TUGAS DARI NERAKA

TUGAS DARI NERAKA
Bumi Kacau*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Vesper dan kelompoknya terbang dengan fokus melintasi beberapa wilayah. Mereka merasa jika dunia benar-benar telah berubah. Ternyata, tak semua tempat tampak asri dengan ciri khas keelokan suatu distrik seperti yang dilihat sebelumnya. Banyak tempat yang rusak dengan beberapa tulisan peringatan jika wilayah tersebut berbahaya karena mengandung radiasi nuklir, asap beracun, dan limbah berbahaya. Vesper dan anggotanya miris menyaksikan Bumi yang sakit karena peperangan masa lalu.


"Gila! Apa yang para manusia bodoh itu lakukan hingga dunia jadi kacau seperti ini?" tanya Axton bergidik ngeri melihat sebuah kota besar rusak parah dan telah ditinggalkan penduduknya.


"Aku merasa beruntung mati lebih dulu meski harus disiksa cukup lama," sahut Joel dengan wajah tegang dan mata memindai sekitar seraya terbang di langit sebuah kota yang hancur.



Langit berkabut menutup keindahan bulan yang mulai bersinar terang ditemani bintang. Para roh itu merasa miris melihat dunia sudah tak seindah dulu lagi. Banyak wilayah yang tak berpopulasi. Jumlah bintang yang ditemukan pun hanya segelintir. Seolah, kiamat telah menelan Bumi dan hanya menyisakan peradaban serta manusia yang mampu bertahan saja.


"Aku tak bisa membayangkan bagaimana sulitnya kehidupan anak cucu kita di zaman ini dan sebelumnya. Kita harus tahu dengan jelas mengenai perang besar yang dikatakan Alva dan sejarah, Vesper," ujar Boleslav dengan wajah serius dan diangguki wanita cantik itu.


"Entah kenapa aku merasa jika Alva sepertinya sengaja membuat kita melewati daerah-daerah ini," sahut Erik.


Para roh juga berpikir demikian. Mereka menduga jika sang Presiden Dunia memiliki maksud tersembunyi dalam misi terselubungnya.


"Aku cukup yakin jika Alva bisa berbahasa Indonesia. Nama robot itu adalah bahasa dari negaraku. Terlebih ia bilang kakeknya bernama Morlan tinggal di Indonesia. Aku jadi semakin yakin jika keluarga Alva dulunya memiliki garis keturunan dari Indonesia, tetapi tak tahu siapa," ucap Vesper serius yang terbang di belakang Embun.


"Gadis sialan itu sepertinya ingin mempermainkan kita. Jangan mau kembali lagi ke sana. Aku yakin setibanya di Indonesia, kita akan mendapatkan banyak petunjuk," gerutu Joel, tetapi kali ini para roh sependapat.


Lama mereka terbang melintasi wilayah-wilayah mati yang ditinggalkan. Beruntung, para roh tersebut tak memiliki lelah sehingga sangat mampu untuk terus terbang tanpa henti. Siapa sangka, jika kemampuan Embun juga tak bisa diremehkan karena kapasitas baterai penyimpan energinya cukup besar. Hingga akhirnya, robot kiriman Alva dan para roh menyeberangi lautan. Sinar matahari mulai menerobos gumpalan awan gelap layaknya mendung. Namun, pemandangan mengejutkan kembali didapati oleh mata para roh itu.



"Apakah kota itu tenggelam ke dasar laut? Gila!" pekik Axton saat melihat beberapa gedung tertelan dalam luapan air laut.


Saat para roh kembali dibuat kaget, Embun tiba-tiba mengeluarkan suara peringatan. Kening para roh berkerut ketika robot tersebut mendatangi sebuah bangunan rusak yang berada di tengah laut lalu mendarat di atasnya.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Joel bingung.


PIP! PIP!


"Pengisian energi matahari dimulai. Lama waktu 15 menit," ucap Embun yang membuat para roh tertegun.

__ADS_1


"Ah, dia habis baterai. Heh, kau tak sehebat kami, robot jelek," ejek Joel yang membuat roh lainnya langsung berwajah malas.


"Ngomong-ngomong, kita di mana?" tanya Erik bingung seraya melihat sekitar.


"Entahlah. Ingin menyusuri sekitar?" ajak Axton.


"Sebaiknya jangan, nanti kau tertinggal dan tersesat seperti Axton dan Antony," sindir Vesper.


"Hei!" teriak dua lelaki yang tersindir itu.


Saat Vesper dan Erik menertawai keduanya, Joel tiba-tiba terbang melayang mendekati sebuah gedung tertinggi dan masuk ke dalam di lantai teratas.


"Hei, Ramos! Kau tak dengar peringatan Vesper?" teriak Axton karena pria itu malah menjauh dari kelompok. Antony dan lainnya geleng-geleng kepala. Saat Axton berniat untuk menjemputnya, Joel kembali muncul dari balik dinding dengan wajah tegang seraya memegangi kepala. "Tak usah berlagak. Roh tak merasakan sakit kepala," sindir Axton.


"Diam, bodoh. Kau pasti tak menyangka kita ada di mana bukan?" ucap Joel terlihat gugup.


Axton berkerut kening lalu melirik kawan-kawan rohnya.


"Di mana?" tanya Erik seraya terbang mendekat.


Joel seperti orang terguncang. Vesper langsung mendekati mantan suaminya dan memeluk Joel erat. Entah apa yang dirasakan pria berkebangsaan campuran Rusia-Filipina itu, tetapi ia seperti akan menangis.


"Kita harus ke Red Mansion!" pintanya tegas.


"Tidak bisa, Joel! Tujuan kita Indonesia!" pekik Vesper saat melepaskan pelukan sebelum raganya menembus. Namun, Joel menggelengkan kepala.


"Ini rumahku! Aku harus tahu yang terjadi dengan Red Mansion berikut hal-hal terakhir yang kuingat!" teriaknya marah.


Vesper bisa memahami hal tersebut, tetapi rute yang sudah disetel pada Embun tak bisa dirubah karena mereka tak bisa menyentuh robot tersebut.


"Joel, jangan egois," tegur Erik.


"Kalian yang egois! Aku akan tetap ke Red Mansion, dengan atau tidak bersama kalian. Keputusanku bulat!" pekik Joel yang membuat tiga roh pria kehilangan kesabaran.


Vesper memejamkan mata sejenak. Ia yang sudah paham watak Joel tahu jika mantan suaminya itu bersikeras.

__ADS_1


"Oke, begini saja. Aku tahu rute menuju Indonesia. Hanya saja, Morlan. Aku tak tahu di mana rumahnya," ucap Vesper mencoba berpikir cepat karena energi Embun hampir terisi penuh.


Saat para roh itu dibuat bingung, dan Vesper meminta Joel untuk sedikit bersabar menunggu, tiba-tiba hologram kembali muncul dari atas kepala robot berbentuk seperti tetasan air itu. Antony langsung mendekat untuk melihat lebih rinci.


"Halo. Ini bukan rekaman, tetapi memang aku yang bicara saat ini. Kalian pasti sedang singgah di suatu tempat yang dulunya bernama Filipina. Aku membaca semua catatan kalian di masa lalu. Latar belakang, keluarga, rekam medis, tindak kejahatan yang dilakukan dan semuanya," ucap Alva yang membuat Joel langsung mendatangi Embun cepat dan menghajar wajah Alva. Namun, para roh tahu jika hal tersebut sia-sia.


"Biarkan dia bicara, Joel. Tenanglah. Kau tahu emosimu tak ada gunanya," ujar Vesper menasihati, tetapi Joel terus berteriak dan mengumpat meluapkan emosi.


"Sabar, sabar," ucap Axton seraya mengelus dada di mana ia tak pernah meminta dirinya bersabar selama hidup.


"Aku cukup yakin jika di antara kalian pasti berpikir kalau aku mempermainkan. Sungguh, tak ada niatan bagiku untuk melakukannya. Yang kutunjukkan adalah kenyataan zaman yang sedang kalian datangi saat ini," sambungnya yang membuat para roh berwajah kesal.


"Aku tahu kau bohong, Alva. Aku bisa melihat dari mata dan ekspresi wajahmu. Kau memang mempermainkan kami dengan membandingkan masa lalu dan masa sekarang. Awas kau," gerutu Vesper yang membuat para roh langsung melirik sang mantan ratu mafia tersebut.


"Kendalikan emosimu, Vesper. Neraka sangat buruk," ucap Axton mengingatkan. Vesper tersenyum.


"Aku sangat yakin jika Joel Ramos pasti ingin mendatangi kediamannya. Sayangnya, rumahmu yang disebut Red Mansion berikut semua aset di Filipina telah tenggelam ke dasar laut. Tim dari TITAN telah menjelajahi negara dan kota-kota yang tenggelam ke dasar laut, salah satunya Filipina. Jadi saranku, tetaplah pada tujuan kalian yakni Indonesia. Itu saja dariku dan ... selamat pagi," ujar Alva dengan senyuman lalu mematikan sambungan.


"Keparatt!"


"Brengsekk!"


"Dasar jalangg!"


"Bajiingan!"


Sontak, Vesper langsung melotot melihat empat roh lelaki di depannya mengumpat sembari menghajar Embun. Vesper sampai mematung karena tak menyangka jika kawan-kawannya menaruh dendam kepada Alva. Vesper berusaha menenangkan diri agar tak ikut tersulut emosi.


"Hei, sudah hentikan! Sia-sia!" teriak Vesper kembali menasihati.


"Berani-beraninya gadis sialan itu memerintah kita, Vesper! Tak dimaafkan!" teriak Joel kesal seraya menunjuk Embun yang kembali merentangkan tangan sayapnya untuk terbang.


"Aku tahu, aku tahu. Kita selesaikan misi, lalu setelahnya, kita hajar dia," ujar Vesper dan diangguki para roh lelaki dengan mantap.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2