
" kau ni.. umur itu cuman Allah yg tau " ujar kita menjewer maira.
" lah kakak ku ini istimewa, dia bisa melihat apa yg tidak bisa kita lihat, bisa melihat masa depan, tapi dia tidak mau menceritakannya secara rinci.. " ujar Akbar membuka kulkas mengambil semangka lalu memotongnya.
" ih.. cuman di YouTube gw yg bahas kayak gini, emang benar? masa depan ku kayak mana nantinya? " tanya kita heran.
" nggak selalu menjadi kenyataan, hanya Allah yg tau, itu hanya sebuah mimpi sekilas memperlihatkan apa yg terjadi, tapi tetap, masa depan hanya Allah yg tau " jawab maira lalu melihat jam sudah tepat jam 11 " mbak.. kita istirahat dulu ya... aku mau siapin baju mas Ikhsan, soalnya dia mau sholat Jum'at " kata maira dan akhirnya mereka semua istirahat bersama sama.
********
maira sedang menyetrika gamis Ikhsan agar terlihat rapi, tapi dia terkejut melihat kado yg begitu banyak belum di buka.
" sayang... kamu nyimpan peci mas? " tanya Ikhsan pada maira yg sudah selesai menyetrika baju nya.
" peci?.. "
maira membuka lemari lalu memberikannya pada Ikhsan, Ikhsan terkejut karna bajunya sudah tersusun rapi di lemari, sebelumnya berada di dalam koper, baju nya hanya sedikit tidak sampai setengah lemari.
" nah kalok cari apa apa di sini ya mas.. mas... " panggil maira dengan manja memeluk Ikhsan.
" iya.. " kata Ikhsan mengambil satu pecinya.
" pulang bawa ci... mas badan mas panas loh!" ujar maira mengalihkan pembicaraan, lalu menengangi kedua pipi Ikhsan dan kening nya memeriksa suhu tubuh " mas demam.. kok nggak bilang, sholat di rumah aja ya mas.. " khawatir maira karna suhu tubuh Ikhsan benar benar sangat panas
" tapi.. "
__ADS_1
" nggak ada tapi tapian.. "
" maira, mas laki laki, kewajiban mas untuk sholat Jum'at, udah maira nggak perlu khawatir lagian antara mesjid sama rumah juga cuman lima menit, sayang.. mas yg isi khutbah hari ini, mas mana mungkin bisa tidak datang " ucap Ikhsan membuat maira tidak bisa berkata kata lagi.
akhirnya Ikhsan pergi bersama dengan yg lain, maira langsung memasak bubur untuk Ikhsan dan membeli beberapa obat untuk nyam. ketika jam 2 Ikhsan pulang dengan wajah yg sangat pucat dan lemas, Ikhsan langsung berbaring di kasur, maira menyajikan makanan di meja makan untuk yg lainnya dan memasak bubur untuk Ikhsan.
" kakak... panggil suami mu, ajak dia Makana bersama " ujar ayah melihat maira benar benar sangat sibuk.
" mas Ikhsan sakit ayah, jadi maira juga nggak bisa ikut makan, maira ke atas dulu ya " kata maira membawa nampan berisi air dan semangkok bubur lalu pergi menaiki tangga
" Ikhsan sakit? " tanya kembar secara bersamaan.
" wajahnya emang pucat tadi? pas khutbah juga suara lebih kecil dari biasanya? bunda belanja keperluan bayi nya besok saja, ayah jam 3 harus pergi, ada janji " ucap ayah dan bunda mengangguk.
" alah Tante ni.. tau aja " jawab kita sambil makan dengan tenang.
umur bunda dan kita tidak terpaut jauh, jadi mereka seperti sahabat dekat.
***************
maira menyuapi Ikhsan makan dengan perlahan lahan hingga satu mangkuk penuh itu habis, maira membuka obat memberikannya pada Ikhsan untuk di minum tapi Ikhsan melihat pil obat yg besar itu merasa merinding.
" jangan bilang mas nggak bisa minum obat di telan, harus di hancurkan " ucap maira dan Ikhsan hanya tersenyum malu " ya Allah... " seru maira menggelengkan kepalanya karna dia baru mengetahui.
__ADS_1
maira mengambil alat penghalus obat, setelah halus menaruhnya di dalam sendok dan di beri air, terlihat Ikhsan memejamkan matanya karna obat sangat pahit. maira masuk kedalam walk-in closet mencari baju kaos dan celana pendek untuk ikhsan tapi tidak ketemu, kebanyakan baju Ikhsan ialah baju Koko lengan panjang, gamis, celana cingkrang, sarung. maira mengingat bahwa dia pernah membeli celana pendek tapi ukurannya sangat besar.
" sepertinya pas kalok mas Ikhsan pakai, baju kaos... nah yg ini " ucap maira mengambil nya dan langsung meminta Ikhsan memakainya.
Ikhsan terkejut karna celananya benar benar sangat pendek, " sayang mau mas pakai celana ini? " tanya Ikhsan dan maira mengangguk " ini pendek banget... panjangnya cuman 20cm, aurat mas kelihatan kalok pakai ini " ujar Ikhsan menolak untuk memakai celananya.
" mas... kalok demam nggak boleh pakai pakaian yg menutup, nanti panasnya nggak keluar. lama baik nya, lagian mas juga di kamar kan? udah cepat pakai " jawab maira dengan wajah di buat marah tapi malah kelihatan imut di mata Ikhsan.
Ikhsan membuka bajunya memakai kaos putih, terlihat roti sobek yg mengkilap tersusun rapi. maira terus menatap tubuh Ikhsan membuat Ikhsan cepat cepat menyelesaikan mengganti bajunya lalu berbaring dan maira memeluk Ikhsan dengan cepat.
" nanti demamnya menular loh? "
" biarin, tangan mas di sini " kata maira mengarahkan tangan Ikhsan di pinggangnya dan Ikhsan hanya tersenyum sambil mencium kening maira tapi maira menekan bibirnya dengan satu jari lalu Ikhsan hanya menurutinya dengan pelan tapi tanpa sadar mereka terlarut dalam kenikmatan.
*********************
kondisi kesehatan Ikhsan semakin membaik selama beberapa hari ini, dan tepat hari ini kemoterapi di lakukan, terlihat maira sedang duduk di kasur dengan tangan di implus, sambil menghabiskan waktu membuat Vidio tentang penyakitnya ini. ayah masuk kedalam ruangan dan terlihat sedih, bunda yg tau dengan itu juga ikut sedih.
" Abang.. Abang tau kan kalok dikeluarga kita itu menikah dengan pilihan orang tua " ujar ayah pada Akbar yg sedang main games dan langsung mengangguk menghentak permainan " sejak bayi di dalam kandungan ayah telah menjodohkan mu "
Akbar yg sedang minum langsung menyembur air dari mulutnya sedangkan yg lainnya terkejut mendengarnya. Ikbal langsung membuat Vidio tentang Akbar
" astagfirullahhal'azim.... ih? Abang pikir kalok udah besar baru ayah cari, belum lahir udah ayah jodohkan " ucap Akbar membersihkan mulutnya.
" uuu.... udah ada calon istri ni... " goda Ikbal membuat Akbar melemparnya dengan saldalnya.
__ADS_1
" calon istri Abang, namanya Khodijah Az-Zahra, beda usia setahun, dia bersekolah di pesantren, anak seorang kyai, anak perempuan satu satunya, penghafal Al-Qur'an 30 jus " kata ayah menceritakan dan Akbar harus menerima dengan lapang dada " sekarang dia ada di ruangan sebelah, menjalani sakaratul mautnya " kata ayah membuat Akbar terkejut.
" dia ingin melihat mu secara nyata "