TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Mayat Asep*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Joel memimpin di depan. Axton yang sudah tak takut lagi dengan Joel seperti ketika masih hidup dulu, kini malah sengaja mempermainkannya. Joel kesal, tetapi enggan mencari masalah. Pria Filipina itu merasa jika membuat kesal empat roh lainnya, ia akan dikirim kembali ke neraka. Kali ini, ujian terberat Joel dilakukan, yakni bersabar.


"Wah! Ramai sekali!" teriak Axton dengan wajah berbinar ketika melihat pesta rakyat di sebuah lapangan besar layaknya alun-alun.


Vesper dan lainnya bergegas turun untuk melihat secara langsung adat unik yang dilakukan penduduk setempat. Hingga Vesper menyadari saat melihat sekumpulan pria dan wanita mengenakan pakaian adat zaman ia masih hidup dulu seperti ciri khas sebuah suku.


"Ada apa, Vesper?" tanya Antony menyadari perubahan ekspresi kawannya.


"Mungkinkah ... kita berada di Pulau Kalimantan? Pakaian adat itu. Itu adalah pakaian dari suku Dayak," ucap Vesper sedikit ragu.


"Jika kau mengatakan demikian, aku percaya. Mungkin saja, orang-orang di zaman ini melakukan semacam adat kuno nenek moyang sebagai bentuk puji syukur kepada Tuhan. Hem, itu bagus," ujar Erik dan diangguki semua roh.


"Beberapa negara juga melakukan hal semacam ini saat kita hidup dulu, bahkan zaman-zaman sebelumnya, tetapi dengan cara yang berbeda. Jadi, sekarang kita sudah tahu berada di mana, lalu selanjutnya ... di mana kita mencari robot aneh itu?" tanya Axton seraya bertolak pinggang lalu menatap sekitar.


"Oke. Aku rasa kita sudah cukup untuk melihat. Fokus mencari keberadaan Embun. Seingatku, Indonesia adalah negara kepulauan. Dia bisa berada di salah satu pulau. Masalahnya, aku tak tahu seluk-beluk Indonesia," ujar Boleslav seraya melirik Vesper yang diikuti roh pria lainnya.


Vesper mengembuskan napas dengan wajah malas. "Hem, aku paham dengan maksud tatapan itu," jawabnya cemberut. Erik tersenyum melihat istrinya kembali kesal karena dipercaya untuk memimpin misi. Vesper diam sejenak terlihat seperti berpikir keras. "Oh, Morlan. Bukankah itu nama kakek Alva?" Para roh mengangguk membenarkan. "Kita butuh jasad untuk mencari informasi tentang pria tua itu," imbuhnya.


"Ini pesta perayaan, bukan acara pemakaman. Jangan bilang kau akan merasuki mayat yang telah dikubur dan membuatnya bangkit. Kau akan menghebohkan masyarakat lalu parahnya, kita akan mendapatkan tugas berlipat dari sang Kematian. Jangan lupa hal itu," tegas Axton menunjuk.


"Bukan. Asep. Bukankah dia tewas di wilayah terbengkalai? Pastinya tak ada yang tahu jika dia telah mati. Jasadnya masih bagus, hanya ... lebam di beberapa bagian. Kita bisa menggunakannya untuk mencari tahu keberadaan Morlan. Jika pria tua itu kakek Alva, seorang presiden dunia, pastilah Morlan terkenal," jawab Vesper memaparkan idenya.


"Lalu, bagaimana mengakali kematian Asep? Bagaimana jika sang Kematian menganggap mayat hidup itu sebagai hukuman? Kita harus mencari roh jahat untuk diseret lagi ke neraka!" pekik Axton.


"Buat kematian Asep seperti sebuah kecelakaan. Aku bisa memperbaiki penampilannya. Kita sudah tahu jika tempat ini ada peradaban. Kita hanya perlu membawa Asep kemari untuk bertanya kepada penduduk. Aku sudah memikirkan skenario tentang hal ini. Aku butuh kalian untuk merealisasikannya," ujar Vesper semangat.


"Aku terserah kau saja. Aku lelah berpikir," ucap Joel malas dengan tangan melipat di depan perut.


"Great," sahut Vesper dengan senyuman.

__ADS_1


Antony melirik Erik dan Axton. Dua lelaki itu mengangguk setuju dengan ide Vesper. Sang pemimpin menjelaskan idenya dengan hati-hati agar dimengerti oleh anggota kelompok.


"Oke. Aku akan mengawasi daerah sini. Akan kupilihkan rumah yang tepat untuk mendapatkan informasi," ucap Axton dan diangguki semua roh.


"Aku pergi," ucap Vesper.


Roh cantik itu terbang didampingi oleh Joel. Pria tersebut tahu di mana lokasi mayat Asep saat ia membuntuti Vesper dan lainnya diam-diam. Sedangkan Erik, terbang bersama Boleslav. Mereka membuat titik temu layaknya pelari estafet agar Vesper tak tersesat dengan tujuannya.


Vesper yang akhirnya menemukan jasad Asep, menatap pria itu sendu. Sangat disayangkan pria sepertinya harus tewas mengenaskan padahal ia tak bersalah. Asep menjadi target sekumpulan orang jahat yang ingin membuat dunia kembali kacau di tengah perdamaian. Akan tetapi, melihat ancaman tersebut, Vesper bertekad untuk memberitahukan hal ini kepada Alva nantinya.


"Ouh," keluh Vesper saat ia berhasil merasuki jasad Asep yang berantakan dengan bangun perlahan di atas tumpukan puing.


"Hem, kau harus merapikan penampilanmu," ucap Joel menatap sosok manusia di depannya yang memiliki banyak luka lebam dan kini lubang di kepala karena tembakan. "Kau harus menutup kebocoran itu, Vesper," ujar Joel menunjuk karena darah dari lubang tersebut menetes ke wajah Asep.


"Aku tahu. Hempf, kira-kira di tempat ini apa ada semacam ... ruang medis? Bisa tolong kau carikan, please," ucap Vesper memelas.


"Aku tak akan terayu apalagi dengan wujud pria yang sedang kau rasuki. Tunggu di sini, akan kucarikan," jawabnya yang membuat Vesper tersenyum karena Joel sedikit lebih jinak.


Sembari menunggu, Vesper merapikan jasad Asep di depan sebuah bangunan yang memiliki jendela kaca besar. Ingin rasanya Vesper mencongkel peluru yang tersangkut di kepalanya, tetapi tak menemukan benda dengan ukuran pas. Hingga akhirnya, Joel muncul dari sebuah dinding gedung.


"Temuan bagus. Aku ke sana," jawab Vesper dan diangguki Joel.


Vesper menaiki tangga cukup banyak. Beruntung, ia tak memiliki lelah dan rasa sakit. Ia memasuki sebuah bangunan bertingkat layaknya rumah susun yang memiliki banyak kamar.



KRAKK!!


"Oh!"


"Hati-hati, bangunan ini rapuh. Langit-langit dan kayunya keropos. Perhatikan langkahmu," ucap Joel mengingatkan. Vesper mengangguk pelan dan mulai berhati-hati dalam melangkah.

__ADS_1


Vesper melihat banyak lubang di rumah itu, tetapi membuat cahaya matahari menerangi bagian dalam yang tak disinari lampu. Bagi Vesper, bangunan itu tak terlalu buruk. Malah, terlihat sirkulasi udara cukup bagus dan juga penerangan di dalamnya sehingga tak lembab. Meskipun banyak penghuni baru di tempat itu seperti para tikus, serangga, rayap, dan sejenisnya.


Saat Vesper mengikuti Joel yang mengarahkannya ke sebuah ruangan, tiba-tiba saja terdengar suara seperti orang sedang berbincang. Sontak, hal tersebut mengejutkan Vesper dan Joel. Sang Ratu yang merasuki raga Asep segera menyembunyikan diri di balik dinding. Sedangkan Joel yang dalam bentuk roh, melayang mendekati asal suara yang tak jauh dari lokasi keberadaan mereka.


"Joel, hati-hati. Aku merasa ada yang aneh dengan suara itu," bisik Vesper yang diangguki pria berkebangsaan Filipina tersebut.


Vesper terlihat tegang dan sesekali mengintip untuk mencari tahu. Joel juga tampak waspada saat ia terbang melayang menyusuri lorong menuju ke sebuah pintu yang terbuka lebar karena telah rusak tak bisa ditutup. Saat Joel akan masuk, tiba-tiba saja cahaya terang menyilaukan membuat pria tersebut memejamkan mata seketika. Vesper yang juga melihat pancaran sinar itu tertegun. Ia mengendap mendatangi Joel yang menutupi wajahnya dari cahaya menyilaukan.


"Apa itu?" tanya Vesper yang kini berdiri di samping Joel.


"Entahlah. Ayo!" ajak Joel dan diangguki Vesper.


Mereka melongok ke dalam, tetapi ruangan itu sepi. Vesper dan Joel dibuat tegang. Mereka bingung karena tak ada siapa pun di tempat tersebut. Padahal, keduanya yakin jika ada orang berbincang meski tak terdengar jelas apa yang diucapkan.


"Kurasa yang bicara tadi bukan manusia, Joel," ucap Vesper berbisik. Joel mengangguk setuju.


"Sebaiknya cepat. Kau tak ingat, jika tempat ini dipenuhi oleh roh iblis? Siapa tahu mereka akan datang lagi," ucap Joel tampak waspada.


Vesper mengangguk paham. Ia segera mendatangi ruangan yang Joel tunjukkan. Vesper mendapati sekotak alat medis yang sebenarnya sudah jatuh tempo beberapa puluh tahun silam. Namun, melihat tanggal tersebut, Vesper jadi mengetahui jika wilayah itu ditinggalkan sekitar tahun 2160. Vesper yang hanya butuh perban, perekat dan beberapa obat agar tubuh mayatnya tak cepat membusuk, dengan sigap mengobati luka Asep. Ia membersihkan lukanya dan menutup kebocoran.


"Heh, kau akan beralasan jika dikeroyok oleh sekumpulan berandalan dan lolos dari maut? Bagaimana kau akan menjelaskan lubang peluru di kepalamu?" tanya Joel tersenyum miring.


"Aku akan menutupi lubang ini dengan perban, Joel sayang. Walaupun terlihat aneh dan tak bergaya, tetapi ini lebih baik," ucap Vesper seraya memberikan perekat agar perbannya tak terlepas dengan melilitkannya di kepala. "Hem, luka ini mengingatkanku saat menyelamatkan diri dari serangan Grey House dulu. Malah, saat itu aku memplesternya dengan lakban. Konyol sekali," ungkap Vesper yang membuat Joel berkerut kening.


Vesper menemukan beberapa baju lawas di sebuah almari. Ia mencari model yang tak terlalu kuno. Untung saja Vesper sudah mempelajari dan mengamati cara berpakaian orang-orang zaman sekarang sehingga tahu apa yang harus dilakukan.


"Heh, Asep sepertinya kembali hidup," ujar Joel berkesan memuji usai Vesper mengganti penampilan Asep.


"Thank you," jawab Vesper dengan senyuman.


Vesper dan Joel segera pergi dari tempat terbengkalai mirip sebuah kota pada zamannya. Joel memberikan arahan dari tempatnya melayang di langit. Vesper mengikuti petunjuk dengan berlari karena raga manusia Asep tak bisa menembus benda. Ia harus mencari jalan untuk tiba di pemukiman tempat diselenggarakannya pesta panen.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2