
hari ini hari 7 bulanan maira yg di lakukan di pesantren, satu persatu urutan 7 bulanan di lakukan, ketika sudah malam mereka ke kamar karna terlalu kecapean. maira merasakan sesuatu dan langsung mengambil tangan Ikhsan mengarahkan ke perutnya.
Ikhsan merasakan sebuah tendangan kuat dari sang dedek di dalam,
" kuat banget nendangnya.. apa nggak sakit? " tanya Ikhsan begitu antusias mengelus perut maira.
" hhmm nggak sih cuman geli gitu, akhir-akhir ini memang dia sering bergerak tapi ini pertama kalinya dia menendang.. " jawab maira sambil tersenyum tapi dia juga sedih.
" mas yakin.. kita bisa melewati ini semua, kita berjuang sama sama ya.. " ujar Ikhsan tersenyum meyakinkan maira.
" iya mas.. "
selama di Jakarta mereka berlibur kesana kemari, menikmati hari hari di Indonesia, setelah sebulan lamanya mereka pulang ke Kairo. hari demi hari berlalu, kesehatan maira terus menurun, Ikhsan selalu menemani maira dan tetap berada di sisinya walaupun tugas kuliah nya banyak dan setiap pagi dari jam 8 sampai jam zhuhur dia harus kuliah.
" kita tidak bisa menunggu lagi, lebih baik kita melakukan operasi pengangkatan kangker secepatnya sebelum usia kandungan 9 bulan, karna ketika usia kandungan 9 bulan sang ibu harus istirahat, menyiapkan tenaga yg besar untuk persalinan " ujar dokter di depan Ikhsan dan maira.
Ikhsan menatap maira berharap kali ini dia mau di operasi, sudah berbulan bulan Ikhsan dan keluarga membujuk maira untuk operasi tapi maira tetap bersikeras untuk tidak mau di operasi. dokter keluar dari ruangan, maira dengan santai memakan cilok yg di masak oleh Ikhsan.
" umma, kali ini mas nggak mau ada kata penolakan, kita harus lakukan operasi " tegas Ikhsan pada maira membuat maira sedikit takut.
" mas tapi.. "
" nggak ada tapi tapi lagi, mas udah capek umma, dari usia kandungan 4 bulan dan sekarang ini sudah hampir masuk 9 bulan, mas mau operasi, nggak ada kata penolakan sama sekali " tegas Ikhsan membuat maira menghentikan makannya.
" mas jangan marah... " tangis maira membuat Ikhsan terkejut, ternyata ketegasannya di mata maira adalah sebuah amarah.
" maira mas nggak marah, tapi mas mau yg terbaik untuk maira dan untuk anak kita " ucap Ikhsan memeluk maira dan terasa tendangan dari sang jagoan yg membuat umma nya marah itu " maira mau operasi kan? " bujuk Ikhsan dan akhirnya maira menurutinya.
lusa akan di operasi, maira begitu takut tapi Ikhsan mencoba meyakinkan nya. akhirnya hari operasi akan tiba jam 8 pagi hingga jam 3 siang.
__ADS_1
" baba.. yg mau di operasi siapa sih, kok baba yg nangis? " tanya maira heran sambil memvidiokan suaminya itu yg sedang menangis, menghapus air matanya dengan tisu.
" mas nggak tau kenapa, ini air mata keluar di sendiri " jawab Ikhsan lalu memeluk maira yg sudah memakai baju operasi.
sebelum operasi, Vidio call dengan keluarga untuk meminta doa agar proses operasi selamat. ayah sedang pergi ke Kalimantan selama 3minggu kedepan dan bunda juga pergi ke Singapure selama 3 bulan kedepan. di rumah sakit sudah ada Abi, kak Aisyah dan Alif lalu mama dan papa juga menunggu di depan ruang operasi.
tak lama kemudian Ikbal dan Akbar datang bersama dengan Ikhsan karna mereka baru saja sampai di rumah sakit. berjam jam kemudian operasi selesai dan langsung di bawa ke ruang ICU karna maira di kabarkan sedang koma, keluarga harus masuk bergantian.
" sayang... cepat sadar ya.. " ujar Ikhsan menghapus air matanya,
maira yg di pakaikan jilbab karna permintaan Ikhsan, kini berjuang untuk terus bertahan hidup.
*******
siang hari berita baik datang, maira sudah dipindahkan keruangan yg berbeda karna kondisi drastis membaik, di sana hanya ada Ikhsan dan maira, keluarga sedang pulang ke apartemen untuk bersih bersih.
" mas nikah lagi ya.. " bujuk maira tiba tiba membuat Ikhsan terkejut.
" mas, harus nikah lagi! "
" mas nggak mau maira " tegas Ikhsan.
" mas waktu ku hanya tiga bulan lagi, mas harus nikah lagi, maira nggak mau tau " ujar maira bersikeras.
" hidup dan mati seseorang hanya Allah yg tau sayang.. berhenti meminta ku untuk menikah lagi " kata Ikhsan.
" mas nikah lagi!!! maira nggak mau tau " ujar maira meninggikan suara nya di depan suaminya untuk pertama kali tapi Ikhsan tidak marah, Ikhsan tau maira hanya menduga kalok dirinya akan meninggal 3 bulan lagi.
" maira! papa, nggak pernah ajar kan maira untuk meninggikan suara di depan Ikhsan " ucap papa sedikit marah.
__ADS_1
" mas pokoknya harus nikah lagi... maira nggak mau tau, nikah lagi, mas harus nikah lagi " tangis maira membuat Ikhsan frustasi. maira memegangi kepalanya yg terasa sakit " sakit.. sakit.. " ucap maira memegangi kepalanya.
mereka memanggil dokter dan mereka memberikan suntikan agar maira tenang dan akhirnya tertidur dalam sekejap mata saja karna suntikan.
" saya harap, kalok dia meminta sesuatu lebih baik di turutin saja, jangan menganggu pikirannya dan membuatnya menangis, itu tidak bagus untuk kesehatan dan pikirannya " ujar dokter itu.
" baik dok ".
" Ikhsan apa yg sebenarnya terjadi? " tanya Abi melihat wajah anak nya yg gelisah itu, Ikhsan menceritakan yg terjadi, kembar mendengar malah menangis.
" setiap kali kakak bermimpi, mimpi itu pasti akan terjadi, sebelum nenek meninggal, kakak juga pernah bilang ke ayah bahwa nenek akan meninggal seminggu lagi dan itu benar terjadi, apa yg kak mimpikan akan terjadi " tangis Ikbal di dalam pelukan Akbar yg mencoba menenangkannya.
" hidup dan mati seseorang hanya Allah yg tau.. Ikbal nggak boleh seperti itu ya.. " ucap Abi dengan lembut.
" sebelum berangkat haji tahun lalu, kakak pernah cerita sama Ikbal, kakak akan di lamar seseorang, dan menikah di usia muda, kakak akan mengalami kecelakaan yg akan membuat kakak susah hamil, penyakit yg akan menyerang membuat kakak lumpuh, kehamilan yg telah di nanti hadir, operasi 3 bulan sebelum melahirkan, pernikahan yg di minta oleh kakak terwujud, usia kelahiran seminggu lagi dan istri kedua hamil 1 bulan, dan Kakak menghembuskan nafas terakhir " tangis Ikbal dan akhirnya pingsan
mereka mencoba membuat Ikbal tersadar, ketika sadar mereka sangat bersyukur tapi Ikbal menangis, suasana semakin mencekam, Ikhsan frustasi dengan permintaan sang istri untuk poligami, kenyataan bahwa setiap yg di mimpikan oleh maira akan jadi kenyataan. Ikhsan menangis di dalam kamar mandi dia tak tau harus berbuat apa.
******
keesokan harinya, maira dan Ikhsan masih berdebat soal poligami, ayah menentang Ikhsan karna tak mau anak nya di poligami tapi maira terus bersikeras untuk poligami. kini maira sedang makan disuapin oleh ikhsan, mereka sama sama diam tidak berbicara.
" mas, ini wasiat terakhir ku, menikah lah lagi.. aku ingin anak ku mendapatkan ibu sambung yg baik hati, anak ku ini sangat mirib dengan babanya, hidung mancung, berkulit putih susu, bulu mata yg panjang dan melentik, tapi rambut pirang seperti maira " ujar maira tersenyum sambil mengelus perut nya yg sudah besar itu.
" istri mas cuman satu, tidak ada yg lain, mas tidak akan menikah lagi, seandainya itu terjadi mas akan rawat anak kita, menjadikannya seorang hafiz, dan sangat ahli dalam ilmu agama " ucap Ikhsan memeluk istrinya itu.
" dan.. jalan berikan dia pelajaran menjadi buaya darat saya seperti baba nya ini " kata maira sambil tersenyum.
" mas nggak buaya, mas juga nggak playboy "
__ADS_1
" alah.. alasan, paling umur dedek 6 mas nikah lagi, "