
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Perlahan, cahaya matahari mulai meredup. Vesper mendongak dan melihat pergerakan langit menuju sore. Matahari siap tenggelam beberapa jam lagi. Vesper bergegas menuju ke wilayah pemukiman di mana suara pesta panen mulai tak terdengar karena hari mulai senja. Namun, hal itu menguntungkan untuknya karena semakin sedikit yang melihat Asep, semakin kecil kemungkinan datangnya hukuman dari sang Kematian.
"Itu dia!" pekik Erik yang melihat jasad Asep berlari ke arahnya.
Pria asal Inggris itu melihat Joel terbang ke arahnya. Erik merasa jika Joel tak berulah sehingga mereka tiba cukup cepat. Vesper terus berlari menyusuri jalanan yang biasa digunakan oleh para manusia. Jasad Asep akhirnya berhasil meninggalkan kawasan kota mati menuju ke wilayah hijau di mana Boleslav berada di titik itu. Erik dan Joel memastikan sekitar aman agar perjalanan Vesper tak terhambat.
Lama Vesper berlari karena ia harus memilih jalan yang tak membahayakan bagi jasad Asep. Hingga perlahan, kegelapan mulai menyelimuti. Vesper khawatir ia akan kesulitan melihat sekitar karena tak ada cahaya. Namun, siapa sangka, kecanggihan teknologi di zaman itu membuat langkahnya terhenti seketika.
"Woah," ucapnya kagum saat tiba-tiba saja jalanan yang dilaluinya bersinar terang dan tampak romantis.
Rumput-rumput warna putih yang ternyata adalah lampu, disusun dengan rapi di tepian jalanan aspal. Rumput tersebut memancarkan cahaya putih di antara rumput hijau alami yang menerangi jalan. Vesper berhenti berlari dan menikmati keindahan senja di jalanan sepi tak terlihat kendaraan berlalu lalang memadati aspal. Erik dan Joel saling melirik memilih diam karena mereka juga merasa jika cahaya tersebut memang indah.
"Hei. Jasad itu akan membusuk dalam waktu dekat. Cepatlah!" teriak Joel mulai tak sabaran.
Vesper berdecak kesal karena kesenangannya diganggu. Namun, ucapan Joel benar. Vesper merasa jika jasad Asep hanya mampu bertahan kurang lebih 1 hari karena dalam kondisi cukup memprihatinkan. Vesper kembali berlari mengikuti petunjuk Erik untuk segera tiba di lokasi keberadaan Boleslav.
"Vesper!" panggil Antony yang sosok rohnya terlihat melayang di udara.
Vesper mengangguk mantap. Kini, roh Antony, Erik dan Joel telah berkumpul. Mereka terbang bersama menuju ke titik terakhir di mana Axton berada saat malam telah menyambut.
"Tony! Pergilah temui Axton. Aku punya firasat buruk jika dia melakukan hal aneh yang mengakibatkan kita mendapatkan hukuman tambahan dari sang Kematian!" teriak Vesper seraya berlari yang membuat para roh langsung mengumpat.
"Shitt! Yang dia ucapkan benar. Aku sampai tak terpikirkan hal itu. Kesalahan besar mempercayakan Axton untuk tugas akhir. Aku pergi!" gerutu Antony yang dengan sigap terbang cepat meninggalkan kumpulan.
"Semoga saja firasatmu kali ini salah, Sayang," keluh Erik sampai geleng-geleng kepala.
Antony yang penasaran dengan kinerja Axton dibuat panik karena pria itu tak terlihat di mana pun. Antony terbang ke sana kemari mencari keberadaan Axton sambil meneriakkan namanya. Namun, pria tersebut benar-benar menghilang tak tahu ada di mana.
"Awas saja jika kau sampai membuat masalah. Aku tak segan meminta kepada sang Kematian untuk menyeretmu kembali ke neraka!" gerutu Antony dengan napas menderu menatap sekitar.
Antony lalu terbang menuju ke kota kecil tak jauh dari diselenggarakannya pesta panen di sebuah lapangan besar seperti alun-alun. Namun, pemukiman kecil tersebut telah sepi ditinggalkan oleh para penduduk. Mereka berpindah menuju ke sebuah rumah besar untuk merayakan makan malam bersama pemimpin kota itu. Antony menganggap hal ini cukup bagus karena kedatangan Asep tidak akan menimbulkan kehebohan seperti yang pernah para roh lakukan sebelumnya.
__ADS_1
"Tony! Hei!" panggil Axton seraya melambaikan tangan ke atas di depan sebuah rumah yang tampak berbeda tak seperti rumah kayu di sekitar sawah.
Antony terkejut karena akhirnya ia menemukan pria Amerika itu. Antony terbang mendekat di mana wajah sang Casanova terlihat semringah.
"Aku menemukan rumah yang tepat! Bawa Vesper kemari," ucap Axton dengan wajah berbinar.
Namun, Antony menyipitkan mata. Ia bergegas masuk ke dalam rumah yang diyakini Axton bisa merampungkan misinya. Saat pria itu masuk ke dalam, dirinya tak mendapati satu orang pun. Namun, isi rumah itu terlihat menjanjikan karena banyak peralatan komputer yang terkoneksi dengan internet. Axton menyusul ke dalam dengan dua alis bergerak naik turun seperti bangga dengan temuannya.
"Kali ini aku percaya," ujar Antony lalu terbang keluar untuk menginformasikan hal ini pada Vesper dan lainnya.
"Aku menunggu ucapan terima kasih!" teriak Axton kesal karena Antony bahkan tak memujinya sama sekali.
Antony mendengar hal itu, tetapi mengabaikannya. Ia fokus untuk segera menyelesaikan misi mencari keberadaan Morlan demi mengetahui lokasi King D saat ini. Vesper yang terus berlari, akhirnya bertemu dengan Antony yang telah menunggu di gapura besar menuju ke kota kecil itu.
"Bagus, cepat masuk. Penduduk sedang berpesta di rumah besar tak jauh dari sini. Aku akan menjaga di luar untuk memastikan Asep tak terlihat warga sampai kau menemukan keberadaan Morlan," ucap Antony yang diangguki Vesper dan para roh lainnya.
Axton memberitahukan rumah temuannya. Vesper bergegas masuk ke dalam. Ia terkejut karena tampilan luar rumah itu sangat sederhana seperti rumah zaman dulu, tetapi bagian dalamnya begitu modern dan futuristik. Vesper terperangah karena tak menduga hal tersebut.
"Temuan hebat, Axton," puji Vesper yang membuat Axton gembira.
"Selamat datang kembali, Asep Kordova," ucap sistem yang suaranya terdengar di ruangan.
"Oh! Dia ... dia mengenali aku!" pekik Vesper tak menduga hal tersebut. "Aku mengerti. Pasti Asep dulunya bekerja di tempat ini. Bagus, ini kebetulan yang sangat hebat," ucap Vesper gembira yang diangguki roh lainnya. Vesper diam sejenak seraya melihat sekeliling. Sebuah ide terpikirkan olehnya. "Beritahu aku keberadaan pria bernama Morlan," ujar Vesper yang membuat para roh berkerut kening.
"Maaf, detail," pinta sistem yang membuat Vesper tertegun.
"Mm, Morlan. Kakek dari presiden dunia Alva," jawab Vesper gugup.
"Morlan Corza?" tanya sistem yang membuat Vesper melirik kawan-kawan rohnya.
"Jangan menatapku. Wajah tampanku ini tak memiliki jawabannya," ucap Axton polos.
Vesper terlihat tegang lalu mengangguk pelan. "Yep. Morlan Corza," jawab Vesper teringat akan ayah Alva yang bernama Matteo Corza.
__ADS_1
"Presiden Morlan tinggal di pecahan pulau Jawa, Distrik Alas Roban," jawab sistem seraya memunculkan hunian dan rute yang harus ditempuh oleh Asep di layar besar pada dinding.
"Great. Ayo!" ajak Vesper yang diangguki oleh para roh. "Oh, tunggu. Mm, berikan aku jam tangan ... sial, aku lupa namanya," ucap Vesper saat menyadari jika Asep tak menggunakan jam tangan seperti yang dipakai oleh para manusia modern zaman itu.
"Vesper! Lihat! Apakah ini yang kau maksud?" tanya Axton seraya menunjuk sebuah jam tangan dengan gelang besi berwarna silver di atas sebuah meja.
"Wah, kau sepertinya sangat teliti hari ini, Axton. Terima kasih," puji Vesper lagi yang membuat Axton bertolak pinggang penuh rasa bangga.
"Aku tak suka menyombong, tapi ... yah, begitulah aku," ucapnya penuh percaya diri.
Vesper menahan senyum. Ia menggunakan sidik jari Asep untuk mengaktifkannya. Vesper mencoba mensinkronkan temuan sistem dengan jam tangan di pergelangan tangan.
"Rute ditentukan. Lama perjalanan dengan Heli-Go kurang lebih 1 jam 2 menit," ucap sistem yang sudah terkoneksi dengan jam tangan Asep.
"Oh, ada helikopter mini di tempat ini. Di mana ia memarkirnya?" tanya Vesper seraya melihat sekitar.
"Tanya sistem supaya kau tak repot," ucap Joel dengan wajah datar.
"Pintar," puji Vesper, tetapi Joel malah berdecak kesal.
Tak butuh waktu lama, Vesper mendapatkan arahan lokasi helikopter tersebut. Vesper segera berlari karena tak ingin jasadnya ditemukan oleh warga supaya tak mendapatkan hukuman tambahan oleh sang Kematian. Hingga apa yang Vesper harapkan terwujud. Helikopter milik Asep ditemukan sedang terparkir di sebuah ruangan berbentuk layaknya tempurung karena bagian atasnya tertutup. Vesper menggunakan sidik jari Asep untuk mengaktifkannya. Wanita cantik itu mulai terbiasa mengoperasikan benda-benda di masa depan dan tampak menikmatinya.
"Heh, kau belajar dengan cepat," ujar Joel yang disambut senyuman oleh Vesper sebagai jawaban.
PIP! GREKK!
Bagian atas tempurung terbuka layaknya bunga mekar. Vesper dengan sigap mengemudikan helikopter otomatisnya yang sudah disetel rute menuju kediaman Morlan. Sistem segera mengambil alih ketika Vesper mengaktifkan auto-pilot. Para roh terbang di sekitar helikopter itu. Mereka tak sabar untuk segera bertemu dengan Morlan untuk mencari tahu keberadaan King D demi mendapatkan informasi mengenai keturunan terakhir.
"Heh, kita tak butuh robot jelek itu untuk mencari keberadaan Morlan," ucap Joel yang terbang di samping Antony.
"Yah, kuakui. Meskipun kita kuno, tetapi otak kita tidak. Kita mampu beradaptasi dengan masa depan!" teriak Axton gembira yang mendapat sambutan tawa dari para roh di sekitarnya.
Saat helikopter Asep mulai terbang meninggalkan pulau Kalimantan yang ternyata telah kehilangan sebagian wilayahnya akibat perang di masa lalu, tiba-tiba saja, muncul cahaya terang menyilaukan yang membuat para roh memejamkan mata seketika. Sontak, Vesper yang merasa jika cahaya itu sama seperti dengan cahaya di kota mati membuatnya menghentikan laju helikopter. Vesper mencoba membuka matanya lebih lebar dengan menggunakan tangan Asep untuk menghalangi pancaran cahaya terang tersebut. Vesper melihat sosok berpakaian putih dan memiliki sayap besar hampir menutupi bulan yang bersinar terang malam itu. Perlahan, cahaya terang itu meredup, tetapi sosok di hadapannya tetap bersinar sehingga wajahnya tak terlihat.
"Siapa kau? Malaikat?" tanya Vesper dengan wajah berkerut.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (iStock)