Ustadz Jatuh Cinta Sama SELEB

Ustadz Jatuh Cinta Sama SELEB
tanggung jawab


__ADS_3

" bagus juga tu, tapi maira nggak bisa pulang ke Indonesia, dia akan ikut bersama ku " ujar papa menatap ayah.


" loh, dia anak ku " jawab ayah.


" dia juga anak dari adik ku " balas papa " begini kau dan istri mu dari jam 7 pagi sudah bekerjasama, sedangkan si kembar juga bersekolah dan pulang sore hari, sedangkan istri saya itu dia ibu rumah tangga, walaupun dia seorang disainer, tapi hampir setiap hari menghabiskan waktu di rumah berarti maira harus ikut kami " jelas papa.


" nggak bisa gitu dong, dia anak saya, saya berhak atas nya " ucap ayah.


" dia juga anak saya, ibu nya adik kandung saya " kata papa bersikeras.


mereka terus berdebat tidak berhenti, mereka akan bertengkar kalok menyangkut masalah tentang maira.


" stop!!! " ujar maira sambil air matanya mengalir " bisakah kalian tidak bertengkar, bukan ini yg maira harapkan, kalian sama saja " tangis maira mendorong kursi rodanya sendiri menuju kamar dan membanting pintu.


Ikhsan berjalan menuju maira, ingin membuka pintu tapi malah di kunci dari dalam.


" maira.. buka dulu, maira.. " panggil Ikhsan mengetuk pintu.


maira menangis, dengan pelan dia mencoba menaiki tempat tidur dan berbaring di sana dengan pelan lalu menangis kembali. di luar ada ayah dan papa yg merasa sangat bersalah.


" maaf sebelumnya, bukan saya membela anak saya tentang masalah ini " ujar Abi dengan pelan sambil meminum kopi yg telah di sediakan. " maira dan Ikhsan itu sudah menikah, apapun masalah rumah tangga mereka biar mereka yg selesai kan, kecuali mereka sendiri yg meminta nasehat bagaimana cara menyelesaikan masalah itu " ucap Abi dengan tenang.


" maira kan sudah menikah, kalok dia tetap mau di sisi suaminya, kita selaku orang tuanya juga tidak bisa memaksakan, karena kini sepenuhnya tanggungjawab kita sebagai orang tua akan di pikul oleh suaminya, tujuan kita kemari untuk melihat kondisi maira, di saat saat seperti ini dia pasti kehilangan kepercayaan dirinya sebagai seorang istri " nasehat Abi dengan lembut membuat mereka terdiam.


" dari pada memperdebatkan untuk membawa maira pulang, lebih baik kita memberikannya semangat agar kepercayaan dirinya kembali lagi, di sosmed banyak yg menghinanya karena di mata mereka maira tidak pantas untuk Ikhsan, tapi bagi Ikhsan maira adalah perempuan yg sempurna yg akan menemaninya hingga hari tuanya. dari segi manapun bagi maira kalok kita berkumpul dia akan senang dan melupakan masalahnya, bukan semakin menambah masalah "


ayah dan papa terdiam begitu juga dengan lainnya.


" bang.. maaf " ujar ayah dengan pelan.

__ADS_1


" saya juga minta maaf, " balas papa dan akhirnya mereka berbaikan.


Ikhsan di sana yg paling panik karna tidak menemukan kunci cadangan kamar.


" nak... tenang dulu, jangan panik.. kalok seperti itu tidak akan ketemu kuncinya " ucap Abi mengambil kunci yg tergantung di tembok dan itu kunci kamar mereka.


" astagfirullahhal'azim, maaf Abi Ikhsan tidak mengingatnya. semenjak kondisi maira seperti itu, dia terus terusan menolak untuk makan, dia hanya di kamar saja, Ikhsan jadi khawatir " ucap Ikhsan membuka pintu kamar dan langsung masuk.


" sayang.. udah ya.. jangan nangis " bujuk Ikhsan sambil menghapus air mata maira.


" maira mau sama mas.. " ujar maira sambil menangis.


" iya, maira nggak akan pulang ke Indonesia atau Singapure kok, maira tetap bersama dengan mas " ucap Ikhsan akhirnya berhasil membujuk maira.


maira kembali keruang keluarga sambil memegangi sebuah kertas putih. ayah dan papa meminta maaf pada maira dan maira memaafkan mereka. maira duduk di sofa di bantu oleh Ikhsan sambil memegangi sebuah kotak lalu memberikannya pada ayah nya itu.


" apa ni.. kok ringan.. ayah buka ya " ujar ayah membukanya dan terbang lah begitu banyak balon yg beberapa ada tergantung foto USG dan testpack.


maira tersenyum dan Ikhsan mengelus perut maira dengan lembut.


" 1 bulan " ujar Ikhsan.


mereka berteriak kesenangan lalu bunda dan mama memeluk maira saking senangnya. Abi terus melihat hasil USG itu dan tersenyum.


" sejak kapan tau hamil.. kenapa nggak kabari lebih awal? " tanya Abi


" ketika periksa kaki maira bi.. " jawab ku juga tidak menyangka kalok aku hamil.


" jaga kesehatan baik baik, bunda nggak mau terulang lagi ya nak " khawatir bunda.

__ADS_1


" iya Bun.. ini sudah masuk 7 Minggu " kata ku sambil mengelus perut ku.


pada malam hari mereka kembali pulang ke hotel karna kamar cuman ada dua. Ikhsan melihat wajah maira yg menjadi lebih ceria dari sebelumnya. ketika jam 2 maira terbangun dan melihat Ikhsan sudah dalam keadaan duduk.


" mas kenapa udah bangun jam segini? " tanya ku merasa aneh.


ternyata Ikhsan sedang menahan nafsu birahinya yg sangat besar itu, Ikhsan mengingat kata dokter kandungan kalok kehamilan maira sangat lemah dan sebaiknya jangan berhubungan badan dulu sampai usia kandungan mencapai 4 bulan.


" Ikhsan hanya tiga bulan lagi.. lebih baik aku mandi air dingin " batin Ikhsan langsung ke kamar mandi.


" yg sabar ya sayang " ujar ku dan dia hanya tersenyum manis. " kasihan mas Ikhsan, seandainya aku tidak jatuh dari tempat tidur kemungkinan kandungan ku tidak akan selemah ini " batin ku mengelus perutku dengan lembut


selesai tahajud maira mengaji lali sholat subuh. ketika jam 6 Ikhsan benar benar sudah tidak tahan karna melihat istrinya itu. maira juga tidak sanggup melihat Ikhsan seperti itu,


" mas.. maira punya solusi.. " ujar maira dan Ikhsan hanya menurutinya saja.


...jam 8....


maira merapikan baju yg ia kenakan sedangkan Ikhsan sedang mandi di kamar mandi, setelah selesai Ikhsan memakai pakaian yg sudah di siapkan oleh maira dan pergi ke kampus, dia akan pulang siang hari.


seluruh keluarga datang ke apartemen kecuali Abi, dia ingin memeriksa kondisi restoran yg ia kembangkan di sana. ketika zhuhur tiba papa dan ayah pergi ke mesjid yg ada di sana sedangkan yg lainnya sholat di rumah.


setelah siang hari mereka semua pergi untuk liburan keliling Mesir. selama mereka di sana maira terlihat lebih ceria dan bersemangat.


...2 Minggu kemudian...


" jaga diri baik baik ya nak, jangan kecapean, ingat kau kini sedang hamil " ujar bunda sambil memeluk maira.


" iya bunda, mama jangan lupa pesanan maira ya.. " ujar ku dengan lembut.

__ADS_1


" iya nak " jawab mama pada maira sambil tersenyum.


akhirnya mereka berpisah di sana.


__ADS_2