
di sebuah Vidio terlihat jelas di sana semua anggota keluarga berada di ruang keluarga, maira sedang menangis di hadapan ayah dan ikan goreng di meja, semua orang ingin tertawa tapi kasihan sama maira yg menangis.
" kenapa ikan ayah di goreng? " tanya ayah yg baru saja membeli ikan itu belum ada 24 jam di rumah tapi sudah berakhir di penggorengan.
" tadi.. ikan nya mabok, maira kasian.. udah 5 menit dia nggak sadar diri.. maira mau bantu dia biar dia nggak ngerasa sakit.. kasian yah.. "
" terus.. "
" ya maira goreng.. "
seketika mereka semua di sana tertawa dengan tingkah maira hari demi hari jadi semakin mudah menangis. " jangan ketawa.. ayah.. "
" maira tau nggak itu ikan ayah, belum 24 jam di rumah ini loh.. "
" maira minta maaf... nanti maira belikan yg baru.. " tangis maira dan ayah hanya bisa memeluk maira anak yg paling besar sekaligus yg paling manja no 2 setelah Ikbal.
Ikhsan senyum senyum sendiri melihat Vidio yg di kirim oleh bunda nya itu, tiba tiba Bilal masuk dan mengucap salam seperti biasa Ikhsan akan menjawabnya tapi wajah Bilal terlihat sedih lalu masuk kedalam kamar dan menutup pintu.
" Bilal kenapa za? "
" orang tua nya jodohin dia sama perempuan yg nggak ia kenal, dan kalau nggak salah bulan depan entah tahun depan dia menikah, kau tau kan ada perempuan yg di sukai Bilal? "
" emang ada ya... kok ana nggak tau? "
" is kau ini.. Bilal suka sama perempuan dia cerita sendiri sama aku, dia udah bilang sama orang tua nya minta izin gitu... tapi orang tua nya menolak mentah mentah dan malah menjodohkannya dengan wanita lain "
" OOO... apa ki.. "
" mau kita bicarakan ini sama orang tua nya juga percuma, kau tau kan paman Sulaiman tegas nya bagaimana.. "
" ya.. lebih baik kita hibur dia.. " kata Ikhsan tapi ternyata Bilal sudah keluar dari kamar nya dan duduk di depan kedua sahabatnya itu.
" Bilal.. kau baik baik saja? "
" iya begitulah.. bisa minta tolong nggak? " tanya Bilal menatap kedua nya
" insyaallah.. "
" bisa temani aku ke rumah tetangga kita yg di sebelah nggak? ku dengar mereka menjual apartemen mereka "
" jadi kau benar benar akan kawin! lah aku di temani siapa dong.. " ucap Eyza yg kini berumur 20 tahun sedangkan Bilal 23 tahun.
" aku nggak tau.. tapi kan.. aku akan menikah 1 bulan lagi.. ketika kita kembali ke Indonesia, di sana semua nya sedang di persiapkan " balas Bilal dengan air mata yg mengalir.
__ADS_1
Ikhsan memeluk Bilal dan mengusap punggungnya seperti maira memeluknya saat ia sedih " ikhlas Bilal, Allah tau yg terbaik untuk mu.. aku yakin paman dan bibi sudah pasti memilih calon istri yg seusai dengan mu.. "
" iya... "
" siapa namanya "
" Khanza "
" ASSALAMUALAIKUM!!!!! " teriak dari depan pintu apartemen dan membanting pintu nya membuat mereka terkejut dan langsung melihat.
" ABANG!!! kowe ora jemput aku neng bandara!!!! " tangis Aminah melempar Eyza dengan sepatunya.
" LOHHHHH!!!! "
*
*
*
di sebuah Vidio singkat maira bila dan Dewi pergi ke mall untuk berbelanja kebutuhan rumah, berhubung bunda dan ayah ke Jepang menghadiri pemakaman kakek dan nenek di sana.
" lihat ges.. ada yg Minang dia.. " ucap maira memamerkan cincin berlian di jari manis Dewi membuat ia terkejut " insyaallah ijab kabul nya akan di adakan dalam waktu, do'akan aja ya.. "
" calon bini kembar " jawab kedua nya membuat bila kesel bukan main, bagaimana tidak Akbar telah mendapatkan calon istrinya dan Ikbal masih dengan yang pertama
" is kalian ni.. tapi acara pernikahannya lebih dulu maira 4 bulana atau pernikahan? "
" pernikahan kakak dewi lah dulu, seminggu kemudian baru deh acara 4 bulanan, telat 2 Minggu gitu.. hampir masuk 5 bulan baru adakan syukuran "
dalil seketika mematung, ia melihat cincin di jari manis nya, cincin tunangan yg begitu sederhana dalil merasakan sakit hatinya. keesokan harinya dalil membeli apartemen di di sampingnya bersama dengan Ikhsan karna Eyza mengantarkan Amina ke pesantren.
" dalil.. kau kenapa sih? dari kemarin Isa lihat kau sedih mulu... apa karna perjodohan itu? " tanya Ikhsan yg sedang memilih koper karna sebentar lagi mereka akan pulang ke Indonesia.
" aku nggak tau bro.. rasanya aku belum siap untuk menikah.. tapi semua nya telah di siapkan, aku juga harus memikirkan perasaan sang calon pengantin serta keluarganya " ucap Bilal sambil mengecek hp nya ternyata calon istrinya sedang meminta saran untuk dekorasi pernikahan.
" ya.. kau benar sih... " balas Ikhsan melirik tas yg berisi kartu undangan pernikahan.
*
*
*
__ADS_1
suatu hari Ikhsan melihat perkembangan anak nya langsung walaupun cuman Vidio call saja.
" dokter... anak saya yg satu ini kok adem banget, jarang sekali bergerak? lain dengan ke4 saudaranya? " tanya Ikhsan membuat dokter itu tersenyum, bagaimana tidak Ikhsan belum genap 20 tahun dan maira belum berusia 16 tahun.
" ini gerakannya lebih pelan dari pada sebelumnya, rajin berolahraga ya.. makan makanan yg sehat.. semua baik baik saja "
" dengerin tu maira.. jangan malas makan sayur"
" eh... mas aja nggak suka sayur "
" mas laki laki "
" laki laki juga harus makan sayur, males ah.. mas jahat " kata maira mematikan telfonnya dan wajahnya menjadi cemberut.
" maira.. kamu ini, nggak sopan seperti itu loh nak.. saya jadi ingat ibu kamu, dulu ayah mu itu jarang pulang karna dia sibuk banget, sama kayak kamu.. tapi bedanya ayah mu itu sifat nya cuek cuek nggak jelas, suami mu nggak "
maira mendengar banyak sekali cerita tentang ibu nya dari Bu bidan karna Bu bidan lah yg membantu ibu nya mengurus banyak hal.
*
*
*
kali ini maira pergi ke Jakarta untuk melakukan syuting, ia pergi bersama dengan Dewi, bila, dan kembar. 5 menit sebelum tampil maira merasakan kontraksi karna maira terlalu banyak berjalan, maira memegangi tangan Akbar karna rasanya sangat sakit, dan mereka yg ada di sana malah panik takut maira kelahiran seperti keterangannya waktu itu.
" kita ganti jadwal, kita ganti, Monika dulu tampil baru nanti maira dan kembar.. " ucap sutradara itu dan mereka setuju.
" sakit kali ya kak? mau kerumah sakit? " tanya Akbar karna tangannya memerah di genggaman maira.
" masih bisa di tahan kok.. sebisa mungkin.. "
" maira.. minum dulu, habis itu makan, kau belum makan dari tadi.. "
" nggak mau makan nasi "
" jadi? buah mau buah? yaudah buah aja "
maira berbaring dalam kondisi menyandarkan tubuhnya, maira tetap memegangi tangan Akbar bahkan wajahnya berkeringat.
" kerumah sakit aja lah kak.. dari pada begini terus.."
" santai saja.. nanti juga hilang kok "
__ADS_1