
tidak terasa kini waktu terus berlalu maira dan Ikhsan sudah kembali ke Kairo, melakukan perjalanan yg sangat panjang. ketika sampai maira membuka plastik yg menutupi seluruh ruangan agar tidak berdebu, setelah itu langsung tidur karna mereka sampai tengah malam.
" mas.. peluk.. " pinta ku dan Ikhsan memeluk ku " mas.. kalok maira meninggal, apa yg akan mas lakukan? " tanya ku di dalam pelukannya.
Ikhsan terkejut mendengar pertanyaan itu,
" mas akan tetap setia hingga kita bertemu di alam keabadian, udah jangan pikir seperti itu, mas sedih nanti " jawab Ikhsan mempererat pelukannya " sayang.. nggak tau kenapa.. pengen.. "
...pagi hari....
maira sedang memasak tapi ketika ia mengambil pisau, tangannya mati rasa, maira yg tau apa yg sebenarnya terjadi padanya hanya bisa menghapus air matanya saja lalu memasang menggunakan tangan kiri dengan perlahan lahan.
" apa semakin bertambah? " batin maira sangat sedih.
ketika Ikhsan sedang makan dengan santai, ia melihat maira tidak menyentuh makanannya sama sekali.
" kenapa nggak di makan yang? " tanya Ikhsan dengan lembut.
" suapin.. " pinta ku dengan manja.
Ikhsan tersenyum dan menyuapi maira makan. ketika Ikhsan ingin pergi, maira ingin menyalami nya tapi tangannya mati rasa.
" ayang kenapa? " tanya Ikhsan heran dengan sikap maira.
" tangannya kesemutan " ucap ku dan Ikhsan langsung memeluk dan mencium kening ku dengan lembut.
" mas pergi dulu ya.. hari ini mas lembur kerja, kemungkinan besok baru pulang? apa nggak papa? " tanya Ikhsan
" nggak papa kok mas, " jawab ku sambil tersenyum.
akhirnya Ikhsan pergi, maira langsung ke sofa yg mengambil minyak zaitun, memijit pelan tangannya. tak lama kemudian suara bel berbunyi, itu paket yg maira krim dari Indonesia ke Kairo, setelah mengambilnya maira langsung membukanya.
meminum 10 buah pil obat dan 1 suntikan di tangannya. maira mengunci seluruh pintu dan pergi ke kamar.
__ADS_1
" ini kalok nggak besok pagi bangun, pasti nanti malam " batin ku tidak tahan dengan efek samping obat yg sangat kuat.
maira tertidur dengan baju yg masih lengkap dan mengunakan jilbabnya. Tampa sadar waktu terus berlalu tapi dia tidak bangun juga.
...keesokan harinya....
kini mereka sedang di kampus bersiap siap untuk pulang ke apartemen.
" eh dalil, ku dengar kau ngelamar anak orang? " tanya Eza penasaran.
" iya.. tapi yg ku lamar itu bilang, dia menunggu ayah nya pulang dari bertugas, baru kami bisa melakukan lamaran nya, ayah nya wakil jendral, lemas aku ketika mendengarnya " jawab dalil belum memberitahukan siapa wanita yg ingin ia lamar bahkan Ikhsan pun tidak mengetahuinya.
" kau ini lah, emak ku tu tau aja kau ngelamar anak orang, jadi emak ku selalu mendesak ku untuk menikah.. ' Eza.. Mak ingin punya cucu, lihat Abang mu, anak nya udah 3 kau kapan.. '" curhat Eza menirukan suara emak nya itu.
" gw dulu pas curhat sama kakak bilang kalok aku mau nikah, paginya dia bikin brosur pencarian calon istri, mana Abi juga bekerja sama lagi." ujar Ikhsan.
" kau juga nggak pernah bikin Vidio bagaimana kau bisa ngelamar maira, kan semuanya masih misteri, ada kabar beredar kalok maira ikut brosur tu ada yg bilang kalian pacaran dan masih banyak lagi lah "
Ikhsan berjalan kekamar dan ternyata maira sedang tertidur, Ikhsan membersihkan rumah dan membiarkan cahaya masuk, setelah itu dia juga kembali kekamar berbaring di samping maira dan ikut tertidur di sampingnya.
ketika sore hari, maira terbangun dan melihat tas Ikhsan, maira panik dan langsung kedapur tapi ketika dia berjalan, sebelah kanan kakinya mati rasa hingga tidak bisa digerakkan membuat maira terjatuh dan tersungkur sehingga keningnya berdarah.
" astagfirullahhal'azim.. ayang nggak papa, ada yg terluka? kening nya berdarah, mas ambil kotak obat dulu " panik Ikhsan menggendong maira kembali ke kasur dan dia mengambil kotak obat.
Ikhsan mengobati istri kecilnya itu dengan pelan, maira melihat kasih sayang yg Ikhsan berikan padanya begitu besar, maira begitu sedih hingga air matanya mengalir.
" ayang.. ayang kok nangis? tadi kok bisa jatuh sih? " tanya Ikhsan menghapus air mata maira.
maira menggelengkan kepalanya lalu memeluk Ikhsan, hatinya begitu sakit rasanya tercabik cabik hingga hancur. dari sore hingga malam hari maira terus di kamar, Ikhsan heran dengan sikap istri yg murung seharian.
maira merasakan kalok dia butuh kamar mandi, maira berjalan pelan tapi tetap terjatuh, dia sudah begitu mual hingga memuntahkan semua yg ia makan. Ikhsan mengambil kain kotor dan membersihkan nya.
" maira sakit? mau kedokteran? " tanya Ikhsan dengan lembut.
__ADS_1
" kamar mandi mas " pinta ku dengan lemas dan masih mual mual.
Ikhsan menggendong maira menuju kamar mandi, Ikhsan menemani maira di kamar mandi hingga selesai. setelah selesai Ikhsan mencoba menuntun maira berjalan, kaki kiri maira bisa di gerakan tapi tidak dengan kaki kanannya.
".ayang sakit apa? mau ke dokter buat periksa? " tanya Ikhsan dengan lembut.
" kakinya nggak bisa digerakkan? mati rasa " jawab maira sambil menangis memegangi kaki nya.
" besok pagi kita kerumah sakit untuk periksa, kalok besok pagi juga masih dalam kondisi yg sama, kemungkinan siang " ujar Ikhsan.
...rumah sakit....
maira hanya melakukan beberapa tes fisik saja. setelah itu mereka berdua duduk di depan dokter.
" ini bisa di bilang lumpuh, kemungkinan permanen, seandainya ibu maira melakukan tes lebih dalam, kita bisa tau dan mengobati dengan tepat " ujar dokter itu.
" tidak perlu, " ujar ku dengan berbahasa Arab.
" ayang.. Ki.. "
" mas.. maira nggak mau, maira mohon faham lah? " ucap ku dan Ikhsan hanya bisa bersabar.
maira duduk di atas kursi roda yg di dorong oleh Ikhsan, maira hanya bisa termenung hingga dia sampai di rumah. maira mengabari orang tua nya tentang kondisi nya, setelah selesai berbicara telpon di matikan.
" mas.. apa mas nggak malu punya istri di kursi roda? " tanya ku sambil menunduk.
" kenapa mas harus malu, ayang kan istri mas.. apapun kondisinya tetap saja tidak akan ada yg berubah, oiya kulkas kita kosong, mas mau belanja dulu, dan.. ayang mau buat konten apa hari ini? " tanya Ikhsan.
" maira mau buat konten belanja sih ini hari.. tapi yg pegang kamera siapa? " tanya ku sedih.
" dalil, Eza, kalok di kasi duit mereka pasti mau, dan.. mas akan berhenti bekerja untuk merawat maira di sini, jangan khawatir tentang uang belanja " jawab Ikhsan.
Ikhsan memiliki banyak cabang restoran di sini, bahkan restoran ia bekerja itu adalah restorannya tapi setiap karyawan tidak ada yg tau.
__ADS_1