
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Momen pertemuan Hashirama dengan Vesper tentu menjadi tontonan menarik bagi Joel, Axton, Erik dan Antony. Mereka sangat heran dengan perubahan sikap Hashirama di mana sebelumnya ia begitu garang dan kejam. Namun, di depan Vesper, ia terlihat seperti pria baik-baik, penyayang dan sabar.
"Aku teringat saat Lily dijuluki poker face. Mungkin, itu menurun dari Hashirama," gumam Erik sembari melihat ayah anak yang terbang di depannya tampak gembira.
"Ha? Apa maksudnya?" tanya Joel bingung.
"Seperti sikap Hashirama. Sangat berbeda ketika bersama kita dan putrinya. Aku penasaran, kejutan apa lagi yang akan ia tunjukkan sebelum pergi untuk selamanya," jawab Erik menatap Hashirama lekat.
Tiba-tiba, Vesper menukik dan disusul oleh sang ayah. Erik dan lainnya yang penasaran, bergegas menyusul.
"Hem, penglihatanmu jeli, Liana. Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Hashirama penasaran.
"Aku ingin mencoba sesuatu yang sebenarnya cukup mengganggu pikiranku saat bertugas. Bisakah ... kau memastikan aku berhasil melakukannya? Kurasa, hal itu bisa dilakukan," jawab Vesper yang terbang melayang di atas sebuah jasad seorang pria yang tewas karena tenggelam.
Tubuh pria itu tergeletak di tepi sungai dengan kulit pucat dan kaku. Tubuh bagian bawahnya berada di air dan bagian atas di tanah. Seperti sudah semalaman di tempat tersebut.
"Hem, tentang apa?" tanya Hashirama penasaran karena baginya, cara pemikiran Liana cukup unik.
"Jika kita bisa merasuki suatu raga, pastilah bisa keluar dengan sendirinya tanpa bantuan dari roh lain. Aku ingin mencoba hal itu, Ayah," jawab Vesper yang membuat Erik dan lainnya terkejut.
"Sebenarnya hal itu— ups." Axton langsung membungkam mulutnya saat dilirik tajam oleh Hashirama.
Vesper yang terlalu bersemangat untuk mencoba, tak tahu jika sebenarnya sang ayah bisa melakukan hal tersebut.
"Hem, pasti akan sangat hebat jika hal itu bisa dilakukan. Cobalah. Ku yakin kau bisa keluar tanpa harus dibantu teman-teman bodohmu itu," ucap Hashirama yang membuat wajah roh lainnya masam seketika.
"Benar-benar penipu ulung," geram Joel saat menyadari jika Hashirama pandai bersandiwara.
Vesper yang kini berada di dalam raga pria tak dikenal itu, mencoba menggerakkan tubuh tersebut untuk berdiri. Hashirama melayang di depannya menatap Vesper dengan saksama. Raga itu memejamkan matanya dan terlihat seperti fokus melakukan sesuatu.
"Oh!" kejut Axton saat melihat roh Vesper mulai keluar, tetapi baru kepalanya saja. Akan tetapi, roh itu kembali masuk seperti sulit untuk dikeluarkan.
"Fokus pada keinginanmu untuk meninggalkan raga itu. Rohmu akan terbebas dengan sendirinya tanpa harus kau paksakan," ucap Hashirama menyemangati.
Seketika, kening Vesper berkerut. Ia menatap Hashirama saksama yang kini menundukkan wajah dengan senyuman.
"Kau berhasil melakukannya. Menyebalkan, aku kalah start," gerutu Vesper menyipitkan mata.
Hashirama tersenyum tipis. "Itu karena, aku mendapatkan kesempatan lebih dulu darimu. Jika kau ada di posisiku saat itu, pasti kau yang lebih dulu melakukannya, Liana. Cobalah, kau hampir berhasil ketimbang empat roh tidak berguna itu yang tak memiliki inisiatif sama sekali."
"Lihat! Dia mulai menunjukkan sifat aslinya. Pria itu benar-benar gemar mencaci orang!" pekik Joel kesal.
Vesper yang mendengar hal tersebut hanya terkekeh. Ia membiarkan kawan-kawannya membenci ayahnya. Wanita itu tahu jika waktunya bersama Hashirama tinggal sebentar lagi dan tak ingin menghabiskan untuk hal tidak berguna.
"Oke. Akan kucoba lagi," ucap Vesper lalu memejamkan mata dan menenangkan hatinya.
Hashirama terdiam mengamati dengan saksama, termasuk empat roh lainnya. Vesper terlihat berusaha keras karena masih gagal untuk meninggalkan raga tersebut. Hashirama tampak serius mengamati gerak-gerik putrinya yang pantang menyerah. Hingga akhirnya ....
"Wow! Dia berhasil!" pekik Axton kagum dengan kepala mendongak karena roh Vesper kini berada di udara.
"Hahaha! Ini hebat!" teriak Vesper senang.
Hashirama tersenyum dengan anggukan. Vesper mencoba sekali lagi dengan merasuki raga itu lalu berlari. Ia ingin memastikan jika keluar dari raga juga bisa dilakukan saat tubuh itu melakukan aktivitas.
"Heahhh!"
__ADS_1
BRUKK!
"Dia bisa melakukannya lagi! Gila!" pekik Joel tertegun sampai mulutnya menganga.
Vesper begitu gembira. Ia memeluk ayahnya yang selalu menunjukkan senyuman. Raga itu tergeletak begitu saja di atas rerumputan usai diajak berlari kencang.
"Kita lakukan hal lainnya ayah. Cepat, cepat! Waktu kita tak banyak!" ajak Vesper manja seraya menggandeng tangan Hashirama untuk diajak terbang.
"Hei! Bagaimana dengan kami?" tanya Erik bingung.
"Lakukan sendiri!" jawab Hashirama dan Vesper bersamaan.
Praktis, ucapan itu membuat Axton dan lainnya kesal bukan main. Namun, Erik bisa memahami kerinduan yang dirasakan ayah anak itu. Vesper dan Hashirama baru pertama kali bertemu, tetapi sebentar lagi harus berpisah untuk selamanya. Erik yang tak ingin mengecewakan Vesper dan mertuanya, dengan sabar mengantri jasad.
Erik, Joel, Axton dan Antony secara bergantian melakukan percobaan seperti yang Vesper lakukan. Sedangkan Vesper, menghabiskan waktu bersama sang ayah untuk melakukan beberapa hal. Meskipun mereka berdua telah mati dan tak bisa merubah nasib di kehidupan silam, tetapi Vesper tetap bersemangat untuk mempelajari hal baru. Terlebih, dari sang ayah.
"Oh, begitu. Aku mengerti. Baiklah, akan kucoba," ucap Vesper serius saat sang ayah memberitahu bagaimana merasakan keberadaan roh jahat meski makhluk tersebut tak menunjukkan dirinya.
Vesper kali ini malah harus membuat dirinya marah. Kebencian dan dendam yang muncul dalam jiwa, membuat aura negatif itu bisa merasakan keberadaan roh jahat meski sudah bersemayam dalam raga seorang manusia. Vesper mengingat hal-hal yang membuatnya kesal saat hidup dulu. Siapa sangka, usahanya berhasil. Akan tetapi, ia harus menahan diri agar tak berubah menjadi roh jahat atau akan diseret kembali ke neraka.
"Di sana!" pekik Vesper saat ia merasakan aura penuh dendam tak jauh dari tempatnya berada.
Hashirama yang juga merasakan hal tersebut bergegas mengikuti sang anak. Ternyata, apa yang Vesper rasakan tepat. Ia melihat sekumpulan pria yang tak lain adalah perampok, sedang melakukan aksinya dengan menyakiti seorang pria dan ingin memperkosa wanita dalam kereta kuda.
"Liana! Ingat yang kukatakan!" teriak Hashirama lantang mengamati di kejauhan.
"Aku tahu!" jawab Vesper mantap yang dengan sigap terbang menuju ke arah seorang pria berpakaian layaknya kesatria karena membawa pedang.
Benar saja, "Garrr!"
"Heahhh!"
Vesper yang sudah bisa merasakan keberadaan roh jahat meski belum menampakkan diri, dengan cepat menangkap salah satu tangan hitam itu lalu menariknya kuat.
"Lakukan tahap dua!" seru Hashirama lantang.
"Heahhh!"
BUAKK!!
"GAARRR!"
"Hem, lumayan," puji Hashirama saat melihat putrinya memukul wajah roh jahat ketika makhluk tersebut keluar dari raga.
Praktis, erangan pria berpakaian layaknya kesatria itu membuat kawan-kawannya terheran-heran. Para perampok itu kebingungan karena kawan mereka seperti orang kerasukan. Orang-orang zaman dulu yang percaya dengan hal mistis, dengan sigap berlari meninggalkan buruannya meski berhasil mengambil harta benda korbannya.
"Sudah kubilang wilayah ini angker! Cepat pergi dari sini sebelum kita menjadi sepertinya!" pekik seorang pria yang dengan sigap menaiki kudanya.
Sekumpulan bandit itu dengan cepat memacu kuda karena takut diusik oleh iblis yang konon menghuni wilayah hutan tersebut. Vesper terus menarik tangan itu sembari melakukan serangan dengan memukul dan menendang. Roh jahat mengamuk dan berusaha menyakiti Vesper.
"Agh!" erang Vesper saat tubuhnya ditangkap oleh roh jahat dan berusaha dihempaskan.
Hashirama dengan sigap terbang mendekat. Akan tetapi ....
"Tidak! Jangan! Tetap di sana! Aku ingin mencobanya sendiri!" jawab Vesper tak menyerah.
Hashirama lalu melayang mundur. Wajahnya begitu serius saat melihat sang putri ingin mempraktikkan ajaran darinya. Vesper menghajar roh jahat itu tanpa ampun dan berusaha mengendalikan diri agar tak berubah seperti waktu itu.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menyerah saja! Benar-benar menyebalkan!" teriak Vesper marah.
KRAUK!!
"GARRR!"
"Eh?" kejut Hashirama melihat putrinya menggigit salah satu tangan roh jahat lalu dilanjutkan dengan memukul wajahnya.
Vesper dengan sigap memegangi sepasang tanduk itu lalu menariknya kuat sampai tubuhnya melayang di udara. Dua kakinya ikut melakukan serangan dengan menginjak pundak roh jahat tersebut bertubi-tubi dengan bengis. Serangan brutal Vesper berhasil membuat roh jahat itu seperti kewalahan. Tubuhnya berhasil ditarik hingga keluar dari raga. Sayangnya, tanpa rantai belenggu, hal tersebut terasa sia-sia.
"Liana!" teriak Hashirama saat roh jahat itu menggoyangkan kepalanya kuat sehingga cengkraman Vesper di tanduknya terlepas.
Vesper terhempas sampai bergulung-gulung di udara. Roh jahat yang terbebas, segera kabur melarikan diri sebelum terjerat. Hashirama yang tak ingin usaha anaknya sia-sia, dengan sigap mengejar. Namun, lagi-lagi ....
"Biarkan saja! Aku hanya ingin tahu, bagaimana caranya membuat roh jahat itu keluar dari raga manusia," ucap Vesper mendekati sang ayah yang menghentikan lajunya karena dipanggil.
Hashirama tersenyum lalu merangkul kepala putrinya. Saat ayah anak itu sedang merasakan kebahagiaan, tiba-tiba terdengar tawa kegembiraan di kejauhan. Kening dua roh itu berkerut, tetapi kemudian tersenyum saat melihat kemunculan Axton dan lainnya.
"Kau tak akan percaya! Kami mendapatkan roh jahat yang sedang terbang tanpa raga. Haha! Dia berhasil kami tangkap lalu diseret kembali ke neraka. Kami hebat bukan?" ucap Axton menyombong.
Vesper terkekeh dengan anggukan enggan berkomentar. Hashirama langsung memalingkan wajah dengan wajah dingin. Saat roh-roh itu berkumpul di langit, perlahan, kegelapan memudar saat sinar matahari mulai muncul di balik awan tebal.
"Tidak, tidak!" teriak Vesper langsung mendatangi sang ayah dan memeluknya erat.
Hashirama tersenyum dan balas memeluk sang putri. Erik dan lainnya terdiam. Mereka tahu jika kebersamaan itu akan berakhir. Vesper benar-benar enggan melepaskan sang ayah, begitu pula Hashirama. Antony bisa merasakan kesedihan keduanya karena harus berpisah.
"Liana. Aku pernah mendengar Herlambang mengatakan suatu hal saat ia pulang dari masjid usai melaksanakan salat Jumat," ucap Hashirama tiba-tiba.
Vesper langsung melepaskan pelukan dan menatap ayahnya lekat.
"Ia mengatakan, saat semua dosa kita telah dilebur di neraka, pintu tempat penyiksaan abadi itu akan ditutup. Semua hamba-Nya diizinkan tinggal di surga bersama keluarganya. Aku harap ucapannya benar kala itu karena harapan terakhirku adalah, berkumpul bersamamu, Jiao Yu dan cucu-cucuku," ucap Hashirama yang membuat Vesper menangis, tetapi air mata itu dengan cepat lenyap usai menetes.
Vesper mengangguk cepat dan kembali memeluk sang ayah.
"Kau dengar itu, Erik? Dia tak menyebut ingin berkumpul bersama suami dari anaknya. Kita tereleminasi," gumam Joel kesal, tetapi ucapannya membuat Erik dan lainnya menahan tawa. Entah kenapa, tetapi Joel terlihat begitu membenci Hashirama.
"Aku sangat menyayangimu, Ayah," ucap Vesper berusaha tetap tegar meski jiwanya rapuh.
"Aku akan menunggumu di surga. Aku bangga padamu, Liana. Meski tidak dengan mereka. Kawan-kawanmu itu ... payah," ucap Hashirama seraya melirik empat roh pria di dekatnya dengan wajah garang.
"Sudah mau pergi saja masih menjelekkan kita. Benar-benar roh tak berperasaan," ucap Axton kesal.
Vesper menangis seraya memeluk roh ayahnya. Hingga tiba-tiba, ia merasakan jika aura Hashirama seperti menghilang. Vesper membuka matanya lebar dengan isak tangis kesedihan. Ia menutup wajahnya saat Hashirama sudah tak ada lagi di hadapannya karena ditarik kembali ke neraka. Sinar matahari pagi membuat suasana di atas awan itu bagaikan mendung. Erik mendekati Vesper dan memeluknya penuh kasih. Kali ini, Joel diam saja entah apa yang dipikirkan.
"Kau sudah melakukan yang terbaik, Sayang, begitu pula Tuan Hashirama. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengannya meski sudah menjadi roh," ucap Erik saat pelukannya tertembus dan ia membiarkan hal tersebut dengan tetap berada di depan sang istri.
Vesper tak sanggup berkata-kata. Ia hanya mengangguk dan berusaha tegar meski air matanya terus saja menetes. Joel ikut mendekat lalu meraih kepala Vesper. Erik menatap Joel tajam yang mencium kepala istrinya. Entah kenapa hal itu membuatnya kesal dan ingin menyingkirkan Ramos untuk selamanya.
"Kau beruntung bertemu dengan ayahmu. Aku malah tak ada keinginan sama sekali bertemu dengan Borka. Aku saja tak tahu siapa yang ingin kutemui," ucap Joel seraya melepaskan dekapan yang hanya bertahan 5 detik itu lalu memasukkan tangan ke dalam celana karena tak memiliki saku.
"Bagaimana dengan ibumu?" tanya Vesper mulai bisa menahan kesedihannya. Joel menggeleng. "Bagaimana dengan Jeremy?"
"Dia membunuhku. Kenapa aku harus bertemu dengannya?" jawab Joel malas lalu beranjak pergi begitu saja.
"Hem. Obrolan hangat penuh makna di pagi hari," celetuk Erik yang membuat Vesper tersenyum tipis.
***
__ADS_1
waa dapat tips lagi dr jeng Riana😍 makasih yaa💋 lele padamu❤️