
di pagi hari maira selalu di balkon memandangi kota Kairo yg ia tempati itu, sambil mengelus perut nya dan meminum susu hamil serta memakan beberapa biskuit cokelat kesukaannya.
Tampa sada maira tertidur di balkon, Ikhsan yg baru pulang melihat itu hanya geleng geleng kepala melihat kebiasaan maira. kini Ikhsan juga harus menerima kenyataan bahwa kedua kaki maira tidak bisa di gerakan sama sekali.
setiap jam 11 maira selalu tertidur hingga Zuhur tiba. Ikhsan sedang di ruang keluarga menghapal hapalannya. seketika hp maira yg ada di sana berdering dan muncul nama BG Asep. Ikhsan mengangkat telponnya.
" maira!! apa kau gila, ku dengar kau hamil dan kandungan mu sudah memasuki tiga bulan, maira!! apa kau lupa dengan penyakit mu, kalok kau melahirkan kau bisa mati karna hemofilia mu, kalau kau sampai melahirkan kau bisa kehabisan darah maira.. " ujar Abang Asep itu karena dia seorang dokter.
Ikhsan mendengar nama penyakit itu langsung mencarinya di google,
" sudah lah maira.. aku tau kau itu nggak bisa di kasi nasehat, maira.. sudah kubilang jangan hamil jangan hamil, tapi ketika aku mendengar kau tidak bisa hamil aku sedikit bersyukur karna kau bisa menghabiskan waktu sisa umur mu bersama suami mu, oiya... boleh kok lakukan kemoterapi kangker, karna kau sedang hamil itu tidak akan membahayakan si bayi " ujar bang asep
" apa maksudmu, kangker, maira mempunyai penyakit kangker? " tanya Ikhsan membuat bang asep terkejut.
" maaf salah orang "
" tunggu, ku mohon, jawab pertanyaan ku, apa maira mempunyai penyakit kangker? apa ini sungguhan? tolong jujur? selama ini maira tidak pernah menceritakan apapun tenang penyakitnya " ujar panik Ikhsan yg mengetahui kondisi maira.
__ADS_1
" eh, lebih baik aku jujur saja, " batin bang asep. " iya.. begitulah, maira memiliki penyakit hemofilia tahab akhir, ini benar benar sangat berbahaya apabila dia melahirkan karna ketika melahirkan pasti mengeluarkan banyak darah, penyakit ini turun temurun dan ibu maira meninggal karna penyakit ini, " ujar bang asep.
Ikhsan terdiam mendengar nya lalu kembali bertanya " lalu dengan kangker? "
" maira mengalami penyakit kangker otak stadium 4, ini tidak bisa di sembuhkan kecuali sel kangker di dalam kepalanya di keluar kan secara paksa, maira sudah tau dia terkena kangker di usia nya 10 tahun, dan sesuai prediksi umur maira hanya beberapa bulan lagi, karna sel kangker nya sangat ganas " jawab bang asep.
" maaf kan aku bro, aku bersekongkol dengan maira menyembunyikan penyakit nya, tapi sebelum kau hadir di kehidupannya, keinginan terakhirnya membahagiakan orang tua nya yg kini sudah ia selesai kan, maira ingin jujur tentang penyakitnya pada keluarga tapi kau hadir di kehidupannya membuat dia merahasiakan nya kembali. maira tidak mau jujur dengan ayah nya soal penyakitnya hemofilia nya karna ayah nya pasti akan melarangnya untuk hamil "
Asep menceritakan panjang lebar pada Ikhsan, Asep tidak tahan terus berbohong tentang kondisi maira. ketika panggilan telpon selesai. siang hari mereka makan berdua, maira mengikat rambut panjang nya ke atas lalu makan dengan tenang.
selesai makan maira melanjutkan menonton tv, tiba tiba Ikhsan menunjukan hasil scans yg maira lakukan di umur 14 tahun. maira terkejut melihat gambar itu dan langsung mengambil kertas itu.
" ada seseorang, dia sudah bersuami, sama seperti kita, umur istri nya menikah juga 15 tahun, dia begitu menginginkan seorang anak tapi dia mempunyai kangker otak dan penyakit hemofilia, tapi dia menyembunyikan penyakit nya, mas denger sih, dia hanya ingin membahagiakan suami nya dengan cara menyembunyikannya dan dia sudah tau kalok dia akan meninggal setelah melahirkan, bukan kah sangat miris? " ujar Ikhsan
" iya mas.. kasihan banget ya.. anak dan suaminya pasti akan sedih " ucap maira terbawa suasana.
" maira.. kalok maira nggak jujur maka mas akan diam sampai maira mau jujur tenang penyakit yg maira alami, " ucap Ikhsan lalu meninggalkan maira sendirian.
__ADS_1
" eh, ini punya ku, dari mana dia bisa mendapatkan ini " batin maira melihat namanya. maira mendorong kursi rodanya menuju kamar nya dan melihat Ikhsan sudah duduk di sofa sambil membaca kitab.
" mas.. dari mana mendapatkan ini? " tanya ku dan Ikhsan hanya diam saja.
aku keluar kamar mengambil hp ku di ruang keluarga lalu melihat siapa saja yg sudah menelpon ku ketika aku tidur.
" bang asep.. apa dia menceritakannya semua pada mas? " batin ku ketakutan dan langsung menelpon bang asep " assalamualaikum, bang, bang apa yg kau sudah bicarakan dengan suamiku? " tanya ku.
" maaf kan aku maira, kondisi mu sudah sangat parah, aku sudah jujur dengan suami mu, dia itu menerima mu apa adanya, coba lah jujur maira, suami mu pasti kecewa karna mendengar kebenaran tidak langsung dari istri nya " ucap Asep lalu mematikan telpon.
maira melempar hp nya dengan penuh amarah, mencoba tenang lalu kembali ke kamar dan seolah olah tidak terjadi apapun. maira dan Ikhsan terus sama sama diam tapi Ikhsan juga merawat maira seperti biasanya.
sudah sebulan berlalu, mereka tetap diam dan tidak bicara apapun, maira tidak tahan dengan ini semua, dia merindukan kehangatan Ikhsan bahkan ketika tidur Ikhsan tidak memeluk dan lebih memilih memeluk guling.
kini sudah malam hari maira tau kalok Ikhsan tidak tidur. " mas tau nggak? " tanya maira seolah olah bicara sendiri " kangker stadium 4 yg biasanya hanya berumur 2 tahun setelah dinyatakan benar benar stadium 4 dan sekarang maira sudah hidup lebih dua tahun, tepatnya hari ini, hari di mana 3 tahun maira menderita kangker stadium 4 " ujar maira membuat Ikhsan terdiam.
" maira sudah melakukan yg membuat orang tua bangga, dan saat itu maira berhenti minum obat, sebulan kemudian mas datang di kehidupan maira, maira menerima mas yg datang sebagai seorang suami, demi kebahagiaan suami, maira berusaha untuk hamil, dan anak ini maira Harab bisa menemani mas ketika maira sudah meninggal nanti " tangis maira menceritakan sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
" sisa umur maira hanya sebentar lagi tapi ini semua bukan yg maira harapkan, kasi sayang mas, kehangatan mas, itu udah cukup kok mengisi hari hari terakhir maira, kalok maira jujur dari awal, mas dan ayah pasti akan melarang maira untuk hamil, maira nggak mau itu terjadi, capek tau nggak menahan rasa sakit sendiri " tangis maira.
" rasa sakit yg maira rasakan, selalu di pendam, minum obat sendiri, semuanya sendiri, terkadang mencoba berhenti tapi demi anak ini, maira kembali memakan semua obat itu lagi, maira bukan ketiduran di balkon tapi itu efek obat yg maira minum " tangis maira.