Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 72


__ADS_3

“Sherin ...!!”


Pintu ruang rawat terbuka, Arvin datang dengan langkah tegas dan raut wajah menegang. Wajahnya memerah dan tangan terkepal. Sherin yang tengah di suapi Ravin terkejut hingga hampir saja tersedak.


Ravin yang ikut kesal langsung menaruh mangkuk bubur di atas nakas dengan kasar, dia berdiri dan menatap tajam calon mertuanya itu.


“Kalau mau masuk lebih baik ketuk pintu lebih dulu, apa sopan santun Anda sudah hilang?!”


“Diam kamu!” tunjuk Arvin pada Ravin.


“Ada apa Papah ke sini?” Sherin mengambil gelas di atas nakas dengan kesulitan, setelah berhasil di raih, Sherin meneguk air minum itu hingga tandas.


“Jangan panggil aku Papah!” Arvin maju, Ravin menghalangi. Tapi Arvin tak mau kalah, langsung mendorong bahu Ravin supaya pria itu menyingkir dari hadapan Arvin.


“Ohh ... memangnya kenapa?” tanya Sherin santai.


Mendengar itu Arvin kembali di buat emosi. “Dasar tidak punya sopan santun! Begini sikapmu saat bicara dengan orang yang lebih tua?!”


Sherin mendelik, dia berdehem lalu berkata, “Maaf, tapi Anda juga tidak bersikap seperti itu, buat apa saya bersikap sopan padamu? Lagian, tujuanmu datang pasti bukan untuk menjenguk ku, 'kan?”


Arvin menatap Sherin tajam, tebakan Sherin sangat benar. “Kamu tidak terlalu bodoh. Aku hanya ingin minta penjelasan kenapa Iriana bisa terkena tembakan?”


“Oh ... Iriana,” Sherin manggut-manggut.


Arvin bertambah emosi. “Jawab!!”


“Hey! Jangan bicara terlalu keras! Anda pikir ini di lapangan?” Ravin mendorong bahu Arvin untuk membalas perbuatan pria tua itu tadi.


“Berani kamu?!”


“Mengapa tidak berani? Aku bahkan dengan mudah menembakkan peluru tepat di telapak tangan kanan anakmu,” dagu Ravin terangkat, sudut bibirnya tersenyum miring.


Sementara Arvin melotot. “A— apa? Kamu yang menembak anakku?” tanyanya tak percaya.


“Aku akan melaporkan kamu ke polisi!”


“Tapi polisi sendiri yang melihat aku menembak putrimu,” Ravin terkekeh begitu juga dengan Sherin, meski akhirnya dia meringis karena bibirnya yang robek.


“Kenapa mereka tak menangkapmu?” geram Arvin.


“Buat apa? Bahkan yang harusnya di tangkap itu putrimu. Apa kamu tak melihat tubuh Sherin yang banyak luka memar?” raut wajah Ravin berubah menggelap, suaranya datar dan tatapannya tajam.


Arvin menoleh ke samping, karena emosi dia sampai terkejut melihat wajah dan beberapa bagian tubuh Sherin berwarna biru. Dia bingung, kenapa bisa? Lalu kepalanya menoleh ke arah Ravin lagi. Tatapannya seolah meminta penjelasan.


“Oh, jadi polisi belum memberitahu mu?”

__ADS_1


“Memberitahu apa?”


“Kau lihat wajah Sherin? Wajah penuh luka itu adalah hasil dari perbuatan putrimu yang berengsek!”


“Jaga omonganmu!!” bentak Arvin tak terima putrinya di katai.


“Harusnya kamu bisa menjaga putrimu! Setelah ini lihat saja, aku pastikan dia akan mendekam di penjara,” ujar Ravin.


Arvin kembali emosi, dia berpaling dan menatap Sherin dengan sengit. “Kamu diam saja mendengar kakakmu mau di penjara?”


Sherin tertegun. “Diam saja apa maksud Anda? Aku harus membebaskan Iriana yang telah menculik dan menganiaya aku?”


“Tapi dia kakakmu!”


“Dia bukan kakakku!” balas Sherin lebih sengit, tak peduli akan bibirnya yang terasa perih, dia berteriak dengan keras.


“Ya! Dia bukan kakakmu, dia putri ku dan kau lah yang bukan putriku!! Kau sama saja dengan ibumu yang pelacurr itu!”


Sherin dan Ravin sama-sama tertegun, keduanya mematung dengan pikiran yang bercabang. Di ujung sana terdengar suara benda terjatuh, ketiganya kompak menoleh dan terkejut saat melihat ada kakek Haris dan nenek Linda.


“Apa maksud perkataan mu, ARVIN!!?”


“Pah—”


Tenggorokan Arvin terasa tercekat. Dia menatap netra sang ayah yang menatap dirinya tajam. Pria itu mengembuskan napas berat.


“Iriana putriku, dan Sherin yang bukan putriku.”


Kakek Haris memejamkan mata, “Kau—” kakek tak lagi bisa menahan beban tubuhnya, kakinya sudah melemas dan dengan sigap Ravin menangkap tubuh kakek yang kini sudah pingsan.


“Papah!”


“Kakek!”


***


Sherin menunggu di ruang rawat dengan cemas, dia sendiri di sana sementara semua orang yang tadi di sini sedang pergi ke tempat kakek yang sedang mendapat perawatan.


Tak lama setelah itu pintu terbuka, nampak Ravin dengan wajah yang terlihat lelah. “Apa kata dokter?” tanya Sherin tak sabar.


Ravin menggeleng, seketika tubuh Sherin melemas. “Sepertinya penyakit kakek kambuh lagi, dokter juga belum keluar dari ruangan itu.”


“Ini semua karena Arvin! Dia yang sudah membuat kakek menjadi seperti ini,” geram Sherin.


“Aku masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan ayahmu itu. Dia bilang kamu bukan ... putrinya?”

__ADS_1


Sherin diam sesaat, mencoba berpikir. “Aku juga belum mengerti maksudnya, dari tadi aku berpikir, apakah aku memang benar bukan putrinya? Lalu kenapa bisa Iriana yang jadi putri kandungnya?”


“Dan lagi, dia bilang ibumu adalah—” Ravin tak menerus ucapannya, takut Sherin tersinggung.


“Maksud kamu pelacurr?” Ravin mengangguk pelan. “Aku tidak percaya!” Sherin angkat bahu.


“Kenapa?” alis Ravin berkerut, hampir bersatu karena bingung.


“Karena yang pelacurr itu ibunya Iriana,” Sherin terlekeh geli, lalu dia menggelengkan kepalanya.


Sementara Ravin mencebik, dia kembali berpikir mengenai ucapan Arvin. Rasanya cukup mengganggu, tapi kalau tidak di pikirkan juga akan jadi masalah.


Dua jam kemudian kakek Haris sudah di pindahkan ke ruang rawat, letaknya berada di sebelah ruangan Sherin. Ruangan ini di pesan sendiri oleh Ravin, dia tak mau Sherin dan kakek tidak nyaman maka dari itu Ravin memilih ruang VIP.


“Bagaimana keadaan kakek?” tanya Sherin untuk yang kesekian kali, wajahnya terlihat sekali sedang khawatir.


Ravin mengusap pucuk kepala Sherin. “Tenang saja, kakek tadi hanya terkejut dan tekanan darahnya naik lagi. Tapi masih bisa di atasi dan tidak parah juga,” jelas Ravin membuat Sherin menghela napas lega.


Di tempat lain, Arvin dan Haris sedang beradu pandang. Haris menatap seolah meminta penjelasan dengan apa maksud dari perkataan Arvin tadi di ruang sebelah.


“Cepat katakan!” desak Haris, nenek Linda di sebelahnya hanya bisa mengusap punggung kakek Haris.


Sherin bukan putri kandungku!” ucap Arvin singkat.


“Lalu, menurutmu siapa ayah kandung Sherin?” Haris memejamkan mata.


“Anakmu yang satunya.”


“Kakakmu?”


Arvin mengangguk, sementara Haris melemparkan satu kotak tisu dari atas nakas ke arah Arvin dan tepat mengenai kepala. Pria itu mengaduh sakit.


“Lalu apa maksudnya Iriana itu putrimu?”


“Aku tidak bohong, Pah. Iriana putri kandungku,” lirih Arvin.


Haris memejamkan mata, kejutan apa ini?


“Jadi, sebelum Sherin lahir kamu sudah bermain di belakang istrimu?” kakek Haris geram.


Arvin gak menjawab, itu menandakan bahwa apa yang di tanyakan Haris benar adanya. “Kamu harus memberikan penjelasan yang logis. ”


“Ibunya Sherin yang berselingkuh dengan anakmu saat itu. Bahkan ada yang bilang kalau Sherin bukanlah putriku dan Devi telah menipu ku makanya aku meragukan Sherin. Sementara Iriana putri kandungku, ibunya, Laras adalah cinta pertama ku,” ungkap Arvin kembali membuat kakek merasa sesak.


“Sudah ku duga masalah kalian tak sesederhana itu. Kamu pikir menantuku dan iparnya berselingkuh? Nyatanya mereka tidak begitu, jika kau masih tidak percaya kalau Sherin putrimu, kau bisa melakukan tes DNA.”

__ADS_1


__ADS_2