TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Kehilangan dan Kedatangan


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Vesper tak tinggal diam saat melihat Axton dicengkeram kuat oleh tangan iblis Madam. Vesper berusaha keras melepaskan genggamannya, tetapi kekuatan roh jahat itu sangatlah besar. Axton juga terus memberontak untuk membebaskan diri dari tangan keji itu.


"Apa salahku? Aku melakukan semua yang kau perintahkan! Aku juga menebus kesalahanku!" teriak Axton tak terima jika dirinya diseret kembali ke neraka.


"Arghhh!" erang Vesper tak menyerah untuk terus menghajar tangan Madam yang menggenggam kuat kawannya.


Hingga akhirnya, cambuk dari lidah lava mulai muncul seperti mencoba menyingkirkan Vesper yang berusaha membebaskan Axton.


CRATT!


"Arghh!" erang Vesper yang spontan menghindar dan melepaskan cengkeramannya. Tubuh roh Vesper terkena cambukan itu dan membuat sang Ratu panik karena panas api serasa membakar raga rohnya. Axton terus memanggil namanya dan hal itu membuat Vesper semakin tak tega. "Raih tanganku, Axton!" teriak Vesper lantang seraya mengulurkan tangan dan berusaha mendekat sekali lagi meski pemandangan mengerikan dari neraka kembali muncul.


"Agggg!" erang Axton yang berusaha keras mengulurkan tangan meski tubuhnya terhimpit.


GRAB!


"Bertahanlah!" teriak Vesper yang berhasil memegang tangan sang Casanova dengan dua tangannya.


Akan tetapi, KRANG! KRANG!


"Oh!" kejut Vesper dan Axton bersamaan saat rantai di tangan keturunan Giamoco itu berpindah ke tubuh sang Ratu.


Mata Vesper terbelalak lebar melihat rantai emas itu masuk ke dalam telapak tangannya. Axton tersenyum dengan kekehan. Vesper bingung.


"Doakan aku, Vesper! Himpun sebanyak mungkin orang-orang untuk mendoakanku! Maaf, jika aku menyusahkan. Neraka sepertinya rindu dengan keberadaanku," ucap Axton yang membuat napas Vesper tersengal.


"Axton, no!" teriak Vesper berusaha menarik kembali tangan Axton di mana kaki roh pria tersebut sudah tenggelam dalam magma.


CRATT!


"Arghh!" rintih Vesper yang kembali melepaskan genggaman karena cambukan lava.


Vesper terbang dengan mata terbelalak melihat Axton tenggelam dalam kobaran api maha dahsyat bersama roh jahat Madam. Vesper memejamkan matanya rapat. Saat ia begitu sedih karena harus kehilangan Axton, di kejauhan terdengar seseorang memanggil.


"Vesper! Tak ada gunanya menangisi Axton! Kau kini pemegang rantainya!" teriak Tobias yang ternyata berhasil menahan satu roh jahat yang akan kabur dengan mendekapnya kuat dari belakang.


Mata Vesper membulat penuh. Ia segera terbang dengan cepat ke arah roh jahat itu.


"Ini semua karena kalian!" teriaknya marah.


BUAKK!!


KRANG! KRANG!


Vesper menghajar roh jahat itu dan membuat kepalanya sampai berpaling. Tobias dengan cepat menghindar usai melihat rantai emas itu membelenggu tubuh buruannya. Tanpa menunggu lama, Vesper kembali terbang. Ia kini membidik roh jahat yang sedang dihajar oleh Erik dan Antony.


"Nasib sial untuk kalian, roh jahat. Ibuku mengamuk," ucap Tobias berdiri di kejauhan melihat Vesper kembali meluncurkan pukulannya hingga membuat Erik dan Antony tertegun.


"Mati kalian! Mati! Mati!" teriak Vesper marah besar yang tak henti-hentinya memukul wajah roh jahat itu.


"Bukannya ... mereka sudah mati? Oh, mati dua kali mungkin," gumam Tobias seraya terbang mendekat dengan wajah cuek.


"Vesper! Kendalikan emosimu! Kau bisa berubah menjadi roh jahat!" teriak Antony panik.


Vesper yang mendengar hal itu tak ingin membuang waktu. Ia melampiaskan kekesalannya dengan menangkap tanduk roh jahat tersebut kuat dan menyaksikan buruannya terbelenggu.

__ADS_1


"Jangan pernah, kembali lagi ke sini. Atau aku yang akan menjadi nerakamu," ujar Vesper dengan wajah bengis.


Banyaknya roh jahat yang ditangkap, membuat wilayah gelap dan suram itu kini menjadi merah membara. Letupan dari magma dan letusan lava, mengakibatkan para roh terbang menjauh agar tak terkena amukannya. Para roh jahat meraung dan tak bisa membebaskan diri dari rantai kokoh pemberian sang Kematian. Perlahan, pemandangan menyeramkan itu memudar dan kembali menjadi wilayah terbengkalai yang gelap.


"Eh, di mana Axton?" tanya Erik yang baru menyadari kawannya tak ada bersama mereka.


"Madam menyeretnya ke neraka," jawab Tobias yang mengejutkan Erik dan Antony.


"Ma-maksudmu ...," tanya Antony dengan mata terbelalak lebar.


"Memang tak bisa diselamatkan jika sudah tertangkap roh jahat. Hal serupa juga terjadi pada Gatot. Kita harus waspada," ucap Vesper dengan wajah datar.


Para roh terdiam. Saat kesunyian kembali hadir menyelimuti jiwa malang mereka, tiba-tiba Eko muncul dengan cahaya menyilaukan. Praktis, kehadirannya membuat para roh memejamkan mata dan memalingkan wajah.


"Udah beres 'kan? Lama banget lho. Eko menanti dengan sabar dengan sengaja gak muncul. Eh itu, si D udah bangun, tapi gaswat! Dia dibawa sama seseorang. Eko gak tau siapa. Makanya, ayo, cepet!" ajak Eko yang mengejutkan Vesper dan lainnya.


"Ke mana King D dibawa?" tanya Vesper cemas.


"Gak tau. Makanya, ayo!" jawab Eko yang kemudian ia menghilang.


Vesper dan lainnya mematung dengan mata berkedip. Tak lama, Eko muncul kembali.


"Hehe, maap lupa. Kalian gak punya jurus teleportasi kaya Eko, ya? Jadi, ayo, cepet terbang ke sana. Eko liat kalau helikopternya tadi menuju ke arah Cambodia," ujarnya.


Vesper dan lainnya bergegas terbang mengikuti Eko yang memberikan cahaya bagaikan matahari dalam kegelapan. Entah kenapa, merasakan cahaya lembut dari pria gundul itu membuat hati mereka damai. Vesper yang awalnya dipenuhi amarah dan kebencian, perlahan sirna. Namun, kemampuan Eko yang mampu terbang dengan cepat, malah membuat roh para mafia itu tertinggal.


"Eko!" panggil Erik panik karena Eko seperti lupa jika kemampuannya tak setara dengan para roh.


"Apakah hukuman kita telah selesai? Sial, aku sampai tak bisa menghitung karena panik," tanya Tobias seraya melihat sekitar.


"Seharusnya, ya. Saat bersama King D, kita berhasil meringkus dua. Lalu di tempat ini, kita mendapatkan tiga. Jumlah roh yang harus kita tangkap tiap harinya satu, dan Axton membuat empat orang melihat mayat Ryan. Jadi, total roh jahat yang harus kita tangkap adalah lima," jawab Vesper cepat.


Antony harus kembali bersabar karena tujuannya ke Rusia kembali tertunda akibat King D diculik oleh seseorang yang Eko sendiri tidak mengenali. Sayangnya, Eko yang terbang lebih cepat, membuat para roh kehilangan jejaknya.


"Dasar gundul sialan. Aku bahkan merasa, jika sebenarnya perjalanan kita sampai ke Vietnam bukan 1 jam. Mungkin satu jam untuk dirinya, tapi kita lebih dari itu," gerutu Tobias.


"Ya, aku rasa juga demikian. Bahkan, aku menduga jika matahari akan terbit sebentar lagi. Semoga yang kita lakukan tak lewat batas waktu," ucap Erik panik yang membuat para roh kembali tegang.


Saat mereka fokus terbang lurus di mana para roh itu yakin jika China berada di depan, tiba-tiba saja mereka dipanggil oleh seseorang dari belakang.


"Hei! Hei!"


"Ha?" sahut Tobias langsung menghentikan laju terbang dan menoleh.


"Bang Dad! Mama!" teriak seorang roh dengan wajah berbinar sedang terbang dengan cepat ke arah mereka.


"Jo-Jonathan!" pekik Vesper dan Tobias bersamaan yang membuat mata dua roh itu melotot.


"Hahaha! Hahaha! Ahh, aku senang sekali!" teriak Jonathan yang langsung memeluk Vesper dan malah mengajaknya melompat-lompat. Namun, kemudian, "Waaa!" teriaknya histeris saat tubuhnya menembus raga Vesper dan membuatnya bergulung-gulung di langit.


"Heh, amatiran," sindir Tobias.


Senyum Vesper terkembang. Saat ia akan terbang mendekati putranya, Erik terbang turun perlahan. Vesper, Antony dan Tobias membiarkan keturunan Benedict itu untuk menemui putra tunggalnya.


"Aduh, kok nembus sih? Wah, Nathan harus belajar banyak tentang kehidupan roh. Banyak hal yang ...," ucapnya yang tiba-tiba terhenti saat muncul seorang pria di hadapannya. Keduanya saling memandang. Erik menatap putranya dari atas ke bawah dengan senyuman. "Mm, mukanya gak asing, kaya pernah liat. Di mana, ya?" ucap Jonathan dengan pandangan ke atas dan dagu bergoyang-goyang.


"Aku ...."

__ADS_1


"Eits, jangan nyela. Nathan lagi mikir. Dilarang ganggu fokus. Sabar, Nathan coba inget-inget dulu," ucap lelaki itu yang membuat Erik malah tertegun.


"Heh, dia tak berubah. Dia seperti bocah," ujar Tobias yang diangguki Vesper karena itu benar adanya.


Erik sabar menunggu saat putranya mondar-mandir dengan tangan menyilang depan dada.


"Mirip siapa, ya?" gumamnya yang masih belum menemukan jawaban.


"Hei! Jangan buang waktu! Cepat peluk dia dan kita lanjutkan perjalanan!" teriak Tobias tak sabaran dari atas.


"Bang Dad kenal sama om ganteng ini?" tanya Jonathan berteriak. Erik terkekeh.


"Dia ayahmu, bodoh. Erik Benedict."


Jonathan diam untuk sepersekian detik. Ia menatap Erik lekat lalu beralih menatap Tobias yang memasang wajah masam. Mata Jonathan kembali pada Erik lalu beralih ke Antony yang mengangguk pelan. Jonathan kembali menatap Erik yang tersenyum padanya lalu menoleh ke arah Vesper.


"Dia ayahmu, Nathan. Erik Benedict," jawab Vesper dengan senyuman.


Sontak, mata Jonathan terbelalak lebar. Ia langsung terbang dengan cepat mendatangi Vesper dan malah bersembunyi di belakang punggung ibunya. Vesper bingung termasuk Erik karena anaknya malah berpaling tak memeluk.


"Kau kenapa?" tanya Antony bingung.


"Benarkah ia ayahku? Erik Benedict? Erik ... Erik saudara tiri papi Ivan? Erik yang tinggal di Black Castle dan memiliki kebun ganja di Colombia?" tanya Jonathan yang masih berlindung di belakang sang ibu.


"Sejauh ini tebakanmu benar," sahut Tobias.


Namun, jawaban itu malah membuat Jonathan panik. Terlebih, saat Erik terbang mendekatinya. Jonathan malah kabur dan kini berlindung di belakang Tobias.


"Apa-apaan kau ini!" teriak Tobias kesal karena ia dijadikan tameng.


"Nathan. Kemarilah, peluk ayahmu. Dia sangat merindukanmu," ucap Vesper seraya mengulurkan tangan, tetapi Jonathan menggeleng.


"Kenapa?" tanya Antony bingung.


"Mm, mm ... Nathan ... Nathan gak mau aja," jawabnya gugup dan sesekali mengintip dari samping bahu Tobias.


Erik menundukkan wajah. Ia tersenyum tipis lalu terbang melayang di depan.


"Kita harus segera pergi. Ayo," ajak Erik yang terdengar sedih.


Antony dengan sigap mengikuti Erik dan terbang di sampingnya. Vesper menatap putranya tajam termasuk Tobias. Jonathan tertunduk lalu ikut terbang dengan diapit Vesper dan Tobias.


"Kau membuat ayahmu sedih, Nathan. Kau mengecewakanku," ucap Vesper dengan wajah dingin.


"Bukan begitu, aku ... aku hanya ...."


"Woi!"


"Shitt! Jangan muncul tiba-tiba!" pekik Tobias kaget karena Eko muncul di hadapan para roh itu sambil bertolak pinggang.


"Om Eko?" tanya Jonathan ikut tertegun.


"Eh, Nak Jojon? Pasti kamu gantiin Axton, ya? Ya, bejomu," ujar Eko yang mengejutkan Jonathan karena tak mengetahui hal tersebut.


"Sudah tahu, di mana King D?" tanya Erik serius.


"Hem. Jangan kaget. Orang yang nyulik King D kaya alien. Serem!" ucap Eko berbisik yang membuat ketegangan kembali terasa.

__ADS_1


***



__ADS_2