
seketika maira mematung mendengar nya dan pindah yg tadinya duduk di samping Zahra kini di samping suaminya.
" kenapa nggak bilang.. " bisik maira mencubit paha Ikhsan dari balik celananya.
" kamu nya yang nggak bertanya? ".... " minta maaf sama ibu.. " ujar Ikhsan kembali membuat Abi di sana geli dengan kejadian ini.
" anu... itu.. anu.. "
" anu anu anu.. apa nya anu... " ucap Ikhsan baru tau bahwa maira sangat sensitif m
" ibu.. maira.. maira minta maaf.. maira salah, maira nggak tau bahwa ustazah adalah pinangannya Abi.. maira minta maaf, habis nya mas Ikhsan bandal.. " tangis maira meminta maaf pada ustazah Zahra.
" ya nggak papa... kamu pasti belum di beritahu sama Ikhsan, nanti selesai Zuhur datang ke aula ya nak untuk melakukan proses siraman.. " ujar ustazah Zahra dengan lembut.
" assalamualaikum!! Ikhsan mana! nah ini dia orang nya.. kau di cariin nggak ketemu ketemu, ikut aku.. " ujar Aisyah tiba tiba datang menjewer kuping Ikhsan membawanya pergi...
" Abi juga.. ngapain di sini! balik! anak sama bapak sama aja.. " omel Aisyah sepertinya memiliki kesibukan yg luar biasa " oiya maira.. orang tua mu datang tu.. "
" iya kak.. "... " eh!!!!! "
*
*
*
*
selesai Zuhur ustazah Zahra benar benar sangat cantik sedangkan maira diomelin sama bunda karna ia menampar calon ibu mertuanya.
" ya nama nya nggak tau bunda.. " ujar maira menunduk sedih,
" kegatelan... itu lah sebelum berbuat itu tanya tanya dulu bukan asal samperin gitu aja.. " omel bunda yg sedang menyusui aura di sana.
" Khodijah.. udah bisa angkat kepala ya.. " ucap ayah karna Khodijah sudah tidak takut padanya.
*
*
*
*
__ADS_1
malam itu Abi duduk di samping kakek yg datang untuk menghadiri pernikahan, Abi terlihat meminta ijin pada kakek karna kedua orang tua nya sudah lama meninggal di saat usia nya 1 bulan di dunia.
" kau laki laki nak.. menikah lagi itu biasa, kenapa kau tertekan.. " ujar kakek dan Abi menceritakan apa yg terjadi, seketika kakek terdiam dia tau kondisi Ikhsan bagaimana.
" dia ingin melihat mu bahagia sebelum ia pergi" ucap kakek kembali dan Abi mengangguk.
" astagfirullahhal'azim.. kakek sama Abi ni lah.. besok Abi mau nikah, masa nggak ada persiapan sama sekali, " omel Aisyah membawa beberapa masker wajah.
❤️❤️❤️
tepat jam 9 pagi hari Jum'at, Abi duduk di depan seorang pria yaitu wali nikah, wanita yg ia nikahi seorang gadis yg berusia 39 tahun, wanita yg memilih untuk merawat kedua orangtuanya dari pada menikah karena ia adalah anak satu satunya.
Ikhsan menggenggam tangan maira di sana, tangannya terasa dingin dan berkeringat
" mas sakit? " tanya maira pada suami nya itu.
" tidak.. 2 hari lagi kita terbang ke Mesir kan? semua nya udah di siapkan? " tanya Ikhsan dan maira mengangguk " bagus lah.. "
selesai akad Zahra duduk di samping Abi menandatangani beberapa surat setelah selesai Zahra menyalami tangan abi dan Abi menaruh tangannya tepat di atas ubun ubun Zahra. Alif berlari dari pangkuan Aisyah lalu mengangkat tangan Abi menaruhnya di atas kepalanya.
" tidak boleh.. " ujar Alif cemburu karena selama ini cuman kepala nya saja yg boleh di sentuh Abi.
Abi mengangkat tubuh Alif duduk di pangkuan nya dan melanjutkan aktivitas tapi Alif kembali menarik tangan itu.
" Alif nggak boleh.. " kata Aisyah mengambil Alif tapi Alif malah menangis dengan kuat memeluk Abi.
bagi Alif Abi adalah ayah nya, laki laki yg selalu memberikannya kasi sayang. alif tidak bau berpisah dari Abi, ia terus terusan di pangkuannya Abi membuat jarak antara Zahra dan Abi.
" opah cayang Alif atau dia? " tanya Alif membuat yg ada di sana tertawa.
" opah sayang Alif.. " jawab Abi dengan cepat dan Alif tersenyum.
" jangan dekat dekat! opah punya Alif.. " ujar Alif ternyata sangat sensitif.
selesai sholat Jum'at Dewi dan maira akan berbelanja untuk persiapan keberangkatan ke Yaman, apartemen yg mereka tempati di kabarkan runtuh akibat gempa bumi, kini Ikhsan dan dalil berencana untuk membeli sebuah apartemen lain atau menyewanya sedangkan Eyza akan pergi ke asrama saja.
" Alif sayang.. belanja yuk.. " ajak maira dan Alif langsung turun dari pangkuan Abi.
" Ayuk ummah, Alif ganti baju dulu.. " ujar Alif berlari ke kamar nya mengganti baju lalu pergi berbelanja dengan Dewi, bila, bunda, Akbar dan Ikbal yg menggendong keponakan mereka dan mbak intan.
Abi pergi ke kamar untuk tidur siang selama 1 jam, kebiasaannya dari waktu kecil terbawa hingga sekarang sedangkan Zahra yg di panggil dengan sebutan ibu malu malu untuk ikut ke kamar.
" Ais.. " panggil ibu dan Ais duduk di lantai memegangi sebuah buku kecil.
__ADS_1
" nah ini catatan yg harus ibu hafal, mulai dari kebiasaan, hobi, makanan, yg tidak di sukai, jadwal harian, semuanya di sini.. oke? Ais mau tidur dulu.. " ujar Aisyah dan ibu langsung membaca nya. benar benar sangat lengkap membuat ibu takjub.
*
*
*
*
Alif mendorong troli mini yg ada di sana untuk mengambil belanjaannya sendiri.
" kalau musim panas ni.. panas nya luar biasa, lebih baik perbanyak daster deh.. terus shampo juga bawa 2 atau 3 nanti di sana bisa beli beli lagi kan, Alif.. " panggil maira melihat Alif memandangi cokelat yg cukup besar itu.
" ammah.. Alif mau ni.. " ujar Alif memeluk cokelat itu lalu membuka tas nya memberikan uang seratus ribu.
" pandainya.. simpan uang nya, Mada yg bayar nanti.. " ujar bunda karna Alif benar benar sangat imut.
kulit nya putih dengan hidung mancung berbulu mata serta alis yg tebal, pipinya yg kemerahan dan gembul membuat dia benar benar sangat tampan. orang orang bilang kalau ingin melihat rupa ayah nya di waktu kecil lihat saja dirinya, benar benar mirip tidak ada sedikitpun yg berbeda.
*
*
*
*
Aisyah keluar di kamar nya melihat ibu nya mundar mandir di depan pintu kamar suami nya sendiri.
" ibu.. ibu malu ya... nanti malam malam pertama... " goda Ais membuat pipi ibu nya memerah tiba tiba Abi keluar dari kamar.
" Ais.. Abi minta roti ya nak.. " ujar Abi membuat Ais terkejut karna ibu nya belum menyiapkan nya.
" saya ibu siapkan.. " ucap ibu mengambil makanan yg telah ia ambilkan di meja yg ada di sekitar sana. Abi mengambilnya dan masuk ke kamar membiarkan pintu nya terbuka.
" terimakasih, ayo masuk? "
" semoga berhasil.. " ujar pelan Ais dan ibu mengangguk masuk kedalam kamar lalu duduk di sofa yg ada di sana di hadapan suami nya yg sedang makan roti.
" cukup air putih saja ya lain kali.. " ucap Abi karna ibu menyiapkan segelas susu dan itu penuh serta sangat manis.
" maaf.. "
__ADS_1
" tidak apa apa, ini enak kok " senyum Abi membuat pipi ibu memerah karna ini pertama kalinya melihat senyuman Abi secara langsung.