TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Kisah Jonathan*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Hei," sapa Riza saat bertemu lelaki muda bernama Wikan.


Remaja berkacamata yang mengenakan setelan berwarna putih itu menatap King D saksama. Putra Javier tersebut masih tak sadarkan diri dengan bekas darah terlihat pada salah satu pelipisnya. Wikan melirik Junior yang jalan membungkuk di belakang ranjang melayang dalam diam, lalu tersenyum miring.


"Bagus, Junior. Kau berhasil menghentikan pendarahannya. Namun, untuk memastikan jika tak ada organ dalam yang bermasalah, tetap harus diperiksa. Segera masukkan King D ke auto-doc," titah Wikan seraya berjalan dengan langkah cepat menuju ke sebuah pintu berwarna merah muda.


Riza mengangguk pelan. Mereka lalu berdiri di depan pintu besi itu seperti menunggu dibuka.


PIP!


"Selamat datang, Riza Yema Flame, Wikan Oza Benedict, Junior, dan King D. Kalian diizinkan masuk," ucap sistem yang ternyata melakukan pemindaian kepada empat orang di depan pintunya.


"Thanks, GIGA," jawab Wikan seraya melangkah masuk.



King D segera dipindahkan ke sebuah tabung. Kening Vesper berkerut karena ia seperti mengenali benda tersebut.


"Hei, kalian ingat benda ini? Seperti yang aku gunakan saat menggunakan jasad—"


"Ya, itu benar. Hem, alat itu sangat hebat dan melakukan pekerjaannya dengan rapi. Namun, bukankah dia memiliki alat deteksi tentang kondisi pasien yang ditanganinya? Seperti kau waktu itu sehingga menimbulkan kegemparan karena mayat masih hidup," ujar Boleslav yang membuat Vesper meringis.


"Wah, sekarang aku jadi tahu alasan adanya hukuman ganda. Kalian ceroboh," sindir Tobias dengan wajah datar, tetapi mendapatkan lirikan sadis dari Vesper dan Boleslav.


Saat King D sedang diperiksa, tak lama Jonathan dan Erik kembali. Mereka terlihat tegang seperti menemukan sesuatu dari hasil penjelajahan.


"Heh, kalian menemukan kami," ledek Tobias dengan dua tangan melipat depan perut.


"Papa Erik ada di depan pintu masuk ini. Dia bilang kalau kalian ada di dalam, jadi ... Nathan masuk aja," jawab Jonathan santai.


Erik tersenyum. Ia sengaja mengikuti sang anak diam-diam dan segera kembali ke atas seolah ia sedari tadi memang bersama Vesper.


"Laporkan," titah sang pemimpin.


"Sepertinya ... sedang ada acara di rumah ini, Mama. Pakaian orang-orang di bawah sana aneh-aneh," ucap Jonathan menginformasikan.


"Heh, itu belum seberapa. Ingin tahu hal yang lebih mengejutkan lagi?" tanya Anthony.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Erik dengan kening berkerut.


"Lihat anak lelaki berkacamata merah muda itu?" jawab Antony seraya menunjuk Wikan. Erik dan Jonathan mengangguk pelan seraya menatap lelaki muda itu lekat. "Dia keturunan kalian. Ada nama Benedict di belakangnya."


"Woah, yang benar!" pekik Jonathan histeris dan langsung mendekati anak lelaki berpakaian serba putih yang mengoperasikan auto-doc.


"Heh, wanita cantik itu juga keturunanku. Ada nama Flame di belakangnya. Entah siapa ayah ibunya dulu," ucap Tobias santai tak heboh seperti Jonathan yang mudah kagum.


"Jangan-jangan, ada semacam reuni di sini! Seperti ...," ucap Jonathan bingung akan istilah tersebut.


"Kaya trah keluarga besar gitu pastinya," sahut Eko tiba-tiba yang mengejutkan Jonathan.


"See? Dia muncul dan pergi tiba-tiba. Aku sudah tak kaget lagi," ucap Tobias dengan wajah malas.


"Hehe, kaya jalangkung," celetuk Jonathan yang membuat Eko cemberut.


"Wah, keturunan kita selamat, Papa Erik! Pasti Gibson dan Hihi berkembang biak dengan baik," ucap Jonathan bangga dengan kepala mengangguk-angguk.


"Siapa Gibson dan Hihi?" tanya Erik bingung.


"Gibson putra One, kakak tiriku dari keturunan Hashirama. Lalu Hihi ... wait, siapa gadis itu? Kenapa aku tak ingat?" tanya Vesper bingung.


"Hihi itu panggilan imutnya, Mama. Dia anakku dengan Sierra," jawab Jonathan yang membuat Vesper ber-Oh.


"Dia benar-benar sibuk atau tak ada kerjaan?" tanya Tobias mulai kesal. Para roh menjawabnya dengan tawa ringan.


"Kalau boleh tahu, bagaimana kau mati?" tanya Antony menoleh ke arah Jonathan.


Pria itu gugup karena kini ditatap semua roh termasuk sang ayah. Jonathan berdehem sebagai awalan. "Oke. Jadi ... bisa dibilang, aku ingin berumur panjang. Jadi ... aku memanfaatkan kemampuan dari tabung ciptaan Papa Kai untuk mengawetkanku."


"Papa Kai?" sahut Erik. Vesper dan Jonathan canggung seketika. "Lanjutkan," pintanya dengan wajah datar.


Vesper dan Jonathan saling melirik dalam diam seperti tahu jika Erik kesal. Tobias terkekeh.


"Namun, umur panjang ternyata membawa kesedihan. Menjelang akhir hidupku, Sierra dan Cassie mengatakan jika ingin menghabiskan masa tua bersamaku, tanpa tabung. Mereka ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, nenek dan ingin tahu kematian itu seperti apa. Hanya saja, aku menolak. Aku kembali ditidurkan dan mereka tetap terjaga dengan menjalani kehidupan layaknya manusia normal. Saat aku bangun, orang-orang yang kusayangi telah tiada. Cassie dan Sierra meninggal. Aku sangat sedih dan berduka. Dan ... hal yang lebih menyakitkan lagi saat anak-anakku mengatakan jika aku pria yang egois karena memilih hidup lama untuk kesenangan dirinya dan bukan untuk keluarga," ucapnya dengan wajah tertunduk.


"Heh, rasakan!" sindir Tobias.


"Toby ...," sanggah Vesper dan pria keturunan Flame tersebut memalingkan wajah.

__ADS_1


"Aku ... ditinggalkan dalam kemewahan abadi yang kumiliki tanpa keluarga. Hingga akhirnya aku sadar saat bertemu King D dan Junior. Mereka mengatakan jika umur panjang hanya membawa petaka. Lalu, saat itulah, kutebus kesalahanku dengan meninggalkan kekayaan. Semua kuberikan untuk keturunanku termasuk kepada King D dan Junior. Aku menghabiskan masa tuaku bersama keluarga yang tersisa. Aku sungguh tak menduga, jika ternyata hal tersebut sangat luar biasa. Aku benar-benar menyia-nyiakan kehidupanku sebelumnya dan baru menyadari saat orang-orang yang kucintai direnggut dariku," ucap Jonathan dengan pandangan tertunduk.


"Setidaknya kau merasakan kebahagiaan sebelum kematian menjemput, Nathan," ucap Vesper seraya mengelus kepala anaknya lembut.


Jonathan mengangguk dengan wajah sendu. Ia lalu menggenggam tangan ibunya erat, meski tak lama terlepas. Jonathan kaget, tetapi kemudian tersenyum.


"Siksa neraka juga menyadarkanku, Mom. Aku minta maaf atas perbuatanku dahulu. Aku baru merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah dan kakek saat berkeluarga lalu melihat mereka tumbuh serta bertingkah. Aku dulu begitu jahat padamu. Padahal kau penjahat, tetapi ... kau sangat menyayangi anak-anakmu dan juga orang-orang di sekelilingmu. Berulang kali aku mencoba untuk menjadi sepertimu, tetapi ... tidak bisa. Aku selalu berdoa saat malam agar Tuhan mengampuni dosa-dosamu dan dosamu, Papa Erik," ucap Jonathan lalu menatap ayahnya sendu.


"Hem, aku tahu kau mendoakanku. Aku melihatmu," jawab Erik yang membuat Jonathan tertegun karena tak menyangka hal tersebut. "Hanya saja, saat kau kini ada di depanku. Kenapa kau menghindariku? Kau membenciku?"


Jonathan menggeleng cepat. "Bukan seperti itu. Aku ... aku takut."


"Takut apa?" tanya Erik menatap anaknya lekat. Jonathan menarik napas dalam lalu diembuskan seperti mencoba untuk menenangkan hatinya yang berkecamuk.


"Aku ... aku takut jika kau kecewa padaku. Aku takut jika kau melihat putramu ini tumbuh menjadi seorang bajiingan. Aku takut menjadi seorang anak, tetapi tak seperti yang kau harapkan. Saat aku menyadari jika aku lelaki bodoh, aku kecewa pada diri sendiri. Aku ingin memperbaiki diri. Hanya saja, hal itu ternyata memang sulit. Ada beberapa sifat yang seolah tak bisa lepas dariku," ucap Jonathan dengan kening berkerut seraya melihat telapak tangannya yang tembus pandang.


"Heh, baguslah jika kau sadar," ucap Tobias yang membuat Jonathan cemberut.


Erik tersenyum lalu mendekat ke arah putranya. Ia tak mengatakan apa pun dan hanya memeluk. Saat Jonathan akan membalas pelukan itu, raga mereka tertembus. Erik kembali berdiri tegak menatap Jonathan yang gugup, kemudian memeluknya lagi. Kali ini, Jonathan bergegas membalas pelukan ayahnya hingga pelukan itu kembali tertembus.


"Kalian bisa saling peluk saat semua sudah jelas siapa-siapa saja para manusia di bawah sana. Kita butuh King D untuk menjelaskan pada kita," ucap Tobias dengan wajah datar.


"Bang Dad! Aku tak menyalahkan jika kau tak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah pada anaknya. Karena Joel—"


"Aku sudah bertemu dengannya dan aku yang membawanya ke neraka," jawab Tobias tenang, tetapi membuat Jonathan melotot.


"Tega sekali! Kau menyeret Joel Ramos ke neraka? Begitu?" tanya Jonathan memekik.


"Begitulah. Sejak awal aku memang membencinya. Lalu, dia juga bodoh karena beralih pihak dan menjadi roh jahat. Dia tak bisa diselamatkan. Jadi, buat apa lagi? Dia sudah tak berguna dan lebih baik kembali ke neraka," jawabnya tenang, tetapi membuat semua roh melongo.


"Hem. Nathan jadi yakin 1000 persen kalau kejamnya Bang Dad nurun dari Joel Ramos," ucap Jonathan mendesis.


"Terima kasih," jawab Tobias dengan anggukan.


"Oke. Sudah cukup saling memujinya. Lihat, King D siuman," ujar Antony yang ternyata sedari tadi mengamati pergerakan King D dan keturunan mereka di kejauhan.


"Kau benar! Ayo, datangi dia!" ajak Vesper dan diangguki semua roh.


Kali ini, Jonathan sudah tak canggung lagi dan malah bermanja-manja pada Erik. Ayah anak itu bergandengan tangan meski pada akhirnya tertembus. Namun, mereka tak menyerah karena melakukan hal itu berulang kali yang membuat Tobias jengah.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (DeviantArt)


__ADS_2