlu menjadi Tuhan untuk mengetahui hal itu. Bisa dibilang ... prediksi. Kau kini seorang malaikat atau ... apalah sebutannya. Kau tahu peta dunia di zaman ini. Kau bisa memperkirakan di mana lokasi selanjutnya arwah gentayangan akan muncul," ucap Vesper.
Mata Eko menyipit. Tubuh bersayapnya kini mengarah ke pulau yang ingin Vesper tuju. Senyum Vesper dan lainnya terkembang karena tahu ke mana tujuan Eko selanjutnya.
"Sepertinya ... kita satu rute. Kau ikut saja untuk membuktikan ucapan kami. Jika benar, jangan menceramahi atau menganggu kami, oke? Kami butuh doa, Eko. Tolong, pahami itu," ucap Erik menekankan.
"Gak usah ngatur-ngatur, Mas Erik. Kita beda keyakinan," ucap Eko garang.
"Oke," sahut Erik memilih mengalah karena bagaimanapun, Eko kini yang berkuasa.
"Baiklah. Jadi ... ayo, kita ke ... pulau Jawa," ajak Vesper gugup karena bodyguard-nya telah berubah.
"Aku duluan. Aku tahu rutenya," ujar Boleslav yang melihat arah tujuan dari misi mencari keturunan di layar helikopter.
"Silakan," ucap Vesper memberikan tempatnya.
Antony terbang mendahului lainnya sebagai pemimpin jalan. Axton dan lainnya segera mengikuti. Sedangkan Vesper, masih terbang melayang di samping bodyguard-nya yang tampak serius.
"Terima kasih sudah mendoakanku, Eko. Aku senang kau terbebas dari siksa neraka. Sungguh. Mungkin karena itulah, Tuhan memilihmu. Aku minta maaf sudah bersikap buruk padamu selama hidup, tapi jujur, keberadaanmu memberikan kesan tersendiri dalam kenanganku, Eko," ucap Vesper dengan senyuman lalu terbang meninggalkan pria bersayap itu.
Eko tersenyum tipis. Ia mendongak menatap langit dengan wajah sendu entah apa yang dipikirkan, tetapi kemudian melesat dengan cepat menyusul sekumpulan mantan mafia untuk membuktikan ucapan majikannya dulu.
***
makasih tipsnya Jeng Manda ❤️ lele padamu💋 puanjang bgt ni epsnya 2k lebih 😆
__ADS_1