
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Pria yang mengaku bernama Gatot Sukoco itu tampak menikmati aksi terbangnya. Sikapnya seperti anak kecil, tak terlihat garang layaknya seorang anggota dewan yang ditakuti. Ia asyik terbang naik turun, berbelok ke sana kemari yang membuat para roh lelaki dibuat bersabar karena lelaki gemuk itu banyak tingkah.
"Anda menikmati kebebasan ini, Tuan?" tanya Vesper sopan yang masih berusaha mencari keberadaan Embun karena robot tersebut menghilang.
"Ini satu juta kali lebih hebat ketimbang di neraka. Hih, ngeri. Menyesal saya kalau tahu jika siksaan neraka itu sungguh ada. Tahu begitu, saya jadi orang baik saat masih hidup," ucap lelaki itu yang terbang dalam posisi seperti orang merebahkan diri.
Vesper tersenyum kaku menanggapi. Antony, Axton dan Erik saling berbisik di mana tiga roh itu terbang di belakang Sukoco.
"Apa benar itu dia? Aku pernah membaca berkas tentang pria itu sebelumnya," ucap Antony serius.
"Apa bunyinya?" tanya Axton penasaran.
"Dia sangat kejam. Kalian tahu sendiri, para anggota dewan generasi pertama seperti kumpulan psikopat. Mereka tak berbelas kasih. Menyiksa tawanan sampai orang-orang itu sekarat dan memohon untuk dibunuh. Mereka sangat keji melebihi kita. Namun, lihatlah. Pria gemuk itu, tak terlihat berkarisma seperti Tuan Hashirama. Padahal ia mengaku berkawan akrab," jawab Antony dengan sorot mata tajam menatap Sukoco lekat.
"Mungkinkah dia menipu kita?" tanya Erik berbisik.
"Entahlah, tetapi sepertinya tidak. Dari bahasa yang digunakan dan posisinya menggantikan Joel, pastilah itu memang benar dia," jawab Antony dengan kening berkerut.
"Hem, sifatnya hampir mirip dengan Sutejo. Namun, Sutejo tak secerewet dia," ungkap Axton.
Para roh pria sibuk mencurigai sosok pengganti Joel. Sedangkan Vesper, kesulitan fokus karena terus diajak bicara. Hanya saja, Vesper yang sedang panik karena kehilangan Embun, membuat Sukoco merasa diabaikan.
"Anda tahu, Cah ayu? Sukoco paling benci jika tidak diperhatikan, bahkan oleh wanita sekalipun. Meskipun ia putri Hashirama," ucap Sukoco tiba-tiba dengan suara berat yang membuat Vesper menoleh.
"Anda mengajakku bicara di waktu yang kurang tepat, Tuan Sukoco," jawab Vesper serius.
Mata Sukoco menyipit. Vesper tak berkedip saat balas menatap lawan bicaranya itu.
"Baik, baik, saya paham kondisinya. Saya maklumi kali ini," ucapnya yang membuat kening Vesper berkerut.
Erik yang merasa jika pembicaraan sang istri dan roh baru tersebut tak sesantai tadi segera mendekat. Sukoco menyadari kehadiran Erik dan memasang wajah dingin.
"Kamu tidak usah ikut campur. Saya tahu kalau kamu dulunya anggota dewan termasuk teman-temanmu lainnya. Saya tidak suka orang yang banyak bicara, eh, roh yang banyak bicara maksudnya," ucap Sukoco dengan garang.
"Oke!" jawab Erik dengan anggukan yang kini terbang di samping Vesper.
Wanita cantik itu melirik Erik dengan wajah malas. Erik tersenyum karena tahu jika istrinya bersabar dengan pria gemuk di sebelahnya. Hingga akhirnya, mereka melihat sebuah pulau yang diyakini adalah Indonesia.
"Kita sudah sampai!" teriak Vesper gembira.
"Oh, akhirnya!" seru Axton gembira yang mendapat senyuman dari Boleslav.
Erik melirik Sukoco, tetapi pria itu memasang wajah datar tak jenaka seperti tadi. Saat Vesper dan lainnya mulai terbang turun, pemandangan mengerikan kembali disajikan. Sukoco melebarkan mata dan langsung menukik menuju ke sebuah kota yang telah porak-poranda.
"Tuan Sukoco!" panggil Vesper karena pria gemuk tersebut keluar dari formasi.
"Agh, sial! Jika begini terus kita akan kehilangan Embun selamanya!" teriak Erik frustasi, tetapi Sukoco adalah anggota tim dan tak bisa ditinggalkan.
__ADS_1
Antony dengan sigap terbang mengejar Sukoco diikuti roh lainnya. Mantan anggota dewan generasi pertama itu terbang melayang di tengah reruntuhan kota yang hancur akibat perang puluhan tahun silam. Wajahnya tegang saat melihat dunia baru tempat ia dibangkitkan sekarang.
"Apa yang terjadi?" tanya Sukoco serius.
"Inilah yang sedang kami cari tahu, Tuan. Panjang jika diceritakan," jawab Vesper sopan.
"Ceritakan dengan jelas," pintanya tanpa memandang Vesper karena matanya menyorot bangunan terbengkalai di depannya. Vesper melirik kawan-kawannya dengan wajah malas karena harus kembali mendongeng. "Saya tidak suka menunggu," imbuhnya melirik tajam.
"Oke," jawab Vesper dengan wajah datar meski hatinya jengkel.
Ketika mantan ratu mafia tersebut siap bercerita, tiba-tiba ....
"Vesper!" panggil Antony seraya menunjuk ke suatu tempat yang membuat mata roh lainnya langsung tertuju pada telunjuk keturunan Boleslav tersebut.
"Roh jahat! Yes!" ucap Axton bersemangat yang langsung terbang mendekati sasaran.
"Heh, akhirnya. Ayo!" ajak Erik dan diangguki Boleslav.
"Maaf, Tuan. Ini mendesak," ujar Vesper lalu terbang meninggalkan Sukoco.
Kening pria Jawa tersebut berkerut ketika melihat empat roh yang sudah diketahui asal usulnya seperti bersiap melakukan penyergapan. Terlihat sekumpulan manusia berpakaian hitam dengan wajah diberikan tinta hitam layaknya pasukan khusus membentuk kacamata. Orang-orang itu menyeret seorang pria ke dalam sebuah gedung terbengkalai. Sukoco yang penasaran ikut mendekat.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
BRUKK!!
BUAKK!!
"Ugh!" rintih pria malang itu yang perutnya ditendang hingga ia langsung meringkuk. Seorang lelaki berjongkok dengan wajah bengis lalu menjambak rambutnya. "Argh!" teriaknya lagi yang kini kepalanya dipaksa mendongak seraya menahan sakit.
"Memang itulah tujuan kami. Sangat membosankan era perdamaian ini. Kami rindu perang tak berkesudahan. Kami berhasil selamat ketika masih kecil dulu meski harus bersusah payah. Namun, itulah yang membuat sebuah kebanggaan karena kami berhasil hidup di masa sulit," ucap pria itu dengan wajah berkerut.
"Hebat, hebat."
Vesper dan roh lainnya tertegun karena Tuan Sukoco malah memuji pria tersebut sembari bertepuk tangan. Vesper geleng-geleng kepala dan kembali mengamati. Tangan-tangan jahat mulai menampakkan diri dari raga pria berpakaian hitam itu. Vesper melirik ke arah kawan-kawannya yang bersembunyi di balik reruntuhan bangunan, siap untuk menyergap.
"Kalian gila!" teriak pria berpakaian serba putih itu saat cengkeraman di rambutnya terlepas.
Napas pria itu tersengal. Ia ketakutan dan merangkak mundur ketika salah seorang di antara komplotan tersebut menekan tombol yang menempel di pelipis kanannya. Lelaki itu tahu jika dirinya sedang direkam oleh pria tak dikenalnya yang tiba-tiba menculik dirinya ketika sedang turun dari mobil hendak masuk ke rumah. Pria itu dibawa jauh sampai akhirnya sadar jika berada di kota terbengkalai yang sudah tak dihuni lagi.
"Vesper," panggil Axton siap untuk menangkap roh jahat.
Gumpalan asap hitam mulai menunjukkan tanduknya ketika pria berpakaian hitam menarik pisau dari sarung. Vesper mengulurkan tangan kiri pertanda jika Axton harus bersabar. Sang Casanova mencoba untuk menahan diri di mana kali ini mereka ingin mempraktikkan ajaran Hashirama yang tak perlu menggunakan raga mayat untuk menarik roh.
"Mati kau!"
"AAAA!" teriak pria itu dengan mata melotot saat pisau yang siap menusuknya sudah di depan mata.
"Heahhh!"
__ADS_1
"GARRR!" raung roh jahat saat tiba-tiba saja tanduknya ditangkap dan ditarik kuat oleh Axton.
Vesper dengan sigap menangkap tangan roh jahat yang muncul di sisi kanan dan Erik di sisi kiri.
"Tarik!" teriak Axton lantang.
"GARRR!"
"Tony, now!" teriak Vesper saat sebagian tubuh roh jahat keluar dari raga manusia tersebut.
Pria yang hampir kehilangan nyawanya itu terkejut karena tiba-tiba saja lelaki berbaju hitam tak dikenal mengerang dengan mata terpejam rapat. Tangannya menggenggam kuat gagang pisau yang gagal menusuk. Kawan-kawan si pria berbaju hitam bingung karena kawannya seperti menahan sesuatu di tubuh. Wajahnya sampai berkerut dengan keringat membanjir tubuh.
"Apa yang terjadi?" tanya pria berpakaian hitam lainnya menatap lelaki berpisau tajam.
Pria malang yang melihat kesempatan bergegas bangun lalu berlari kencang. Praktis, hal tersebut mengejutkan komplotan penjahat itu. Mereka dengan sigap mengejar karena tak ingin buruannya lepas. Sedangkan satu anggota yang tersisa masih berdiri di dekat pria pemegang pisau yang melakukan perekaman.
"Kau kenapa?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Agh! Agh!" erangnya dengan mata terpejam rapat lalu kembali terbuka. Ia menggelengkan kepala dan pada akhirnya menjatuhkan pisau dalam genggaman.
Pria berkamera melangkah mundur saat melihat kawannya roboh dengan duduk bersimpuh hingga dua tangannya mengepal.
BUAKK!
"GARRR!"
"Hajar dia, Tony! Jangan beri ampun!" teriak Axton yang terus menarik tanduk besar itu dengan kuat ke belakang.
Vesper dan Erik juga melakukan serangan dengan menendanginya. Mereka melakukannya bersamaan ketika menarik roh jahat agar keluar dari raga manusia. Roh jahat yang dikeroyok dan dihajar habis-habisan akhirnya keluar dari raga dan membuat sosoknya terlihat jelas. Sontak, hal itu membuat Axton dengan sigap mengeluarkan rantai emas.
Vesper dan lainnya segera menghindar ketika melihat rantai tersebut melilit tubuh gumpalan asap hitam. Axton tersenyum puas karena kali ini mereka berhasil dan tak kesulitan seperti sebelumnya. Para mantan mafia itu mulai terbiasa mengerjakan tugas dari sang Kematian. Ditambah, mereka telah mendapatkan pelajaran penting dari Hashirama.
"Hebat! Hebat! Luar biasa!" puji Sukoco seraya memberikan jempolnya di kejauhan.
Namun, pujian itu malah membuat Vesper dan lainnya kesal.
"Kenapa Anda diam saja tak membantu kami, Tuan Sukoco?" tanya Erik serius.
"Tuan Hashirama begitu bergabung langsung mengajari kami banyak hal tak seperti Anda yang malah asyik menonton," sindir Axton.
Seketika, tawa Sukoco sirna. Wajahnya ikut berubah serius.
"Hem," gumam pria itu lalu berbalik begitu saja meninggalkan Vesper dan lainnya.
***
wii tips koin lagi dari Jeng Manda. tengkiyuw ❤️ jadi semangat up lagi😆
__ADS_1