Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 21


__ADS_3

Hal ini benar-benar baru Sherin ketahui. Dalam hatinya sungguh merasa menyesal tidak memperhatikan Kael yang sebenarnya sangat membutuhkan dirinya. Melihat tatapan Kael yang begitu dalam saat menatap es krim, Sherin jadi kepikiran.


Berapa banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Kael? Adik tersayangnya.


Es krim di tangan jadi tak tersentuh. Niat awal hanya ingin menghibur Kael malah kini dirinya yang butuh di hibur. Sherin dengan cepat menghabiskan es krim yang hampir mencair itu. Setelah habis Sherin membuang wadahnya di tempat sampah dekat meja belajar Kael.


“Aku boleh pinjam gitar?” celetuk Sherin.


Kael menoleh, ia mengangguk kecil dan berkata, “Ambil saja, ada di dekat lemari sebelah sana,” Kael menunjuk sebuah gitar yang di taruh di sebuah meja samping lemari dan kasur. Bersebrangan dengan posisi Sherin duduk sekarang.


Sherin dengan cepat mengambil gitar berwarna silver itu. Gitar ini adalah gitar pemberian dari Prisha saat ulang tahun Kael yang ke lima belas tahun. Sampai sekarang masih terjaga dengan baik, belum ada lecet sedikitpun.


Sherin mulai memetik senar gitar, mencari lagu yang cocok untuk menghibur diri.


Bagaikan langit ...Di sore hari .... Berwarna hitam, se-hitam hatinya ... Menanti kabar, dari yang tersayang ... Tak pulang pulang, dari rumah mantan ...


Dahi kael berkerut dalam, seiring Sherin mengubah lirik lagu itu. Rasanya ia ingin tertawa saat itu juga, tapi Kael pun merasa suara Sherin bagus walaupun masih jauh lebih bagus suara Prisha.


“Sejak kapan lirik lagunya berubah?” tanya Kael di iringi kikikan kecil.


“Sejak sekarang,” jawab Sherin. Lagu ini terlintas begitu saja di kepalanya, ia sendiri tidak menyangka ternyata suara Sherin sangat bagus.


“Suara lo bagus,” puji Kael, Sherin yang mendengar itu tersenyum.


“Suara emas yang tersembunyi,” celetuknya, mereka berdua tertawa bersama.


Tanpa mereka sadari, hubungan keduanya semakin dekat. Sherin kini merasa ingin lebih mengenal Kael. Ia ingin memberi remaja itu lebih banyak kebahagiaan walaupun terkesan telat. Bagi Kael, saat ini Sherin adalah seorang yang asing lalu datang tiba-tiba dan sok akrab dengannya tapi ternyata bisa menghibur dirinya yang merasa kesepian.


Hingga tak terasa hari semakin sore, warna langit berubah jingga, menandakan matahari hampir terbenam sempurna. Sherin melihat ke arah jendela, matanya terbuka lebar saat itu juga.


“Astaga ... ” pekik Sherin, Kael ikutan terkejut karena teriakan Sherin.


“Kenapa?”


“Sudah sore, aku harus pulang,” kata Sherin.

__ADS_1


“Ah, iya. Gue juga nggak nyadar ternyata udah mau malem,” timpal Kael.


Sherin dengan cepat membereskan barang-barangnya, hanya ponsel jadul dan dompet kosong. Ia masukkan ke dalam tas.


Sherin dan Kael bersamaan turun ke lantai bawah, ketika hampir sampai di depan pintu mereka melihat seorang gadis sedang melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal bulu.


“Meylin,” lirih Sherin.


“Eh, kamu ... ” Meylin tengah mengingat-ingat, seketika ingatannya tertuju pada saat ia bertemu gadis asing yang mengaku sebagai Prisha.


“Aku Sherin,” ucapnya.


Meylin mengangguk paham, ia ingat Sherin. Tapi, ia bingung kenapa Sherin bisa ada di sini sekarang apalagi bersama Kael hanya berdua.


“Untuk apa ke sini? Apa butuh bantuan?” Tatapan Meylin memicing curiga, Sherin yang mengerti tatapan itu hanya bisa tersenyum kecut.


“Aku tadi pergi dengan teman, tapi dia meninggalkan aku di pinggir jalan. Kebetulan dekat dari sini, jadi sekalian aku mampir,” kata Sherin, Kael dan Meylin mengangguk paham. Kael baru mengetahui penyebab Sherin ada di rumah ini.


“Tapi, gimana caranya kamu masuk? 'Kan ada satpam di depan,” tanya Meylin yang membuat Sherin menelan saliva dengan susah.


Ucapnya terhenti saat satpam yang berjaga di gerbang masuk ke dalam rumah sambil membawa kunci mobil.


“Mey!!” panggil satpam.


“Iya, Pak?” Meylin menoleh ke belakang, melihat satpam yang berjalan ke arah mereka.


“Ini kunci mobil, tadi supir kasih ke saya, eh ini 'kan Mbak yang tadi siang ya,” Satpam memberikan kunci mobil pada Meylin dan menoleh ke arah Sherin.


Dengan sedikit ragu Sherin mengangguk. “Bapak kenal dia?” Meylin bertanya.


“Nggak kenal sih, tapi tadi dia bilang katanya Mbak ini pacarnya den Kael. Ya sudah, Bapak izinkan masuk.”


Saat itu juga Sherin menerima tatapan tajam dari Meylin dan Kael. Ia berusaha keras untuk menelan saliva yang tiba-tiba mengganjal di tenggorokan.


...⚫⚫⚫...

__ADS_1


Tepat pukul tujuh malam Sherin tiba di rumah Arvin, seperti dugaannya kalau Arvin dan anak istrinya sudah pulang. Tapi, kali ini Sherin pulang hanya untuk mengambil pakaian dan menginap semalam lalu besok pergi ke rumah kakek Haris.


Sherin sudah tidak mau tinggal di rumah ini.


Kakinya melangkah masuk ke dalam, sepi seperti tak berpenghuni. Saat melihat ke arah meja makan, ternyata mereka sedang menikmati makan malam. Sherin mendengus, bahkan ia tidak di telepon saat akan makan malam bersama.


Mereka bertiga seakan tidak peduli dengan dirinya yang entah sudah makan atau belum. Karena terlanjur sudah hampir sampai ke dapur, akhirnya Sherin memutuskan untuk pergi ke arah kulkas.


Ia melewati meja makan dengan orang-orang yang sedang duduk dan menatapnya tajam. “Dari mana kamu? Kenapa baru pulang?” tegur Arvin.


Sherin menghentikan langkahnya dan berbalik, ia mendapati tatapan tak berayah dari Arvin. Ia seperti anak yang ketahuan telah melakukan kesalahan walaupun sebenarnya tidak.


“Dari hotel,” jawab Sherin asal, ia jadi ikut kesal sendiri.


“Apa yang kamu lakukan di hotel? Dengan siapa?!” Arvin menatap Sherin tajam, seolah ia terkejut dengan jawaban Sherin.


“Main kuda sama ayang, hehehe ... ” Sherin mempercepat langkahnya menuju kulkas di dapur, ia mengambil sebotol minuman ber-ion, susu dan beberapa buah untuk di makan. Lalu Sherin segera berlari menuju kamar meninggalkan Arvin yang sedang menahan emosi.


“SHERIN ...!! ” Teriak Arvin, tapi tidak di perdulikan oleh Sherin.


“Huh! Kok bisa ya Sherin betah tinggal bareng keluarga yang kayak gini,” Sherin bergidik ngeri membayangkan Sherin yang dulu betah tinggal di rumah ini bahkan sampai bertahun-tahun lamanya.


Ketika masuk ke dalam kamar, Sherin yang sudah merasa sedikit lapar itu segera meminum susunya. Tak lupa satu buah apel untuk mengganjal agar perutnya tidak terasa sakit.


“Lumayan, dari pada ikut makan bareng mereka. Nggak mungkin bisa kenyang aku,” ucapnya.


Setelah menghabiskan satu buah apel dan susu, Sherin mulai mencari kardus kosong. Di bawah ranjang ada satu, ia mengambilnya dan melihat ternyata ada isinya.


“Baju zaman kapan ini?” Sherin melihat baju-baju yang tersimpan rapi di dalam kardus, ia tidak pernah melihat model baju yang menurutnya ketinggalan zaman.


Celana jeans di bawah lutut, serta atasan berlengan pendek yang memiliki rompi. Berwarna merah muda dan loreng hitam putih.


“Kecil, buang sajalah.” Sherin membongkar isi kardus itu, ia kosongkan dan menaruh baju-baju yang tak layak pakai di dalam lemari buluk berwarna coklat.


Sherin mengambil baju-baju yang cocok untuk ia pakai, hanya ada beberapa. Tak lupa baju pemberian kakek yang ada beberapa belum ia pakai. Lalu matanya berhenti tepat di atas lemari, ada sebuah koper besar di sana.

__ADS_1


Sherin mendengus kesal, ia menendang kardus berisi pakaian yang sudah ia susun rapi. “Kenapa nggak kepikiran pakai koper?! Sial!!”


__ADS_2