
Ikhsan mendengar itu merasa bersalah karna telah mendiami maira selama sebulan, Ikhsan menepiskan gulingkan dan memeluk maira dengan erat.
" maaf kan mas.. maira, mas hanya berharap kau jujur apapun kondisinya, maira terlalu menutup rapat kehidupan maira, kalok ada permasalahan sebelum kita menikah jangan ceritakan pada mas, tapi setelah kita menikah masalah apapun itu bicara dulu dengan mas, seandainya tau lebih awal pasti tidak akan seperti ini " ujar Ikhsan sambil membalikkan tubuh maira ke hadapannya dan memeluknya.
maira menangis di dalam pelukan suami nya itu, Ikhsan mengelus parut maira yg sudah sedikit membuncit itu, merasakan kenyamanan hingga maira tertidur. di bagi hari Ikhsan memasak untuk maira dan maira memakannya dengan senang.
" sayang.. jam 9 kita akan kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lalu kita kemo ya " ajak Ikhsan sambil memegangi tangan maira dengan lembut.
" nggak mau mas.. " tolak maira lalu menghentikan makannya.
" maira.. kita coba pengobatan dulu ya.. jangan seperti ini dong, ayo sama sama berjuang demi sembuh " bujuk Ikhsan.
" maira... " panggil seseorang dari telpon dan ternyata itu ayah. Ikhsan memberikan hp nya pada maira " maira kenapa menyembunyikan ini semua nak.. kenapa nggak jujur dari awal.. " tangis ayah tidak tertahankan membuat maira juga menangis.
" ayah jangan lah nangis.. maira sedih nanti ni " ucap maira sambil menghapus air matanya.
" bagaimana ayah nggak nangis kalok ternyata selama ini putri ayah satu satunya menyembunyikan penyakit nya sampai separah ini " ucap ayah.
" mas jahat tau nggak, lihat orang tua ku jadi nangis " ujar maira pada Ikhsan sambil menangis.
Ikhsan memeluk maira, dan dia kembali menangis, kembar, ayah, bunda bahkan bila dan Dewi menangis mengetahui maira menderita kangker otak stadium 4.
" kakak yg jahat!! kakak jahat, kakak merahasiakan semuanya dari kami, kakak nggak mau jujur.. " tangis Ikbal lalu memeluk bunda.
" adek... adek tenang ya.. " kata bunda menenangkan Ikbal.
di pagi hari itu hanya penuh dengan tangisan keluarga yg telah mengetahui fakta kebenarannya. di siang hari ikhsan dan maira pergi ke rumah sakit mengecek kondisi nya.
******
maira melakukan begitu banyak tahap tahap, Setelah selesai akhirnya mereka menemui dokter tersebut.
" seperti nya pemeriksaan ini salah? kangker belum sampai stadium 4, masih stadium 3, 34% ini masih bisa di obati, tapi.. kangker ini tergolong ganas, kalok mau sembuh kita harus lakukan operasi pengangkatan , tapi kondisi sekarang sedang hamil membuat kita lebih baik menunggu selesai melahirkan " ucap dokter itu melihat hasil pemeriksaan.
__ADS_1
" alhamdulilah... " ucap mereka berdua sama sama senang.
" jujur bagi saya, lebih baik melakukan operasi sesegera mungkin, kangker ini tergolong ganas, usia kandungan sudah 5 bulan, tidak masalah melakukan operasi, ini hanya saran saya karna... di sini pasti ibu dan bayi ingin selamat dua duanya jadi lebih baik bertindak cepat " kata dokter itu membuat maira termenung.
" untuk sementara ini kami akan lakukan kemoterapi terlebih dahulu " ujar Ikhsan menggenggam tangan maira.
akhirnya maira mengambil hp untuk membuat Vidio, dia sudah siap apapun yg terjadi, mengungkapkan kebenaran kepada dunia.
" kemoterapi pertama check.. " ujar maira dengan nada gembira padahal hatinya sekarang benar benar hancur. " jadi guys aku udah di rumah sakit sama mas Ikhsan, baba( ayah) senyum nya dulu mana " pinta maira membuat Ikhsan geleng geleng kepala lalu tersenyum terpaksa " senyumnya nggak Ikhsan ah.. nggak seru.. "
" senyum manis nya hanya boleh di lihat umma seorang " kata Ikhsan membuat maira baper.
" ih buaya " balas maira membuat ikhsan semakin gemes melihat istrinya itu.
maira dan Ikhsan masuk kedalam ruangan lalu maira di pindahkan ke kasur agar duduk dengan posisi yg lurus, ini perlakukan khusus rumah sakit bagi ibu hamil yg menderita kangker.
" guys makan, bismillahirrahmanirrahim " ucap maira memperlihatkan bekal yg ia bawa dan makan di suapi oleh Ikhsan.
" kalok makan itu diam, nasi di mulut belum habis nanti tersedak " Tegus Ikhsan membuat maira diam dan melanjutkan makan nya.
setelah kantong impuls habis mereka pulang kerumah, maira mengambil barang anboxing yg akan di gunakan untuk Vidio hari ini. maira menggaploat Vidio kemoterapi pertama kali, dalam satu jam sudah begitu banyak yg komen dan terkejut mengetahuinya.
" seriusan?!!!! penyakit apa dek? "
" eh bener nya? kemoterapi dek? eh sakit apa kau "
" ya Allah gini banget sih hidup mu dek "
" ini beneran nggak sih ( emot nangis ) "
" adek sakit apa ( emot nangis ) "
__ADS_1
maira membacanya hanya bisa tersenyum senyum sendiri, maira melihat Ikhsan tertidur di sofa, maira mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Ikhsan. maira meminum semua obat obat nya dengan rutin, melakukan kemoterapi, 2 kali seminggu setiap hari Senin dan Kamis, malam hari ikhsan akan memijiti kaki maira menggunakan minyak zaitun.
maira sudah bisa berdiri semenjak dipijit selama sebulan terakhir oleh Ikhsan.
" pelan pelan aja jangan di paksa " ucap Ikhsan memeluk maira membantu mencoba berjalan dengan perlahan-lahan.
selangkah demi langkah bisa lalu kembali istirahat dan tidur, maira bersyukur mempunyai suami yg selalu mendukungnya. di pagi hari efek samping kemoterapi di rasakan oleh maira, Ikhsan terus di samping maira merawat nya. bukan cuman itu afek samping kemoterapi membuat rambut begitu rontok.
" mas aku jelek kan? " tanya maira yg menangis karna kini rambutnya sudah tidak ada lagi.
" siapa bilang umma jelek, lihat baba akan sama seperti umma juga " jawab Ikhsan memotong habis rambutnya lalu bergaya sok tampan di depan cermin membuat maira tertawa.
" mas sok ganteng banget sih.. " tawa maira melihat tingkah Ikhsan.
" mas kan udah genteng, mas jadi lebih ganteng lah " pamer Ikhsan sambil tersenyum memeluk maira yg kini sudah mengandung 7 bulan bahkan mereka sudah tau jenis kelaminnya.
mereka pergi ke bandara bersiap siap untuk pulang ke Jakarta, melakukan ritual 7 bulanan sang janin. ketika di pintu pesawat Ikhsan mengendong maira membuat nya terkejut.
" eh mas nanti jatuh.. " panik maira.
" nggak akan.. " jawab Ikhsan dengan tenang masuk kedalam pesawat dengan lancar saja.
akhirnya mereka melakukan perjalanan yg begitu panjang hingga sampai di bandara di Jakarta, terlihat keluarga mertua sudah ada di sana. maira dan Ikhsan menyalami mereka semua di sana.
" loh.. kembar " panggil maira melihat kedua adik nya itu botak kinclong.
" ayah juga sama kok " ucap mereka menunjuk ayah yg memakai topi,
" haduh kalian ini... " ujar maira pusing.
" apa yg kakak rasakaan kami juga akan rasakan " ujar kembar memeluk maira dan maira membelas pelukan mereka
" bagus, nanti kakak melahirkan kalian yg ngantikan kakak ya.. "
__ADS_1
" jangan lah.. "