
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Tentu saja, sikap Hashirama dalam membuat sebuah keputusan, menjadikan empat mafia muda di depannya gugup seketika. Joel bisa merasakan kekuatan besar dalam diri Hashirama. Beruntung, dekapan kuat mantan ketua perkumpulan mafia itu terlepas karena hanya bertahan selama 5 detik.
"Hah, uhuk! Sial," gerutu Joel yang roboh dalam posisi bersimpuh seraya memegangi lehernya yang sakit, tetapi perlahan pulih. Akan tetapi, "Argh!"
"Joel!" panggil Erik panik karena Hashirama tak berhenti melakukan penyiksaannya.
Antony dan lainnya tegang melihat Hashirama kini menjambak rambut Joel hingga pria Filipina itu mendongakkan kepala. Setiap lima detik berakhir, Hashirama melanjutkan penyiksaannya. Seolah, Joel mendapatkan sebuah hukuman tanpa tahu kesalahannya.
"Hentikan! Apa maumu!" teriak Joel marah saat tangannya ditarik ke belakang seperti ingin dipatahkan.
"Responmu lambat. Setelah kusiksa beberapa kali, kau baru menanyakan apa keinginanku. Namun, aku jadi tahu kau pria seperti apa, Ramos," ujar Hashirama seraya melepaskan cengkraman. Pria berwajah dingin itu terbang mundur dengan dua tangan berada di belakang pinggang.
"Kau tak tahu apapun tentangku, Brengsekk!" teriak Joel marah langsung berdiri di mana sedari tadi ia bersimpuh karena terus disiksa.
"Tempramental, egois, sombong dan ... tak kenal takut. Sikapmu seperti mafia rendahan. Kau mungkin kaya, tetapi didapatkan dengan kekerasan, bukan dari otak cerdasmu."
"Hahahahaha! Hahahaha! Anda 1000% tepat, Tuan Hashirama! Oh, kau sungguh hebat!" puji Axton bertepuk tangan.
Wajah dingin Hashirama kini beralih ke sang Casanova. Axton pucat dan diam seketika.
"Kau banyak bicara, pembual dan bodoh. Namun, kau pantang menyerah. Kau mudah bergaul dan membaur. Sepertinya ... kau seorang perayu ulung, Giamoco," ujar Hashirama menilai.
Erik menahan senyum, begitu pula Antony. Dua pria itu memilih diam tak berkomentar. Sedang Axton, memasang wajah masam. Baginya, nilai jeleknya lebih banyak ketimbang pujian.
"Oh!" kejut Erik karena ia didatangi.
Keturunan Benedict itu tampak tegang karena ditatap lekat sang mertua.
"Hem, kau terlihat seperti pria baik-baik. Tak kurasakan ambisi dalam dirimu," ucap Hashirama yang mengejutkan roh lainnya.
__ADS_1
Erik tersenyum. "Putrimu mengajarkan banyak hal padaku, Tuan. Jika Anda tak mengenal Vesper, bagaimana dengan Liana dan keluarga Herlambang?"
Praktis, penuturan Erik membuat mata Hashirama melebar seketika. Erik terlihat gugup saat lengannya dipegangi kuat oleh Hashirama. Erik bisa merasakan jika pria di depannya sangat ingin tahu tentang putrinya.
"Akan saya ceritakan. Sebaiknya, kita cari tempat bagus. Anda setuju?" tawar Erik.
Hashirama mengangguk mantap. Antony dan lainnya terlihat lega. Joel yang tak tahu banyak tentang Vesper karena ia hanya terobsesi padanya memilih diam mendengarkan. Hashirama mengajak kumpulan roh itu ke sebuah tempat, keluar dari kawasan pemukiman suram.
Tak ada yang dibicarakan hingga mereka tiba di suatu wilayah dengan pemandangan indah ketika matahari siap beranjak pergi. Hujan telah reda meski meninggalkan genangan di beberapa tempat. Erik dan roh lainnya melayang di tepi sebuah danau dengan senyuman. Hashirama menatap Erik lekat seperti mencari tahu kebohongan dalam tiap ceritanya.
"Kau sungguh mengenal putriku," ucap Hashirama saat Erik menceritakan kisah hidup Vesper sampai ajal menjemputnya.
"Ya, begitulah, Tuan. Dia ... sangat hebat. Aku tak pernah bertemu wanita sepertinya. Tangguh, garang, dan kuat. Namun, ia juga sangat menyayangi keluarganya," ucap Erik.
"Vesper banyak berubah sejak kematianmu, Erik. Susah untuk dijelaskan, tetapi ... ia menjadi lebih bijak tak bar-bar seperti dulu. Ia bahkan membongkar rahasia kelompok 13 Demon Heads. Panjang jika kuceritakan," ujar Axton seraya memandangi hamparan luapan air di depan.
"Woah! Se-sejak kapan kau di sini? Ma-maksudku ... Tuan Hashirama," ucap Axton sampai tergagap karena pergerakan Hashirama sangat cepat seperti ninja.
"Ceritakan yang kau tahu saja. Aku juga mau dengar," pinta Joel yang diangguki Erik.
"Baiklah. Kalian tipe pemaksa dan tak bisa ditolak. Hem, sebaiknya dari mana, ya?" ucap Axton dengan kening berkerut seraya menggaruk dagunya dengan jari.
"Intinya, Vesper sangat berkuasa, Tuan Hashirama. Ia memiliki pabrik senjata bernama Vesper Industries dan menjadi pesaing terberat perusahaanku. Dia sangat kaya dan memiliki banyak pasangan selama hidupnya. Joel dan Erik adalah mantan suaminya. Masih ada tiga lagi, mereka Kai, Han dan Satria," ucap Antony santai, tetapi membuat mata Hashirama melebar. Axton menahan senyum.
"Lanjutkan," pinta Hashirama terlihat canggung.
"Vesper memiliki pasukan bernama Black Armys berjumlah kurang lebih 8000 orang. Mereka direkrut dari orang-orang di seluruh dunia yang dianggap sampah oleh masyarakat. Ia juga menjadi ketua 13 Demon Heads sampai akhir hidupnya. Putri Anda mampu mengumpulkan banyak orang-orang hebat untuk menjadi sekutunya dan menguak tentang kelompok The Circle," sambung Boleslav yang membuat Axton cemberut karena sesinya diambil.
"The Circle? Kalian tahu tentang kelompok itu? Tentang Lucifer Flame?" tanya Hashirama.
__ADS_1
"Aku tak tahu," sahut Erik.
"Aku juga tidak. Aku sudah mati sebelum mengetahuinya," timpal Joel.
"Kami berdua tahu," sambung Axton dan diangguki Boleslav. "Walaupun tak tahu bagaimana hasil akhirnya karena di antara kami berempat, Vesper yang mati paling terakhir. Saat semuanya telah selesai. Ia merampungkan semua, Tuan. Ia menyelesaikan konflik dan menyatukan dua kubu yang selama ini saling bersiteru. Begitulah yang dia ceritakan pada kami saat masih bersama kelompok ini," imbuh sang Casanova tampak hati-hati dalam bersikap.
Hashirama terdiam seperti memikirkan sesuatu dengan serius, tetapi kemudian ia tersenyum. Kening Erik dan lainnya berkerut. Wajah kaku itu akhirnya bisa menorehkan senyuman.
"Aku tak pernah menyangka jika Liana akan menjadi wanita hebat seperti itu meski hidupnya sulit," ucap Hashirama dengan wajah tertunduk. Semua orang terdiam. "Ini salahku. Ini semua karena doaku di hari terakhir sebelum mati."
"Apa maksud Anda, Tuan? Doa apa?" tanya Erik menatap Hashirama lekat.
Pria berambut panjang tergerai itu mengembuskan napas pelan. "Saat aku dalam perjalanan meninggalkan rumah bersama istriku, Jiao Yu, aku bisa merasakan bahaya besar datang dan mengancam nyawa kami berdua. Sekali dalam hidupku aku berdoa. Aku meminta kepada Dewa agar menjadikan putriku wanita yang kuat, cerdas dan memiliki insting kuat melebihi diriku. Namun, dibalik kegilaannya nanti dalam menghadapi kejamnya dunia, aku memohon agar cinta kasih Jiao Yu juga melekat dalam dirinya. Bagaimanapun, Liana adalah seorang wanita yang akan menjadi ibu dan contoh bagi anak-anaknya. Tak kusangka Dewa mengabulkan doaku. Sayangnya, aku terlalu banyak meminta dan itu menjadikan beban bagi putriku dalam menjalani kehidupan dengan sedikit kebahagiaan," ucap Hashirama terlihat sedih.
Erik terdiam berikut roh lainnya. Mereka tak tahu harus menanggapi apa tentang hal ini. Axton meringis karena ia saja tak mengerti bagaimana rasanya menjadi ayah dan suami untuk keluarga. Erik sendiri tak tahu bagaimana rasanya mendidik anak karena kematian datang merenggut kesempatannya. Joel, hanya bisa memandangi rerumputan karena ia tak memahami apa arti keluarga. Selama ini yang dipikirkannya hanyalah menjadi penguasa. Antony memberanikan diri mendekat sosok pria bertubuh tinggi itu. Hashirama menoleh dan menatap keturunan Boleslav lekat.
"Aku merasakan bagaimana menjadi penguasa seperti Anda. Seorang pemimpin, seorang ayah dan seorang suami. Berat, tetapi ... mereka tahu jika yang kulakukan di balik sikap kasarku adalah untuk melindungi orang-orang terkasih. Aku tak pandai berkata-kata, Tuan Hashirama. Namun, aku yakin jika Vesper bisa memahami hal ini dan tak menyalahkanmu. Meskipun hidupnya menderita, tetapi ia bahagia. Putrimu ... dia sering tersenyum, meski terkadang senyumannya membawa kematian bagi seseorang," ujar Boleslav yang membuat semua roh terkekeh pelan.
"Terima kasih. Kalian semua tak terlalu buruk untuk beberapa hal, tetapi ... payah. Entah bagaimana penerusku di generasi kedua mengajarkan atau memilih para mafia pengganti. Namun, kalian sungguh menyedihkan," ujar Hashirama yang membuat empat roh di sekitarnya tertohok.
"Okey, Ayah mertua. Kami sudah melihat aksimu dan sepertinya kau ingin mengajarkan sesuatu pada kami. Langsung saja. Apa maumu?" tanya Joel yang membuat Axton melotot padanya karena dianggap tak sopan berbicara dengan sang mertua.
Hashirama tersenyum miring. "Aku suka gayamu, Ramos. Tampaknya putriku sangat menderita saat hidup bersamamu. Namun, aku senang karena kau mati lebih dulu darinya," ucap Hashirama yang membuat Axton tertawa terbahak.
"Rasakan itu, Ramos! Di sini ada yang ucapannya lebih pedas ketimbang bibir berbisamu! Hahahaha!" tawa Axton menggelegar.
"Baiklah, kami paham. Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang, Ayah?" tanya Erik mendekat.
"Berburu," jawab Hashirama yang membuat senyum empat roh lainnya terkembang.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE