
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Vesper yang kini ditunjuk sebagai pemimpin kelompok, tampak serius ketika mengajak anggotanya ke suatu tempat. Joel dan lainnya yang telah sepakat dengan menjadikan Vesper ketua, kini harus menuruti keputusannya. Hal itu dikarenakan, tugas dari sang Kematian yang dianggap semakin sulit sehingga mereka tertekan dan tak bebas. Para laki-laki itu memasrahkan kepada Vesper demi lancarnya misi karena tak mau repot.
"Apa kau tahu di mana keberadaan kita sekarang?" tanya Antony karena Vesper membawa mereka ke sebuah mesin yang sama persis ketika berada di Mega-US. Alat yang bisa mencari keberadaan seseorang dengan meng-input-kan namanya.
"Sabar. Kita tunggu seseorang datang kemari," ucap Vesper saat ia dan kawan-kawannya berdiri mengelilingi mesin berbentuk persegi panjang berupa kaca tebal dan terdapat beberapa sensor di sekeliling.
"Ada manusia yang mendekat!" pekik Axton saat melihat seorang wanita tinggi semampai berjalan tergesa ke mesin itu.
Mata semua orang menatap wanita bergaya nyentrik dengan warna senada yakni putih dari ujung rambut sampai sepatu saksama.
PIP!
"Oh! Dia menggunakan barcode di belakang pergelangan tangannya!" pekik Joel seraya menunjuk.
"Sstt, diam. Kita amati," ucap Erik yang membuat Joel mendesis.
"Hai, Bisolva Netri. Selamat datang di Great Ruler. Apa yang kau butuhkan?"
"Dia bilang Great Ruler," ucap Antony dan diangguki semua roh.
"Aku lupa membawa gelang multifungsi. Di mana aku bisa mendapatkannya di Distrik Kota Zalama?" tanya wanita cantik itu tetap terlihat tenang.
Tiba-tiba saja, muncul sinar dari lantai seperti kaca tebal berwarna putih yang dipijak oleh Netri. Cahaya warna biru itu menunjukkan arah ke lokasi di mana ia bisa mendapatkan benda yang dicarinya. Netri berterima kasih lalu mengikuti garis cahaya tersebut yang bergerak lurus dan terkadang berbelok.
"Hebat sekali! Dia tak mungkin tersesat!" pekik Erik dengan mata membulat penuh.
"Ada garis cahaya lainnya! Lihat! Yang itu berwarna kuning!" pekik Axton terlihat begitu kagum termasuk para roh lainnya.
"Sial. Siapa yang menciptakan ide ini? Kenapa tak diterapkan saat zaman kita dulu? Menyebalkan," gerutu Joel tampak iri.
__ADS_1
Para roh lainnya tersenyum. Mereka ikut dibuat kagum karena bentuk arsitektur gedung-gedung dan gaya busana orang-orang di distrik tersebut cukup unik. Kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian berwarna putih. Orang-orang lanjut usia menggunakan kursi melayang didampingi oleh robot atau sanak saudara saat berjalan menyusuri kota tersebut.
"Oh! Dia mengenakan jam tangan seperti yang diberikan Pedro si nahkoda. Sayang sekali, aku kehilangannya. Kita juga sudah tak berada di Lumia lagi," ujar Vesper dengan wajah cemberut.
Para roh itu melihat Netri mendapatkan jam tangan dari sebuah mesin berbentuk bulat berwarna silver dengan layar sentuh di salah satu sisi. Terdapat sebuah lubang untuk memasukkan tangan agar dipakaikan jam tangan multifungsi secara otomatis.
"Kita fokus saja dengan keadaan sekarang. Sejauh ini, kita tak melakukan kesalahan. Aku hanya menyesal karena belum bisa keluar dari raga mayat selagi ada kesempatan untuk mencoba. Menyebalkan, saat sudah menjadi roh penyesalan masih saja datang," gerutu Erik yang membuat Vesper tersenyum.
"Setidaknya, lihat sisi positifnya, Erik. Kita masih diizinkan untuk bertemu dan melihat masa depan. Aku bahkan tak pernah menyangka akan dibangkitkan lagi dan bertemu kalian setelah kematian. Aku pikir setelah nyawaku direnggut, semuanya telah berakhir," ucap Vesper menyemangati.
Tiba-tiba, Axton mendekat dan memeluk Vesper dengan senyuman. Sontak, hal itu membuat Joel dan Erik marah besar. Vesper tertawa terbahak ketika sang Casanova dipukuli dengan brutal usai pelukannya dilepaskan paksa.
"Sudah kubilang jangan wajahku!" teriak Axton marah yang kini melakukan serangan balasan.
Antony memilih untuk melihat sekitar. Ia kehilangan jejak wanita tadi karena pertengkaran tiga sahabatnya. Hingga mata keturunan Boleslav itu terkunci pada sebuah mobil yang terlihat lain tampak futuristik dan mewah. Vesper yang melihat arah mata Antony ikut mengamati mobil tanpa roda yang melayang di atas jalanan aspal. Siapa yang berada di dalamnya belum menampakkan diri, tetapi orang-orang seperti sudah tahu. Mereka terlihat kagum lalu mendekati tepian trotoar seperti ingin melihat lebih dekat.
"Kau lihat itu, Vesper?" tanya Antony melirik wanita berwajah Asia di sampingnya.
"Hentikan! Lihat orang-orang itu. Mereka mau ke mana?" pekik Erik seraya mendorong dada dua kawannya lalu terbang mendekati Vesper dan Antony.
"Untung saja pakaian roh ini tak bisa robek. Aku seperti roh suci karena berpakaian putih tertutup," ujar Axton seraya melakukan senam wajah karena khawatir ketampanannya berkurang.
Joel diam tak berkomentar dan bergabung bersama kumpulan manusia yang kini berdiri di tepi trotoar dengan rapi.
"Lihat! Itu Tuan Matteo Corza. Dia masih tampan meski sudah tua," ucap seorang wanita saat melihat mantan Presiden Great Ruler yang didampingi dua robot di sekitarnya.
"Halo, halo, semua," sapa pria beruban itu dengan senyuman lalu duduk di kursi melayang seperti yang Vesper lihat di sebuah kantor.
Vesper menatap pria tua yang masih terlihat tampan dengan kumis tipis dan jenggot sedang menyalami beberapa orang. Akan tetapi, gaya berpakaian pria itu seperti di zamannya. Sangat berbeda dengan penampilan orang-orang di sekitar layaknya supermodel yang futuristik.
__ADS_1
"Kudengar dia sempat menjalani hypersleep bersama dengan Nyonya Sandra Salvarian ketika putri mereka dididik untuk menjadi calon presiden pengganti," ucap seorang warga berbisik. Vesper berkerut kening.
"Ya. Jabatan presiden sempat kosong 1 tahun karena Nyonya Sandra dan Tuan Corza dikabarkan sakit. Saat itulah keputusan darurat diberlakukan untuk menggantikan beliau," sahut seorang pria.
"Terberkatilah karena mereka berdua telah pulih. Kudengar Tuan Corza dan Nyonya Sandra mulai beraktivitas dengan mendatangi tiap distrik. Beruntung sekali Tuan Corza kemari," ucap seorang wanita tersipu malu saat Matteo Corza melambaikan tangan padanya dengan senyuman.
"Entah bagaimana memanggilnya, tetapi aku lebih menyukai nama Colosseum Blue," ucap seorang wanita yang tampak begitu mengagumi sosok mantan Jenderal Great Ruler tersebut.
"Hentikan kalian berdua. Jangan sampai membuat malu. Kamera pengawas merekam kejadian saat ini," ucap seorang pria dengan rambut warna ungu terang.
Orang-orang yang baru menyadari hal tersebut tersipu malu. Perlahan, kumpulan itu membubarkan diri setelah pria yang ternyata memiliki dua nama tersebut memasuki sebuah gedung besar diikuti dua robotnya.
"Ikuti pria itu," titah Vesper terlihat serius.
"Kau mengenalnya?" tanya Erik curiga.
"Tidak. Namun, aku punya firasat tentang lelaki itu. Dia terkenal dan sepertinya memiliki sejarah dengan masa lalu. Mungkin dia bisa memberikan kita petunjuk selagi menjalankan tugas dari sang Kematian," jawab Vesper tegas lalu terbang melayang.
"Oke. Aku percaya insting ularmu," jawab Axton santai lalu mengikuti.
Namun, Erik dan Joel seperti satu pemikiran. Wajah keduanya begitu serius.
"Kurasa itu hanya akal-akalan Vesper saja. Aku bisa melihat dari caranya mengamati pria itu. Dia pasti menyukainya. Dasar mata keranjang," gerutu Joel.
"Hem. Aku sepemikiran," sahut Erik dengan anggukan.
"Jangan lupa mengenai nikmat dunia yang dihapuskan," celetuk Antony tiba-tiba yang terbang melewati di antara dua lelaki itu.
Sontak, Erik dan Joel baru menyadari hal tersebut. Mereka malu, tetapi enggan mengakui. Satu-satunya jalan dengan mengikuti Vesper yang kini memasuki sebuah gedung besar di mana pria bernama Matteo Corza berada di sana.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE