TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Panjang Umur*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Vesper dan anggota timnya terbang menyeberangi lautan menuju Oman. Siapa sangka jika peradaban di tanah yang mayoritas adalah gurun tersebut cukup maju. Banyak kendaraan berlalu-lalang di langit biru yang tampak cerah memukau di hari terik. Lautan biru ikut memanjakan mata karena wilayah Distrik Oman berbatasan dengan laut Arab.


"Kau kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Axton curiga.


"Aku hanya merindukan cucuku. Seperti apa dia? Aku sangat penasaran dengan kisah hidup dan perjuangannya. Ia pasti sangat hebat karena menjadi presiden," ujar Vesper dengan wajah berbinar.


"Tunggu!" ucap Tobias yang tiba-tiba berhenti yang membuat Erik dan Axton hampir menabraknya.


"Apalagi? Ada roh jahat berkeliaran? Bukannya kau sendiri yang bilang agar jangan terlalu banyak singgah," ucap Erik kesal.


"Bukan, bodoh. Jasad. Kita butuh manusia untuk dirasuki. Kalian pikir D bisa melihat kita?" jawab Tobias menatap Erik tajam.


"Shitt! Yang dikatakan psikopat itu benar. Padahal aku sudah mulai nyaman tak menggunakan mayat. Sial, jika begini kita bisa menjalani hukuman berlipat untuk menangkap roh jahat," ucap Axton kesal sampai menggaruk kepala.


"Tunggu. Hukuman berlipat? Apa maksudnya?" tanya Tobias yang ternyata tak mengetahui hal tersebut.


"Begini, Toby. Kami mendapatkan hukuman karena sebelumnya menggunakan jasad dengan seenaknya dan menimbulkan kehebohan di dunia manusia. Hal itu menyebabkan kami dihukum oleh sang Kematian. Jika sampai ada manusia yang tahu tentang mayat hidup, jumlah roh jahat yang harus kami tangkap harus sesuai dengan jumlah manusia yang menyaksikan hal tersebut. Cukup merepotkan, hem?" jawab Vesper dengan wajah malas.


"Kami sampai harus berurusan dengan Presiden Dunia di masa ini. Dia bernama Alva. Dialah yang memberitahu kami jika King D masih hidup. Sebenarnya, kami ingin menemui Morlan dengan mengikuti robot kirimannya yang bernama Embun. Namun, banyak hal tak terduga terjadi hingga kami malah menemukan Eko. Lalu ... begitulah, Eko mengatakan tahu di mana King D berada dan sekarang di sinilah kami," imbuh Erik.


"Aku tak bertanya padamu, Benedict," ucap Tobias ketus.


"Hehehe," kekeh Axton senang melihat dua lelaki itu kembali bersiteru.


"Kalian ingin bertengkar lagi? Sungguh? Terserah, aku lelah dan enggan melerai. Berkelahilah sampai puas," ucap Vesper malas.


"Saranku, kita pastikan dulu keberadaan King D, lalu setelahnya kita mencari jasad. Hal itu bisa meminimalisir jumlah hukuman kita," ujar Boleslav menyarankan.


"Aku setuju," sahut Vesper dan diangguki roh lainnya. "Eko. Kenapa kau diam saja? Tumben," tanya Vesper curiga.


"Lah, emang kenapa? Kan Eko gak boleh ikut campur. Mentok cuma bantuin ngusir roh jahat. Udah gitu doang. Jangan ngajari kesesatan diriku yang murni ini, ya," jawabnya santai.


"Rasanya aneh melihat dia menjadi waras seperti itu. Aku suka dirinya yang dulu," ujar Boleslav teringat akan sosok Eko yang gemar mengatakan "Uasu" ketika masih menjadi mafia.


"Sudahlah. Ayo, tinggal sedikit lagi kita sampai," ajak Vesper.


Vesper dan kumpulannya tampak begitu bersemangat karena akhirnya tiba di Oman. Mereka tak sabar bertemu dengan King D. Akhirnya, istana sultan yang begitu megah tersebut terlihat. Hanya saja, memang tampak lain. Ada hal aneh pada bangunan tersebut. Bagian luar istana dibangun benteng yang menjulang tinggi sehingga tak terlihat. Namun, jika disaksikan dari atas langit, istana sultan tampak jelas.


"Bukankah ... ini kediaman Javier? Kenapa ... tempat ini menjadi terlihat menyeramkan dan terpencil. Lihat, tak ada penduduk di sekitarnya. Tempat tinggalnya berada di tengah-tengah kota terbengkalai. Apa yang terjadi?" tanya Vesper bingung karena tempat itu sepi.

__ADS_1


"Eko?" panggil Antony menatap pria bersayap itu lekat.


"Berasa jadi guide kalau begini. Hem, gimana, ya? Boleh cerita gak, ya?" ucapnya ragu.


"Boleh, pasti boleh," sahut Axton cepat.


"Tapi sang Kematian barusan bilang gak boleh. Jadi, maaf, ya. Kalian cari tahu sendiri. Intinya Eko udah nganter sampai sini. Jadi, udah lunas," ucapnya dengan senyuman.


"Hei! Belum, enak saja pergi. Kami belum melihat King D! Bisa saja kau bohong!" sahut Erik cepat.


"Ya! Kau harus bertanggungjawab! Kami meninggalkan Indonesia dan tak jadi mencari Morlan serta Embun karena percaya padamu!" pekik Antony menunjuk.


"Weh, weh, Eko dikeroyok. Ya wes. Eko nonton aja. Gak boleh tanya-tanya," ucapnya dengan dua tangan saling menggenggam di depan perut.


"Ayo," ajak Axton kali ini.


Vesper dan lainnya segera memasuki bangunan megah yang tertutup layaknya cangkang kura-kura dengan lapisan kaca tebal. Ternyata, bagian dalam istana pun sepi, gelap, dan tak dirawat. Vesper berkerut kening termasuk Tobias yang mengetahui seluk-beluk istana itu.


"Berpencar," pinta Vesper dan diangguki semua roh.


Vesper dan anggota timnya terlihat tegang. Kamar-kamar besar nan mewah itu ditinggalkan. Halaman dan taman ditumbuhi semak tinggi sampai setinggi pinggul orang dewasa. Hingga tiba-tiba, Tobias memanggil dengan lantang.


"Dia menemukan sesuatu. Ayo!" ajak Erik yang terbang bersama Eko mendampingi.


Vesper dan kawan-kawannya bergegas mendatangi Tobias. Sontak, sebuah pemandangan yang membuat senyum terkembang muncul di hadapan.


"Itu ...," ucap Antony ragu dengan kening berkerut.


"Kebun pohon pisang? Tempat ini, terawat dan subur. Bahkan, pisangnya siap panen," ucap Axton seraya mendatangi salah satu pohon dan menatap buah pisang berwarna kuning mulus mempesona.


Saat para roh itu dibuat bingung dan kagum, tiba-tiba saja terdengar suara mesin di rumah kaca tersebut. Kening Antony berkerut melihat robot petani muncul untuk memanen buah-buah yang telah masak itu.


"Wow, lihat! Ada robot yang melakukannya. Pasti dia sejenis robot petani. Lihat, tangan-tangannya begitu terampil. Ada sensor di bagian matanya seperti memindai kualitas pisang untuk dipilih," ujar Axton mengikuti sebuah robot terbang layaknya drone, tetapi berbentuk seperti kepiting yang memiliki capit besar untuk memotong gagang pisang.


Selang berapa detik, sebuah robot tanpa roda yang memiliki bak muncul—berbentuk persegi layaknya kotak besar dan berwarna mengkilat. Benda itu terbang melayang mengikuti robot bercapit besar berwarna merah tersebut. Keduanya seperti berkolaborasi. Robot kepiting melakukan pemilihan buah lalu memotong batang buah pisang.


Lalu robot berwarna kuning layaknya kulit buah pisang terbang melayang. Benda itu menerima buah-buah pisang dalam kelompok besar tersebut. Dua buah tangan besi berlapis sarung tangan yang empuk—layaknya telapak manusia—bergerak menerima buah pisang dari robot kepiting. Dua tangan tersebut berada di sisi kiri dan kanan bak.


Begitu bak penuh, muncul bak lainnya untuk diisi pisang-pisang hasil panen. Pada bagian bawah bak terdapat mesin pendorong sehingga robot bak mampu bergerak leluasa ke berbagai arah. Vesper dan roh lainnya terpukau. Tak ada manusia yang mengoperasikan atau melakukan panen tersebut.


Robot-robot itu bekerja secara otomatis dengan pengesetan waktu tertentu. Terlihat adanya layar sentuh berukuran kecil pada bagian bawah robot kepiting dan bak. Axton dan lainnya sibuk mengamati. Namun, Tobias terbang keluar dari rumah kaca tersebut mengikuti sebuah bak yang membawa hasil panen ke suatu tempat.

__ADS_1


"Toby, kau mau ke mana!" panggil Erik yang merasa jika Tobias sedang mengamati sesuatu.


Namun, keturunan Flame tersebut tak menjawab. Ia terus terbang mengikuti bak tersebut menyusuri koridor. Erik yang penasaran menyusul Tobias. Hingga pada ujung lorong, terdapat lubang besar layaknya saluran terbuat dari besi.


Bak tersebut masuk ke dalam dan menghilang. Erik yang kini berada di samping Tobias menatapnya. Dua roh itu lalu ikut masuk ke dalam mengikuti lorong besar seperti pipa menuju ke suatu tempat.


"Eh, di mana Erik dan Toby?" tanya Vesper yang baru menyadari dua lelaki itu tak ada bersama mereka.


"Sial! Erik! Tobias!" panggil Axton panik.


"Eko!" tanya Vesper seraya mendekat.


"Hadeh, Eko lagi. Itu, mereka ngikuti bak pisang," jawabnya santai.


"Cepat!" ajak Axton dan segera diikuti oleh Vesper dan Boleslav.


"Oii! Eko tugas dulu nanti balik lagi, ya!" teriak Eko seraya melambaikan tangan lalu menghilang begitu saja.


"Agh, sial! Dia pasti sengaja!" pekik Axton kesal.


"Biarkan saja. Ayo," panggil Vesper yang terbang dengan cepat mengejar bak berisi pisang menuju ke suatu tempat.


Vesper, Axton dan Antony yang mendapati lorong tersebut ikut masuk ke dalam. Wajah tegang terlihat jelas dari tiga roh itu. Beruntung, bak-bak tersebut memiliki lampu di empat sisinya sehingga menerangi lorong gelap. Siapa sangka, jika saluran tersebut cukup jauh dan berbelok-belok.


Axton hampir saja keluar jalur karena tubuh rohnya bisa menembus. Pergerakan bak-bak berisi pisang itu juga sangat cepat. Vesper, Antony dan Axton fokus mengikuti. Hingga akhirnya, terlihat cahaya di ujung lorong gelap tersebut.


"Erik! Toby! Oh, akhirnya kami menemukan kalian!" ucap Vesper lega setelah bak yang diikutinya terbang melayang dan berkumpul dengan bak-bak lainnya di sebuah ruangan besar.


"Vesper. Kurasa, apa yang dikatakan si botak itu benar. Lihat," ucap Tobias dengan wajah tegang seraya menunjuk.


Sontak, Vesper dan lainnya ikut tertegun. Terlihat seorang pria tampan berkumis dan berjambang seperti kaget dengan kemunculan mereka.


"King D?" panggil Vesper dengan wajah berkerut.


"Oma," jawab pria itu dengan senyuman. Tak diduga, ternyata pria yang diyakini adalah King D bisa melihat roh para mafia itu.



***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2