
dalil sadar dari pingsannya dan sudah berada di sofa, dia langsung melihat Dewi terlihat begitu mencemaskan dirinya, Seketika dalil langsung menghindar dari Dewi dan dalil menangis sambil memeluk ummi nya itu, Dewi tidak mengerti apa yg terjadi, dia tau ini perjodohan tapi apa dalil tidak bisa menerima dirinya yg kini telah berstatus sebagai istrinya.
Randi terlihat sudah memperlihatkan wajah yg tidak suka pada dalil sebagai calon suami nya tapi semua itu seketika hilang ketika mendengar ucapan dalil.
" terimakasih ummi.. terimakasih Abi.. terimakasih.. terimakasih telah menikah kan Dewi dan dalil.. " ucap dalil membuat mereka bingung, Dewi yg ingin menangis karna berpikir suami nya tidak menerimanya seketika terdiam.
" iya nak.. ini kan? wanita yg membuat mu jatuh cinta dalam 1 kali pandangan.. yg kau bilang wanita kedua setelah ummimu ini, kenapa masih menangis, apa kau tidak kasian dengan istri mu yg salah faham itu " ucap Abi dan ummi langsung mencubitnya dengan kuat.
" mas.. "
dalil terpaksa harus di rias lagi, para tamu undangan sama sekali tidak mengerti apa yg terjadi mencoba memahami situasi ini. acara pun di lanjutkan, terlihat kedua nya begitu malu malu untuk memasang cincin di jari pasangannya, ketika selesai Dewi menyalami tangan dalil dan dalil memegangi ubun ubun Dewi sembari membaca doa, ketika selesai dalil dengan wajah memerah mencium kening Dewi secara perlahan-lahan.
acara pun berlangsung, mereka berdua berdiri terus menyalami para tamu dan berfoto bersama, kedua pengantin ini sedikit malu malu membuat maira kurang puas dengan hasil foto nya, ia mengambil kamera membuat Dewi termenung.
" is kalian ni.. foto ada mesranya lah dikit, biar cantik.. " ucap maira dengan kesal mengambil mix melihat para tamu, " suami ku sayang.. kemari kejap " panggil maira membuat wajah Ikhsan memerah padahal dia lagi menggambil makanan. Ikhsan langsung ke pelaminan membawa makannya.
" sayang kok makan? "
" mas lapar "
" kan bisa maira ambilin.. "
" maira sibuk banget sama tamu " ujar Ikhsan duduk di sofa tempat orang tua sambil makan makanannya.
" yaudah deh.. "
maira mengatur posisi Dewi yg duduk di paha dalil tangan Dewi memegangi pindah nya dalil sambil bertatap Tapan satu sama lain membuat keduanya malu malu, maira benar benar sangat jahil.
" Abah.. lihat cucu mu itu, dia mengerjai pengantin baru itu " ujar Abi memanggil kakek.
" kita dapat anggota keluarga yg super aktif ya, Rendi.. kenapa sekolah kan maira di sekolah internasional? kenapa tidak di pesantrenkan saja.. sayang loh maira itu pintar " ucap kakek bertanya pada Rendi.
__ADS_1
" kakek.. maira lah yg menginginkan sekolah di sana saya tidak pernak memaksakan di manapun dia bersekolah "
" panggil Abah saja.. "
" iya Abah.. "
" Abah dengan dari Ikhsan kalau maira akan melahirkan di usia 7 bulan, bukan 9 bulan, dan operasi? tanggal nya telah di tentukan, berarti ini semua telah di rencanakan? kenapa tidak menunggu maira 9 bulan saja dan mengalami kontraksi seperti ibu hamil kebanyakan? " tanya kakek sambil menatap ayah maira.
" maira hamil dalam kondisi umur yg belum 18 tahun, kondisi hamil juga kembar Lima, kami nggak mau ambil resiko, maira juga punya penyakit hemofilia, sebisa mungkin kami harus mengurangi resiko terjadinya pendarahan, "
" Abah.. Abah nggak perlu khawatir.. perawatan medis sekarang kan sudah sangat canggih, maira pasti baik baik saja Abah.. "
" kakek... " panggil maira merengek berjalan menuju kakek, " kakek, mas Ikhsan di makan nya buah tin terakhir maira.. " ucap maira ingin menangis.
" Ikhsan.. " tegur kakek pada Ikhsan.
" paruh dua, tapi maira nggak mau "
" maaf kakek, ini setengah "
maira mengambilnya tapi ia menangis sambil memakannya.
" kenapa nangis maira? " tanya kakek heran.
" enak! tapi dikit "
seketika mereka semua ingin tertawa, akhir akhir ini tingkah maira semakin kekanak-kanakan, mau nya terus terusan di manja.
" kakek bawa 5 kilo dalam tas tadi, nanti ambil sebagian ya sisanya bagikan saja "
*
__ADS_1
*
*
keesokan hari nya pesta pernikahan pun di lakukan dengan mewah, Dewi benar benar sangat cantik ketika acara di lakukan banyak sekali ustadz ustazah serta para ulama yg datang, banyak para istri ustadz itu mengelus perut maira yg sedang hamil, bahkan maira juga mendapatkan beberapa kado serta pengalaman ibu ibu yg sudah pernah melahirkan secara normal.
kini maira sedang menggenggam tangan Ikhsan, kontraksi karna terlalu banyak bergerak dan mengubah posisi tubuh nya serta terlalu banyak berjalan, rasanya semakin sakit membuat maira menangis, maira bersandar di dada bidang suami nya itu, tangan maira terus menggenggam tangan Ikhsan.
" mau ke rumah sakit? " tanya Ikhsan dan maira menggelengkan kepalanya.
akhirnya tanpa sepengetahuan keluar maira di bawa kerumah sakit oleh ikhsan, kini maira terbaring di UGD dan sekarang Bu bidan sedang mengecek kandungan maira. bayi yg kalem itu bergerak sangat Lambat dan yg lainnya malah menjadi kalem.
" Tante.. anak ku yg kalem itu kok nggak gerak? " tanya maira dengan suara lemas dan Bu bidan sepertinya sulit menjelaskan apa yg terjadi.
" maira.. kamu harus jadi wanita yg kuat? kandungan mu ini lemah, rahim mu tidak sanggup mengandung kelima anak mu secara bersamaan, kalaupun Caesar di usia 4 bulan, anak mu hanya punya waktu beberapa hari saja, lebih baik kita ku.. "
" NGAK!! " bentak maira membuat Ikhsan terkejut
" maira.. nggak boleh seperti itu.. "
" aku nggak mau kuret mas, aku kuat kok mengandung sampai 9 bulan "
" maira.. ini pilihan terakhir, kalau kau seperti ini terus tanpa sadar anak mu bisa lahir seketika tanpa kau merasakan apapun, kuret jalan terbaik nak.. " ucap Bu bidan dan Maira malah menangis di sana
Ikhsan hanya bisa menyemangati maira dan mendukung apapun selagi itu di jalan yg benar, kini maira masuk kedalam mobil dalam keadaan tangan di infus sedangkan Ikhsan sedang mengurus administrasi. tiba tiba Bu bidan datang dan memberikan sebuah surat yg menandakan bahwa maira siap untuk melakukan kuret.
" Ikhsan.. maira benar benar dalam kondisi kritis, kandungannya tidak bisa selamat dalam kondisi seperti itu, ini juga membahayakan nyawanya, rahim maira itu masih lemah untuk dibuahi, Ikhsan ibu maira menitipkan maira pada saya untuk terus menjaga kesehatannya, ibu nya butuh waktu 5 tahun lebih untuk mendapatkan seorang anak, saya harap kamu mengerti, jam 4 subuh saya akan datang untuk mengganti infus nya maira "
perasaan Ikhsan kacau balau selama perjalanan pulang, maira tidak mau pulang ke hotel dia mau pulang ke rumah nenek nya, ketika sampai maira mengganti seprei dan mencoba tidur sedangkan Ikhsan membereskan rumah yg penuh debu itu, dia juga berbelanja online karna sama sekali tidak ada makanan di rumah.
" capek banget ya Allah.. sholat dulu lah.. " ujar Ikhsan masuk kedalam kamar dan melihat kertas di robek oleh maira dengan air mata yg mengalir.
__ADS_1
" MAS JAHAT!!!! "