
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Vesper tampak gembira saat tahu King D masih hidup. Sedangkan Joel terlihat tegang ketika Vesper menceritakan King D kecil yang dekat dengan Tobias meski cara putra Ramos tersebut salah dan aneh dalam mengasuh anak kecil.
"Heh, aku tak sabar bertemu dengan King D. Aku sangat penasaran bagaimana ia menilai putraku, Tobias. Pasti Toby sosok ayah yang sangat sempurna," ucap Joel bangga, tetapi perkataannya membuat semua roh berkerut kening.
"Aku ingin sekali tertawa, tapi rasanya sia-sia," ucap Axton dengan wajah malas.
"Biarkan dia bermimpi dengan khayalannya. Tak ada gunanya menyindir atau mengejek. Buang-buang waktu," sahut Erik yang kali ini membiarkan Joel hanyut dalam imajinasinya.
Tak lama, Alva datang. Namun, ia tak sendiri karena ada sebuah robot di sampingnya berbentuk seperti tetesan air berukuran besar yang melayang tak memiliki kaki. Tubuhnya terbuat dari besi dengan lapisan cet warna putih. Lampu dengan cahaya biru menerangi tubuhnya meski dalam pola bergaris.
"Ini adalah Embun. Robot yang digunakan untuk melakukan perjalanan jauh dan terkoneksi dengan satelit. Kalian tak perlu mengkhawatirkannya. Ia bisa mengisi energi sendiri dengan panas matahari. Embun adalah aku dalam bentuk robot. Aku tak bisa meninggalkan Great Ruler karena akan dicurigai. Ini adalah misi terselubung. Meskipun ayah dan beberapa orang percaya dengan kemampuanku dalam melihat makhluk tak kasat mata, tetapi butuh waktu lama untuk menjelaskan alasan keterlibatanku kepada Dewan. Saat mereka mengetahuinya, semoga aku sudah mendapatkan jawaban dari King D, termasuk kalian," ucap Alva berdiri tegap.
"Jadi ... dia semacam robot pendamping? Kau mengendalikannya dari jarak jauh? Memangnya, kau bisa melihat keberadaan kami dari kamera kecil di robotmu itu?" tanya Antony menilai.
"Anda pintar, Tuan ...?"
"Boleslav. Antony Boleslav. Jika kau mencari data tentangku, isinya tak jauh beda dengan Vesper. Termasuk Adrian Axton Giamoco," jawab Antony seraya menunjuk sang Casanova yang dengan sigap melambaikan tangan dengan senyuman.
"Hai, aku Erik Benedict. Lalu dia Joel Ramos," ucap Erik melanjutkan perkenalan.
"Oke. Dari nama kalian ... yah, orang masa lalu. Nama orang-orang di zaman ini sedikit berbeda," ucap Alva sambil menganggukkan kepala.
"Ya. Nama yang aneh bahkan tak tahu apa artinya," sahut Joel ketus.
Alva yang mulai memahami karakter tiap roh itu memilih untuk tak berdebat karena dirasa percuma. Ia tak bisa menangkap apalagi memenjarakan mereka. Meski dalam hati, ia sangat ingin mengurung lima roh yang termasuk penjahat paling diburu di seluruh dunia pada zamannya.
"Sangat disayangkan. Kalian akan menjadi koleksi yang cantik," gumam Alva. Sayangnya, tak didengar oleh para roh. "Soal tadi, ya, aku tak bisa melihat kalian dari kamera robot. Aku hanya bisa melihatnya dengan mata telanjangku."
"Lalu, apa fungsi dari si robot jelek mirip tetesan air itu?" tanya Joel seraya mengitari robot yang tak memiliki mata, tangan dan kaki.
"Dia akan mengantarkan kalian ke tempat terakhir Zalama menemukan keberadaan King D. Setiap data baru yang kini kufokuskan dalam pencarian King D, akan langsung terkoneksi dengan Embun," jawab Alva menjelaskan.
"Apakah tujuan kita Indonesia?" tanya Vesper menebak. Alva mengangguk.
"Kalian akan berkunjung ke rumah kakekku. Hanya saja, setelah aku melihat catatan perang masa lalu, sepertinya ada yang janggal dengan tindakan kakekku, Morlan. Dulunya dia Presiden Great Ruler bersama saudara kembarnya, Roman. Sayangnya kakek Roman dan Morlan beda pemikiran juga keahlian. Morlan menciptakan mutan-mutan ganas yang malah menghancurkan Great Ruler. Aku pernah ingin sekali bertanya padanya, tetapi khawatir dia akan sakit hati. Jadi ... aku urungkan," sambung Alva yang membuat Vesper menatapnya lekat.
__ADS_1
"Mutan-mutan ganas? Wow? Ada yang lebih mengerikan lagi ketimbang Vesper berubah menjadi monster," ucap Axton yang langsung mendapatkan pukulan kuat di lengannya dari Vesper. Axton berteriak, tetapi kemudian terkekeh.
"Oleh karena itu, aku ingin kalian menemui kakekku. Sebab, lokasi ditemukannya King D adalah ... di kediaman kakekku, Morlan," ucap Alva yang membuat mata Vesper melebar.
"Menarik. Sepertinya, sejarah akan terungkap dengan jelas," ucap Vesper tampak tak sabaran.
Alva tersenyum lalu menyentuh tubuh robot itu. Seketika, muncul tampilan hologram tentang sebuah kejadian yang membuat para roh tertegun.
"Anggap saja kalian sedang menonton televisi atau radio selama perjalanan. Kalian pasti sangat penasaran dengan sejarah dunia sejak kematian hingga akhirnya bangkit lagi," ucap Alva yang diangguki semua roh. "Hanya saja, Anda berjanji untuk mengajariku memasak. Jujur, masakanku adalah petaka. Aku jadi khawatir tak bisa menikah karena payah dalam memasak," ucapnya lugu.
"Hahahahaha!" tawa Axton meledak, tetapi membuat Alva cemberut.
"Jangan khawatir, Sayang. Ayo, kita memasak," ajak Vesper dan diangguki Alva.
Alva membuat robotnya dalam posisi stand by. Mereka meninggalkan gedung tempat Alva bekerja menuju ke kediaman sang Presiden. Vesper dan lainnya terbang mengikuti mobil otomatis wanita cantik tersebut yang berada dalam jalur khusus tak seperti pengguna lain di sebuah terowongan. Hal tersebut dimaksudkan agar Presiden tetap aman tanpa harus ada pengawal penjaga di sisinya. Alva tipe wanita yang tak nyaman dengan ingar-bingar, dikelilingi banyak orang, dan diikuti. Oleh sebab itu, orang-orang yang mengenal Alva, menjaga privasi wanita cantik tersebut dengan membiarkannya berkendara sendiri meskipun tetap diawasi.
Tak lama, akhirnya mobil Alva muncul ke permukaan. Axton dan lainnya mematung karena wilayah itu sedikit membingungkan. Mobil Alva melayang dan masuk ke ruangan seperti garasi yang terbuka secara otomatis. Para roh melayang di luar rumah sang Presiden dengan kening berkerut.
"Hem, singkatnya. Great Ruler berada di wilayah China. Hanya saja, nama China dan beberapa negara telah dihapuskan. Rumahku, berada di lokasi tempat pemurnian air. Dulunya rumah ini adalah tempat tinggal para pekerja yang mengawasi proses penyulingan. Hanya saja, setelah semua distrik disusun ulang dan gedung-gedung tempat bermukim diperluas, rumah ini ditinggalkan. Jadi, aku tempati saja," jawab Alva santai, tetapi membuat semua orang terbengong.
"Seorang Presiden yang memakai rumah bekas para pekerjanya. Hem, sulit diterima akal sehatku," ujar Boleslav lalu memilih masuk ke dalam karena baginya, interior rumah itu cukup menarik.
"Bentuk rumah ini seperti mulut paus yang menganga," ujar Joel dan mendapat tawa dari semuanya. "Itu berarti jelek," imbuhnya lagi yang kini membuat wajah para pendengar masam.
Alva geleng-geleng kepala dengan senyum tipis. Ia sadar jika para roh itu dulunya adalah orang-orang kaya yang berkuasa. Pastinya memiliki kemampuan khusus sehingga dianggap sebagai penjahat kelas dunia. Alva semakin tertarik dan penasaran dengan para tamu tak lazimnya. Vesper yang bersemangat karena melihat kecanggihan teknologi terutama dalam urusan dapur, membuat hubungan Alva dan mantan ratu mafia tersebut semakin akrab. Antony dan roh lain memilih untuk terbang menyusuri sekitar agar terbiasa dengan kehidupan masa depan.
Saat matahari terbenam dan langit mulai berubah gelap, para roh pria kembali terlihat akrab. Namun, bukan wajah bahagia yang Vesper tunjukkan.
"Ada apa?" tanya Boleslav seraya mendekat.
"Lihat sendiri saja. Baru kali ini aku merasa gagal mengajari seseorang. Seumur hidup, ia akan butuh robot koki," jawab Vesper sebal lalu terbang keluar rumah.
Erik, Antony dan Axton tersenyum. Mereka yang penasaran menuju dapur. Seketika, mata para pria itu melebar saat melihat dapur berantakan dan banyak robot layaknya pelayan sedang melakukan pembersihan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Axton mematung.
"Aku dengar yang Vesper katakan. Hempf, pasti akan sulit bagiku mencari pasangan. Ditambah, aku seorang presiden," jawab Alva dengan wajah kusut begitu pula penampilannya.
"Ya, setidaknya kau bisa mendekor ulang dapurmu," ucap Axton santai meski menahan tawa karena banyak potongan bahan makanan berceceran di lantai dan ruangan itu seperti berkabut.
Hingga tiba-tiba ....
"Ayahmu datang bersama seorang wanita! Pasti selingkuhannya karena lebih muda!" pekik Joel yang tiba-tiba muncul dari balik dinding dapur.
"Alva!" panggil seorang wanita yang tak lain adalah sang ibu—Sandra Salvarian.
Alva terkejut dan langsung berdiri dengan panik.
"Oh, oke. Baiklah. Kukira ada benda yang terbakar karena aku mencium bau gosong begitu pintu terbuka. Sepertinya, kita akan makan malam di luar," ucap Sandra langsung menghentikan langkah begitu melihat kekacauan di dapur dengan wajah datar.
"Sorry, Mom," ucap Alva cemberut.
Matteo mengintip dari bingkai pintu dapur lalu berbalik menuju mobil dengan mengendap. Sandra merentangkan tangan menyambut kedatangan putrinya yang tampak kumal karena berusaha untuk memasak. Alva melewati para roh begitu saja sembari merangkul lengan ibunya. Sandra terkekeh seraya merapikan penampilan putrinya yang selalu berusaha membahagiakan kedua orang tua.
Vesper menatap Alva lekat yang pergi bersama kedua orang tuanya begitu saja meninggalkan rumah. Saat para roh saling memandang karena bingung dengan hal ini, tiba-tiba ....
PIP!
"Hei! Robot jelek itu bergerak!" pekik Joel menunjuk.
"Ini adalah rekaman. Aku sudah yakin jika masakanku akan membawa bencana meski berharap ada keajaiban dari Vesper karena kuyakin ia jago memasak. Tak usah menungguku. Pergilah ikuti Embun. Ia akan mengantarkan kalian ke tempat kakekku, Morlan."
"Gadis tengik sialan, tapi, oke. Ayo pergi sekarang!" gerutu Joel dan diangguki semua roh.
Embun ternyata mampu bergerak cepat. Tubuhnya yang melayang di permukaan, tak menyulitkannya saat harus melintasi luapan air yang luas atau terbang di langit. Siapa sangka, benda itu memiliki sayap seperti pesawat berukuran kecil yang muncul dari dua sisi tubuhnya. Vesper kembali kagum karena Embun tak memiliki mata, tetapi pintar dan cekatan dalam bekerja.
"Cepat! Jangan sampai tertinggal!" titah Antony dan diangguki semua roh yang kini terbang di sekitar Embun.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1