
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Lucifer tak menyangka jika jumlah keturunannya cukup banyak. Lelaki itu senang karena dia tak dianggap seperti penjahat seperti yang dipikirkan. Meskipun para manusia itu tak bisa melihat wujud para roh, tetapi antusias mereka membuat para roh ingin menghabiskan waktu bersama para keturunan.
"Aku tak masalah, Bu. Silakan saja. D bisa menjadi penghubung kita," ucap Vesper dan diangguki King D.
Siapa sangka, pertemuan itu seperti menjadi sebuah ajang tanya jawab. Hampir semua keturunan menanyakan tentang leluhur mereka. Jiao Yu dan para roh lain menjawabnya dengan hati gembira. Tanpa disadari, matahari akan segera terbit. Alarm penunjuk waktu yang sengaja King D setel pada GIGA, membuat para roh dan manusia-manusia itu panik.
"Kita sampai lupa dengan tujuan kemari! Masalah tentang para pria berseragam hitam!" seru Lucifer bertolak pinggang.
"Oh, soal itu. Anggap saja sudah beres, Tuan Flame," jawab King D yang membuat para roh dan manusia serius mendengarkan.
"Apa maksudmu?" tanya Lysa penasaran.
"Ya. Jadi ... menurut pengakuan seorang pria tua yang menjadi salah satu komplotan para pria berseragam hitam. Orang-orang itu awalnya menemukan sisa masa lalu, saat aku berjaya dulu. Hanya saja, beberapa dari mereka ternyata berhasil mencari tahu tentang kelompok kita, 13 Demon Heads dan The Circle. Mereka bisa dibilang ... salah mengambil sikap."
"Apa maksudnya salah mengambil sikap?" tanya Arjuna dengan kening berkerut.
"Orang-orang itu ingin membangkitkan kejayaan para mafia lagi seperti zaman oma berkuasa. Hanya saja, saat aku melihat aksi mereka, sungguh, itu bukan cara kita. 13 Demon Heads dan The Circle tak pernah melakukan pembunuhan tanpa alasan, bukan?" jawab King D yang diangguki para mafia itu cepat. Lucifer diam menyimak karena ia tak terlibat dalam kejayaan The Circle saat Madam memimpin. "Jadi ... Iris, wanita cantik di sana, akan menjabarkan secara rinci kepada presiden di zaman ini yang bernama Alva, tanpa kita terlibat di dalamnya."
"Oh, terima kasih, Iris," ucap Vesper yang disampaikan oleh King D.
Iris tersenyum lebar dengan anggukan. Namun, Lysa yang bisa melihat sorot mata dari tatapan Iris dan King D, langsung menatap putranya lekat.
"Ada apa, Mimi?" tanya King D gugup.
"Kau menyukainya? Kalian memiliki hubungan? Bagaimana dengan Irina?" tanya Lysa dengan mata menyipit.
King D menghela napas panjang. Ia meminta izin untuk keluar dan para manusia itu mempersilakan. Vesper dan lainnya yang penasaran, memilih untuk menguping karena khawatir jika King D gugup bila mereka di sana. Lysa menatap anaknya lekat di mana mereka kini berada di landasan helikopter di atap bangunan.
"Irina telah lama meninggal, Mimi. Berat rasanya membesarkan RGB tanpa sosok ibu, terlebih ketika ada beberapa hal yang tak bisa aku contohkan. Lalu .. soal Iris. Sebenarnya RGB sudah tahu jika Iris menyukaiku. Mereka malah mengatakan agar aku jangan terjebak dalam masa lalu. Mereka sudah besar dan hidup mandiri."
"Aku mengerti," jawab Lysa lirih. King D menarik napas dalam lalu diembuskan perlahan.
"Meskipun aku berumur panjang, tetapi sendirian. Aku kesepian, seperti Junior. Bedanya, Junior malah lebih leluasa dariku untuk pergi ke mana pun. Ia sering dikunjungi dan berkunjung ke beberapa kerabat. Sedangkan aku, harus diam-diam karena dunia pasti akan gempar saat melihat mantan presiden dunia yang konon katanya telah meninggal, ternyata masih hidup. Selama ini, Iris memperhatikanku, Mimi. Dia ... tahu posisinya. Dia tak pernah berpikir bisa menggantikan Irina. Aku berusaha menolak perasaan itu. Akan tetapi ... entahlah, kehadiran Iris yang selalu menyempatkan waktunya di tengah kesibukan, tak segan berkonsultasi agar Distrik yang dipimpinnya selalu damai, membuatku merasa ... berarti, tanpa jabatan seorang mantan presiden dunia."
Lysa menatap putranya lekat. King D menundukkan wajah seperti tak sanggup menatap mata sang ibu. Lysa tersenyum lalu berdiri di depan putranya.
"Ini hidupmu, D. Aku yakin Irina bisa memahaminya. Mungkin seharusnya, kau bertemu Irina, bukan aku. Namun, kuasa Tuhan, kita tak pernah tahu. Jika kau merasa bahagia dengan sosok Iris, silakan. Aku tak ingin putraku menderita karena umur panjangnya," ucap Lysa yang membuat King D akhirnya mengangkat pandangan dengan senyum tipis.
"Kau merestuiku?" tanya King D dengan wajah berkerut.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Kurasa yang lain juga demikian. Benar 'kan, Mama? Nenek?" tanya Lysa yang ternyata menyadari jika para roh lainnya menguping. Vesper menunjukkan kepalanya dari balik dinding.
"Ya, ya, kami tak masalah," jawab Vesper malu karena kepergok.
King D bernapas lega. Ia mengangguk pelan dengan senyum terkembang. Vesper dan lainnya mendekat lalu memberikan selamat kepada pria tampan itu. King D terlihat bahagia karena didukung para leluhur.
"Aku ... akan katakan hal ini pada yang lain, terutama Junior. Mungkin, beberapa dari kalian tahu jika Junior ... sangat dekat dengan Irina. Dia seperti tak setuju jika aku bersama Iris," ucap King D seraya mengembuskan napas panjang.
"Berikan dia pengertian. Junior bisa memahami hal tersebut," ucap Sandara dan diangguki King D.
Saat kebahagiaan sedang merundung hati semua roh dan King D, tiba-tiba sinar matahari muncul dan memudarkan kegelapan. King D yang tahu jika waktu bersama para roh telah habis, seperti tak rela jika harus berpisah. Lysa memeluk putranya, tetapi tahu jika raganya tertembus.
"Aku akan terus mendoakan kalian setiap waktu. Aku berjanji," ucap King D menahan air matanya.
"Kami sangat menyayangimu, D!" seru Jiao Yu seraya memberikan kecupan jarak jauh dengan dua tangannya.
King D melambaikan tangan dengan air mata yang akhirnya menetes. Ia terlihat berusaha menahan kesedihannya saat roh-roh di depannya menghilang dari pandangan. King D memejamkan matanya sejenak lalu menarik napas dalam.
"Terima kasih dan ... sampai jumpa," ucap King D dengan senyum terkembang melihat ke arah matahari bersinar.
Di tempat Vesper dan roh lainnya saat ini.
"Waktu habis. Kalian melakukannya dengan baik. Saatnya kembali ke penyiksaan."
Praktis, ucapan sang Kematian membuat napas para roh tersengal. Mereka menangis dan saling memeluk. Arjuna memejamkan matanya rapat saat memeluk sang ibu yang gemetaran karena membayangkan siksa neraka.
"Tunggu! Kau bilang kami bisa meminta pengganti untuk meneruskan tugas menangkap roh jahat!" seru Jonathan tiba-tiba.
"Ya. Kalian bisa mengatakannya sekarang," jawab sang Kematian yang membuat Lysa, Arjuna dan Sandara bingung.
"Kau sudah tahu siapa yang harus menggantikanku. Jadi, Lysa. Selamat bertugas. Jangan membuat kesalahan," ucap Lucifer yang membuat mata wanita cantik itu melotot.
"Kau juga, Sayang. Mereka mungkin ganas, tetapi ... kau bukan wanita lemah. Kau pasti bisa melakukannya. Jika merasa sulit, minta saja pada Arjuna untuk melakukan hal kasar itu. Dia sangat ahli melakukannya," ucap Jordan yang membuat Sandara menahan tangisannya.
Arjuna bingung.
"Kak Juna. Jangan bikin onar. Nathan merelakan diri disiksa di neraka lagi demi masa jedamu. Jadi, jangan sia-siakan," ucap Jonathan yang membuat Arjuna semakin kebingungan.
"Lalu ... kau meminta siapa untuk menggantikanmu, Vesper?" tanya Lucifer karena wanita cantik tersebut belum menyebutkan nama.
"Rasanya tak adil jika hanya Arjuna, Lysa dan Sandara saja yang bertugas. Mereka butuh pemimpin kelompok yang sudah tahu banyak hal. Kurasa, Nathan tak keberatan untuk ditugaskan lagi," ucap Vesper yang membuat semua roh melebarkan mata.
__ADS_1
"Mama!" panggil Jonathan langsung memeluk sang ibu dengan tangisan.
Arjuna dan lainnya tertegun karena tak menyangka hal itu. Vesper tersenyum seraya mengelus kepala putranya lembut. Jonathan terisak, begitupula Jiao Yu karena tahu jika sang anak mengorbankan dirinya.
"Jaga saudara saudarimu, Nathan. Kalian hidup lebih lama dari mama. Pengalaman kalian sudah sangat mumpuni untuk mengemban tugas dari sang Kematian. Jadi, jangan mengacaukan Bumi yang sudah damai ini, oke?" ucap Vesper yang diangguki Jonathan dengan tangisan.
"Mama," panggil Arjuna seraya mendekat.
"Kemarilah, Juna. Oh, mama akan sangat merindukanmu. Semoga kita semua bisa berkumpul di surga," ucap Vesper seraya memeluk anak keduanya.
Arjuna mengangguk cepat dengan mata terpejam. Lysa dan Sandara ikut mendekat usai pelukan Arjuna terlepas. Vesper tak bisa menahan air mata karena harus berpisah dengan putra putrinya. Jiao Yu ikut bersedih karena waktu mereka hanya sebentar, tetapi ia tetap bersyukur karena diberi kesempatan untuk dipertemukan.
"Sampai jumpa," ucap Vesper sedih yang ditangisi semua roh.
Jiao Yu menggenggam tangan putrinya erat. Perlahan, roh wanita cantik itu memudar. Vesper menangis saat genggaman tangannya di tangan sang ibu sirna. Vesper tertunduk sedih karena sang ibu telah pergi selamanya.
Lucifer menjabat tangan Lysa mantap. Lysa tersenyum dengan anggukan pertanda siap untuk mengemban tugas. Roh Lucifer lenyap dari pandangan. Lysa mengembuskan napas panjang di mana ia sangat berterima kasih karena sosok Lucifer yang dulu dikenal sebagai penjahat ternyata tidak seperti dugaannya.
Jordan dan Sandara berpelukan hingga akhirnya roh pria tampan itu lenyap. Sandara menangis karena membayangkan siksaan yang harus diterima Jordan akibat perbuatan di masa lalunya. Kini, tinggal Vesper seorang diri. Sandara, Arjuna, Jonathan dan Lysa serempak memeluk sang ibu dari berbagai sisi. Vesper menangis terisak.
"Mama menyayangi kalian semua. Sangat menyayangi kalian," ucapnya lalu mengecup kening anaknya satu per satu dengan cepat.
Lysa menangis saat ia merasakan jika sentuhan sang ibu sirna. Jonathan memanggil nama Vesper berulang kali ketika sang ibu sudah tak ada lagi di hadapan. Arjuna memejamkan matanya rapat dengan air mata menetes. Bahunya bergetar hebat tak bisa menahan kesedihan karena harus berpisah dari sang ibu untuk selamanya. Sandara jatuh berlutut karena harus kehilangan orang-orang yang telah tiada itu untuk kedua kali.
"Selamat bertugas. Jonathan, kau kini pemimpin kelompok baru ini. Seperti kata Vesper, jangan membuat onar atau aku tak segan memasukkan kalian bersama ke neraka," ucap sang Kematian yang membuat tangis empat roh itu reda seketika.
"Tunggu? Kami berempat? Bukannya ... lima roh?" tanya Jonathan yang kembali berdiri tegak dan air mata telah lenyap.
"Aku suka angka empat. Tim kalian sekarang hanya berisi empat roh, tidak kurang, tidak lebih. Sampai jumpa."
Mulut Jonathan menganga lebar. Pemandangan gelap gulita di sekitar mereka memudar. Hanya para roh yang memancarkan cahaya redup dalam kegelapan. Kini mereka berada di sebuah tempat tak dikenal di sebuah kawasan yang dipenuhi reruntuhan. Mata Arjuna dan lainnya menyipit. Mereka tampak waspada dan tegang, tetapi tidak dengan Jonathan.
"Oke, para pemula. Aku tahu jika tugas pertama akan sulit. Jadi, biar gak keliatan kaya amatiran, Nathan akan berikan les privat untuk kalian semua. Kalian siap?" tanya Jonathan semangat karena kini ia pemimpin kelompok.
"Ah, kenapa aku merasa tugas ini akan melebihi siksa neraka," keluh Arjuna dengan pandangan berpaling.
"Siap tidak?" tanyanya kesal.
"Siap!" jawab Sandara, Lysa dan Arjuna bersamaan. Praktis, senyum Jonathan terkembang seketika.
...--- TAMAT ---...
__ADS_1