
" dia sadar dokter! "
" detak jantung lebih cepat dari biasanya, kini sudah kembali normal.. "
" dokter dia membuka mata nya.. "
30 menit mereka bertarung di dalam ruangan itu dan akhirnya keluar membawa berita baik.
" Alhamdulillah kondisinya membaik.. tapi untuk 24 jam kedepan jangan kunjungi berlebih karna kadar obat belum hilang apa lagi kalau terlalu banyak berbicara mengakibatkan kepalanya pusing berlebihan " ucap dokter sam dan mereka semua mengerti.
Abi harus kembali juga Indonesia karna kakek sedang sakit parah.. ia kembali bersama ibu. maira juga kembali ke Indonesia karna akan mengurus semua nya di pengadilan demi kebaikan nya, ia takut karna permasalahan ini mengganggu pertumbuhan anak anak nya. selama dua hari kondisi Ikhsan semakin membaik tapi dia hanya tertidur saja, ia di pindahkan ke ruangan VIP yg telah mereka pesan untuk masa pemulihan.
" baba..!!! " teriak ketiga anak nya melihat sang baba kini membuka matanya. " baba..!! "
" sayang.. baba nya masih belum terlalu sadar.. " kata dokter sam membuat mereka cemberut.
" kakek asam! " ucap ketiganya membuat Sam termenung.
" Abang.. mbak.. adek.. " panggil Ikhsan dengan perlahan lahan.
" baba.. " ucap mereka menangis memeluk Ikhsan dan posisi Khoiri ingin berada di atas dada Ikhsan, dokter sam langsung mengambil Khoiri tapi Khoiri malah menangis kuat. " nggak boleh berada di atas dada nya baba, nanti baba nya sakit.. "
" sakit? baba mau bobok panjang lagi? adek nggak mau.. " tangis Khoiri semakin kuat tapi Ikhsan hanya tersenyum meminta anak nya.
" jagoan baba nangis.. " ucap pelan Ikhsan mengelus rambut anak nya itu dan terlihat begitu rontok akibat pengobatan yg ia jalani.
kasur di atur agar Ikhsan bisa duduk, ketiga anak nya mengadukan hal yg terjadi selama ini, maira yg selalu menangis malam karna terlalu sedih.
" terus kan baba.. dalam perut umma ada dedek bayi.. dedek bayi di makan sama umma.. " ujar Khoiri membuat Ikhsan Akbar dan Ikbal terdiam termenung mendengarkannya.
" adek bayi.. dalam perut umma.. di sini.. " tanya Ikbal karna ia mengambil jurusan kedokteran di kuliah luar negeri nya.
__ADS_1
" ia di sini.. kami lihat om.. tapi potonya sama umma di simpan.. " ucap Khodijah sedang makan agar agar cokelat buatan Ikbal.
selama masa pemulihan Hingga Ikhsan pulang maira tidak pernah mengunjunginya bahkan merawatnya. ketika sampai di Jakarta Ikhsan memeluk Abi nya yg lebih tinggi dari nya dia benar benar merindukan abi nya itu yg kini sedang merawat kakek yg sedang sakit.
" sudah sudah.. udah besar masih aja manja.. " kata abi mengacak acak rambut anak nya itu.
" namanya juga rindu.. "
mereka pulang ke rumah Abi di pesantren, Ikhsan melihat kakek nya yg kini sudah mulai pulih, mereka melepaskan rindu bersama dengan cara makan di meja makan.
" bunda.. maira di mana? Ikhsan kok nggak melihat maira sama sekali " tanya Ikhsan membuat mereka semua terdiam " bahkan dia tidak pernah menelpon walaupun hanya sekedar memberi kabar "
" kami jumpai aja maira langsung di rumah ya.. anak anak biar kami jaga.. selesaikan masalah rumah tangga mu terlebih dahulu.. " ucap bunda membuat Ikhsan khawatir.
ketika malam hari Ikhsan kembali pulang, terlihat rumah sangat berantakan, penuh sampah dan kaca yg pecah di mana mana bahkan listrik di rumah sudah habis. Ikhsan harus membeli listrik dan akhirnya rumah pun terang.
" astagfirullahhal'azim.. " ujar Ikhsan melihat rumah nya yg dulu begitu indah sekarang seperti rumah kosong yg tak terpakai.
setiap lampu di rumah Ikhsan nyalakan dan mencari maira di setiap bagian rumah tapi tidak ada ketika membuka kamar, sampahnya lebih banyak. ia mendengar suara air dan menuju kamar mandi.
" Ikhsan? " panggil maira menatap suaminya yg sedang menangis melihat luka di tubuh maira.
Ikhsan membawa maira ke kamar anak anak, karma cuman di kamar anak anak lah bersih dan rapi, Ikhsan membersihkan tubuh maira, luka nya terus mengeluarkan darah tapi maira tidak kesakitan sama sekali. Ikhsan mengambil kotak obat dan mengambil kotak kain kasa, ia menaruh alkohol membersihkan luka itu lalu manaruh obat dan membalut luka di kaki maira dan tangannya.
" ku mohon jangan lakukan ini lagi.. ku mohon maira.. sadarlah maira.. kenapa kau bisa seperti ini.. maaf kan aku, aku yg bersalah, aku tidak jujur maaf kan aku.. " kata Ikhsan terus meminta maaf sambil menangis.
ketika ingin membawa maira meninggalkan rumah itu maira tidak bergerak sedikitpun membuat Ikhsan harus menggendongnya hingga sampai rumah, karna larut malam semua nya sudah tidur.
" sayang tidur yuk.. jangan seperti ini.. bicaralah padaku.. " kata Ikhsan tapi maira terus diam dan mencoba tidur. " ayah.. maaf kan aku.. aku gagal menjadi suami maira.. " batin Ikhsan melihat maira
maira depresi berat karna dia kalah di pengadilan, anak yg di kandungan wanita itu benar benar anak Ikhsan, hati maira hancur sehancur hancurnya.
__ADS_1
di pagi hari anak anak masuk kedalam kamar Ikhsan.
" umma!! " teriak mereka bertiga melihat maira, mereka naik ke atas tempat tidur dan memeluk maira, maira melihat ketiga anak nya menangis merindukannya.
" sayang.. sayang umma.. anak anak umma.. hiks.. " tangis maira pecah bersama ketiga anak nya.
" umma.. "
Ikhsan menghapus air matanya dari balik pintu, dia datang untuk membawakan makanan.
🍁🍁🍁
" astagfirullah.. ini beneran rumah.. Kaka sampai sedepresi ini " kata ikbal
" panggil orang aja untuk bersihkan ini ikhsan, buang semua barang barang di sini, ubah penampilan rumah ini, biar maira bisa melakukan pengobatan dengan tenang, kamar anak anak juga di pisah " kata mamabenar benar nggak habis pikir dengan maira.
" Khoiri nggak bisa pisah kamar dengan Khodijah ma.. "
" nanti mama yg bilang sama Khoiri.. "
🍁🍁🍁
maira terlihat lebih baik dari pada sebelumnya, bahkan kini dia sedang membantu Aisyah, bunda, ibu memasak di dapur.
" maira.. kenapa mencuci piring seperti itu? " tanya ibu melihat maira menjaga jarak dengan tempat cuci piring. maira mengelus perut nya yg membesar pertanda bahwa dia sedang hamil besar..
" HAMIL!!!! "
seketika ketika sedang makan, semua nya sedang bingung kenapa maira sedang hamil ukuran kehamilannya sudah 7 bulan sesuai dengan hasil USG yg di lakukan di klinik terdekat. mereka melihat wajah bayi itu sangat mirin dengan Ikhsan karna USG 5D.
" tangan dan kakinya baru setengah tumbuh? Maksudnya anak yg di kandung kan maira tidak sempurna? " tanya kakek melihat hasil USG itu.
__ADS_1
" Abah.. apapun kondisinya kita harus bersyukur, bayi ini bisa bertahan saja.. "
" Abah tau Husein.. Abah bersyukur maira bisa hamil lagi.. Abah hanya khawatir, ketika di dewasa nanti dia menjadi tertekan karena kondisinya.. "